
Perjalanan sehari itu terasa bagai singkat bagi Selena. Bagaimana tidak? Sejak malam itu hubungan keduanya menjadi begitu indah dan romantis meskipun Havard berupaya bersikap biasa-biasa saja.
Selena memutuskan menunggangi karkadan bersama-sama Havard dan membiarkan Champa mendekam dalam kereta bersama-sama Sultan Yazid. Kali ini, atas saran Do Quo, jumlah kuda yang menarik kereta itu ditambah tiga lagi.
Berbekal uang pemberian Sultan Yazid, Do Quo berhasil membeli dua ekor kuda. Satunya dari jenis Chitu, sedang satunya dari jenis Shabrang.*)
*) Chitu adalah jenis kuda lokal yang dibudidayakan di Dataran Barat Runehall. Ciri khasnya adalah telinga kuda itu panjang mirip keledai dan kulitnya merah kecoklatan. Adapun Shabrang adalah jenis kuda yang aslinya dikembangkan dibagian utara dan selatan Runehall (wilayah-wilayah yang dikuasai Kerajaan Moull dan Norchburg). Kulitnya hitam pekat bagai jelaga. Jika terkena sinar mentari terlihat begitu mengkilap.
Do Quo tetap menjadi sais yang mengemudikan kereta. Sedangkan Nagini dan Havard serta Selena mengawasi dan mengawal dari depan dan belakang. Untungnya di Dataran Goldie, tidak ada lagi teror kawanan Xamrush. Kemungkinannya mereka benar-benar bersembunyi dan tak punya niat menggarong kereta yang ditumpangi Suktan Yazid.
Selena sudah kembali ceria sebab Havard berjanji akan merebut kembali kalung Rubihalcon, begitu Selena menyebutnya sebab liontinnya adalah sebuah pelat orihalcon yang dipasangi batu ruby.
Mereka tiba digerbang bagian utara Cappadonia. Sultan Yazid langsung memerintahkan Do Quo untuk mengarahkan kereta menuju Istana Dang Dai Chan. Sebagai warga lokal, Do Quo tahu benar letak istana yang menjadi lambang pemerintahan Dinasti Zhou tersebut.
Istana Dang Dai Chan adalah sebuah kediaman besar yang dibangun ditanah seluas lima ribu hektar. Bangunan ini didirikan oleh Li Shie Min dari klan Tang (Dang). Itulah mengapa kediaman itu menggunakan namanya. Leluhur klan Zhou, Ikhalten dari Wa-Guddharl (dataran hitam yang gersang) kemudian merebut kediaman tersebut setelah menjatuhkan pewaris terakhir klan Tang, Dang Tan Khula. Seterusnya, seluruh keturunan Ikhalten menjadi pemilik kediaman itu dan menjadikannya pusat pemerintahannya.
Kereta berhenti di halaman gerbang. Gerbang itu dilindungi dengan tembok panjang yang mengelilingi kompleks istana. Disana ada beberapa serdadu mengenakan baju jirah dan helm yang dipasangi hiasan ekor bulu Kasuari. Mereka menyandang tombak-tombak berhulu golok yang dipasangi rumbai-rumbai warna-warni pada bagian piringan pelindung senjata itu.
Dibalik gerbang itu nampak menjulang atap-atap istana yang meruncing dan mencuat keatas bagai gading.
Champa menatap dengan kagum. "Waaah... Istana Dang Dai Chan!" serunya langsung membuka pintu kereta dan tanpa permisi nan gagah berani melangkah menuju gerbang.
Sultan Yazid sendiri hanya bisa menepuk jidatnya melihat ketidak sopanan gadis itu. Do Quo dan Havard melongo sedang Selena menggeram marah. Yang datar wajahnya hanyalah Nagini saja.
"Perempuan itu memang benar-benar tak tahu adat." tukas Selena dengan geram.
Langkah gadis berambut sekilap perak itu terhenti saat dua penjaga gerbang langsung menyilangkan tombak goloknya. Wajah mereka memancarkan kebengisan.
"Hei, bolehkah aku masuk kedalam?" tanya Champa dengan sikap santai.
Salah satu penjaga menggeleng dengan tegas namun tak bicara. Tatapan sangar sudah mewakili keengganan mereka terhadap kehadiran Champa.
