Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)

Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)
20


__ADS_3

Aku benar-benar bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa dengan mudahnya mau kembali bersamanya. Sial! Harusnya aku mempertimbangkan kelakuannya yang terdahulu sebelum malah terpesona dengan permintaan maafnya, masa break kemarin rasanya seperti terbuang sia-sia. Percuma dulu aku memohon-mohon meminta waktu dan pada akhirnya aku terjebak bersamanya lagi dan sekarang berubah menjadi selamanya. Aku yang terlalu bodoh atau Landy yang terlalu licik. Da*n! Tapi sayang cincin dan kalung cantiknya kalau dikembalikan, barang mahal tidak boleh ditolak. Alasanku marah-marah tidak jelas seperti ini karena kejutan yang sudah aku persiapkan untuknya hancur berantakan karena Landy memilih merayakan kelulusannya dengan teman dan anggota UKM nya, kemarin aku ditinggal dengan perasaan bahagia yang bodoh berharap bisa menunjukkan cincin dan kalung yang dia berikan sudah aku pakai dan aku menerima lamarannya bukannya menemui ku, dia malah pergi, Landy memberiku harapan palsu aku disuruh pulang dengan abang dan Kak Lena restoran mahal yang sudah aku booking akhirnya dipakai abang dan kak Lena berdua daripada mubadzir, padahal aku sudah menyiapkan hal yang romantis. Tapi dasar Landy b*go!


Mendengar kemarahan ku Landy langsung meminta maaf tiada ampun membuat ayah dan bunda bingung sekaligus mempermalukan ku, dihadapan pak RT karena suara berisiknya. Dan disinilah aku berakhir sekarang. Apartemen mewah Landy yang sialnya terasa nyaman.


Drrt.


"Ambilin HP Mas.. sayang"


Tangan kecilku mencoba menggapai-gapai HP Landy, yang tergeletak di meja samping, yang terasa percuma kalau Landy masih saja mengurungku dengan tangan dan kakinya. Dasar bodoh!


"Ya lepasin dulu"


"Hmmm"


Hah! Sial! Dasar Landy b*go! Tangannya bahkan tak mau bergerak sedikitpun. Bukannya melepaskan ku, dia malah memerangkap wajah ku, masuk kedalam dada bidangnya yang hangat. Kan aku jadi nyaman, dasar Landy!


"Aku ngga bisa ngambil tau..."


"Yaudah biarin aja... ngeganggu orang mesra-mesraan aja"


"Mas yang pengen, bukan aku, aku udah nggak mood.. mood aku ketinggalan diparkiran basemen gedung teknik"


Suaraku menjadi sengau, tertahan baju Landy. Bukannya terdengar sarkas malah terdengar menjijikan.


"By... kan Mas udah minta maaf"


"Bodo! Kesel! Lepasin!"


"Nggak akan, nggak akan pernah aku lepasin"


Ish. Dasar nggak peka, kan jantung ku jadi tambah menggila, Landy bukannya melepaskan ku malah mulai menciumi leherku.


"Sini.. cium"


"Ngga mau... aku ngga mau dicium"


Dengan terpaksa aku menenggelamkan wajah ku dalam dada bidang Landy yang nyaman ini. Pelukanku semakin mengerat seiring dengan tangan bringas Landy yang mencoba untuk melihat wajah ku.

__ADS_1


***


Aku terbangun karena mendengar keributan yang terjadi di pintu apartemen Landy.


Beranjak kedepan aku melihat Landy yang sedang berkacak pinggang menutup akses pintu yang hanya terbuka sedikit.


"Adek gua mana...?"


Abang berdecak kesal, mencoba mendorong Landy, dan berontak ingin masuk see? Tidak hanya aku yang punya kelakuan bar-bar. Ada apa dengan mereka?


"Istirahat.."


"Mana! Sini! Gua masih nanya baik-baik ya.."


"Mending lu balik"


"Nggak gitu juga kambing! Kalian belum sah! Mana ada istirahat bareng.."


Abang seperti mencoba menerobos masuk, tapi terhalang Landy yang menghadang di pintu. Landy benar-benar teguh pendirian, dia bahkan tidak bergerak sedikitpun dari lantai yang dia pijak.


Len? Kak Lena juga?


"Bentar lagi, boba gua belom abis"


Yeah. Kak Lena dengan gaya santainya, terdengar grasak-grusuk. Disusul dengan teriakan ketidak setujuan abang yang menolak untuk pergi. Tapi tetap saja, walaupun bisa melawan, abang tidak pernah sanggup membantah kak Lena.


"Yaaang... kamu belain Landy"


Gerutuan abang perlahan menjauh dan hilang.


Landy menutup pintu dan menguncinya kembali dari dalam.


"Kenapa abang disuruh pulang?"


"Karna kita masih perlu waktu berdua"


Landy dan pikiran bodohnya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya kamu aja itu mah"


Memutar kedua mataku malas aku melangkah pelan menuju kitchen set milik Landy, membuka kulkas dan meminum satu botol kecil air putih yang sungguh sangat menyegarkan.


"Aku laper mo makan"


Meneguk minum rakus aku tunggu-tunggu suara Landy.


Aku mengernyit bingung, tak mendapati jawaban apapun dari Landy yang tiba-tiba saja membisu. Membalik badan aku melihat Landy yang berwajah dingin seperti biasa, tapi pandangannya sungguh mengesalkan seperti manusia batu yang sedang marah.


Landy berjalan kearah ku, pandangannya tertuju pada baju yang aku pakai, apa lagi yang salah? Ah sial! Kenapa pacarku seperti ini si, bahasa manusia seperti susah untuk dia cerna.


Aku memperhatikan apa yang aku pakai sejenak.


Oow sepertinya aku memang membuat kesalahan. Kaos Landy ternyata hanya sampai pahaku, terang saja dia melotot tidak jelas seperti itu.


"Celananya kegedean... keinjek terus makanya aku copot, ribet"


Landy bodoh benar-benar hanya diam. Bisa tidak dia berbicara seperti manusia normal bukan dengan telepati mata.


"Mas.. jangan marah..."


Tanganku tiba-tiba saja terasa dingin. Kenapa si hari ini aku bodoh sekali.


Aku kehabisan kata-kata apalagi setelah dia menutup akses lari ku. Untuk nafas pun susah, harum wangi Landy benar-benar memenuhi seluruh oksigen yang aku hirup. Ini nih yang ngajakin tunangan dari kemarin. Ish. Kesel!


"Ash... Mas! Gila ya kamu! Ngapain gigit-gigit bahu aku"


Bahuku yang terbuka karena kerah kaus Landy turun memerah mencetak gigi Landy.


"Besok kita ngga usah tunangan..."


Yes! Akhirnya


"Kita langsung nikah aja by"


What the hell! Crap!

__ADS_1


__ADS_2