
Acara pertunangan kami berjalan lancar, keluarga Landy sudah pulang beberapa menit yang lalu, dan ke khawatiran yang sempat aku rasakan beberapa hari lalu perlahan mulai sirna digantikan dengan kelegaan.
Kini tinggal keluargaku dan teman teman Landy dan abang yang di dominasi anak laki-laki yang masih menghiasi keriangan di rumah ini. Mereka masih asik berkumpul dan bercengkrama di teras depan. Si kembar bocil sudah tertidur kelelahan, mereka aktif sekali berlarian kesana-kemari apalagi ada teman baru, keponakan Landy yang ikut datang.
Bunda dan ayah masih asik bercengkrama dengan keluarga besar, mereka masih berbincang hangat mengenai acara yang baru saja selesai.
Beberapa pekerja yang bekerja di toko ayah pun masih asik main diruang tengah, mereka terlihat nyaman di rumahku.
Sedangkan aku? Duduk termenung sendiri ditemani segelas susu coklat hangat sambil menatap bintang di teras samping rumah.
Kelemahan ku adalah aku sulit untuk bergabung dan bercengkrama di tengah orang banyak, aku akan memilih bermain dan melamun sendiri dibanding harus berbasa-basi di depan orang. Tunangan baruku bahkan masih asik bersama teman-temannya dia berbeda sekali denganku.
Sifat kami sungguh bertolak belakang, Landy terlahir dengan berbagai kelebihan dia yang seorang aktivis tentu saja memiliki banyak penggemar, terpandang sebagai orang yang tegas dan bertanggung jawab, selalu mengikuti berbagai kegiatan kampus, apalagi dia dikaruniai fisik yang lebih indah sedari kecil dari ujung kepala sampai kaki, terlalu sempurna untuk diriku yang biasa biasa saja, apalagi ditambah dengan kesuksesan usahanya sendiri yang tanpa campur tangan ayah dan bundanya. Entah bagaimana manusia sempurna itu mau bersamaku.
Dengan reputasinya itu tentu saja dia memiliki circle pertemanan yang banyak, buktinya sekarang dia bahkan tidak memiliki waktu walau hanya 5 menit saja, sekedar untuk menoleh menatapku, banyak pertanyaan yang harus dia jawab yang diajukan oleh teman temannya. Sayangnya dengan beberapa kelebihan yang dia punya itu, justru malah berkontribusi banyak membentuk kepribadian Landy yang
sungguh sangat buruk untuk dimiliki seorang manusia, yang diantaranya adalah dia tidak pernah mau kalah, egois, gila, posesif, mau menang sendiri, selalu ingin dinomor satukan.
Hh. Sudahlah, rasanya aku tidak sanggup lagi kalau harus menceritakan kesempurnaan tunangan ku itu, tanganku terangkat mengusap lenganku yang mulai terasa dingin, aku sudah berganti pakaian dari kebaya modern menjadi dress midi rumahan dengan lengan yang terbuka dan hanya dihiasi dengan tali di bahu. Make up ku sudah ku hapus menjadi make up tipis yang hanya berupa bedak dan lipmate.
"Dede kenapa disini..." Aku menoleh, melihat abang yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping ayunan ku, aku bahkan tidak mendengar langkah kakinya sama sekali. Aku terlalu sibuk berpikir tanpa memperhatikan sekitar.
"Abang juga, ngapain kesini" Ujar Ku.
Abang mendorongku bergeser ke sisi kosong disebelah ku kemudian mendaratkan dirinya duduk di sampingku.
"De...."
"Hmm...?" Ekspresi serius diperlihatkan abang sekarang, tatapannya sedikit kosong menatap taman kecil didepan kami. Membuatku sedikit takut, entah informasi apa yang akan abang beritahukan.
"Ngga kerasa ya, dede abang udah diminta sama orang..."
Iya, tidak terasa. Dede juga nggak nyangka abang. Mulutku terkunci tak mau berkata apapun aku tak berani menyela, abang seperti memendam sesuatu yang ingin dia ucapkan sedari tadi.
Diam. Keheningan menghinggapi kami selama beberapa menit. Abang masih menatap kosong taman, keheningan yang terasa sedikit berbeda, keharuan masih menyelimuti suasana ini.
