Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)

Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)
19


__ADS_3

"Ak.. aku hm.. kemaren diajakin si kembar main..."


Landy menaikkan alisnya menunggu penjelasan ku berlanjut. Rasanya aku ingin menguburkan diri saja. Bubur ayam ini rasanya sudah tidak enak lagi, kerupuk bahkan ayam suwir yang biasanya terasa enak perlahan jadi mulai pahit.


"Sikembar ngajakin aku karoke, kebetulan pacar mereka ikut dan ngajakin Afan... lagian Afan anak kampus abang, jadi aku nggak takut pasti abang kenal"


"Kalian bahkan sampe karoke bareng.. aku kira cuma makan"


Landy mengusap wajahnya kasar terlihat frustasi, yang sungguh membuatku merasa sangat bersalah, melihat dia yang mulai berniat pergi, segera saja aku tahan. Aku peluk dia dari belakang biasanya dia akan luluh dengan tindakanku ini dia akan berubah manis dan akan menuruti semua kemauanku seperti dulu. Iya pasti! Harus! I hope it's work! Sungguh aku sudah lelah lari dan menghindar sudah cukup rasanya aku sedari kemarin menyangkal perasaanku sendiri padahal sumber kebahagiaanku ada di hadapanku saat ini.


"Jangan marah... Kamu yang ngajarin aku buat terbuka, nyelesein masalah pake kepala dingin.. ngedengerin penjelasan dulu"


"By.. aku kasih kamu waktu kemarin buat mikirin hubungan kita, kita harus sama-sama introspeksi diri biar lebih baik kedepannya, aku mau kamu siap jadi pendampingku nanti... karena semua nggak bakalan mudah kedepannya.. bukan untuk mencari kandidat lain pengganti ku, aku bener-bener kecewa by"


Bagaimana ini kalau dia benar-benar marah? Ah si*l! Kenapa si aku sampai kepergok segala padahal tidak selingkuh. Melihat tidak ada reaksi apapun dari Landy membuatku mengeratkan pelukanku semakin erat.


"Mas... hmm jangan marah"


Kepalaku sudah ndusel-ndusel tidak jelas pada punggung kekar Landy. Hmm wangi.. pacarku memang wangi.


"Maasss... aku janji nggak bakalan, ketemu dia lagi, kamu bahkan boleh blokir nomor dia di HP ku"


"Jadi kalian udah punya nomor masing-masing?"


Poor Dani! Argh.. rasanya inginku potong saja mulutku. Bagaimana mungkin aku sebodoh ini membeberkan kebodohan ku.


"Hmm... Fasya yang taro di HP, bukan aku yang mintaaaa"


"Kamu cinta aku?"


Deg. Hatiku sakit sekali rasanya saat ada seseorang yang meragukan perasaanku.


"Kenapa kamu nanya kaya gitu? Jelas aku cinta kamu! Buat apa aku disini kalo nggak cinta!"


Mataku memanas mendengar keraguannya. Tuhan, apa kami benar-benar akan berpisah sekarang?


Jadi seperti ini rasanya menjelaskan sesuatu yang tidak dipercaya bahkan didengar orang lain. Aku menyesal, benar-benar menyesal, kalau tahu rasanya se-frustasi ini aku pasti sudah mendengarkan penjelasannya sedari dulu bukannya malah sibuk menghindar dan menyangkal.


"Mass... jangan marah terus, aku bingung mesti ngapain, kamu boleh minta apapun asal mau maafin aku, aku nggak suka kaya gini, aku nggak suka kalo kamu nggak ngabarin aku, nggak suka kalo kamu nggak bilang selamat pagi sama aku... aku bingung waktu kamu ngilang, aku bingung harus gimana waktu tau kamu marah... harusnya kamu hubungin aku terus kenapa berenti! Aku nggak suka!"


"By.. aku lelaki dewasa, sudah saatnya aku susun masa depanku, kedepannya bakalan ada tanggung jawab besar yang harus aku tanggung.. aku butuh seseorang yang bisa ngedukung aku nantinya, aku nggak mungkin nungguin kamu terus kalo kamunya aja nggak yakin sama aku.."


