
"Tidurlah...."
"Abang mana?"
"Denny udah pulang"
Dasar pembohong! Bilangnya menunggu di mobil, nyatanya sudah ngacir duluan.
"Huahh..." Aku menguap sekali lagi, Landy tersenyum melihat tingkahku hubungan kami membaik, akhirnya aku luluh juga mendengar permohonan Landy. Seperti yang sudah-sudah aku tidak kuasa menolak, pertahanan diri yang aku agung-agungkan berbulan-bulan yang lalu langsung buyar setelah mendengar rayuan dan keputusasaan yang Landy pertontonkan tadi.
Sekarang kami dalam perjalanan pulang ke apartemen Landy, terpaksa sebenarnya, karena aku tidak memiliki pilihan lain. Jika pulang ke rumah aku tidak enak mengganggu bunda malam-malam meminta membukakan pintu, sedangkan kos ku sudah dikunci dari berjam-jam lalu seperti inilah tidak enaknya mempunyai kos yang mempunyai jam yang ketat. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi jadi dengan berat hati aku menerima usulan Landy untuk singgah di apartemennya toh sebentar lagi pagi aku bisa minta diantar pagi nanti untuk pulang ke rumah pikirku.
Landy fokus menatap jalan dengan satu tangan memegang kemudi dan yang satu mengusap-usap kepalaku, bibirnya tidak berhenti tersenyum, entah mendapat energi dari mana, Landy seperti robot yang tidak habis daya baterainya sesekali dia akan bersiul dan mencuri kecupan di pipiku.
Berbeda denganku setelah melewati perdebatan dan pertengkaran kami tadi, rasanya aku sudah tidak memiliki tenaga. Entah kemana semua makanan yang aku makan tadi. Badanku lemas, rasa kantukku tidak terelakkan lagi, ini benar-benar sudah melebihi batas akhir waktu begadang ku.
"Jangan cium-cium terus kenapa... Aku ngantuk"
"Hmmm.."
Walaupun sudah diberi tahu, tangan Landy yang sudah aku singkirkan itu terus saja hinggap di kepalaku tanpa henti beberapa kali dia masih saja mencuri kecupan entah di pipiku maupun pelipis. Terserahlah! Pada akhirnya aku membiarkan saja ulah Landy itu toh percuma juga dia dilarang.
Kepalaku terasa hangat apalagi setelah merasakan tangan besar Landy yang terus-terusan mengusap kepalaku, dan tidak ketinggalan pula Landy sudah membungkus tubuhku dengan jaketnya, dan masih berkali-kali mengecup pipi tembam ku, seperti inilah kelakuan Landy jika sudah dituruti maunya, perlakuan Landy yang terus terusan seperti ini pada akhirnya membuatku semakin mengantuk dan terlelap, tetapi sebelum kegelepan menelanku samar-samar aku mendengar Landy bergumam entah apa, yang tidak aku pedulikan karena saking mengantuknya.
"Akan aku buat kamu nggak bisa ninggalin aku By... Good night"
***
__ADS_1
Ngh..
Mataku mengerjap mencoba menyadarkan diri, kecupan beberapa kali terasa di pipiku. Mencoba bergerak tetapi badanku kaku, aku merasa seperti ada yang mengunci tubuhku.
Setelah mengumpulkan kesadaran ku mengerjap-ngerjapkan mataku berulang kali akhirnya aku dapat membuka kedua mataku.
"Cantik... Hal ini yang selalu aku impikan setiap pagi"
Aku mengerjap bingung menemukan Landy berada di hadapanku lebih tepatnya aku yang berada di pelukannya.
Aku mencoba melepas lilitan kaki dan tangan Landy di tubuh ku yang berakhir sia-sia.
"Aku mau pipis... Lepasin"
"Hhhh..."
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, aku melihat Landy yang masih berbaring malas-malasan di atas tempat tidur.
"Ayok.. Bangun, anterin aku pulang"
"Hmmm..." Landy bergumam.
Tubuh Landy bergeming, tubuhnya bahkan tidak bergerak sedikitpun. Dasar!
"Kak....."
"Coba panggil sekali lagi..."
__ADS_1
Mukaku langsung memerah entah karena apa.
"Ayok bangun...."
Dengan terpaksa aku mencoba menarik Landy yang pada akhirnya aku sendiri yang tertarik masuk ke dalam pelukannya.
Ah shit!
"Akh... Landy... Lepasin kenapa"
"5 menit, aku mohon"
Baiklah, 5 menit.
"Ini udah lima menit lebih tau..."
Landy membuka matanya dan menatapku, tangannya terangkat mengusap bibirku. Melihat kelakuannya aku terdiam bagai batu. Nafasku memburu takut, jantungku mungkin sudah jatuh berserakan sekarang saking cepatnya berdetak.
Wajahku pias, matanya tertuju ke arah bibirku dan dengan perlahan Landy mencoba mencium bibirku, tangannya menarik tengkukku mencoba memperdalam ciuman kami. Lidahnya seolah menggodaku untuk membalas setiap kecapan manis bibirnya yang pada akhirnya meluluhkan pertahanan ku. Ini bukan ciuman pertama kami, tapi entah kenapa terasa seperti yang pertama untukku mungkin karena tempat yang berbahaya yang mengakibatkan sensasi ciuman ini terasa lebih.
Mataku terpejam, Landy mengusap-usap tengkukku hatiku berdenyut tidak karuan seperti ingin melanjutkan tetapi ada perasan takut dan mengganjal yang mengingatkanku untuk berhenti karena ini salah, tidak baik dan tidak seharusnya aku lakukan. Maka dengan sekuat tenagaku aku mendorong Landy untuk berhenti.
"Udah... Nggak mau lagi, aku takut"
"Hmm..." Landy mengangguk, suara seraknya benar-benar membuatku ketagihan. Landy mengecup dahi ku lama.
"Tapi enak..." Dengan tidak tahunya mulutku berucap. Yang dibalas Landy dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
Bodoh! Langsung saja aku menyembunyikan wajahku ke dalam tengkuk Landy. Dania bodoh! Bunda malu!