"Ayolah... aku sangat mengagumi bangunan ini..." bujuknya kepada penjaga kedua. "Baru kali ini aku bisa melihat gerbangnya..."
"Hei nak, menyingkir dari sini!!!" seru penjaga itu membentak.
"Hanya yang berkepentingan saja yang bisa memasuki istana!!!" sahut penjaga kedua.
Penjaga pertama dengan kasar mendorong Champa hingga terkejut beberapa langkah ke belakang. Gadis berambut sekilap perak itu tak terima. Ia langsung mengacungkan martilnya ke hadapan dua penjaga gerbang itu.
"Rupanya kalian memang ingin merasai martilku, ya?!" sergahnya mengancam.
Champa hendak menerobos ketika Sultan Yazid turun dari kereta dan memanggilnya. Gadis itu menoleh dan balik melangkah melihat Sultan Yazid melambaikan tangan kearahnya, memintanya mendekat.
Sambil menggerutu, Champa kembali mendekati Sultan Yazid yang berdiri seraya melipat tangannya didada.
"Kamu mau apa kesana?" tegur Sultan Yazid dengan nada agak keras.
"Saya hanya ingin masuk saja." tangkis Champa lalu menatap Selena yang mengolok-oloknya. Gadis itu balas mengolok-olok Selena. Sultan Yazid menghela napas.
"Ada saatnya kita masuk kesana." ujar Sultan Yazid. "Apa kau pikir masuk kesana segampang kau memasuki lepau makan?"
Champa hanya kembali menggaruk-garuk rambut sekilap peraknya yang dikepang ke atas itu lalu tertawa cengengesan. Sultan Yazid menggeleng-gelengkan kepala.
"Rupanya kau memang harus diajar adab ya?" sindir Sultan Yazid.
"Bukankah Tuanku memang ingin ke istana?" tangkis Champa lagi. "Saya hanya berusaha membantu, kok." kilahnya lagi lalu tertawa cengengesan.
__ADS_1
Do Quo yang tak sengaja mengedarkan pandang, melihat seseorang yang dikenalnya. Lelaki berkumis tebal itu berseru.
"Tuanku! Lihatlah disana!" seru Do Quo kepada Sultan Yazid sembari menunjuk ke suatu arah.
Sultan Yazid mengikuti arah telunjuk Do Quo dan menemukan Kun Yang yang terlihat memasuki sebuah toko kelontong. Sultan Yazid menatap rekan-rekannya.
"Kalian tunggu disini!" serunya lalu bergegas mengejar Kun Yang yang sudah memasuki toko kelontong.
Kun Yang yang sedang memesan beberapa barang, menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya. Wajah astronom itu langsung menebar senyum.
"Ah, Tuan Panglima!" serunya dengan gembira bercampur kaget. "Bagaimana? Apakah kalian sudah menemukan tempat persembunyian kawanan Xamrush tersebut?"
Sultan Yazid tersenyum dan mendekati lelaki berjubah liturgia yang kedodoran tersebut.
"Kita bicarakan hal itu dirumahmu." jawab Sultan Yazid. "Aku hanya meminta bantuanmu sekali lagi. Bisakah?" tanya lelaki bermantel hitam itu.
Kun Yang menoleh lagi kepada pemilik toko ketika ia menyerahkan barang-barang belanjaannya untuk dihitung. Kun Yang kembali menatap Sultan Yazid.
"Apa yang bisa kubantu untukmu, Tuan?" tanya astronom itu, lalu menoleh lagi kepada penjual itu saat menerima barangnya dan menyerahkan beberapa keping uang dinar untuk membayar.
Kun Yang kemudian mengajak Sultan Yazid keluar dari toko itu. Keduanya melangkah menyusuri jalanan menuju kereta.
"Bantu aku menemui Kaisar Pu Tuo." pinta Sultan Yazid.
Kun Yang tersenyum. "Oh, kiranya itu." gumamnya lalu menatapi Sultan Yazid. "Bisakah kita ke Observatorium?"
Sultan Yazid mengangguk dan mempersilahkan Kun Yang menaiki kereta. Ketika tiga orang itu sudah berada dalam kereta, Do Quo menggebah tiga ekor kuda itu agar menarik kereta tersebut bergerak meninggalkan istana.
...****************...
