Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)

Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)
15


__ADS_3

Amarah sesaat memang benar-benar membutakan. Pertemuan awal ku dengan Landy dimulai sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, atau mungkin lebih dari itu. Namun yang pasti ku ingat dan sadar akan kehadirannya adalah saat Abang dengan beberapa temannya mulai sering bermain di rumahku. Entah apa pemicunya mereka tiba-tiba saja seperti memiliki jadwal rutin yang harus dilaksanakan dirumah, baik itu hari sekolah maupun hari libur. Awal kami bertemu aku melihatnya seperti seorang kakak baru bagiku. Dia selalu memanjakan ku dengan berbagai macam boneka, cokelat, dan beberapa mainan yang pada saat itu sangat aku idamkan. Dia seperti penolong di hidupku, menjadi pahlawan yang akan selalu sedia hadir menolongku dan memberiku apa yang aku butuhkan. Dulu tak pernah dia lewatkan sedikitpun untuk menjemput ku di sekolah disaat Abang lebih sibuk dengan beberapa kegiatannya dan kedua orang tuaku yang baru meniti karir mereka di dunia perbankan menyebabkan kurangnya waktu mereka untukku. Ada beberapa saat dimana kedua orang tuaku sempat mengalami krisis dan beberapa kali pertengkaran dikarenakan beberapa usaha yang baru dirintis oleh mereka gagal, dengan tenangnya Landy datang memanjakan ku membuat ku terhibur dan melupakan pertengkaran orang tuaku. Sejak saat itu tanpa malu aku akan berlari ke arahnya meminta bantuan dan tanpa aku sadari perlahan aku mulai tidak bisa lepas akan kehadiran sosoknya.


Sudah dua hari lebih sejak percakapan terakhir kami. Aku sama sekali belum mendapatkan kabar darinya. Apa yang dia ucapkan benar-benar terjadi. Belum pernah dia menghilang selama ini, tidak memberi kabar sama sekali bahkan semua akun sosialnya seperti mati tidak ada kehidupan.


Si kembar yang mengetahui keresahan ku beberapa kali mencoba menghiburku yang pada akhirnya aku hiraukan.


Aku sempat berfikir, ah… tidak hanya sempat, aku selalu berfikir kalau apa yang Landy lakukan memang untuk mengikatku, memenjarakan ku di dalam hidupnya. Berpura-pura bersikap manis di hadapanku, memanjakan ku untuk memerangkap ku kedalam hidupnya, membuatku tak berani lepas dan tak bisa berdiri tanpa bantuannya. Pemikiran jelek itu menguasai ku selama beberapa tahun memasuki sekolah menengah atas. Perangkap yang Landy buat benar-benar membuatku sesak nafas namun disisi lain aku benar-benar tidak bisa lepas dari dia, ternyata memasuki kehidupan sekolah menengah atas yang dibicarakan orang dan cerita-cerita novel sangat berbeda dengan kenyataan yang aku alami. Landy mengontrol segala aktivitas dalam hidupku. Hell. Menyesakkan sekali rasanya, aku benar-benar tidak bisa lepas dari si diktaktor Landy yang sayangnya memiliki wajah di atas standar! Berbeda sekali dengan sifat posesifnya. Berbekal beberapa kata mutiara yang aku lihat disalah satu postingan di laman Instragram tentang hubungan toxic dan beberapa pembicaraan yang mengatakan untuk lebih baik mengakhirinya aku bertekad untuk tidak bergantung pada Landy dan menjalani hidupku sendiri tanpa campur tangan Landy dengan semangat.


Pernah beberapa kali mencoba untuk kabur namun nyatanya iblis itu tetap menemukan persembunyian ku, mengharap pertolongan Abang rasanya percuma, dia sudah menjadi sekutu Landy sehidup semati.


