MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN

MASSHIAHSAGA-PEMERINTAHAN RATU BAYANGAN
MENUJU DIREA


__ADS_3

Selena semalam mengurung diri dalam kamar. Ia kehilangan selera apapun. Champa sementara menghibur dan menguatkan hati gadis itu. Diruangan santai, Sultan Yazid duduk menekur memikirkan tindakan apa yang harus diambil. Do Quo melangkah mondar-mandir dengan pelan. Sesekali lelaki berkumis itu mendekati jendela dan melongokkan wajahnya keluar memandang jalanan dari ruangan dilantai dua itu, berharap menemukan kedua sosok yang mereka cemaskan.


Thor hanya duduk sambil mengamati senjatanya, mengawasi karat-karat yang merusakkan kekuatan baja senjatanya.


"Semalam sudah kita lewati." ujar Do Quo membuka suara. "Haruskah kita berdiam disini sementara Havard dan Nagini hingga saat ini tak tahu kabarnya bagaimana?" pancingnya.


Sultan Yazid menghela napas. "Kita harus bersabar... jika dalam waktu sehari ini mereka tidak muncul, aku akan menggunakan otoritasku untuk memaksa Dinas Perairan Kota Direa untuk melakukan pencarian." sahutnya.


Do Quo menatap pintu kamar yang didiami Selena. "Kasihan anak itu. Semalaman ia menangis terus."


"Kuharap Champa bisa menenangkan hatinya..." sahut Sultan Yazid lagi.


Tak lama kemudian, Champa keluar dari kamar. Wajahnya kelihatan lesu. Gadis berambut seputih perak itu melangkah lalu duduk disisi Sultan Yazid.


"Bagaimana?" pancing Sultan Yazid.


Champa menggeleng pelan. "Apa sesusah itu menghibur manusia yang berduka?" gumamnya pelan.


Sultan Yazid mengangkat alisnya. "Maksudmu?"


Champa mendesah lalu mengeluh. "Seberapa gigihnya aku menghiburnya. Selena tetap saja menangis. Matanya sudah bengkak seperti dua biji telur. Ah, aku sudah kehabisan akal..."


Sultan Yazid mengangguk-angguk. Champa bangkit lalu melangkah menuju pintu keluar.


"Mau kemana kau?" tanya Do Quo.


"Aku mau mencari informasi tentang orang-orang yang tenggelam... diam disini membuatku bisa-bisa jadi senewen seperti Selena." jawab Champa lalu membuka pintu dan keluar.


Thor bangkit dan menatap Sultan Yazid. "Saya juga akan mencari tahu... semoga saja mereka berdua bisa ditemukan." Lelaki itu kemudian keluar meninggalkan ruangan santai itu.


Do Quo mendesah. "Ah, pikiranku juga jadi kacau gara-gara mereka berdua." lelaki berkumis tebal itu melangkah ke pintu. Sejenak ia berbalik menatap Sultan Yazid yang masih duduk.


"Jika Paduka ingin merehatkan sedikit pikiran, marilah ikut saya. Kita ke restoran sebelah penginapan ini, sekalian kita bisa mencari informasi disana..." ujar Do Quo.


Sultan Yazid akhirnya bangkit. "Baiklah. Mari kita ke restoran." ujarnya. Keduanya melangkah meninggalkan ruangan itu.


...****************...


Kedua orang itu mendapat sambutan yang baik dari orang tua anak itu. Ia adalah seorang pengrajin jala ikan yang menjual hasil karyanya kepada para nelayan di Brienn.


"Apa anda bisa menunjukkan letak kota Direa?" tanya Havard. "Kami hendak ke kota itu, menemui teman-teman kami."


"Apa kalian berdua belum pernah kesana?" tanya lelaki itu.


Havard dengan jujur menggelengkan kepala sedang Nagini lebih banyak diam. Ia sama sekali tak pernah membuka percakapan dan memilih menikmati sajian minuman hangat yang dicampur rempah-rempah.


Laki-laki itu tersenyum lalu menatap anaknya. "Luken, hari ini, aku akan mengantar dua orang ini ke Direa." ujarnya. "Jagalah rumah dengan baik, ya? Kelak pulang kubawakan kau hadiah."


"Benarkah?" seru anak itu.


Laki-laki itu mengangguk dan anak itu berjingkat-jingkat gembira sedang lelaki itu membelai-belai kepala anaknya. Ia menatap Nagini.


"Maklumlah... kami hidup berdua saja." ujar lelaki itu. "Ibunya sudah wafat dua tahun yang lalu..." ujarnya dengan senyum getir. "Anak ini... mendambakan kasih sayang seorang ibu..."


Havard mengangguk-angguk lalu mencondongkan kepalanya kepada Nagini dan berbisik. "Kelihatannya, lelaki ini menyukaimu."


