
Menepati janjinya abang membawakan makanan ku ke kamar.
"Abang..."
"Hmm?"
"Dede.."
Ah sial! Mulutku seperti terkunci ribuan gembok, berat sekali rasanya untuk bertanya.
"Kenapa...?"
Abang menata makananku di meja, suara teman-temannya sayup-sayup terdengar dari sini, mereka sedang heboh merebutkan paha ayam.
"Landy... ng.. sakit?"
Abang mengernyit menatapku. Akhirnya setelah ku paksakan aku berani membuka mulut sialan ku ini.
"Kenapa nanya abang, kan kamu yang pacarnya"
"Hmm.. Landy masih marah sama dede"
Abang mengangguk pelan menjawab ku. Sepertinya dia mengerti, aku memang sudah membuat masalah yang sangat besar.
"Ini makan dulu... Landy cuma kecapean aja, tensinya rendah, dia terlalu memforsir tenaganya buat praktek tugas akhirnya, kalau dede pengen lebih tau, kenapa nggak jengukin aja nanti abang anterin kamu"
Aku mengangguk semangat mendengar usulan abang.
"Oke, besok kita jenguk Landy, sekarang kita biarin dia istirahat aja dulu, kamu juga butuh makan kan hmm?"
Mengusap kepala ku pelan, perlahan abang hilang di balik pintu, dia kembali berkumpul bersama teman-temannya.
Akhirnya satu beban ku, terangkat.
***
Abang hanya mengantar ku sampai basemen, abang tiba-tiba saja tidak bisa menemaniku setelah mendapat pesan singkat di hpnya. Dia pergi begitu saja dan berjanji untuk menjemput ku nanti. Padahal aku butuh abang untuk menemaniku bertemu Landy, perasaan tidak enak terasa sekali sedari aku berangkat dari rumah. Kalau nanti dia tidak mau menemui ku bagaimana? Kalau aku tiba-tiba diusir bagaimana? Diusir masih mending, hal terburuk yang aku bayangkan adalah kalau bagaimana aku disekap dan dikurung di apartemen Landy bagaimana? Lebih dari itu, fantasi ku berkeliaran memikirkan kalau mungkin saja didalam lorong apartemen sedang ada baku tembak antar mafia dan polisi jadi sebaiknya aku tidak kesana kan? Mungkin saja kan? Atau ada pengedar narkoba yang sedang bersembunyi di apartemen dan di intai polisi.
__ADS_1
Argh. Sungguh perasaan tidak enak yang menyebalkan.
Langkah pelan menggiringku masuk ke dalam lift. Kalau tiba-tiba liftnya mati, aku harus bagaimana ya? Namun suara mesin yang menyatakan aku sudah sampai dengan selamat dilantai apartemen Landy menenangkan ku sejenak. Tapi perasaan tidak enak ini belum menghilang juga, berati bukan lift persoalannya. Aku berpikir keras memikirkan kemungkinan kemungkinan yang mungkin akan terjadi sebaiknya aku mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul di kepalaku mungkin aku harus berlatih beberapa gerakan beladiri sederhana menghalau kemungkinan terjadi baku hantam antar mafia dan polisi atau bisa saja ada psikopat yang sedang mengintai ku. Ahh baiknya aku pulang saja kerumah menjenguk Landy besok saja bisa kan? Namun hati kecilku berteriak untuk berhenti bersikap seperti pengecut dan hadapi kesalahanku sekarang. Sudah seharusnya Landy mendapat permintaan maaf ku, aku yang membuat masalah dan memaki-makinya aku juga yang harus meminta maaf padanya.
Tiba didepan apartemen Landy tanganku seperti tertahan tidak mau terangkat sama sekali, argh sebel! Kenapa si aku pengecut sekali?
Ah sudahlah! Jangan takut dengan masa depan yang mungkin belum terjadi. Oke! Rileks! Tanganku terangkat menekan bel. Namun masih belum ada yang membuka, jadi ku pencet lagi beberapa kali, setelah menunggu beberapa menit terdengar seseorang mendekat, aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Oke! Kamu baik-baik saja Dan!
Menatap kedepan Landy berdiri kaku dihadapan pintu, raut wajahnya seperti tidak mengharapkan kehadiranku dia terlihat berantakan. Aku menunduk dan menarik nafas pelan, mencoba mengurangi hentakan jantungku yang menggila.
"Kata abang kamu sakit, aku kesini mau jengukin kamu..."
Landy mengusap wajahnya frustasi matanya melebar tidak fokus, aku sepertinya sudah benar-benar tidak diterima disini.
