Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)

Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)
18


__ADS_3

Mataku mengerjap kaget, melirik siapa yang mencoba mengganggu tidurku. Landy tiba-tiba saja menarik ku masuk kedalam pelukannya. Ah jadi seperti ini menenangkan diri yang dia maksud yang rasanya tidak menenangkan sama sekali. Aku mencoba berontak melepaskan diri namun Landy seperti tidak mau mengalah dia lebih memilih mengeratkan pelukannya dan mulai berani mencium bahuku.


"Kamu jahat..."


Landy semakin memelukku erat, dress cantikku sudah kusut lengannya sudah turun terlalu ke bawah menampilkan sedikit bra tanpa tali milikku. Aku menggerak-gerakkan tubuhku mencoba untuk lepas dari kungkungan tubuh Landy yang besar.


"Kamu jahat banget... Ngga mau ketemu kamu lagi"


Aku gigit lengan Landy keras yang hanya mendapat ringisan pelan Landy dia bahkan tidak teriak, mendapat reaksi yang seperti itu aku putuskan untuk memberontak lebih kuat. Namun apa daya kekuatanku tidak ubahnya tangkai kering yang mudah patah.


"By.. listen to me"


Landy mencengkram kedua tanganku keras, tindakannya yang mulai bar-bar membuatku semakin merasa takut.


"Hei! Diem..."


"Diem aku bilang! Aku benar-benar harus tegas sama kamu mulai sekarang!"


Mataku mengernyit bingung, mendengar pernyataan konyol Landy. Air mata si*alanku perlahan keluar. Landy benar-benar konyol dia yang berbuat salah aku yang disalahkan bahkan dibentak?! What the...?!


Landy menarik ku duduk berhadapan dengannya, dia membenarkan dress cantikku yang rasanya sudah tidak cantik lagi menarik bantal menutupi pahaku yang sudah terekspos kedunia. Harusnya dia tidak usah peduli padaku, itu akan lebih baik untuk perasaanku dan perpisahan kita.


"Sekarang jelaskan!"


"Apa..?"


"Siapa cowok itu?"


"Apa maksud kamu?"


Kepalaku berputar mencari setiap kesalahan yang aku buat, mencari-cari celah kesalahan mana yang Landy maksud. Ini bukan pertengkaran pertama kami, kami pernah bertengkar hebat beberapa kali, namun tidak pernah separah ini. Aku merasa tidak memiliki kesalahan apapun selain makian yang aku lontarkan kemarin yang membuat Landy menghindar dan marah mendiamkan ku berhari-hari sehingga aku lebih menikmati hidupku sendiri bersama teman-temanku? Ahh. Aku paham sekarang.


"Kamu milih aku yang cari tahu sendiri atau kamu yang bilang? Kamu pasti lebih tau apa yang bisa aku lakuin nanti"


"What? itu nggak ada sangkut pautnya sama masalah kita!"


"Oya.. jalan dengan cowok lain bukan suatu masalah menurutmu?"


"Terus tidur dengan cewek lain juga bukan suatu masalah?!" Aku berteriak keras, mendengar pertanyaan Landy yang tidak menjawab sama sekali pada protes kerasku tadi.


"Aku bisa kirim orang sekarang kalo kamu masih kaya gini.."

__ADS_1


Aku menganga terkejut. Menjalin hubungan selama beberapa tahun dengan Landy membuatku paham segala gerak-geriknya, aku tahu dia bukan orang yang sembarangan setelah apa yang telah dia lakukan pada beberapa temanku semasa sekolah dulu. Dia akan bereaksi keras terhadap beberapa laki-laki yang mencoba mendekatiku, pernah ada peristiwa dimana ada teman kelasku yang menaruh perhatiannya padaku, mencoba menarik perhatianku, mengajakku berkenalan, mengantarku pulang, namun beberapa hari kemudian kejadian yang tidak aku sangka terjadi. Tiba-tiba temanku tidak berangkat sekolah dia tertahan di kantor polisi dalam keadaan babak belur bersama Landy dan beberapa teman SMA-nya, terang saja temanku kalah yang hanya anak SMP biasa, dia tidak bisa berkutik melawan beberapa pentolan anak SMA. Orang tua temanku yang tidak terima anaknya dibully melaporkan Landy kekantor polisi aku sempat takut Landy akan dipenjara bertahun-tahun karena orang tua temanku termasuk pejabat yang terpandang di daerahku namun kekhawatiran ku terasa percuma karena hanya dalam beberapa jam saja Landy sudah bebas kembali dan namanya tiba-tiba menjadi bersih temanku pun tiba-tiba pindah keluar kota dan menghilang tanpa jejak, mulai saat itu kami tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang.


"You jerk!"


Aku meninju dada Landy keras, yang seperti tidak berpengaruh apapun! Si*l! Berani-beraninya dia mengancam ku. Landy hanya menerima tinjuan ku dengan diam, lalu perlahan menangkap tanganku dan menggenggamnya.


"Harusnya aku tegas sama kamu dari dulu, aku bukan lagi remaja yang hanya mementingkan gengsi, aku butuh pendamping yang siap mendorongku dari belakang, hubungan kita bukan hubungan anak kecil lagi by, kita sudah bersama lebih dari dua tahun masih tidak se-percaya itu kamu sama aku? Kita sudah dewasa! yang harus kamu lakukan ketika menemukan sesuatu yang nggak kamu suka dan buat kamu marah atau bingung itu tanya.. Tanya aku, bicara dengan pelan bukan menghindar, hmm.. berhenti bersikap kekanakan"


Kenapa si Landy se-dewasa ini sekarang, sikap tenangnya berbeda sekali dengan kelakuannya tadi. Perkataannya benar-benar menghantam keras hatiku. Landy memang benar sikap pengecut ku yang mendarah daging susah untuk dihilangkan.