Puncaknya terjadi pada acara pertunangan kami yang hanya dihadiri kami berdua tentu saja, sebenarnya tidak bisa disebut sebagai pertunangan juga karena aku memilih kabur di detik terakhir cincin itu akan melingkar di jariku. Saat itulah pertama kalinya Landy mau mengalah padaku. Dan terjadilah usulan break itu yang kami jalani beberapa bulan kemarin. Namun memang sepertinya aku sudah ditakdirkan untuk menyusahkan semua orang, aku benar-benar tidak bisa lepas dari campur tangan Landy. Sial. Iya aku sebodoh itu.


“Okay… kita harus have fun! Lupain Landy bentar lah Dan” ungkap Fasya sambil merangkul ku.


“Bener banget,udah kita traktir elu karoke aja dulu… biar gua nyuruh cowok gua bawa temen-temennya” Tasya menarik tanganku keras, lebih tepatnya menyeret. Beberapa pandangan orang seperti tidak ada artinya bagi mereka. Oh god! Kok bisa si temen gua gini banget.


“Tuh Ari sama Marko udah didepan gerbang…”


“Mana? “ Fasya celingukan di sampingku yang sungguh tidak tahu kenapa langsung menular padaku. Benar-benar perilaku bodoh.


“Guys.. Cowok lu pada pernah ketuker nggak sama kalian”


“what..?! ya enggak lah, emang elu! Nggak ketemu seminggu udah lupa” Fasya membalas, yang sayangnya tidak salah sama sekali. Tangannya melambai , mengikuti arah pandangnya aku melihat Marko dan Ari yang sedang bersandar pada mobil.


“Sayaaaaang…” Tasya berlari kearah Ari, seperti semut yang berlari kearah gulanya. Dasar!


“Lu jangan ikut-ikutan dia yak! Norak! Kaya ga bakal sampe aja kalo jalan pake lari segala”


Iya iya, aku iya kan saja. Fasya masih dengan setia menyeret ku. Padahal aku akan senang sekali kalau dia mau melepaskan tangannya, setidaknya aku bisa lari dari rencana bodoh mereka padahal hari ini aku berencana untuk mendekam dikamar dengan ditemani beberapa serial drakor yang belum aku selesaikan menontonnya. Hh.

__ADS_1


***


“Nggak ikut nyanyi..?”


“Hmm..? Ahh.. lagi nggak mood” Aku tersenyum sungkan. Dasar kembar-kembar bodoh. Mereka benar-benar niat untuk membunuhku!


“Gimana kalau kita keluar? Gua liat lu butuh ketenangan” Senyum manisnya seketika membuatku merasa tidak enak. Aku bingung harus bagaimana, rasanya ingin kabur saja. Sekarang aku terjebak ditempat karoke bersama si kembar dan pacar mereka serta cowok sopan yang ada di sampingku yang sialnya benar-benar terlihat manis. Dia terlihat seperti tipe-tipe cowok selebgram yang cool dan enak dipandang. Kemeriahan yang sedang coba dibuat oleh si kembar rasanya tidak membuatku membaik sama sekali. Rasanya seperti ada yang sakit dan kosong. Entahlah, harusnya aku bahagia kan? Permintaan yang aku buat dikabulkan sangat cepat oleh Landy, tapi..tap..tapi! Argh! Damn! ****! Sial! Bunda kenapa hati dede sakit?!


“Yok…” Cowok manis ini benar-benar membuatku semakin merasa tidak enak. Rasanya tidak adil saja untuk dia mendapatkan tampang judes ku. Dan akhirnya dengan berat hati aku mengangguk mengiyakan. Baiklah hanya sebentar, ekspresi bahagia yang dia tunjukkan setidaknya membuatku merasa tidak menyesal mengiyakan ajakannya. Melirik HP ku sekilas aku mencoba mencari tahu apakah ada notifikasi atau sedikit kabar dari dia, yang sayangnya belum muncul sama sekali.


