Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)

Mauku Kamu (Possesive Boyfriend)
14


__ADS_3

"Tumben Dede makannya sedikit, mau Ayah beliin sesuatu?" Ayah menatapku sambil tersenyum. Aku menggeleng lemah. Rasanya makanan apapun tidak akan terasa enak.


"Abang udah kenyang"


Abang pergi, menyalami Ayah dan Bunda. Dia bahkan menyueki ku. Abang benar-benar marah. Tanpa menoleh dia pergi dengan mobilnya. Benar-benar sarapan yang menyedihkan, melirik HPku yang tidak menunjukkan tanda apapun. Landy tidak mengirimiku pesan sama sekali sejak semalam, dia berhak marah padaku. Aku saja yang terlalu berharap dia akan tetap mengirimiku pesan walaupun sudah ku maki-maki secara tidak langsung semalam.


"Nanti dede minta maaf ya sama Abang.. Abang baik kok Abang sayang sama dede, dede minta maaf duluan ya.. hmm" Bunda mengusap tanganku pelan. Tanpa kata Bunda memberi kode pada Ayah untuk tidak bertanya lebih lanjut lagi.


Bunda memang Bunda terbaik di seluruh dunia, dia menyayangiku sebesar dia menyayangi Abang, tidak pernah marah selalu mendengarkan keluh kisah ku. Wanita paling bijak di seluruh dunia. Ditambah dengan kelembutan dan kewibawaan Ayah, kedua orang tuaku memang orang-orang paling hebat di dunia. Hanya aku saja anak yang paling mengecewakan dan kekanakan. Entah menurun dari siapa sifat manja dan kekanakan ku ini. Sifat Abang denganku pun sangat berbeda jauh. Aku mengangguk mengiyakan, aku memang sudah keterlaluan marah-marah tidak jelas bahkan berteriak dihadapan Abang.


Hari ini aku tidak ada kuliah sama sekali, jadi aku memilih berdiam diri di kamar tanpa melakukan apapun yang malah membuatku semakin memikirkan kesalahan ku semalam. Kalau dipikir-pikir aku memang bertindak bodoh dan kekanakan Landy seharusnya tidak perlu menerima luapan kebencian ku toh kesalahannya tidak fatal hanya memposting foto kami berdua, dia bahkan tidak berselingkuh sama sekali. Aku memang yang berlebihan lebih memilih emosiku dan takut akan pendapat dan perhatian orang tanpa melihat kesungguhan dan kebanggaan Landy terhadap hubungan kami, seharusnya aku mengambil sisi positifnya saja bukannya malah berteriak tidak jelas. Toh sekarang Instragram ku malah jadi bertambah followernya. Oke! Matikan saja kolom komentar yang ada, jadi tidak perlu bersusah hati membaca komentar-komentar jelek orang.


Melirik Hp Ku yang terdiam tanpa ada aktifitas apapun, entahlah aku merasa sedikit kosong dan kecewa mungkin, tidak menemukan pesan apapun. Apa seharusnya aku menghubunginya lebih dulu ya? Tapi bagaimana kalau dia tidak mau membalas pesanku? Otakku berputar mencari ide agar Abang dan Landy mau memaafkan ku. Tapi rasanya otakku sudah berhenti bekerja. Malah pikiranku tidak mau berhenti berfikir mengenai beberapa kemungkinan yang akan dilakukan Landy apalagi dia sedang marah padaku.


Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan cara membersihkan kamarku, pergi ke toko mebel yang dekat dengan perumahan komplek. Setidaknya di sana aku bisa membantu menjaga toko milik Ayah dan be-beres. Aku cukup dekat dengan beberapa pekerja yang ada di toko Ayah, mereka sangat baik terhadapku. Namun getaran ponsel yang aku tunggu tidak kunjung datang hingga senja.


