
Perasaan dikhianati memang tidak menyenangkan, apalagi dikhianati kawan sendiri. Mungkin seperti itu yang dirasakan si kembar. Mereka bahkan tidak mau melihatku sama sekali, terus berlari dan menghindar menjadi kebiasaan yang sekarang mereka lakukan. Aku mungkin juga akan berlaku yang sama jika dihadapkan dengan posisi seperti itu. Rasanya seperti ditikam menggunakan kaca pecah tajam dengan bertabur garam dari belakang oleh sahabatmu sendiri. Hh. Keinginan untuk memutar waktu kembali menjadi prioritas ku sekarang, berkali-kali aku berfikir harusnya aku katakan saja sejak awal, harusnya kebohongan bodoh itu tidak terucap dari mulutku, harusnya iya harusnya. Sungguh perasaan bersalah yang menyebalkan. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Oke tebal kan saja mukamu Dan!
"Hei... Gua boleh gabung" Si kembar yang awalnya sedang berdiskusi asik menghentikan pembicaraan mereka. Beberapa anak dari kelas kamipun terdiam, mundur perlahan dan memilih menyingkir, memahami kami yang memang butuh privasi.
"Kita cabut.."
Frisya dan Tasya benar-benar terlihat sangat membenciku sekarang. Mereka membenahi peralatan mereka tanpa melihat aku sedikitpun. Sial.
"Please... Sya, Tas, gua pengin ngomong" Mataku memanas melihat penolakan mereka. Tuhan, sebegini tidak enaknya ya tidak mempunyai teman.
"Sya....!" Tanganku menarik tangan Fasya lembut. Mereka berhenti, untunglah sepertinya mereka paham untuk tidak membuat keributan di tengah kampus dengan pandangan seluruh mahasiswa yang mengarah pada kami.
"Kita omongin nggak disini" Tasya menyahut sambil mengerlingkan matanya menyuruhku ikut. Oh thanks god!
***
"Jadi udah berapa lama...?"
Tasya menatapku menyelidik, tangannya memilin-milin sedotan pelan. Ahh. Kenapa teman-temanku menakutkan sih. Oke, rileks.
Lirikan Fasya menambah situasi canggung yang menyebalkan, aku benar-benar terlihat seperti terdakwa yang siap dipidana penjara.
"Hmmm.. jadi..."
"Ngga usah bohong lagi, lu nggak bisa ngehindar terus kan?" Iya tentu saja. Angguk ku dalam hati.
"Kita temen kan?"
Aku terkesiap menoleh menatap Fasya kaget. Tuhan aku benar-benar membuat mereka kecewa.
__ADS_1
"Kenapa lu ngomong kaya gitu.. Jelas kita temen Sya"
"Ya.. soalnya lu nggak pernah berbagi apapun sama kita, bahkan hal sebesar inipun masih lu tutupin yang malah bikin kita keliatan bodoh" Minuman dingin yang ada digenggaman ku rasanya sudah tidak dingin lagi malah perlahan terasa memanas seperti bersiap menyambut pertengkaran kami.
"Kalo lu masih diem kaya gitu, gua bisa nanya sendiri sama Landy, apa perlu kita telfon dia dan suruh kesini?"
Oh god! I'm really in a big trouble right now.
***
"Sebel! Sebel! Dede sebel!"
Bunda yang sedang memotong buah langsung menoleh menatapku. Bang Denny yang menjadi sasaran marahku malah asik bermain PS tanpa mau melihatku, sungguh mengesalkan. Abang selalu seperti itu, dia lebih memilih mendengarkan sahabatnya dibanding adiknya sendiri.
"Bundaaaa...."
"Abang, adeknya jangan dicuekin atuh"
"Dede sebel! Sebel! Sama Landy, kenapa abang nggak pernah belain Dede?"
"Sebel kenapa? Hmm?" Abang menghampiriku dan duduk di sampingku. Dia memang hanya menjawab pelan, tapi aura marahnya sedikit menakutkan. Sepertinya Abang marah melihatku yang bertingkah kekanakan dan mengganggu waktu santainya.
"Oh! Jadi Abang pura-pura nggak tahu?"
****! Abang benar-benar menambah kemarahanku. Dia bahkan ikut meramaikan postingan yang dibuat Landy di laman instragramnya.
"Kenapa? Masih masalah soal postingan?"