Kami berdua berjalan berdampingan mengelilingi mall, beberapa kali dia mencoba membuat lelucon yang menurutku sebenarnya tidak lucu sama sekali untung saja tertolong oleh wajah manisnya kalau tidak sudah aku tinggal dari tadi.


Namun perlahan bibirku sedikit membentuk garis, Setidaknya aku memasang senyumku sedikit untuk mengapresiasi apa yang dia lakukan.


“Gimana rasanya jadi adeknya Denny?”


“Kamu kenal sama Abang…” Aku memicing mendengar pertanyaan mengejutkan Afan.


“Oya… kok bisa”


“Hahaha… gua bahkan salut banget sama abang lu, titip salam ya buat dia, Lu laper? Gimana kalau kita makan dulu, lu ngga keberatan kan Dan”


“Tapi Fan…”


“Please… seenggaknya temenin gua makan, lu ngga mungkin tega kan ninggalin gua sendirian makan padahal gua udah nemenin lu dari tadi” Sial! Dia benar-benar pintar membuat orang merasa tidak enak.


“Hmm okay”


Kami memasuki tempat makan cepat saji, Afan memesan beberapa makanan, berbeda denganku yang hanya memesan minuman favoritku, float manga, rasanya aku tidak bisa berlama-lama bersamanya, perasaanku terasa tidak enak.

__ADS_1


“Fan….”


“Hmmm..”


“Ceritain lagi, kok bisa kamu kenal Abang ku” Suasana ramai menghiasi tempat makan ini, mungkin karena ini waktunya makan malam dan tempat yang strategis makanya tempat makan ini terasa sangat ramai. Kebanyakan berisi beberapa keluarga yang sedang makan bersama. Dan ada beberapa anak sekolah serta beberapa pasang manusia. Menghadap ke depan aku menghela nafas keras.


“Fan…! Afan..!” Rasanya aku benar-benar ingin melempar piring beserta isinya yang ada dihadapan Afan. Dia bahkan tidak melihatku sama sekali.


“Afaaann…faan” Ku Tarik Tarik lengan Afan keras. Aku benar-benar penasaran dengan cerita yang dia katakan tadi. Mataku mengedar berkeliling mengamati sekitar taku menjadi pusat perhatian. Namun tubuhku langsung membeku melihat siapa yang baru memasuki tempat makan ini. Mata kami bertemu, terang saja kemarahan seperti terpencar keluar dari matanya. Tanganku mengepal takut, menarik tanganku menjauh dari Afan. Afan kebingungan melihatku yang berhenti mendadak dari rengekan sekilas ku.


“Hei… lu gapapa” Dan dengan bodohnya Afan menambah kekhawatiran ku dengan mencoba menggenggam tanganku. Landy yang melihat kami berdua seperti itu langsung berbalik pergi.


Oh god! What should I do?


“Fan sorry… aku harus pergi”


“Dan… Dan… hei” Tidak aku hiraukan seruan Afan aku terus berlari keluar mencari Landy mataku mengedar mencari keberadaannya yang sayangnya tidak aku temukan sama sekali.


Aku menelusuri parkiran mencoba peruntunganku mencari Landy, Tuhan bagaimana ini!


“Fa lu kenapa si…” Tasya menarik ku, membuatku sadar aku sudah menjadi tontonan beberapa orang yang berlalu lalang akan pulang.


Aku tidak bisa mengatakan apapun, mulutku rasanya seperti terkunci. Afan mengusap-usap bahuku mencoba menenangkan.


“Ini minum dulu biar tenang” Fasya mengulurkan satu botol air mineral yang tanpa berfikir panjang aku teguk rakus.


“Pelan-pelan okay…” Ketenangan yang diperlihatkan Afan perlahan membuatku sedikit tenang.


“Tadi… tadi ada Landy disini..”

__ADS_1


“Ngga tau kenapa gua lari-lari gini..” Tanpa terasa air mata mengalir dipipiku. Melihatku yang putus asa seperti itu membuat si kembar prihatin dan mencoba memelukku.


__ADS_2