Landy benar-benar mengacuhkan ku, biasanya dia akan rutin menanyakan sesuatu, tapi sekarang semuanya berubah. Sekarang aku benar-benar merasa bersalah dan takut secara bersamaan aku benar-benar telah membuat masalah besar. Pukul 4 sore aku pulang ke rumah, berharap Ayah dan Bunda sudah pulang. Rasanya tidak mengenakkan di rumah sendirian, Abang bahkan tidak menanyakan kabarku sama sekali. Sekarang baru terasa akibat yang sudah aku lakukan.


"Mba.. bantuin dede buat cake sama puding yuk"


Mba Resti mengangguk mengiyakan, setidaknya dia paham kalau aku sedang berusaha menebus kesalahan yang sudah aku buat semalam, Abang suka puding rasa mangga dia akan rela menunda makan berjam jam dan meninggalkan PS kesayangannya asalkan disiapkan puding mangga kesukaannya. Kalau Landy, dulu aku pernah membuatkannya cake dengan oreo sebagai bahannya sekali, lalu minggu-minggu berikutnya dia memintaku untuk membuatkannya terus menerus. Jadi kupikir dia memang menyukai cake yang aku buat.


Setelah berkutat di dapur selama beberapa jam akhirnya aku berhasil menyelesaikan cake dan puding yang aku buat. Sekarang aku tinggal menunggu Abang pulang dan bersiap untuk meminta maaf.


Sambil menunggu aku mencoba mengerjakan tugas makalah kelompok, kami telah membagi beberapa tugas. Setidaknya aku bisa sedikit menyingkirkan beberapa masalah dari otakku. Menyibukkan diri sendiri, mencoba memikirkan hal rumit lainnya, yang ku harap dapat membantu namun nyatanya itu tidak bertahan lama kepalaku masih saja berputar memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nanti.


Mendengar suara mobil yang datang aku bergegas berbenah diri dan siap untuk meminta maaf. Oke! Kamu bisa Dan! Abang sayang aku, dia pasti mau memaafkan ku.


"Abang...."

__ADS_1


"Hmmm..?"


Kegugupan menderaku, aku mengusap-usap mangkuk puding di hadapanku. Abang masih duduk membelakangi ku mengerjakan sesuatu di depan laptopnya. Kamar Abang tepat disebelah kamarku, aku terkadang masuk ikut membantu Abang membersihkan kamarnya.


"Dede minta maaf" Suaraku mencicit bagai tikus terjepit. Keringat dingin perlahan menguar dari sela jariku. Tanpa kata Abang berbalik dan mendorong kursinya ke arahku, menatapku diam.


"Coba ulang sekali lagi..."


"Dede minta maaf, harusnya dede nggak kaya gitu kemarin" Menunduk tanganku mencengkeram mangkuk puding. Dengan perlahan tanganku menyodorkan puding mangga yang susah payah ku buat. Aku harap abang mau memaafkan ku.


Tanpa kata, abang menerima puding yang aku buat, tangannya mengusap kepalaku pelan. Syukurlah.


"Sini peluk..."


Tanpa berfikir panjang aku langsung masuk kedalam pelukan hangatnya. Abang seperti Ayah keduaku. Aku sangat menyayanginya dia yang selalu menjagaku kalau Ayah dan Bunda pergi, dari kecil kami selalu bersama. Abang bahkan tidak pernah mengeluh dan marah walau banyak teman yang mengejeknya, karena membiarkanku membuntutinya bermain dengan teman-temannya. Dia tidak marah walau aku selalu meminta uang tambahan padanya karena terkadang aku terlalu rakus jajan dan menghabiskan uang. Dia yang memelukku kalau Bunda dan Ayah sedang ada masalah dan bertengkar, menutup kupingku dan mencoba menemaniku tidur. Aku sangat sangat menyayanginya.


"Dede sayang abang"


"Abang juga sayang dede..."


