Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung

Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung
Bab 17


__ADS_3

Seminggu sudah Rani tinggal dirumah besar milik keluarga Imam suaminya. Setiap hari Rani menjalani hari dengan aktivitas yang sangat melelahkan dan menjengkelkan. Sering kali Rani dihadapkan dengan rasa lapar karena tidak kebagian makanan, seluruh anggota dirumah itu tidak pernah memikirkan Rani. Bahkan semua pekerjaan rumah dibebankan kepada Rani. Hari-hari dirumah itu bagaikan di neraka.


Setiap hari Rani harus berjibaku dengan pekerjaan rumah bak seorang pembantu yang bergaji. Padahal nyatanya, jangankan untuk menerima uang hasil jerih payah suaminya untuk makan pun Rani sering terabaikan. Setiap kali Imam mendapatkan uang hasil kerjanya, maka uang itu akan di berikan kepada ibunya dan sebagian untuk adik perempuannya. Untuk menunjang penampil dan jajan katanya. "Masak sih adik perempuan gak terurus, padahal punya abang. " Mau ditaruh dimana mukaku kalau adik perempuanku kucel. Ya begitulah bunyi ocehan Imam ketika memberikan uang jatah untuk adiknya disuatu malam pada saat keluarga besar itu tengah berkumpul di ruang keluarga.


"Lemas rasanya tubuh Rani, rasa sakit menjalar ke jantung Rani seolah menyebar ke seluruh tubuh. Bagaimana tidak, seseorang yang seharusnya menafkahi dan memenuhi kebutuhannya itu malah memilih mengabaikannya demi adik perempuannya. Kini, wajah tegar itu tak mampu lagi menyembunyikan airmata. Basah pipi Rani oleh airmata luka yang tak berdarah itu. Dikala ia mendengar perkataan suaminya itu. Namun, tak seorangpun yang berada diruang keluarga itu mempedulikan air matanya. Semua seolah mendukung tindakan Imam suaminya.


"Bang,di kampung sebelah ada pasar malam loh Bang. Ujar Rika dengan senyum mengambang dipipi, ia berbicara dengan sangat manja kepada Imam kakak laki-lakinya itu. "Kita pergi yuk bang! " Jarang-jarang loh kita pergi jalan. Ajak Rika adik Imam yang sudah beranjak remaja itu. "Oya, di pasar malam itu ada bazarnya juga loh bang. Rika bercerita dengan bersemangat.


"Ayo, mumpung abang lagi punya duit. Imam menyetujui ajakan Rika adiknya itu membuat hati adik perempuannya itu melayang-layang. " Kalau gitu, abang mau siap-siap dulu. "Kamu, juga siap-siap ya! " Dandan yang cantik!


"Oke, Abang. Timpal Rika dengan penuh kebahagiaan, tanpa mempedulikan hati Rani wanita yang telah ia renggut kebahagiaannya itu. Dengan wajah tanpa dosa, Rika kemudian berlalu menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian dan berdandan.


" Begitupula dengan Imam, ia berlalu menuju kekamar untuk bersiap-siap. Sedangkan Rani, ia membuntuti Imam sampai ke dalam kamar. Berharap agar Imam mau mengajaknya ikut serta.


"Bang, aku ikut ya! Pinta Rani penuh harap dengan wajah mengiba. " Gak papa deh kalau harus bonceng tiga dimotor.


"Enak aja, nanti Rika bisa jatuh. Kalau harus tarik tiga.


" Biar aku yang dibelakang bang! "Yang penting abang mau ajak aku. Bukan pasar malam yang diinginkan Rani, akan tetapi Rani ingin mendekatkan diri dengan suaminya. Karena mereka memang tidak pernah ada waktu kebersamaan. Di siang hari Rani disibukkan dengan aktivitas yang seolah tak ada habisnya. Sedangkan dimalam hari, Imam disibukkan dengan menongkrong bersama teman-temannya diwarung kopi milik seorang janda muda anak satu di kampung sebelah.

__ADS_1


" Terserah, kalau kamu gak malu dengan penampilan kamu yang kucel itu! Seenaknya Imam menghina istrinya tanpa mempedulikan perasaannya.


"Deggh,terasa bagai dihantam dengan batu besar, hati Rani semakin terasa sakit. Ingin rasanya ia merobek mulut suaminya itu. Namun tetap ia kontrol emosinya,karena ia tidak ingin bertengkar dengan suaminya. Bukankah istri yang baik itu adalah istri yang senantiasa menjaga ucapannya. Gumam Rani didalam hati. "Aku kan bisa pinjem peralatan kecantikan Rika bang! Timpal Rani berharap Imam mau meminjamkan kepada adik perempuannya itu demi dirinya. Lagian Rika membelinya juga memakai uang suaminya, itu yang Rani pikirkan didalam hatinya.