Nagini mengerling kepada Havard dengan tatapan tajam lalu menatap anak itu. Ia melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Kemarilah nak." panggil Nagini.


Anak itu mendekat. Nagini mencondongkan wajahnya kepada anak itu. "Kau mau jadi anak yang baik?"


Anak itu mengangguk. Nagini tersenyum dan mengangguk-angguk. "Bagus..." pujinya lalu mengeluarkan sebuah medalion dan memberikannya kepada anak itu. "Untukmu, terimalah."


Dengan suka cita, anak itu menerimanya. Nagini membelai kepala anak itu lalu bangkit berdiri.


"Bisakah kita berangkat sekarang?" tanya Nagini. Laki-laki itu mengangguk.


"Asalkan tidak memberatkanmu." ujar lelaki itu, "Kelihatannya kalian keletihan."


"Kami akan kembali sehat jika telah tiba di Direa." jawab Nagini.


Lelaki itu akhirnya bangkit. "Kalau begitu, biar ku ambil kendaraanku." ujarnya kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu bersama anaknya.


Kini diruangan itu tinggallah Havard dan Nagini. Wanita itu menatap Havard dengan dingin.


"Baiklah, aku salah." desah Havard dengan lemah. "Lagi pula aku memang punya salah sejak semalam..." gumamnya.


"Kau tak pantas bicara seperti itu dihadapannya." tukas Nagini. "Dia pemilik rumah ini."


"Tapi tebakanku pasti benar, Nagini." kilah Havard. "Laki-laki itu menyukaimu."


"Lantas kenapa?" tantang Nagini.


"Ya... aku... bersyukur saja..." jawab Havard dengan gugup. "Kupikir, wajahmu yang dingin itu menghilangkan selera setiap laki-laki..."


SRINGGGGGG....


Tiba-tiba Nagini menghunus Belati Setan dan mengarahkan ujung pedangnya ke wajah Havard. Namun disaat yang sama juga Havard menghunus claymore dan mengarahkan pedangnya ke wajah Nagini.


"Aku minta maaf jika telah lantang menggerayangimu, meski itu dalam keadaan tak sadar..." ujar Havard.


"Kau bilang, kau tak akan mengungkit hal itu lagi!" sahut Nagini dengan ketus. "Nyatanya..."


"Baiklah, aku salah lagi untuk yang kesekian kalinya!" seru Havard menyarungkan pedangnya membiarkan Belati Setan milik Nagini masih terarah ke wajahnya. Ia menatap wanita itu.


"Bisakah kau sarungkan kembali pedangmu?" pinta Havard dengan canggung. "Kau membuatku gugup."


Nagini mendengus lalu menyarungkan pedangnya dan duduk diseberang, berhadapan dengan Havard. Pemuda itu melengos menahan rasa malunya.


Tak lama kemudian, lelaki itu muncul dan berkata. "Mari kita berangkat." ajaknya keluar.


Ketiga orang itu keluar dan riba dihalaman rumah. Disana sang anak sedang membersihkan bagian spatboard depan kendaraan tersebut. Kendaraan itu adalah sebuah kendaraan mesin beroda tiga. Dibelakangnya nampak sebuah boks. Lelaki itu duduk didepan dan memegang setang kemudi. Ia menghidupkan mesin.


"Hati-hati dijalan, Papa!!" seru anak itu.


Lelaki itu mengangguk lalu menatap Havard dan Nagini. "Ayo, naiklah dibelakang." serunya.


Nagini duluan melangkah dan menaiki boks itu dan Havard kemudian menyusulnya. Keduanya duduk berdampingan membuat anak kecil itu kembali tersenyum-senyum nakal. Nagini sempat melihatnya dan memelototkan matanya meskipun bibirnya menyunggingkan senyum. Anak itu tertawa.


"Hati-hati dijalan, Tante! Oom!" seru anak itu melambaikan tangan.


Nagini membalas lambaian tangan anak itu sedang Havard hanya menganggukkan kepala saja. Lelaki itu menaikkan gas dan kendaraan itu meluncur meninggalkan kediaman.


Sepanjang jalan di Brienn, tak satupun percakapan terjadi. Havard lebih banyak memuaskan matanya menatap gedung-gedung kota itu. Nagini sendiri duduk bersila dan menegakkan tubuhnya. Belati Setan diletakkannya didepan pahanya dan wanita itu memejamkan mata.

__ADS_1


"Kita akan memasuki Pegunungan Rouge." ujar lelaki tersebut. "Berpeganglah kuat-kuat. Jalannya agak sedikit licin." ujar lelaki itu mengingatkan.


