Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung

Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung
Bab 13


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu, tapi Rani tetap saja tidak bisa dihubungi. Teman-teman Rani pun tidak bisa dihubungi, "mungkin saja mereka sudah pada ganti SIM card, pikir Geri.


******


Setelah Geri berpikir beruang-ulang, akhirnya Geri memutuskan untuk pulang ke jambi untuk menemui Rani. Ia memutuskan untuk berangkat menggunakan jasa penerbangan rute jakarta jambi pada esok harinya. Sebelum melakukan perjalanan pulang, Geri mempersiapkan segala sesuatunya termasuk hadiah untuk Rani. Ya, Geri ingin membelikan sesuatu yang sangat berarti untuk Rani. Akhirnya Geri memutuskan untuk membeli sebuah cincin tunangan untuk Rani dari uang hasil kerjanya. Kebetulan, dijakarta Geri sekolah sambil bekerja. Jadi Geri memiliki uang simpan sendiri, apa lagi Geri selalu mendapat uang bulanan yang dikirim oleh kedua orang tuanya.


Keesokan harinya, setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih satu jam lima belas menit, akhirnya Geri tiba juga di jambi, kota kelahirannya.


Setibanya di bandara internasional Sultan thaha saifuddin jambi, Geri langsung meluncur ke rumah orang tuanya dengan mengendarai sebuah angkutan umum. Dengan menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Geri tiba juga di sebuah perumahan elite milik kedua orang tuanya.


"Assalamu'alaikum! Assalamu'alaikum! Geri mengulangi salam yang ia ucapkan karena tidak mendengar jawaban dari dalam rumah.


" Waalaikumsalam! terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah, tidak lama kemudian pintu utama rumah itupun terbuka.


"Ibu, Geri langsung memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan terawat itu.


" Geri, sayang? "Kenapa kamu pulangnya gak ngomong sih nak, hah?


" Geri sengaja bu, mau bikin ibu kaget. Goda Geri kepada ibunya itu.


"ih kamu ya, anak nakal. Ujar bu Sofi ibunya Geri sembari memeluk putra semata wayangnya itu.


" Udah dong bo, ayo kita masuk. "Geri mau istirahat. Ujar Geri manja kepada ibunya itu.


*****


Keesokan harinya, di pagi hari, disaat ia tengah bercengkrama dengan kedua orang tuanya di ruang keluarga. Geri berniat untuk menceritakan niatnya untuk menikahi Rani kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ayah, Ibu! Sebenarnya Geri pulang ingin nyampein sesuatu sama Ayah dan Ibu. Ujar Geri dengan mantap di tengah-tengah perbincangan mereka.


" Mau nyampein apa sih Ger, kok serius amat? Tanya pak Budiman antusias kepada putranya tersebut.


"Iya nak, kok serius tamat. Bu Sofi menimpali pertanyaan pak Budiman suaminya itu.


" Yah, sebenarnya Geri pulang untuk meminta izin sama Ayah dan Ibu untuk menikah.


"Bagai suara petir yang menggelegar, Bu Sofi sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh putra semata wayangnya itu. Begitu pula dengan Pak Budiman, ia tak kalah terkejut. Akan tetapi, meskipun begitu, suami istri itu tetap berusaha mengontrol emosi agar tetap tenang.


" Nak, kok buru-buru sekali? Tanya bu Sofi dengan suara bergetar karena menahan emosi. "Memangnya kamu mau nikah sama siapa sih?


" Ia nak, siapa wanita pilihan anak semata wayang Ayah ini. Pak Budiman mencari tahu dengan tetap menjaga perasaan putra semata wayangnya itu.


"Bagai dihantam baru besar, Geri mendengar pertanyaan kedua orang tuanya. Karena ia merasa kedua orang tuanya sudah berpikir buruk tentangnya. " Ayah, Ibu, Geri ingin melamar Rani kekasih Geri. Kami sudah lama menjalin hubungan.


"Rani itu tinggal dimana nak? Tanya Bu Sofi penasaran.


"Loh, masih satu kabupaten ya? Kenapa gak pernah kamu kenalin ke rumah? Tanya pak Budiman kepada Geri.


" Dia gak pernah mau yah, setiap diajak ke rumah. Katanya malu.