Kun Yang mondar-mandir dihadapan ketiga tamunya yang duduk disofa. Havard tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang cara untuk menemukan kalung Rubihalcon. Champa mengisi waktunya dengan menikmati penganan yang tersaji dihadapannya. Hanya Sultan Yazid dan Do Quo saja yang memperhatikan astronom itu mondar-mandir sembari berpikir keras.
"Jadi... Han Houw sekarang disekap di Asgrad." gumamnya sambil mengangguk-angguk pelan. "Dan memang, akses menuju kesana hanya dengan restu tertulis dari Kaisar Pu Tuo sendiri."
"Itulah sebabnya, anda harus membantu saya." sahut Sultan Yazid.
"Tentu saya akan membantu anda." jawab astronom itu kemudian menatap jam dinding. "Kurasa, kita masih punya waktu." ujarnya. "Apakah kalian semua akan ikut ke Istana?"
Sultan Yazid menggeleng. "Cukup saya saja." jawabnya. "Rekan-rekan saya harus beristirahat. Mereka akan sangat dibutuhkan ketika saya akan menjelajahi Dataran Bolshoi dan Asgrad."
Kun Yang mengangguk. "Kalau begitu, kita berdua berkuda saja ke istana." ujarnya.
Sultan Yazid mengangguk lalu bangkit dan menatap Do Quo. "Lepaskan salah dua ekor kuda untuk kami tunggangi ke istana."
Do Quo mengangguk dan melangkah keluar. Sultan Yazid menoleh kepada Havard. "Kuharap kau bisa menemani mereka berempat dirumah ini."
"Akan kulakukan." jawab Havard.
Sultan Yazid mengangguk lalu melangkah keluar. Dihalaman, telah berdiri dua ekor kuda, jenis rakhsh dan chitu yang masing-masingnya telah dipasangi pelana. Kedua ekor kuda itu sudah dituntun tali kekangnya oleh Do Quo.
"Terima kasih." ujar Sultan Yazid memilih kuda jenis rakhsh, jenis kesukaannya.
Do Quo mengangguk. Sultan Yazid menginjakkan kakinya disanggurdi lalu melompat naik ke pelana sementara Do Quo menenangkan kuda tersebut.
Tak lama kemudian, Kun Yang muncul mengenakan seragam seorang thaikam*) berwarna hitam berkerah tinggi yang dihiasi bordiran rumit pada bagian dadanya. Seuntai kalung tasbih menggantung dileher. Ia mengenakan peci hitam yang bagian kubahnya berwarna merah dan dihiasi dengan sebatang bulu ekor merak.
Pejabat itu menaiki chitu dan memandang Sultan Yazid, mengisyaratkannya agar segera berangkat.
__ADS_1
Kedua orang itu meninggalkan observatorium menggebah kuda agar berlari secepat mungkin menyusuri jalanan menuju arah istana. Mereka tiba di depan gerbang dan Kun Yang terlebih dulu turun dan menghadap kepada dua penjaga gerbang.
Keduanya membuka jalan dan kedua orang itu melangkah masuk menyusuri lorong panjang yang membawa mereka tiba dihalaman istana.
"Sebaiknya, saya menghadap dahulu kepada protokoler istana untuk menyampaikan maksud kedatangan anda." ujar Kun Yang.
Sultan Yazid mengangguk lalu dan berdiri didepan serambi utama istana. Kun Yang melangkah masuk. Tak lama kemudian terdengar suara protokoler istana menggema dilorong ruangan.
"Utusan dari Tel-Qahira, Abu Yazid al-Bustami dipersilahkan menghadap kepada Yang Mulia Kaisar!!!"
Sultan Yazid melangkah menapaki tangga dan menyusuri serambi terus lorong-lorong ruangan hingga akhirnya tiba di Balai Naga Emas dimana Kaisar Zhou Pu Tuo duduk diatas tahtanya.
Lelaki berwibawa itu kali ini mengenakan jubah merah pudar yang dihiasi bordiran seekor ular naga. Ia mengenakan peci yang berwarna sama. Disisi kiri duduklah Putri Mei Ling yang menatap Sultan Yazid dengan tatapan angkuh, sedang disebelah kanan duduklah Putri Cin Ling yang menatap datar kepada lelaki berpakaian hijau lumut tersebut.
Sultan Yazid berdiri tegap menghadap Kaisar Pu Tuo. "Saya, Yazid dari Tel-Qahira, datang menghadap anda."
