
Perasaan memang tidak bisa dipaksakan tapi bukan berarti tidak bisa dibentuk. Jadi, mau seberapa datarnya suatu hubungan, pasti tetap akan terasa sakit kalau kalau salah satu dari yang berhubungan saling berkhianat dan mengacuhkan.
Seperti yang aku rasakan sekarang, setelah pernyataan Landy yang ingin menikahi ku kemarin, beberapa hari kemudian Landy datang dengan kedua orang tuanya membahas pertunangan kami yang sempat tertunda dulu akibat dari kelakuan bodohku.
Aku sempat malu bertemu kembali dengan orang tua Landy, apalagi setelah apa yang aku lakukan dulu menggantung perasaan anaknya. Makanya beberapa kali aku sempat menghindar takut. Namun respon yang ditujukan bunda Landy malah membuat ku tertegun. Dia seperti memaklumi segala perlakuanku kemarin. Dia paham bagaimana sifat anaknya, yang pantas saja membuatku kabur ujarnya kemarin. Kelegaan memenuhi hati ku mendengar jawaban bunda Landy kemarin. Rupanya aku punya sekutu yang baik di rumah keduaku nanti.
Namun kelakuan Landy sekarang benar-benar membuatku bingung. Dia tiba-tiba saja sulit dihubungi padahal beberapa hari lagi pertunangan kami dilaksanakan. Dia seperti hilang ditelan bumi. Hanya bunda Landy yang selalu sabar mengajakku melakukan beberapa persiapan sebelum pesta pertunangan dilaksanakan. Mengajakku membeli ini dan itu, memintaku memilih barang-barang yang aku suka, memesan dekor, photographer dan cincin yang akan kami pakai nanti. Ss.. Mengesalkan, dia seperti balas dendam padaku.
Rumahku sudah mulai ramai berdatangan para saudara yang akan menginap sampai hari pertunangan. Keributan jelas terjadi dibawah, diwarnai dengan jeritan khas anak kecil berlarian, tante dan bude ku yang sedang membahas panganan apa saja yang dibutuhkan untuk besok.
Dan aku dengan malasnya bergumul di kamarku menunggu telpon dari Landy yang belum datang juga sedari 2 minggu lalu. Resah jadinya, padahal kan dia yang ngebet ingin segera bertunangan. Tapi malah dia yang adem ayem tidak melakukan apapun.
Tok..Tok..Tok
"De... "
Suara abang terdengar dari balik pintu.
"Hmmm" Malas malasan aku membalas, aku sudah tidak bertenaga lagi rasanya.
"Ada saudara dibawah, ajakin main gih..."
"Dede males, abang aja"
"Temen abang lagi main, ngga bisa abang tinggalin... ayo kamu turun, masa yang punya acara malah ngedekem dikamar"
Dengan malas-malasan aku turuti perkataan Abang ku.
Walau hati sedang cenat cenut cemas, aku paksakan saja bermain dengan saudara saudara lucuku ini. Setidaknya mereka tidak bersalah padaku tidak pantas mereka mendapatkan muka masam ku.
"Kak Dani besok mau ngapain sih.. ko ibu nginep di rumah kaka.."
"Coba tebak, mo ngapain kaka besok..."
__ADS_1
Dasar, sepupu kecilku yang satu ini memang se cerewet itu. Dia selalu saja ingin tahu urusanku.
"Abang tau, ka Dani kan besok mau tukeran cincin ama cowok.."
"Helehhh sotoy kamu.. diajarin siapa kaya gitu.."
"Abang Deny yang bilang..."
Rasanya ingin ku uwel-uwel dia. Mereka memang kompak sekali jadi abang adek. Sifatnya pasti menurun dari Pakde, kaka ayah yang suka sekali mencari tahu urusan keluargaku.
"Sana ah.. main sama abang deny, tuh temen abang ada yang cantik sama cakep.. ajakin kenalan gih"
Dengan malu-malu sikecil melirik teman abang yang sedang berkumpul di teras rumah.
"Adek udah kenalan tadi... tapi malu"
Dasar genit!
Semburat merah muncul dikedua pipi Fiki, rambut pendeknya yang dikuncir dua dengan poni tengah menutupi dahi menambah manis putri kedua pakde dari ayah ku ini. Mereka 4 bersaudara, kedua kakanya yang juga sama-sama kembar sedang ada di luar negeri menempuh kuliah master diluar. Cih! Kecil kecil sudah tahu cowok ganteng. Makan puding saja masih belepotan, segala mau ganjen sama cowok.
Jadi aku ajak saja dia pergi, ke lantai atas. Duduk di sofa, ruang belajar aku dan abang, Tempat kami untuk mengerjakan tugas bersama. Setidaknya disini si kecil Ray akan nyaman tertidur di pangkuanku. Tanpa campur tangan tante dan budenya dibawah yang masih berdebat tentang tetangga mereka yang pamer akan sesuatu.
"Kamu udah pantes by..."
Aku terkesiap, menoleh menemukan Landy yang sudah duduk di sampingku. Sejak kapan dia sudah sampai disini. Aku bahkan tidak mendengar langkah kakinya dari tangga. Hatiku berbunga mendapati kehadirannya, setelah beberapa hari tanpa kehadirannya yang menghilang entah kemana, dan tanpa tersadar senyumku terbit memenuhi bibirku.
Ah iya, aku sedang marah. Jadi tidak seharusnya aku tersenyum.
Landy mendekati ku, merangkul bahuku. Tidak! Aku harus fokus pada Ray, bukan pada si tukang menghilang ini.
Sudah berkali kali dia menghilang tanpa kabar selama kami berhubungan. Jadi jangan salahkan aku jika aku berlaku hal yang sama padanya.
"By..."
__ADS_1
Ku tegakkan bahuku mengalihkan perhatian dan membelakanginya, aku tidak ingin marah-marah sekarang, apalagi ada bayi tidak berdosa di pangkuanku.
Tangan Landy kembali berulah, kali ini dia mengusap kedua lenganku, yang hari ini hanya menggunakan sweater dengan kerah yang sudah turun sedikit melewati bahuku.
Hembusan nafas Landy terasa di bahu dinginku. Hah. Entah reaksi seperti apa yang harus aku berikan. Dasar Landy dan kelakuannya!
Kecupan bibir basah Landy terasa di bahu telanjang ku, terang saja siku tanganku terangkat menusuk perut keras Landy ingin memberi pelajaran yang sayangnya tidak membuat dia kapok sama sekali.
"Haha.. Percuma by"
Argh. Sial!
Pelukan lengan Landy terasa diperut ku.
"Kita buat yang lucu kaya gini ya by... kamu mau?" Ujar Landy diakhiri dengan kecupan pelannya di pipiku.
"Hmm"
"By..."
Jantungku sudah berdetak kembali dengan keras, mataku melirik Landy yang terdiam kumis tipisnya terasa di pipi kiri kananku, hembusan nafas berbau mint memenuhi udara di sekitar hidungku.
"Menikah denganku"
Deg.
Ada apa dengannya?
"By... Ah.. tidak, maksudku, kamu menikah denganku"
Hell. Sejak kapan ajakan menikah berubah jadi suatu perintah?
"I hate you!"
__ADS_1
"I love you too by"