***


Setelah dipikirkan lagi apa yang dikatakan Abang memang benar, Landy tidak pernah mengeluh ataupun marah walau aku meminta ini itu, setiap bulannya dia pasti akan mentransfer uang ke ATM ku, mengisi akun gopay bahkan akun shopee ku. Dia tidak pernah lupa sekalipun. Bahkan saat kami break pun, dia tetap setia melakukan itu. Dia juga yang menyediakan keperluan kuliahku baik saat ospek maupun sekarang, beberapa kali aku mencoba menolak dan mengembalikan apa yang Landy beri. Namun nyatanya keesokkan paginya barang itu akan kembali lagi kehadapan ku dibalik sifat posesifnya dia memang semanis itu.


Mataku mengerjap panas mengingat perlakuan Landy terhadapku dan apa yang telah aku lakukan terhadapnya aku memang perusak yang hebat.


Mataku tidak lepas memeriksa jam di pergelangan tanganku, sudah satu jam aku berdiri disini sudah puluhan kali aku membunyikan bel yang tak kunjung terbuka pintunya. Sempat terfikir kan untuk mengirim pesan menanyakan keberadaan Landy. Namun hatiku masih meragu takut tidak akan terbalas atau sebenarnya aku takut mendapat balasan yang akan diberi Landy, pernah sekali aku membuat Landy marah karena tidak mendengarkan dia, dengan nekat aku tetap pergi bersama teman-temanku melihat konser yang ada di salah satu daerah perkotaan dan yang aku dapat paginya adalah seluruh temanku menghilang mereka tidak mau bertemu denganku lagi atau memang dipaksa untuk tidak bertemu denganku lagi, ada beberapa rumor yang beredar kalau salah satu temanku ada yang mengalami patah tulang kaki karena tidak mendengarkan peringatan Landy tapi malah mengompori ku untuk pergi bersama mereka, setelah mendengar kejadian itu aku berubah dan memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan seseorang dan membatasi diri. Landy memang terlalu menakutkan untuk dilawan, atau memang hanya otakku saja yang terlewat imajinatif.


Aku duduk malas bagai pengemis, lorong apartemen yang sepi semakin membuat aku merinding. Cake yang aku buat sudah tidak terasa dingin lagi.

__ADS_1


Bunyi dentingan dari lift diujung lorong menyadarkan ku, aku langsung berdiri begitu mengetahui siapa yang hadir. Kegugupan yang sempat hilang kini perlahan datang kembali keringat dingin perlahan muncul dari sela-sela jariku. Landy terlihat tenang dan datar saat menghampiriku, dia diam masih tidak mengatakan apapun. Sial.


"Landy...."


"Hmmm"


Landy berhenti tepat di hadapanku sambil mengambil sesuatu entah apa. Dia diam menatapku tanpa mengatakan apapun.


"Ah.. sorry, maksudku Mas... ak... aku"


Ah sial! Perkataan maaf yang sudah aku susun berjam-jam lalu tidak mau keluar sama sekali hilang entah kemana.


"Mas.. Aku buatin sesuatu buat kamu"


Tangan gemetar ku perlahan mengangsurkan box makanan yang sudah aku remas sedari tadi.


"Oke.. Makasih.."


Landy menerima apa yang aku beri tanpa berkomentar apapun kecanggungan diantara kami tidak berangsur hilang sama sekali tapi malah lebih parah. Landy kembali menatapku yang terdiam kembali bingung harus mengatakan apa.


"Hmmm... Ak..aku"


"Kalo udah ngga ada yang mau diomongin, aku masuk dulu masih banyak yang harus aku urus"


Oh shit! Landy dan mulut sialannya.


"Tap...tapi" Tanganku meremas satu sama lain.


"Oke.. aku pergi dulu, mungkin kamu nggak akan ngelihat aku disekitaran kamu lagi"

__ADS_1


"Ap..apa?"


Landy masuk ke dalam apartemennya tanpa menoleh sama sekali. Sebegitu mengecewakannya kah aku kemarin. Mataku memanas mendengar penolakan secara tidak langsung yang diucapkan oleh Landy. Oke harusnya aku tidak berharap kalau dia akan memaafkan ku semudah itu. Menghentakkan kaki keras aku pergi dari situ tanpa menoleh lagi.


__ADS_2