"Abang sayang sama dede.... dede tahu kan?"
__ADS_1
Perlahan lelehan air keluar dari kedua mata abang. Air mata yang abang teteskan membuatku tertegun sekaligus terharu. Abang Ku se-sayang itu padaku. Tanpa berfikir panjang aku masuk kedalam pelukan abang.
"Abang masih nggak rela dede diminta sama orang... abang maunya dede disini terus sama abang, sama bunda sama ayah.. abang takut dede terluka, gimana kalo tiba-tiba ada yang jahat sama dede dan Landy nggak tahu nggak bisa nolongin..? Abang nggak bisa bayangin betapa cemasnya abang nanti"
Mendengar pengakuannya membuatku tidak kuasa menahan tangis kami menangis bersama menyerukan gelisah yang sudah kami pendam lama, tidak terasa air mata kami tumpah ruah. Selama kami hidup bersama dari kecil hingga dewasa baru kali ini kami menangis bersama seperti ini. Abang Ku yang kuat hari ini mencurahkan ketakutan dan kerisauan yang sudah ber-minggu minggu ini dia pendam semenjak mendengar rencana pertunangan ku, abang ku yang kuat ternyata memiliki kerapuhannya sendiri.
"Dede juga sayang abang..."
Pelukan abang selalu hangat, harumnya seperti ayah selalu menenangkan.
***
From : -Landy-
Selamat pagi tunangan, :)
Your fiance-
Tumben sekali Landy pagi-pagi sudah mengirimiku pesan romantis seperti ini.
Drrt.
From : -Landy-
-Your Fiance-
Aish. Ada apa dengannya? ku lanjutkan saja lagi perjalananku menuju ruang akademik tanpa menghiraukan pesannya lagi. Hari ini aku berencana menemui kepala jurusan berniat memperbaiki nilai ku yang tiba-tiba tidak muncul di sistem. Bisa gawat kalau tidak diperbaiki.
Mataku mengedar memperhatikan ruang akademik yang sangat sibuk, banyak mahasiswa yang terdampar disini juga. Kemungkinan aku akan terjebak lama disini menunggu antrian yang panjang. Ish.
Aku duduk sendirian di kursi depan resepsionis. Semenjak pertengkaran ku dengan si kembar dulu, kami belum saling memaafkan masih berdiam diri satu sama lain. Apalagi setelah kabar pertunangan ku yang tersebar luas di socmed kampus. Mereka sama sekali tidak mau bertegur sapa denganku. Baru terasa sepinya tidak memiliki teman.
"Hei..."
Menoleh. Aku menemukan laki-laki wajah asing duduk di sampingku. Sepertinya dia bukan anak Fakultas sini. Tidak ku hiraukan aku melanjutkan kembali permainanku yang terpaksa aku tunda tadi.
"Hei..."
__ADS_1
Argh. Dia tidak tahu apa kalau aku sedang tidak ingin diganggu. Menyebalkan.
"Ada apa?"
Untung wajahnya di atas standar, jadi gangguannya bisa aku maafkan. Coba kalau tidak sepatuku sudah melayang ke wajahnya.
"Map mu terjatuh.." Ujarnya menunjuk kebawah kursi di depanku.
Aish. Malunya! Ku kira dia mau menggodaku.
Dengan muka memerah ku pungut map sialan ini. Hh. Bikin malu saja.
"Makasih ya.."
"Oke.. sama-sama"
"Kamu bukan fakultas sini ya.. aku nggak pernah lihat soalnya"
Drrt.
From : -Landy-
By.... Aku kasih kamu waktu 5 menit buat pergi dari situ.. kalo nggak, kamu lebih tau apa yang bakalan terjadi.
-Landy-
What?! Mataku mengedar ke sekeliling, mencari siapa gerangan yang membocorkan posisiku pada Landy. Argh. Bagaimana ini, telinga ku sudah tidak fokus mendengarkan penjelasan cowok di depanku. Otakku bahkan sudah berkelana mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang secara tidak sadar telah aku buat.
Drrt.
From : -Landy-
Oke waktu kamu udah hbs.
-Landy-
Argh. Bodohnya aku!
__ADS_1