"Kamu ngga suka..? Masih marah sama aku?"
"Baby......
"Jangan marah lagi.."
Aku menyela, bahkan sebelum Landy mengucapkan maksudnya.
Parcel sudah ku jatuhkan ke lantai, tanganku memohon-mohon permintaan maaf tanpa berhenti sekalipun.
"Maafin aku... Jangan marah terus"
Mendramatisir keadaan aku menangis sesenggukan. Mukaku pasti sudah jelek tidak karuan, padahal aku berdandan cantik hari ini, memakai dress putih cantik bergaya sabrina yang mendapat penolakan berpuluh-puluh kali dari abang dan sepatu sandal heels tahu.
"Siapa Lan?"
Suara seseorang dari dalam apartemen Landy mengalihkan perhatianku melirik kebelakang aku melihat seseorang yang seharusnya tidak ada disini.
Sania berjalan pelan kearah kami, Landy membuka pintu lebih lebar memunculkan Sania yang berantakan namun terlihat cantik.
Oh. Dia disini?
Hatiku seperti terkena anak panah rasanya, seperti ada cutter yang sedang menyayat nyayat pelan di dalam sana. Tanganku bergetar mataku mengerjap-ngerjap berharap ini hanya ilusi. Melirik kembali melihat penampilan Landy yang juga berantakan dan hanya memakai celana pendek dan kaos pendek pikiran jelek berkeliaran di kepalaku. Bagaimana ini, reaksi seperti apa yang seharusnya aku lakukan. Suasana hening dan canggung ini membuatku takut. Ahh jadi ini yang membuat perasaan takutku sedari tadi berkeliaran.
__ADS_1
Sania maju ke depan menghampiriku. Aroma keringat berkeliaran di udara yang aku hirup menguar dari tubuhnya.
"Hai...."
Senyumnya benar-benar memuakkan. Ini benar-benar diluar fantasi liar ku, beberapa persiapan yang sudah aku lakukan tadi terasa tidak berguna menghadapi situasi ini, harusnya aku tidak kesini, harusnya aku memilih pulang saja tadi.
Air mataku tanpa bisa ku tahan lagi tertumpah deras. Bunda sakit sekali.
Aku melangkah mundur perlahan bersiap untuk lari, sepertinya aku tidak sanggup untuk mendengar penjelasan apapun tenagaku menghilang entah kemana badanku terasa lemas aku butuh kamarku. Perlahan aku mengerahkan segenap tenagaku untuk berlari menuju lift, derap langkah kaki Landy terdengar dari belakang membuatku semakin takut. Tanganku memencet tombol lift cepat berharap lift cepat terbuka. Namun naas lingkaran tangan Landy pada tubuhku lebih dulu menghampiri daripada lift si*lan ini.
"Baby... please"
"Nggak mau, nggak mau.. aku mau pulang"
Tanganku kasar menarik-narik tangan Landy yang masih memelukku. Aku benar-benar tidak ingin berbicara dengannya sepatah katapun. Raungan tangisanku pun menggema di lorong sepi ini tangisanku tidak meruntuhkan keteguhan Landy untuk membiarkanku pergi, dia tidak berhenti barang sedetikpun untuk membawaku ke apartemennya.
"Lan..Landy.." Suara Sania terdengar bingung. Dia mengikuti kami sedari tadi.
"Lu pergi sekarang!"
"Tapi Lan..?!"
"Gua bilang pergi!"
"****! Gua tungguin lu ngasih penjelasan nanti"
Sania masuk apartemen Landy dengan marah dan mengambil entah apapun itu aku sungguh tidak ingin mengetahuinya. Bahkan jelas sekali dia tidak memakai.. argh. Aku bisa gila.
Landy menarik ku masuk, parsel yang awalnya ada didepan pintu tertendang entah kemana, menendang pintu tertutup setelah Sania keluar. Dan membawaku masuk ke kamarnya dan mengunciku dari luar.
"Buka! Aku nggak mau disini! Buka!"
Tanganku menggedor-gedor pintu keras, yang rasanya percuma.
"Kamu harus tenangin pikiran kamu dulu by.."
Helaan nafas kasar Landy terdengar, untuk ukuran orang sakit dia tetap saja kuat mampu membawaku sejauh 50 meter.
__ADS_1
"Ngga mau.. aku mau pulang aku nggak mau disini!"
"Dan biarin kamu lari lagi?! Nggak! Nggak akan! Kamu nggak akan bisa lari dariku lagi!"