
"Dede yakin mau nikah sama Landy..."
Hhh Sial, situasi macam apa ini?!
Brak.
Jantungku berdetak keras mendengar gebrakan tersebut. Abang menggebrak meja keras, tidak habis pikir dengan kabar yang baru didengarnya dari Landy.
"Abang nggak setuju! Dede masih semester 4! Nggak mungkin dia nikah sekarang, yah"
Aku melirik ayah yang masih diam membisu tidak menunjukkan kemarahan apapun wajahnya tidak memunculkan ekspresi apapun yang justru sangat membuatku semakin takut. Ayah bukan tipe orang yang galak ataupun diktaktor tapi dia juga tidak sesantai ayah-ayah diluaran sana. Ayah adalah orang yang tegas apapun keputusan yang dia ambil harus dituruti kedua anaknya tentu saja dengan memikirkan berbagai pertimbangan yang sudah diusulkan oleh anaknya. Makanya abang tidak pernah berani protes masalah apapun terhadap segala keputusan ayah yang sayangnya tidak pernah meleset.
"Yaahh... please"
Abang memohon, meminta respon Ayah yang masih saja terdiam, matanya masih tajam menatap Landy yang tidak gentar sama sekali, menjadi banker yang sudah bertahun-tahun membuat ayah mudah melihat kesungguhan orang. Masih sambil duduk tegak Landy menjawab abang tanpa mengalihkan perhatiannya dari ayah sedikitpun.
"Kenapa nggak?! Lu lebih paham kalo gua lebih dari mampu buat ngebiayain hidup dia"
"Oya?! Trus gimana sama kehidupan dia, masa muda dia! Lu ngga bisa balikin itu Lan, apalagi kalo kalian udah punya anak"
"Kita bisa nunda, dan gua ngga mungkin ngelarang dia hang out sama temen-temennya"
"Tapp.."
"Abang! Biar ayah yang bicara, Bun bawa dede masuk"
Aku terkesiap mendengar geraman frustasi ayah dan makian abang, abang marah menatap tidak percaya pada ayah, tangannya sudah mengepal seperti ingin menghantam sesuatu. Awas saja kalau mereka sampai baku hantam. Aku melirik Landy yang sedari tadi tenang saja padahal sudah mendapat banyak cecaran dari abang dan tatapan tajam ayah tapi dia terlihat biasa, tenang, seperti sudah banyak terlatih untuk masa-masa seperti ini. Landy memang nekat, bisa-bisanya tanpa memberi tahuku dia langsung meminta izin meminang ku dihadapan ayah dan abang. Melihat situasi yang semakin genting aku melirik Landy kembali yang hanya dia jawab sembari tersenyum padaku menenangkan, dia berusaha membuatku tenang dan percaya padanya. Walaupun aku sama sekali tidak percaya pada sifat liciknya yang seperti sudah mendarah daging.
Pantas saja sedari kami dari apartemen dia berubah manis, membelikan apa mau ku, membawaku kesana-kemari, memaklumi segala kelakuan manjaku. Rengekan ku bahkan dia dengarkan dengan baik. Dasar manusia licik. Harusnya aku tidak perlu khawatir dengannya, buang-buang waktu saja.
"Dede ikut bunda masuk yu, istirahat... biar ayah sama abang yang nyelesein masalahnya sama Landy"
__ADS_1
Bunda menuntunku membawaku naik masuk kedalam kamar, dia bahkan menemaniku tidur.
"Dede sayang Landy...?"
Usapan dan pelukan bunda memang menenangkan, aroma bunda membuatku nyaman tanganku semakin memeluk bunda mencari kehangatan. Jarang-jarang kami seperti ini, apalagi aku sudah mulai dewasa.
"Dede nggak tahu bun.. menurut bunda gimana?"
"Hmmm... dede sering khawatir ngga kalau Landy pergi.."
"Sering pake banget"
Aku mengangguk antusias mendengar pertanyaan bunda yang tidak meleset sama sekali.
"Suka sakit kalo Landy banyakan main sama cewe lain, nggak ngasih tau dede?"