" Enak aja, gak bisa nanti bisa cepat habis punya Rika. "Kalau aku belum punya uang untuk beliin dia gimana? Kan kasihan. Ujar Imam dengan tatapan sendu membayangkan wajah adik perempuannya itu.


" Bang, kan Rika belinya pakai uang abang juga. "Apa salahnya sih bang, kalau aku yang pakai? Rani tidak terima dengan perkataan Imam yang menurutnya terlalu berlebihan itu.


" Iya, uang aku. Bukan uang kmu. Ujar Imam dengan tatapan sinis, ia tidak terima kalau Rani mengungkit masalah uang. "Udah, jangan crewet! Kamu mau ikut atau tinggal? Bentak Imam dengan kalimat ancaman yang membuat Rani semakin terpojok.


" Rani hanya tertunduk, tak terasa air matanya mengalir kembali untuk kesekian kalinya. "Tak bersuara, Rani memilih diam kemudian berdandan alakadarnya. Hanya mengganti pakaian, tanpa lipstik maupun alat kecantikan lainnya. Karena memang hanya pakaian yang Rani punya saat ini, itupun pakaian yang ia beli saat ia masih bersekolah. Bahkan sebagian dari pakaian miliknya adalah pemberian hadiah dari Geri.


" Bang, lagi ngapain sih? Tiba-tiba Rika masuk kedalam kamar Imam dan Rani,memasang wajah cemberut. "Lama banget sih? Rika menggerutu tak sabar karena menunggu lama.


"Kamu mau kemana? Tanya Bu Halimah, ibu mertua Rani. Matanya menatap sinis kearah Rani.


" Hmmm, dia mau ikutan mak. "Ujar Imam dengan tatapan tak kalah sinis nya.


" Mau ikut? Gak malu kamu, bonceng tiga diatas motor? Bu Halimah menampakkan wajah tidak sukanya kearah Rani. "Udah, kamu tinggal aja! Perintah Bu Halimah kepada Rani. " Pergi kedapur, buat goreng pisang! Bak (sebutan Ayah untuk ayah mertua Rani) Bak minta dibuatkan goreng pisang!

__ADS_1


"Udah, kamu tinggal aja! Dengar apa kata emak, mereka minta dibuatin goreng pisang. Ujar Imam dengan wajah tanpa dosa sembari berlalu pergi diikuti oleh Rika dari belakang.


" Rani terdiam menatap kepergian suami dan adik iparnya itu, tubuhnya mematung. Seolah-olah napasnya terhenti, sulit baginya menerima kenyataan bahwa ia hanya diperlukan sebatas pembantu oleh suami dan keluarga besarnya dirumah itu. Kakinya terasa berat untuk digerakkan.


Tiba-tiba sebuah tepisan dari tangan Bu Halimah melayang dipundak kanan Rani, membuat Rani tergagap karena terkejut.


"Malah ngelamun, ayo! " Buatin goreng pisang! Yang banyak, banyak yang mau makannya.Bu Halimah memerintah Rani dengan nada tinggi dan tatapan jengkel.


"Rani hanya diam kemudian berlalu kedapur untuk membuatkan camilan seperti yang diinginkan oleh keluarga besar itu.


******


Sudah larut malam Imam dan Rika belum juga pulang, sedangkan Rani sudah bosan menunggu kepulangan suaminya hingga ia lelah dan tertidur juga.


Saat Rani tengah terlelap, sayup-sayup terdengar olehnya suara orang mengobrol dengan penuh canda tawa didepan kamar tempat Rani sedang tertidur.


" Bang, coba lihat! Aku cantik gak pakai baju yang ini? Tanya Rika kepada Imam saat mengenakan kemeja baru yang mereka beli di bazar tempat pasar malam yang mereka kunjungi. Ya, sepertinya begitu.


"Bagus, adiknya abang cantik banget. Gak sia-sia abang kerja banting tulang untuk modalin kamu untuk tetap tampil cantik! Seru Imam dengan bangga, tanpa ia sadari ada hati yang tengah menangis menyaksikan keakraban mereka.

__ADS_1


" Rani yang sedari tadi berdiri diambang pintu kamar mereka, menatap pilu kearah pemandangan yang amat menyayat hati itu. Tak terasa air matanya mengalir deras seketika, tak mampu baginya untuk membendung nya.


Karena Rani tak ingin menambah lukanya semakin parah, Rani memilih untuk melanjutkan tidurnya. Malam itu Rani tak mampu lagi untuk memejamkan matanya. Hanya airmata yang terus mengalir deras, sebagai ungkapan rasa sakit yang amat dalam terasa menyiksa hati.


__ADS_2