
Perasaanku benar-benar tidak karuan, bukan ini yang harusnya aku rasain. Seperti ada yang kurang, padahal kan ini hari kebebasan yang sudah aku tunggu bertahun-tahun yang lalu. Tapi bukannya semangat aku malah terpuruk bodoh menanti sesuatu yang tidak tahu pasti kapan akan datang.
Harusnya aku bahagia kan, iya kan? Hh.. Meminta bantuan abang juga rasanya malu, aku tidak berani sama sekali.
Setelah menimang beberapa pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk menelfon nya duluan, tapi keberanian yang sudah aku pupuk dengan susah payah dihancurkan dengan sekali tikam oleh suara operator yang menyatakan ketidak aktifan nomor ini. Jadi aku memutuskan mengulangi terus menerus panggilan bodoh itu yang tidak membuahkan hasil sama sekali. Dasar Landy br*ngs*k! Dia benar benar menguji kesabaran ku.
Bunda! Dede kangen!
Iya.. Aku kangen bunda bukan Landy. Singkirkan jauh-jauh nama Landy dari hidupku. Iya! Harus! Ini kan yang aku mau. Lebih baik memikirkan bunda dan ayah yang sedang pergi ke luar kota, liburan berdua merayakan hari jadi pernikahan mereka.
Setidaknya segelas air putih mungkin akan menghilangkan keresahan pikirku. Aku berlari menuruni tangga menuju dapur namun langkahku terhenti oleh suara percakapan teman abang yang sedang berkumpul hari ini ada sekitar 4 orang termasuk abang yang sedang duduk mengelilingi layar tv yang menampilkan permainan ps, abang hanya duduk menonton teman-temannya bermain.
"Tumben, Landy kaga main Den"
"Huh... Oh, sakit dia kecapean kayanya.."
What?! Si br*ngs*k itu bisa sakit juga ternyata.
"Adek lu bebas dong..."
"Apa hubungannya..."
"Ya gapapa..."
Hening sesaat, aku melanjutkan langkahku pelan, rasanya seperti maling di rumah sendiri. Kesel!
"Den..."
"Hmm.."
Abang ku benar-benar! "Hmm" seperti bahasa lainnya. Abang seperti tidak menikmati percakapan yang coba di bangun temannya.
"Hmm... tumben adek lu kaga turun"
Aku mengerem mendadak, hampir saja aku jatuh terjungkal menabrak lemari berisi piala milik abang. Lagian kenapa si dia kepo sekali?
Nafasku tertahan, oke! rileks! Aku berjalan mengendap pelan menuju dapur tinggal melewati satu lemari dan kursi makan maka aku akan tenggelam dibalik tembok dapur. Sungguh! Aku sedang tidak ingin berbasa-basi.
__ADS_1
"Tidur kali, dia kan p*lor"
Dasar abang b*go! Kalau bunda pulang aku aduin dia.
"Dede nggak p*lor!"
Aku berteriak menyangkal pernyataan abang, praktis Abang dan teman-temannya menoleh ke arahku! Sial! Kok bisa si aku menyeletuk bodoh seperti itu.
"Sejak kapan dede disitu? Kok abang nggak denger dede turun tangga"
Abang mengernyit bingung, menemukanku berdiri kaku disebelah lemari.
Laki-laki yang tadi cerewet sekali menanyakan kegiatan ku, tersenyum seperti tanpa dosa tangannya melambai pelan ke arah ku.
"De?"
"Uh...?"
Dani bodoh! Kok bisa si aku melamun ditengah interogasi. Teman-teman abang tertawa pelan melihat kelakuan bodoh ku. Sepertinya PS yang mereka mainkan sudah tidak menarik minat mereka lagi.
Tanganku meremas satu sama lain, tidak berani melirik teman-teman abang yang masih tertawa tertahan, aku menunduk dan berdecak lirih melihat penampilan ku, pasti ini yang membuat mereka tertawa, aku hanya memakai dress piyama di atas lutut tanpa lengan dan memiliki kerah yang rendah bergambar beruang ditemani rambut berantakan sana sini. Berdecak kesal, aku bergumam tidak jelas, kalau mau tertawa tertawa saja, kenapa harus di tahan-tahan! Emang aku sebodoh itu apa?!
"Dede mau apa...?"
Abang mendekatiku, dia menarik ku untuk duduk di sampingnya di kursi makan. Mengarahkan ku untuk membelakangi teman-temannya yang masih saja memperhatikan interaksi kami. Untunglah setidaknya aku bisa menyembunyikan wajah merah ku.
"Sini HPnya..."
Tanpa berpikir panjang abang menyerahkan i-phone nya, masa bodoh pada yang akan aku pesan, dia malah sibuk merapikan juntaian rambut nakal ku.
"Kok bisa si, rambutnya nggak di rapihin dulu sebelum turun, kamu nggak malu apa ada banyak temen abang di bawah, terus ini! Kenapa piyamanya pendek banget!?"
Mulai deh, ngomelnya. Abang menarik-narik piyama ku turun, dengan raut kesal padahal sendirinya juga hanya memakai celana pendek, bahkan lebih pendek daripada milik ku.
"Dede nggak tau ada temen abang dibawah"
Abang menghela nafas mendengar jawabanku.
__ADS_1
"Dasar b*go!"
"Auu..." Kepalaku di jitak keras.
"Kalau mau apa-pa, liat-liat keadaan dulu! Bukannya langsung lari, gimana kalau yang ada dibawah itu rampok, penculik?!"
Ish. Omelan ini tidak pernah berubah, berputar-putar pada hal yang sama. Mana mungkin aku akan seberani ini kalau abang tidak ada dirumah.
"Gapapa kali Den... lagian dia keliatan manis"
"Diem lu! Kaga usah liat kesini!"
Celetukan, itu seketika membuat wajahku memanas.
"Dede mau ayam geprek bensu sama float mangga KFC ya bang, mau spaghetti KFC juga"
"Hmmm... Udah kan? Ke atas sana, biar abang anterin makanannya ke atas nanti"
Aku mengangguk antusias, abang mengusap kepalaku pelan.
"Kita juga Den... butuh asupan gizi dan daging ayam"
"Berisik lu pada!"
Aku bersiap, melanjutkan langkahku yang sempat tertunda untuk mengambil air minum.
"Dede! Disuruh keatas juga!"
Abang berteriak melihatku melangkah ke arah dapur bukannya ke kamar.
"Biarin kali Den, dede masih mau disini kan, sini main sama abang Caka?"
Laki-laki yang tadi tersenyum dan melambai ke arahku, berjalan mendekat sambil tersenyum pongah.
"Pergi lu! Kaga usah kesini! Dede sana keatas, paha kamu keliatan kemana-mana"
Abang menarik bang Caka keras dan mendudukkannya paksa di sofa kembali. Praktis gelak tawa dari teman-teman abang tidak terelakkan lagi, mereka malah semakin berlomba-lomba mengerjai abang, mereka berpura-pura berlari kearah ku yang langsung saja di hadang abang. Pergulatan badan tidak terelakkan lagi. Mereka seperti anak SD saja. Mengabaikan mereka aku berlari ke dapur mengambil air meminum di sana sedikit dan membawa botolnya ke atas. Melirik ke arah sofa mereka masih saja bergulat tidak jelas. Sudahlah! Aku bersikap bodo amat dan kembali ke kamarku.
__ADS_1