"Sakit banget"
"Dede sayang bunda"
"Bunda juga sayang, bunda cuma nggak nyangka aja putri kecil bunda sudah mau dipinang orang"
Suasana haru menyelimuti kami, memang hubungan antara ibu dan anak susah untuk dijelaskan ketenangan dan rasa kasih sayang dari kedua belah pihak tidak akan pernah habis apalagi sampai merugi.
***
"Udah makan?"
Udara dingin memang menyebalkan, apalagi ditambah hewan pemakan darah yang berterbangan di hadapanku semakin menambah keromantisan kami.
"Belum..."
__ADS_1
Aku menatap Landy yang sedari tadi masih terdiam saja, setelah sesi interogasi yang dilakukan ayah dan abang selesai, tiba-tiba saja aku disuruh menemani Landy yang aku temukan sedang duduk termenung di teras.
"Kamu kenapa diem aja..?"
Landy menatapku tangannya menggenggam tanganku sensasi dingin langsung menyebar keseluruh tubuhku. Rupanya Landy sudah lama duduk didepan rumah buktinya tangannya terasa sangat dingin.
"Mas..."
Menarik perhatian Landy aku memanggilnya pelan. "Aku suka pegang tangan ini.. rasanya hangat..."
"Ada apa..? Ayah sama abang masih marah?"
Landy menggeleng menjawab ku. Dan mulai terdiam kembali. Hhh. Kenapa dengan dia?
Landy mengusap pipiku masih dengan senyum yang tertahan. Perlahan jarinya mengusap bibirku, menatapnya lama. Yang semakin membuatku jantungan.
"Mau kuceritain sesuatu?"
Landy bertanya kepadaku pelan, yang seperti tidak memerlukan jawaban sama sekali dia langsung bercerita dengan sendirinya. Aku yang bingung menunggu cerita apa yang Landy maksud sampai membuat dia menghela nafas berkali-kali, bahunya seperti memikul beban berat. Matanya memancarkan kekecewaan yang sudah tidak dia tutupi lagi. Jadi otak cerdasku berspekulasi tinggi, banyak harapan yang perlahan mulai muncul. Mungkin saja ayah tidak merestui pernikahan kami, yang langsung saja membuat sisi hati jahatku berteriak kesenangan. Aku bukannya tidak mau menikah dengan Landy, tapi dengan umurku yang sekarang rasanya aku masih terlalu bodoh untuk maju ke jenjang yang lebih serius dari suatu hubungan, hanya saja menolak Landy merupakan hal yang sulit untuk aku lakukan apalagi aku harus melawan bujukan bujukan Landy yang penuh dengan tipu muslihat makanya semua keputusan aku serahkan saja pada ayah dan abang.
"Ayah belum setuju kita nikah, karena egoku yang masih besar tapi bukan berarti dia ngelarang kita berhubungan, karena nyatanya 3 minggu lagi kita tetap tunangan by"
Senyum licik perlahan keluar dari bibir Landy, Sial! Harusnya aku tidak tertipu tampang memelasnya tadi. Argh. Bodoh!
"Siapin diri kamu ya by.."
Melihat wajahku yang memerah menahan amarah, Landy perlahan berdiri sambil menarik ku untuk berhadapan dengannya.
Usapan jari Landy terasa di dahi dan ujung hidungku. Apalagi hembusan nafasnya yang berbau permen karet seakan menjadi oksigen baru ku. Aku mematung seperti orang bodoh mendapat perlakuan seperti itu, apalagi setelah merasakan apa yang Landy lakukan selanjutnya, jantungku rasanya sudah tidak sanggup berdetak. Landy menunduk dan berbisik pelan di telingaku diselingi dengan gigitan lembut gigi Landy yang serasa menusuk membuat kerja darahku mengalir deras ke seluruh tubuh.
"Selamat malam tunangan, kamu wangi banget hari ini"
__ADS_1
Dan dengan tanpa rasa bersalah Landy pergi begitu saja dari hadapanku. Argh sial! Landy bodoh!