
Malam itu, malam minggu pukul 19:37 Wib Rani terdiam menatap langit-langit kamar miliknya. Masih terbayang di benaknya tentang sosok yang menindihnya dan meraba-raba tubuhnya dimalam itu. Dengan hati yang bertanya-tanya, pikirannya terus menerawang. Seketika ia teringat dengan seseorang. Ia, baginya hanya Geri lah yang bisa membantunya. Kemudian, dengan secepat kilat Rani meraih ponsel miliknya yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidurnya itu, kemudian ia langsung melakukan panggilan telepon kepada Geri. Saat panggilan telepon tersambung, ia merasa enggan untuk menceritakan tentang hal yang ia alami. Oleh karena itu Rani mengurungkan niatnya untuk bercerita kepada Geri.
"Assalamu'alaikum, suara seseorang yang sangat Rani rindukan sekali dari seberang telpon sedangkan mengucapkan salam kepadanya. Suara tersebut terasa amat menyejukkan hatinya, sungguh Rani sangat merindu suara itu begitu juga dengan Geri. Karena Rani dan Geri berjauhan, mereka sering kali dirundung kerinduan.
" Seketika mata Rani berembun mendengar suara kekasih yang sangat ia rindukan itu. Dengan suara bergetar ia menjawab salam yang diucapkan oleh Geri. "WA WA waalaikumsalam, kak. Dengan nada haru dan penuh kerinduan Rani menjawab salam yang diucapkan oleh Geri.
" Mendengar suara Rani yang agak terbata-bata Geri jadi khawatir. Ia merasa telah terjadi sesuatu kepada kekasitu. "Hey sayang, kamu kenapa? "apa kamu sakit? Rani diserbu dengan pertanyaan oleh Geri yang merasa khawatir dengan keadaan Rani kekasihnya itu. Pikirannya mengambang, masih segar dalam ingatannya bahwa kekasihnya itu hampir menjadi korban predator buas ki Baron. Seketika ia menjadi sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu, namun ia tak bisa berbuat banyak untuk melindungi kekasihnya itu. Karena kedua orang tuanya menyuruhnya untuk bersekolah di kota yang amat jauh dari kekasihnya itu. Dan Geri pun tak mampu untuk menolak keinginan kedua orang tuanya tersebut.
"Kak, kak! Berulang ulang Rani memanggil Geri namun Geri sedang hanyut didalam lamunannya. " Wooy, kak! Rani sedikit meneriaki Geri karena tak terdengar suara sahutan dari Geri ketika ia memanggilnya.
"Apa sih dek, bisa-bisa pecah gendang telinga kakak kalau kamu ngomongnya teriak-teriak. Goda Geri kepada Rani kekasihnya itu.
" Habisnya kakak diajak ngobrol diam aja, kan aku jadi kesal tau. Rajuk Rani kepada Geri dengan sedikit manja. "Lagi mikirin apa sih kak? Rani bertanya dengan penuh selidik. Maklum, hubungan jarak jauh mereka sering kali menimbulkan rasa curiga dan cemburu diantara mereka berdua.
"Gak kok dek, kakak cuma mikir kapan hubungan jarak jauh ini berakhir. Geri merasa sakit mengingat perpisahan mereka pada saat kepergiannya kejakarta. Serasa berat langkahnya meninggalkan Rani. Tangannya kebas, untuk melambaikan tangan pun rasanya ia tak mampu. Mata Geri mulai berair dikala mengenang perpisahan itu, Geri hanya mengkhawatirkan kekasihnya. "Dek, disini kakak selalu khawatir dengan adek.
__ADS_1
" Yang sabar ya kak, Rani berusaha menenangkan hati Geri yang mulai tak tenang dan khawatir itu. "Kak, kakak jangan khawatir ya! Aku disini baik-baik aja kok. Rani berusaha meyakinkan kekasihnya itu agar ia tak banyak pikiran disana. Rani tak ingin mengganggu pikiran Geri agar Geri selalu fokus belajar.
" Hmm, iya dek. Ya, memang hanya itu yang mampu Geri lakukan saat ini, hanya bersabar. Demi masa depan mereka kelak. "Dek, kamu udah makan?
