Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)

Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)
6


__ADS_3

Aku gelisah tidak karuan. Tidak bisa tidur sama sekali setelah perbuatan si brengsek itu. Sialan.


Mataku mengerjap menatap langit-langit kamar yang temaram tanganku mengusap-usap pipiku yang masih memanas akibat mengingat kembali kegiatan tadi.


HP yang bergetar mengagetkan lamunanku tentang peristiwa tadi, merangkak aku mengambil HP yang aku letakkan di meja belajarku.


By.. kamu dah tidur?


Landy


Aku bingung harus menjawab apa, harusnya peristiwa tadi tidak terjadi. Hubungan kami sudah bukan jenis hubungan yang seperti itu, aku membiarkan pesan itu tanpa jawaban.


Drrt.


Aku nggak akan minta maaf untuk yang tadi, dan kamu pasti tau alasannya.


Landy


Landy kembali mengirim pesan yang benar-benar menunjukkan kebrengsekkannya yang natural. Sial.


Kubanting HPku keras ke atas kasur, mengusap wajah dan bergerak gelisah tidak karuan. Malam ini benar-benar melelahkan, harusnya aku sudah tidur tenang tetapi gara-gara kelakuan dan pesan si brengsek tidak tahu diri itu mataku sama sekali tidak dapat terpejam. Aku yakin lingkar mataku besok akan menghitam.


***


Seperti yang sudah diprediksi aku baru bisa tertidur pukul 02.00, acara barbeque yang diadakan kakakku juga selesai dini hari.


Aku membersihkan tubuhku dan mencoba menutupi mata pandaku yang sangat mengerikan.


Turun ke lantai bawah ruang tamu berantakan tidak karuan, abang dan temannya tergeletak mengenaskan di atas karpet. TV masih menyala sendiri, kulit kacang bertebaran mengotori meja, botol-botol minuman bersoda juga bertebaran martabak manisku tinggal kotak bodohnya.


Dengan terpaksa aku membereskan kekacauan ini, daripada nanti Bunda marah-marah.


Landy tertidur dengan hanya kaos putih pendek dan celana jeansnya, dia tidur di sofa sedangkan yang lain di atas karpet. Mencoba tidak berisik aku mengumpulkan semuanya kedalam plastik keresek besar. Bahkan suaru gerasak-gerusukku tidak mengganggu tidur mereka sama sekali dasar ****.


Aku meletakkan kresek sampah itu dibelakang rumah dan berniat untuk membersihkan kerusuhan itu nanti saja, percuma dibersihkan sekarang tidak akan bersih karena masih banyak manusia yang tergeletak disana.


Bunda sedang membuat sarapan ditemani Mba Resti di dapur.

__ADS_1


Bingung mau melakukan apa, aku akhirnya hanya duduk di meja makan. Sambil memainkan game cacing di Hpku.


"Bantuin Bunda dong didapur dek..." Ucap Ayah.


Bunda yang mendengar Ayah sudah dibawah langsung meletakkan kopi di meja.


"Biarin aja... Adek ngga mau bantu, paling nanti dimarahin mama mertuanya"


"Bunda kok gitu.... Ngomongnya" Aku mengerang jengkel mendengar jawaban Bunda. Membanting Hpku di meja dan mulai menata piring.


Ayah dan Bunda hanya tertawa, setelah berhasil mengerjai anaknya.


"Bangunin Abangmu sana sama temen-temennya..." Perintah Ayah.


Aku segera bergegas membangunkan Abang, dan teman-temannya.


"Abang... Bangun" Aku mendorong-dorong bahu Bang Denny keras. Bang Denny hanya bergeming dan menelungkupkan badannya melanjutkan kembali tidurnya. Sial.


"Baaaaang... Bangun"


"Hmmm.."


"Iya-iya.. Abang bangun"


Abang bangun dan menyipitkan matanya menyesuaikan cahaya.


"Bangunin temen-temennya, Adek ngga mau"


Bang Denny yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya hanya mengangguk.


Aku berjalan berjinjit di tengah hamparan manusia ini dan berlari meninggalkan mereka ke atas. Temen-temen Abang kok cakep-cakep si. Batinku berseru bodoh.


***


"Dani sekarang semester berapa?"


Suasana awkward tidak dapat dihindari mendengar seruan tiba-tiba itu. Hampir saja aku tersedak.

__ADS_1


Tempe goreng yang niatnya masuk ke mulutku akhirnya terhempas ke piring. Rasanya malas untuk menjawab basa-basi yang bener-bener basi banget ini.


"Aku..."


"Ekhemmm..."


Jawaban yang sudah akan keluar dari mulutku terhenti begitu saja. Tatapan tajam yang kurasakan dari sebelah kiriku menghentikan gerakan mulutku. Damn, Landy dan sikap bodohnya.


"Kenapa Ian.. Naksir lu ama adek gua?" Bang Denny memecahkan keheningan tadi. Ayah dan Ibu sudah tidak ada di ruang makan mereka pergi kencan berdua menikmati hari libur.


"Namanya juga usaha..."


Bantingan sendok disebelahku membuat semua orang menoleh.


"Sorry... tangan gua masih kaku"


Harusnya aku sarapan dari tadi dengan Ayah dan Bunda, bukannya malah terjebak situasi menyebalkan ini.


"Ga usah gangguin adek gua.. Lu nggak liat monyetnya udah melotot dari tadi"


"Nyerah aja nyerah.. Gua aja kabur semalem" Bang Rama menyahuti sambil terkekeh ringan.


Aku yang diingatkan kembali peristiwa yang terjadi semalam praktis langsung memerah mencengkram sendokku keras. Bunda malu!


Seketika saja seruan bersahutan diantara teman-teman Abangku.


"Emang semalem kenapa..?" Bang Denny melirik tajam ke arah Landy yang duduk disampingku. Sial! Bisa nggak sih, kita ganti topik.


"Semalem itu..."


Bang Rama langsung terdiam, mendapat pelototan tajam Landy. Syukurlah, memang ember semua mulutnya teman Abang.


"Ada apaan si... Aku ketinggalan sesuatu yak"


Cewek cantik yang semalam datang tiba-tiba itu ikut menyahut.


"Biasa.. Landy, gua cuma penasaran aja gimana rasanya gebetan sama mantan duduk bareng semeja"

__ADS_1


Oh!


"Dede udah kenyang..."


__ADS_2