"Tinggal gak jauh dari sini, tapi kan kamu udah setahun gak pulang nak? Kok tiba-tiba ingin menikah tanya Bu Sofi penuh selidik.


" Ayah, Ibu, Geri udah lama menjalin hubungan dengan Rani. Geri gak bisa jauh terus dari Rani. Itulah sebabnya Geri ingin menikahi Rani. Ujar Geri mantap dengan keinginannya.


"Baiklah nak, kami setuju. Ujar Pak Budiman dengan jelas. " Tapi dengan syarat, kamu harus tetap menyelesaikan pendidikan mu. Lanjut Pak Budiman yang membuat Bu Sofi tersentak kaget dengan keputusan Pak Budiman.

__ADS_1


"Tapi kan yah?


" Udah lah Bu, Geri ini putra semata wayang kita. Ujar Pak Budiman memotong omongan Bu Sofi yang membuat Bu Sofi terdiam dan menuruti kemauan Geri.


"Ya udah deh, kalau gitu. Bu Sofi terlihat pasrah menerima keputusan dari suaminya itu.


"Geri sangat bahagia sekali dengan keputusan ayahnya, rasanya tidak ada lagi beban dihatinya. Geri sangat ingin sekali cepat-ceoat mengabari kekasih yang sangat ia cintai itu.


" Oya, kapan kamu bisa mengajak Ayah untuk menemui wanita idaman mu itu? Pak Budiman berbicara dengan nada menggoda, ia merasa senang bisa mengambil keputusan yang bisa membuat puttanya itu bahagia.


"Kalau ayah gak keberatan, besok lebih baik. Timpal Geri dengan senyuman mengembang di pipinya. Sedangkan Bu Sofi hanya tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan putranya tersebut. " Hari ini, Geri mau ke rumah Rani dulu untuk nyampein kabar gembira ini. Geri menyambung kalimatnya.


******


Setelah selesai Geri berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya, akhirnya Geri berniat untuk menemui Rani.


Jambi, Minggu 6 juni pukul 10:23 WIB


Geri pergi dengan mengendarai motor miliknya,ia berangkat. Dengan bersenandung kecil ia iringi laju kendaraannya menuju rumah Rani. Tak terbayang oleh siapapun kebahagiaannya saat itu.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Geri tiba juga dirumah Rani. Sepi, tak ada tanda-tanda keberadaan Rani dirumah tersebut. "ahh, mungkin saja dia lagi dikamar ataupun sedang membantu pekerjaan rumah. Gumam Geri dengan perasaan tenang tanpa pirasat apapun.


" Dengan langkah sedikit terburu-buru, Geri melangkah menuju pintu utama rumah tersebut yang terbuka lebar. Antara rasa rindu, bahagia dan haru kini menguasai jiwa Geri. Dengan dada berdebar-debar Geri mengucapkan salam. "Assalamualaikum!


" Waalaikumsalam! Terdengar suara seseorang yang amat sangat ia rindukan selama ini. "Ya, itu suara Rani. Gumam Geri didalam hati dengan penuh kerinduan. " Say, Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, betapa terkejutnya Geri saat ia melihat Rani keluar dari kamar yang mengadap ke ruang tamu tidak sendirian. Rani keluar dari kamarnya dengan seorang laki-laki. Terasa bagaikan bumi akan runtuh, seakan kakinya tak mampu lagi untuk berpijak, Geri sangat kecewa dengan apa yang ia lihat. Namun Geri belum berputus asa, siapa tau dia saudara sepupu Rani atau keluarga salah satu dari kedua orang tuanya Rani.


"Kakak, Rani menyebut Geri dengan wajahnya penuh sesal dan sedih. " Kapan kakak pulang? Jujur, Rani sangat merindukan sosok pria yang amat ia cintai itu.

__ADS_1


"Dek, Kakak pulang untuk melamar kamu. Geri tetap menyampaikan niatnya, meskipun ia dihadapkan dengan pemandangan yang membuatnya sedikit kehilangan harapan.


" Terasa napasnya terhenti seketika, saat Rani mendengar perkataan Geri. Rasa sakit menusuk jantungnya. Bagaimana tidak, ia mendengar kabar gembira ini pada saat ia sudah mengambil keputusan yang sudah mengubah segala, menghapus semua impian mereka berdua. Kini janji-janji mereka sirna karena sebuah keputusan yang diambil oleh Rani.


__ADS_2