Tak lama kemudian, kendaraan itu memasuki terowongan dalam pegunungan itu. Sepanjang jalan lelaki itu bersiul-siul menyanyikan sebuah lagu instrumental. Tak lama kemudian mereka menemui persimpangan. Lelaki itu membelokkan kendaraan ke kiri.


"Ada apa dijalan sebelah sana?" tanya Havard.


"Oh, itu jalan menuju Gua Hydra." jawab lelaki tersebut. "Tapi jalan kesana diblokir oleh otoritas keamanan sebab disana berdiam sesosok makhluk..."


"Mereka menjagai tempat itu?" tanya Havard.


"Dan memastikan makhluk itu tidak keluar dari gua." tambah lelaki tersebut.


Kendaraan mendapati belokan ke kanan lalu lurus lagi. Havard mengamati dinding terowongan tersebut.


"Kurasa Kekaisaran Zhou sangat memperhatikan rakyatnya." gumam Havard.


"Tentu saja." jawab lelaki itu. "Walikota Brienn, Tuan Rozgull dan walikota Direa, Nyonya Morgul sebenarnya adalah sepasang suami istri, pejabat khusus otonomi wilayah Zhou yang berada diseberang." tuturnya. "Keduanya ditunjuk Kaisar Pu Tuo untuk memerintah dua kota tersebut."


"Apakah kau sudah dengar kekacauan di Istana Dang Dai Chan?" tanya Havard.


"Tentu saja... ternyata, ada yang berani menyamar sebagai Tuan Putri Mei Ling..." ujar lelaki itu dengan nada sedih.


"Kami diutus Kaisar Zhou untuk mengejar pencuri itu." jawab Havard.


"Oh ya?" seru lelaki itu. "Berarti, kedatangan kalian berdua ke Direa, merupakan sebuah tugas resmi negara."


"Ya... bisakah percepat sedikit kendaraannya?" pinta Havard. "Kami harus segera ke pelabuhan. K.M. Sancakala mungkin sementara bersandar disana."


"Tentu, tak masalah..." jawab lelaki itu kemudian menarik stang kemudinya dan melajulah kendaraan tersebut.


...****************...


Champa menarik napas dan menghembuskannya lagi lebih keras. Kedua matanya sayu sebab pengaruh alkohol telah menguasai otaknya. Sesekali gadis itu cegukan dan menyengir lesu.


"Aaaah.... kenapa sial sekali hari ini?" gumamnya kemudian meletakkan gelas besar yang sudah kosong didepan meja. Ia cegukan lagi lalu meletakkan lima buah koin emas disisi gelas itu.


Champa bangkit dan melangkah sempoyongan meninggalkan kedai minum itu. Beberapa lelaki muncul mencegatnya.


"Hei gadis, sebentar dulu." ujar salah satu lelaki dengan senyum nakal.


Champa hanya menatap laki-laki itu dengan wajah sayu. "Aaaa??? Kamu siapa ya???"


"Aku pangeranmu, sayang!" seru lelaki itu hendak merangkul Champa.


Dengan sigap Champa menghindar meskipun sempoyongan. "Kamu... hik... jangan semba-hik- rangan ya?" ujarnya mengingatkan.


"Hei... kau penari, kan?" tegur laki-laki yang lain. "Bisakah hibur kami sejenak saja." pintanya sambil merogoh saku dan mengeluarkan lima koin emas dan dengan lancangnya menyelipkan benda-benda itu ke lipatan buah dada yang tersembul dibalik kembennya.


"Heeeeh???" seru Champa dengan kaget. Sontak mabuknya hilang dan serta merta menghadiahkan tendangan yang langsung bersarang diselangkang lelaki itu.


DUAAGH.... ADOOOOH....


Laki-laki itu jatuh berguling-guling memegang bagian pribadinya yang terhantam tendangan itu. Sedangkan Champa mencak-mencak sendirian mengata-ngatai para pemuda yang bertindak kurang ajar itu.


Mereka marah dan hendak membalas, namun urung sebab melihat dua orang petugas keamanan mengamati dari sudut ruangan. Dengan menggerutu, akhirnya pemuda-pemuda itu membangunkan temannya yang kesakitan dan meninggalkan kedai itu.


"Hei, ini! Ambil kembali uang kalian!!!" teriak Champa merogoh kedalam kembennya menyebabkan bagian *********** nyaris melompat keluar. Ia mengeluarkan lima koin emas itu dan melemparkannya ke arah pemuda-pemuda itu sambil terus mengomel.

__ADS_1


Tiba-tiba tatapannya membentur sebuah kendaraan beroda tiga yang lewat dengan pelan. Dua orang yang dudukndi boks itu sangat dikenalnya. Dengan sekuat tenaga ia berlari menyusul kendaraan itu sambil berteriak-teriak.


"Naginiiiiii.... Havaaaard!!!!" serunya dengan penuh rasa gembira.[]


__ADS_2