" Udah kok kak. Timpal Rani dengan lembut.
"Gimana shalat nya lancar kan?
" Alhamdulillah, lancar kok kak.
"Iya kak, aku baik kok disini.
Sesaat, rasa rindu yang menyiksa batin kedua insan yang tengah dilanda oleh cinta tersebut seakan terobati. Karena mereka sudah saling bicara, canda tawa mengisi obrolan mereka kala itu. Kata-kata Rani yang penuh kemanjaan membuat Geri semakin tak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikan pendidikannya.
Hari semakin larut, selama kurang lebih dua jam setengah Rani dan Geri mengobrol melalui panggilan telepon. Karena sudah terlalu lama mereka mengobrol, akhirnya mereka merasakan kantuk telah menguasai mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri obrolan mereka.
__ADS_1
Setelah panggilan telepon berakhir, kini kesunyian melanda hati kedua insan tersebut. Geri terus memikirkan tentang Rani hingga akhirnya ia tertidur juga.
Disisi lain, Rani tengah hanyut dengan lamunannya. Matanya tak dapat ia paksa untuk terpejam. Ia masih memikirkan tentang kejadian yang ia alami dimalam sebelumnya.
Ditengah lamunannya, seketika terpikir oleh nya untuk berpura-pura tidur saja malam ini. Rani ingin mengetahui siapa orang tersebut. "Yaallah, bantu aku. Doa Rani seketika saja keluar dari mulut indahnya. " Semoga saja orang itu lupa matiin lampu sewaktu masuk kekamar ku. Rani berharap ia bisa mengetahui siapa orang yang sering masuk kekamar nya itu.
Pukul sebelas malam, hari sudah semakin larut. Akan tetapi tidak ada juga tanda-tanda kehadiran orang misterius itu kedalam kamar Rani. Sedangkan Rani sudah sangat mengantuk sekali. Pada saat Rani hampir terlelap, tiba-tiba Rani tersadar kartada sosok yang berdiri menutupi caya lampu.
Dengan hati penuh debaran, ia membuka sedikit matanya untuk mengintip dari balik kelopak matanya. Jantung Rani serasa hendak runtuh, betapa terkejutnya is pada saat mendapati bahwa ayahnya yang sedang berdiri di hadapannya yang teng berbaring.
Mendapati kenyataan tersebut, Rani tak langsung membuka matanya. Ia ingin memastikan apa amemang ayahnya yang sering masuk kedalam kamarnya dan melakukan tindakan tidak terpuji itu. Untuk itu, Rani memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur saja.
Sedangkan ayahnya Rani langsung mematikan lampu penerangan di kamar Rani. Kemudian tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung hendak mengulangi tindakan tidak terpuji seperti yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu. Ayahnya Rani merasa sangat jengkel sekali, karena niatnya selalu gagal.
Rani yang merasa ayahnya hendak melucuti pakaiannya, spontan langsung berteriak. Teriakan Rani seketika membuat ayahnya panik. Pada saat Rani bangkit hendak menyalahkan lampu kamarnya, secepat kilat pak Badrun langsung berlari terbirit-birit menuju ke kamar miliknya dan istrinya tersebut. Untuk menghilangkan jejak, pak Badrun langsung ambil posisi berpura-pura tidur. Meskipun begitu, Rani sudah tau bahwa ayahnya lah yang sering memasuki kamarnya dimalam hari disaat ia tengah tertidur lelap. Rani mengetahuinya dikarenakan ia sempat mengejar dan melihat ayahnya berlari memasuki kamar kedua orang tuanya dan sempat memeriksa juga kedalam kamar kedua orang tuanya. Tidak ada siapa-siapa disana selain kedua orang tuanya. Rani mendapati ibunya tengah tertidur lelap, sedangkan ayahnya seperti tengah tertidur. "Ah, mungkin saja Bapak pura-pura tidur. Gumam Rani didalam hati. " Bisa aja kan? Rani bertanya didalam hati untuk meyakinkan dirinya.
__ADS_1