"Hei, sopankan suara anda!" bentak protokoler istana itu menatap dengan garang. Adapun Kun Yang yang berdiri tak berapa jauh dari posisi Sultan Yazid berdiri terlihat cemas.
"Saya pikir, derajat saya juga sama dengan Yang Mulia Kaisar Pu Tuo sendiri." tangkis Sultan Yazid dengan senyum.
Alis Kaisar Pu Tuo sedikit bertaut mendengar keterangan lelaki bermantel hitam dihadapannya. Adapun protokoler istana langsung muntab dan menyuruh dua orang Bosoe*) maju dan mengarahkan goloknya ke leher Sultan Yazid.
*) Bosoe adalah korps pengawal pribadi keluarga kekaisaran Zhou. Mereka dilengkapi baju jirah berbahan perunggu yang dilapisi emas. Senjata utama mereka adalah golok berbentuk unik dan bergagang panjang.
Sultan Yazid hanya tersenyum dikepung oleh dua orang serdadu itu. Ia dengan tenang merogoh sesuatu dari balik pakaiannya dan memperlihatkan sebuah plakat kepada seluruh hadirin yang hadir di Aula Naga Emas itu.
"Master Kun Yang, mohon berikan plakat ini kepada Yang Mulia Kaisar Pu Tuo. Semoga beliau bisa memahami siapa saya." pinta Sultan Yazid.
Kun Yang mengambil plakat tersebut lalu menaiki panggung dimana Kaisar Pu Tuo duduk ditahtanya dan dengan sikap membungkuk, pejabat itu menyodorkan plakat tersebut kepada junjungannya.
Kaisar Pu Tuo menerima plakat itu dan mengamatinya. Sesaat kemudian ia terkejut dan langsung berdiri. Lelaki itu berseru.
"Kalian semua, tinggalkan ruangan ini! Sekarang!!!" serunya dengan lantang.
Dengan penuh keheranan, para pejabat termasuk Kun Yang kemudian membungkuk dan berbalik meninggalkan Aula Naga Emas. Kaisar Pu Tuo juga menatapi kedua putrinya.
"Tidak terkecuali, nak." ujarnya dengan pelan.
Putri Cin Ling dengan sigap bangkit lalu membungkuk hormat kepada ayahnya sedangkan Putri Mei Ling terlihat enggan namun terpaksa bangkit dan membungkuk dengan setengah hati. Kedua putri itu menuruni panggung dan melangkah meninggalkan Aula Naga Emas. Ketika berpapasan, Sultan Yazid dapat dengan jelas melihat tatapan Putri Mei Ling yang penuh tanda tanya terarah kepadanya.
Kaisar Pu Tuo memastikan tiada satupun orang didalam ruangan itu terkecuali dua orang bosoe yang tetap menyandarkan senjatanya ke leher Sultan Yazid.
Kaisar Pu Tuo mengambil pedang miliknya yang tersampir di rak senjata dekat tahta. Ia bangkit dengan perlahan dan menuruni tangga dengan langkah perlahan pula. Ketika melangkah mendekat, Kaisar Pu Tuo menghunus pedangnya.
SRIIINGGGG....
JLEB!!! CRASSHHH....
UHOEK!!! AAKHHH...
Tiba-tiba Kaisar Pu Tuo menghujamkan pedangnya kepada bosoe paling dekat membuat serdadu itu tersentak kaget. Satunya kaget namun tak bisa menghindar karena Kaisar Pu Tuo dengan cepat mencabut pedangnya dan menebas prajurit satunya. Dua orang pengawal itu menggeletak tewas di ruangan itu.
Sultan Yazid hanya berdiri tenang menatap Kaisar Pu Tuo yang dengan santai melepas pedangnya dilantai.
KLONTANGGG...
__ADS_1
Kaisar Pu Tuo kemudian maju dan mengembangkan tangan lalu memeluk lelaki bermantel hitam tersebut dengan akrab.
"Selamat datang di Cappadonia, Sahabatku, Yazid al-Bustami dari Tel-Qahira...." ujarnya dengan senyum. "Aku tak mengira, seorang penguasa wilayah Najd datang langsung ke hadapanku, bahkan tanpa iringan pengawal.... aku terkesan dengan keberanianmu." []