Ucapan Landy benar-benar menikam ku keras, berkali-kali luka kemarin yang sempat tergores perlahan seperti ada yang menaburkan garam diatasnya dibalur dengan air jeruk nipis yang makin membuat perih.


Si*l! kok sakit banget si!


"Aku bisa! Aku bisa, aku bisa ngedukung kamu... maafin aku, aku janji bakalan lakuin apapun buat kamu... please jangan gini"


Keheningan yang terasa selama beberapa menit membuat suasana menjadi sedikit mencekam. Entahlah, dari sisiku mungkin iya, tidak tahu dengan Landy.


"Oya..? Oke kalo gitu"


Kenapa perasaanku tidak enak ya mendengar jawaban Landy.


Landy berbalik menghadap ku menarik tanganku yang mendekapnya erat sedari tadi.


"Sini peluk.."


Aku cemberut kesal melihat respon Landy yang tiba-tiba berubah. Dia kenapa?


Melihatku yang tidak bereaksi dan malah terbengong bingung Landy langsung menarik ku kepelukannya. Dan mengecup pipiku berkali-kali, sebenarnya apa yang dia pikirkan sampai sebahagia ini. Hanya Landy yang bahagia yang sanggup mengecup pipiku ribuan kali.


"Berarti, sebulan lagi kita tunangan.."


"Apa? kenapa jadi bahas tunangan?"

__ADS_1


What...?! Aku mencoba melepas pelukannya yang berakhir gagal mendongak mencoba mencari jawaban dari wajahnya yang sayangnya terlihat bahagia, seperti telah mendapat undian bermiliar-miliar.


"Kamu yang bilang tadi bakalan ngabulin permintaanku asal dimaafin.."


Oh crap! Dasar licik!


"Aku cuma minta satu, kita tunangan sebulan lagi dan tanpa drama kamu lari-lari lagi"


Argh. Harusnya aku sudah antisipasi hal ini, kemarahannya tadi benar-benar mencurigakan, dan darimana dia tahu nama Afan?! Poor me!


***


Hari terakhir ulangan akhir semester yang indah aku habiskan untuk berkeliling mencari kado yang pas untuk Landy yang akan aku serahkan hari ini, aku berencana menemui Landy yang sedang melaksanakan ujian pendadaran. Akhirnya dia bisa menyelesaikan skripsinya. Hubungan kami membaik setelah mengalami beberapa perdebatan, yang akhirnya mau tidak mau aku bersedia melaksanakan pertunangan dengannya yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi.


Aku melambai-lambai memanggil abang dan kak Lena yang baru datang diparkiran kampus gedung Teknik, menunggu abang menghampiriku aku mengalihkan pandangan mengitari kampus, mencari-cari pemandangan indah yang menghiasi gedung perkuliahan ini yang di dominasi anak laki-laki. Harusnya aku pilih kuliah jurusan teknik pasti hidupku akan diwarnai dengan berseliwerannya laki-laki berparas indah disini.


"Hai Dan.."


Selalu, kak Lena yang cantik membawa aura ceria merubah suasana manly disini. Beberapa kali lirikan dari sekitaran penghuni kampus pada kak Lena membuktikan betapa cantiknya dia. Lihat saja Abang ku yang tidak berhenti memberikan muka seram pada setiap lelaki yang lewat.


"Hai kak.."


"Gimana UAS-nya de?"


"Tamat! Selesai dede udah bebas dong sekarang.."


Aku tersenyum bangga memamerkan kartu ujian ku yang sudah terisi tanda tangan pengawas semua.


"Yang penting kan hasilnya bukan selesenya.. kalo dapet C abang aduin sama ayah!"


"Ish! Kok gitu!"


"Udah-udah, kenapa jadi ngeledekin Dani.. tenang aja, kaka yang jamin, abang kamu nggak akan berani aduin apapun ke ayah.. janji!"


Abang protes mendengar jawaban Kak Lena yang lebih mau membelaku. Emang deh! Kaka ipar paling the best memang cuma kak Lena.


"Yes! Kak Lena cantik emang the best! Kaka udah pantes jadi kaka ipar ku!"


"Aish! Udah ayo! ntar Landy ngomel lagi nunggu kelamaan"


Kami berjalan beriringan mencari ruang sidang Landy, seharusnya kalau kami datang sekarang mungkin mereka baru memulai presentasi.