"Menurut Abang! Abang bener-bener jahat! Abang nggak tau reaksi orang-orang sama Dede, Dede di kucilin di kampus, mereka ngelihat Dede seolah-olah jadi perebut pacar orang"
__ADS_1
Air mata yang sudah aku tahan dari tadi akhirnya tumpah juga, melihatku yang seperti itu Abang memberikanku tisu, dan mengelus kepalaku lembut.
"Landy ngeselin! Abang juga! Kalian nggak ngertiin perasaan Dede! Dede benci banget sama Landy!"
"Dede! Jaga ucapan kamu!"
"Apa! Landy emang nyebelin, Ayah aja nggak pernah ngelarang Dede ini itu, Ayah selalu nurutin maunya Dede, Ayah nggak pernah marah sama Dede. Tapi Landy! Dia ngelarang Dede ini itu! Suka marah-marahin Dede, perintah ini itu, Dede minta buat putus nggak dibolehin padahal sendirinya suka main sama perempuan lain, Dede mau main sama temen cowok ngga boleh! Abang juga, kenapa abang diem aja dede di perlakuin kaya gitu! Pokoknya Dede benci Landy! Benci! Benci! Benci!" Aku menangis keras, Bunda yang melihat pertengkaran kami langsung menghampiriku berdiri di sampingku mengelus bahuku lembut.
"Dede... Sst... Jangan seperti itu sama Abang"
"DEDE! Jaga ucapan kamu! Abang bener-bener nggak nyangka kalo Adek Abang se kekanakan ini"
Aku terkesiap mendengar bentakan Abang, tidak pernah Abang membentak ku seperti ini. Aku menangis tidak karuan, tanganku menggapai tangan Bunda mencari pegangan.
"Pokoknya Dede benci Landy! BENCI! BENCI!"
Bruk.
Bunyi gedebug dari arah pintu membuat kami terdiam dan menengok ke arah pintu. Hatiku serasa berhenti berdetak melihat Landy berdiri limbung di pintu sambil membawa tasku yang terjatuh. Tuhan!
"Tas kamu ketinggalan di mobil" Aku membuang wajah tidak mau melihatnya.
"Gua cabut Den"
Baguslah dia pergi! Abang hanya mengangguk singkat.
"Perkara hanya postingan saja, sampai buat kamu hilang sopan santun dihadapan Abang! Pernah nggak Abang ngajarin kamu buat teriak-teriak dihadapan orang yang lebih tua! Kalo sampek Ayah tau! Dia bakalan lebih kecewa sama kamu! Kelakuan putrinya benar-benar mengecewakan! Landy sudah dewasa dia sudah lebih tahu mana yang lebih baik dilakukan dan mana yang tidak...." Abang mengusap wajahnya kasar, tidak habis pikir dengan kelakuanku yang lepas kontrol.
"Toh dia yang membereskan masalah yang timbul nanti. Bahkan Abang masih nggak habis pikir, bagaimana mungkin dia masih setia sama kamu yang kekanakan! Meminta break hanya karena marah dilarang untuk ini itu padahal untuk kebaikan kamu sendiri! Landy nggak pernah ngeluh ngeluarin banyak uang buat jajan kamu yang banyak! Kamu kira yang ngirim uang setiap bulan di ATM kamu siapa? Yang nyediain kebutuhan kuliah kamu siapa? Dia nggak pernah marah walaupun kamu dengan nggak sopan nya manggil nama dia tanpa embel-embel "Mas" padahal dia lebih tua dari kamu! Dia bahkan masih sempet ngeluangin waktunya buat nengok kamu yang menghindar tidak jelas, padahal dia punya urusan yang lebih penting buat penelitiannya! Dia rela lebih memilih memantau kamu dibanding main atau hang out sama temen-temennya, diluar sana lebih banyak cewek anggun beretika dan dewasa dibanding kamu! Tapi dengan bodohnya dia tetep setia nungguin kamu, ngebimbing kamu, ngejagain! Ngelihat perkembangan kamu dari kecil sampe dewasa nanti! Abang nggak habis pikir, dimana Adek Abang yang manis dan penurut, Abang kecewa sama Dede!"
__ADS_1
Abang pergi dengan raut kecewa yang kentara sekali. Hatiku mencelos melihat masalah yang sudah aku timbulkan akibat sikap kekanakan ku.
***