"Sekarang dengarkan penjelasan ku, aku sakit badanku lemas, aku butuh obat dan aku tidak bisa bergerak sama sekali dari kasur, lalu sania menelfon ku, mendengar aku sakit dia berinisiatif untuk membawakan ku obat"


"Kenapa nggak meminta tolong sama aku! Kenapa harus sama Sania?"


"I did! Aku meminta tolong sama kamu, tapi kamu tidak menjawab telfon ku, jadi aku chat denny meminta tolong sama dia untuk membawakan ku obat"


Aku menunduk menyadari kesalahanku. Ahh itu kenapa abang tiba-tiba pergi tanpa mengantarku keatas, ada yang harus dia beli.


"Terus kenapa Sania keringetan tidak jelas! Dia bahkan tidak memakai bra.."


Muka Landy tiba-tiba memerah mendengar kata bra.


Aku malu sendiri mendengar penjelasannya, pikiran-pikiran liar yang menghantuiku tadi perlahan surut. Wajahku memanas memerah menyeluruh, lampu yang temaram setidaknya menyamarkan wajah maluku.


Landy merentangkan tangannya, dengan malu aku maju masuk kedalam dekapan hangatnya menghirup aroma Landy yang menenangkan.


"I miss you, by.."


Mengangguk antusias aku menjawabnya. Ini yang aku mau ketenangan ini yang aku tunggu, kekosongan yang beberapa hari ini menguasai hati dan tubuhku perlahan lenyap dari sendi-sendi tubuhku.


"Aku mau denger kamu bilang, aku cinta kamu!"


"Aku juga cinta kamu by..."


"Ihh... kamu bilang duluan, bukan aku.."


"Iya aku juga cinta kamu"


Senyum bahagiaku tak bisa aku tutupi lagi kebahagiaan membuncah dari hatiku. Landy mengecupi pelipis ku terus menerus.


"Siapin diri kamu by, sebulan lagi kita tunangan.."

__ADS_1


"Apa...!!!!"


What the hell!


***


Kepalaku pusing tidak karuan, ahh sepertinya aku kelelahan menangis sampai tertidur sendirinya. Menatap sekeliling kamar yang sudah terang, aku baru tersadar kalau hari sudah siang. Aku sendirian disini Landy benar-benar meninggalkan aku sendiri, mengecek pintu kembali yang sialnya masih terkunci dari luar aku putuskan untuk membersihkan diri dulu, dress ini sudah terasa tidak nyaman.


Memakai kaos dan celana pendek Landy yang kebesaran aku terlihat mengenaskan, terlebih disertai dengan mataku yang sudah membesar seperti telah digigit ratusan lebah, dan ada cekungan hitam dibawahnya. I look like a ****!


Menggedor-gedor pintu keras aku berteriak kembali meminta dibukakan pintu, padahal perutku sudah mulai terasa sakit karena tidak di isi apapun sejak semalam. Mau sampai kapan dia akan mengurungku? Landy benar-benar br*ngs*k!


Merenung sejenak aku baru tersadar harusnya aku menghubungi abang kan? Bukannya berteriak dan menangis seperti orang gila.


Aku bergerak mencari-cari tasku yang seharusnya ada dikamar ini kan? Mataku menelusuri seluruh ruangan, memindai segala sudut, membuka semua laci yang malah membuatku tertegun menemukan benda yang ada didalamnya. Aku tertegun bingung harus bereaksi seperti apa, menemukan bungkus benda itu yang mencolok, yang sudah aku tahu pasti apa isinya tanpa membukanya terlebih dahulu, karena banyak benda tersebut yang dipajang di minimarket dan apotik. Ah si*l! Buruk sekali nasibku menemukan benda seperti ini dikamar kekasihku.


Bunyi kunci yang terputar menyadarkan ku dan cepat-cepat aku menutup kembali laci bodoh itu.


Landy masuk sambil membawa nampan berisi makanan, harumnya memasuki seluruh ruangan membuat cacing di perutku seketika berteriak minta diisi.


Aku memilih diam, tidak mau mengeluarkan suara apapun, aku takut jika aku bersuara hanya kemarahan saja yang keluar yang akhirnya akan aku sesali nantinya. Aku tidak suka konfrontasi, aku akan memilih menghindar daripada bertengkar langsung, menenangkan pikiranku atau lari sebenarnya.


"Hei, isi perut kamu dulu by..."


Landy menggenggam tanganku dan menuntunku untuk duduk di atas lantai beralaskan karpet halus mahal, aku sudah malas bertengkar dan mengelak kalau pada akhirnya akan kalah juga. Jadi aku menuruti maunya.


Landy menyalakan TV dan mencari acara drama serial yang sekiranya mungkin akan aku sukai. Dia menata makananku tanpa bicara apapun, tampilannya terlihat lebih segar.


"Balikin HP aku.."


Tanpa memperdulikan ku Landy memilih menuangkan air minum untukku.


"Makan dulu hmm..."


Dengan kasar aku meraih sendok dan garpu, mengacuhkan Landy yang masih menatapku. Berani-beraninya dia masih mengurungku disini.


"Sudahkan?! Sekarang balikin HP aku"


"Kita masih perlu bicara, masalah Afan belum aku maafkan.."


D*mn! Kenapa dia tidak melupakannya saja!

__ADS_1


__ADS_2