Aku membuka kembali chat terakhirku dengan Landy, membaca kembali letak ruangan yang sudah Landy beri tahu. Menarik abang dan kak Lena kami menuju ruangan yang sudah dikerumuni wajah-wajah mahasiswa teknik yang sebagian besar merupakan mahasiswa aktif kampus. Beberapa bahkan membawa spanduk, bunga, coklat, hell! Se-tenar itu ya pacarku!


Aku melirik malas kumpulan mahasiswi berisik di samping kananku mereka tidak berhenti membicarakan Landy. Melirik seragam lapangan yang mereka pakai, sepertinya mereka dari himpunan mahasiswa jurusan, mengesalkan sekali! Mempunyai kekasih seorang aktivis kampus yang masuk berbagai macam organisasi memang cobaan. Lihat saja jejeran mahasiswi cantik disebelah ku. Baru berdiri beberapa menit, rombongan mahasiswa MAPALA mulai berdatangan memang si di dominasi anak laki-laki tapi tetap saja masih ada mahasiswinya yang kaya, cantik-cantik dan anggun padahal mereka selalu naik gunung tapi perawatan seperti tidak jauh dari hidup mereka, make up merekapun tidak berlebihan dan malah terlihat berwibawa dan cantik. Melirik baju yang aku pakai hari ini, aku berdecak kesal. Aku seperti upik abu ditengah-tengah bidadari.


"Kamu cantik kok! Jangan minder... Buktinya Landy lebih milih kamu daripada mereka.."


Kak Lena mengusap-ngusap bahuku. Benar kata kak Lena, setidaknya aku harus tegakkan badan dan kepala dihadapan mereka. Abang tersenyum menyemangati ku. Syukurlah setidaknya ada mereka yang mau menemaniku.


"Adek abang cantik kok... hmm, kalian mau minum apa? biar aku beliin"


"Dede mau air putih aja, yang dingin"


"Sama aku juga yang..."


Mengangguk pelan abang pergi membeli minum, dia berlari pelan menuruni tangga beberapa gadis melirik lebih dua kali setiap abang melangkah, memang pesona abang tidak bisa dianggap remeh juga, lihat saja kak Lena mau-maunya dia bertekuk lutut dihadapan abang, mau saja menuruti perintah abang, hh cinta memang buta. Belum sampai 5 menit abang pergi seruan heboh datang dari arah tangga, beberapa mahasiswa MAPALA berteriak gembira seperti sedang menyambut orang penting membuat fokus ku dan kak Lena teralihkan dari pintu ruangan, Landy sedang berjuang didalam, para pendukung dilarang masuk makanya kami berdesakan diluar, menoleh aku mengerang pelan mendapati siapa yang datang rupanya putri kampus sudah datang.


"Hai Dan..."


Aku hanya tersenyum menjawab sapaan Sania yang sialnya berpakaian seksi hari ini. Pantas saja cowok-cowok tadi berseru heboh sedari tadi. Kak Lena mencolek siku ku bertanya siapa.


"Ah.. siapa dia...?"


Sania tersenyum meremehkan dengan mata besarnya yang semakin jelek.

__ADS_1


"Kak Len.. ini kak sania, dia kating disini, seangkatan sama kaka kayanya"


"Oh hai... gue Lena.."


"Sania.."


Sungguh! Aku ingin menampar mulutnya yang sedang tersenyum merendahkan.


"Yang, ini minumannya...."


Kedatangan abang setidaknya mengalihkan ku dari rasa untuk membunuh seseorang.


"Hmm... hai.. Sania?"


Uluran tangan Sania yang tiba-tiba saja terulur di hadapanku kearah abang membuatku menganga. Hell! Dasar minyak goreng murah!


"Oh.. hai.. Denny, siapa dia dek...?"


"Dia kating bang"


Abang mengangguk paham, tanpa menghiraukan Sania dia kembali bercengkrama dengan Kak Lena. Syukurlah abang ku yang keren itu peka sekali kalau aku tidak menyukai dia berinteraksi lama-lama dengan wanita ini.


"Oh.. dia siapa Dan..."


"Abang ku, kenapa?"


"Kenapa gua jarang liat, dia dari fakultas apa?"


Sania menarik ku menghadapnya. Tangannya mengusap-usap bahu ku. Kenapa dengan dia?


"Abang jurusan bisnis, dia bukan dari sini, dia dari univ sebelah makanya kak Sania nggak pernah liat dia oke, oh ya satu informasi lagi, cewek yang di samping dia itu pacarnya mereka udah pacaran lama.. sekian"


Memalingkan wajah aku memfokuskan kembali perhatian ku pada pintu yang belum terbuka sedari tadi. Kenapa si sidang ini terasa lama bikin khawatir saja. Sania tidak mengganggu ku lagi, dia bercengkrama kembali dengan kumpulan mahasiswa sebelah.


Penantian Ku, akhirnya berakhir saat pintu terbuka, Landy keluar dengan pakaian hitam putihnya tersenyum melihat sambutan ku.


"Baby... you come"


"Of course"


Pelukan Landy terasa hangat, wajah cemas yang tadi sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar. Kecupan-kecupan Landy terasa di pelipis ku, tangannya terasa dingin. Sepertinya dia benar-benar gugup.


"Ada orang kali Lan disini..."


Celetukan abang menghentikan Landy yang sedari tadi masih saja memelukku terlalu erat digantikan rangkulan lengannya dibahu ku. Akhirnya dia melepaskan ku.


"Ganggu aja lu..."


Rombongan pendukung Landy perlahan berkerumun dihadapan kami, Landy masih saja merangkul ku. Landy tinggal menunggu lulus tidaknya skripsi yang tadi dia presentasikan. Penguji masih berdiskusi lama didalam, Sania pun tanpa tinggal diam masuk ke kerumunan, memeluk dan memberi selamat pada Landy, hadiah coklat yang dia berikan aku rebut dan ku titipkan pada abang. Landy yang melihat kecemburuanku malah tertawa senang terang saja kemarahan ku bertambah. Tanganku memaksa rangkulan Landy lepas, namun bukannya melonggar tapi malah mengerat.


Pintu yang terbuka, mengagetkan kami semua Landy kembali diminta untuk masuk ruang sidang. Siap mendengarkan hasil dari perjuangan skripsinya, melihat itu jantungku ikut berdetak takut tidak karuan, kali ini pintu dibiarkan terbuka jadi kami semua dapat mendengar hasil yang sedang dibicarakan didalam. Namun rasanya aku tidak sanggup mendengarkannya terlalu takut, jadi aku putuskan untuk menutup telingaku saja.


Namun sorakan dari penggemar Landy yang berteriak keras membuktikan kalau Landy pasti lulus dengan nilai baik. Syukurlah. Landy keluar dengan senyum merekah yang langsung menular pada kami tujuan jalannya yang langsung mengarah padaku membuat hati ku semakin melambung tinggi.


"I did it by..."


"Yeah... selamat, kamu emang hebat, pacar ku selalu hebat"


Lega rasanya, pelukan Landy terasa lebih erat setelah beban dan ke khawatirannya terangkat. Bunga yang sudah kubawa dari tadi diterima dengan senyuman lebar, pelukan kami terinterupsi oleh teman-teman Landy yang berdatangan memberikan selamat.


Aku setia menunggu Landy yang sedang diarak teman-temannya mengelilingi kampus.


Aku putuskan untuk menunggunya diparkiran, sambil berfikir menimbang-nimbang haruskah aku memakai cincin yang diberikan Landy kemarin. Dia pasti menunggu jawabanku. Cincinnya terlihat indah sepasang dengan kalung yang terlihat indah namun elegan. Ternyata dia membelinya, tahu darimana kalau aku menginginkan cincin dan kalung ini. Setahu ku hanya abang yang tahu dulu. tersenyum perlahan aku mulai memasang kalung dileher ku. Abang dan kak Lena sedang pergi ke kantin untuk membeli camilan jadi aku tidak malu untuk mengeluarkan cincin dan kalung yang Landy berikan. Aku masih takut mendapat reaksi apa yang akan diberikan abang melihat apa yang diberikan Landy untuk adiknya ini.


Sudahlah ku pakai saja, toh ini barang mahal pasti aku tambah cantik.

__ADS_1


__ADS_2