
Dengan langkah gontai, Geri menuju ke kendaraan miliknya. Ia pulang membawa semua harapan, kebahagiaan dan janji-janji yang ia dan Rani ucapkan selama ini. Dengan penuh kekecewaan, Geri mengendarai motor miliknya. Betapa hancur dan prustasi Geri pada saat itu, betapa tidak kekasihnya yang sangat ia cintai sudah menikah dengan laki-laki lain. Imam, adalah sahabat Rani sejak kecil sudah menikahi kekasihnya itu. Masih teringat jelas di dalam ingatannya perkataan Rani dan imam suaminya.
"Rani, siapa dia? Imam bertanya dengan nada sedikit membentak, yang membuat Rani tergagap ketakutan.
" Di di diaa
"Aku kekasihnya, Geri melanjutkan kalimat yang keluar dari mulut Rani.
" Rani, masuk! Bentak Imam memerintahkan Rani untuk tidak mencampuri pembicaraannya dengan Geri. Namun Rani tetap tidak ingin pergi, tak terasa air mata sudah membasahi pipinya. "Rani, sudah aku bilang masuklah. Bentak Imam lagi dengan nada semakin meninggi. Rani langsung berlari masuk ke kamarnya.
" Kamu, kasar sekali ya kalau ngomong sama cewek! Bentak Geri emosi, karena melihat orang yang ia cintai dibentak. Tentu saja Geri merasa sangat marah, karena selama menjalin hubungan dengan Rani, ia tak pernah sama sekali membentak ataupun marah kepada Rani.
"Itu terserah aku. Ujar Imam dengan sekenanya. " Dengar ya, jangan pernah kamu temui Rani lagi. Rani adalah istriku. Imam mengancam Geri dengan nada yang masih tetap tinggi. "Kalau kamu berani ganggu Rani lagi, akan ku habisi kamu. Imam mengancam Geri dengan penuh keangkuhan.
Sedangkan Geri tidak dapat berbuat dan berucap apa-apa, ia hanya diam dan berlalu pulang membawa rasa sakit karena sebuah penghianatan yang dilakukan oleh Rani. Bukan ia takut dengan Imam, Geri diam dan langsung pulang karena ia tak ingin Rani disakiti oleh Imam. Karena Imam terlihat seperti orang yang tidak punya rasa hormat kepada seorang wanita.
******
Setibanya Geri dirumah, Bu Sofi yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu bersama teman-teman arisannya merasa bingung dan terkejut melihat kedatangan Geri yang tampak seperti orang yang sedang prustasi. Tatapan Geri yang sendu dan mata yang memerah karena menahan rasa sakit yang amat besar dan perih itu sudah membuat sang Ibu merasa khawatir. Akan terapi, ia simpan terlebih dahulu rasa ingin tahunnya menjelang teman-temannya pulang. Sedangkan Geri langsung menuju ke kamarnya untuk menenangkan diri. Impian yang ia bangun selama beberapa hari ini malah berakhir dengan penghianatan oleh Rani.
Di atas pembaringan, Geri berbaring. Matanya menatap hampa kearah langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda itu. Tak bersuara, air matanya pun terasa tak mampu untuk mengalir. Hanya suara hatinya saja yang bergemuruh, diantara dua sisi. Di satu sisi Geri merasakan sakit yang amat perih karena penghianatan yang dilakukan oleh Rani. Disini lain, Geri masih mencintai Rani dan masih kurang yakin kalau Rani menikah karena Rani menghianatinya. Geri berpikir, pasti ada sesuatu yang terjadi. Oleh karena itulah, sebelum kembali kejakarta Geri berniat untuk mencari tahu apa yang menyebabkan Rani mengambil keputusan secepat itu. Pikiran Geri berkelana mengenang masa-masa disaat kebersamaan mereka. Sakit, memang sakit mengenang semua itu. Akan tetapi, dia harus mengenangnya untuk mencari sisi yang bisa membuat Rani mengkhianatinya.
"Ger, Geri! terasa ada seseorang mengusap pundak Geri dengan lembut membuat Geri tersentak dari lamunannya.
" Eh, I Ibu. Geri terasa gugup menghadapi sang Ibu. "Kapan ibu kesini bu? Tanya Geri kemudian bangkit dan duduk ditempat tidurnya.
" Hmmm, udah dari tadi loh nak. Timpal Bu Sofi sembari menggelengkan kepalanya berulang-ulang kemudian duduk disebelah Geri. "Ada apa nak? Kok ngelamun, hmm? Dengan lembut dan penuh khawatir Bu Sofi membelai rambut putra semata wayangnya itu.
" Eh, em gak ada apa-apa kok Bu. Timpal Geri dengan gugup karena ia berusaha menyembunyikan kesedihan dihatinya. Namun, hati seorang Ibu tidak dapat dibohongi. Bu Sofi tau betul seperti apa Geri.
"Nak, kamu jangan bohong. Ujar Bu Sofi menjeda kalimatnya. " Cerita sama ibu, ada apa?
__ADS_1
"Bu, tadi Geri dari rumah Rani.
" Terus, kenapa kamu sedih? Bu Sofi menghela nafas kemudian melanjutkan kalimatnya. Bukannya kmu udah kangen sama Rani, hmm kenapa? Tanya Bu Sofi dengan lembut, terasa sejuk dihati Geri.
"Bu, Rani udah nikah dengan cowok lain Bu. Geri bicara dengan tergugu, karena menahan guncangan yang terasa semakin membesar didalam hatinya.
" Loh, kenapa? "Bukannya kalian saling mencintai? Tanya Bu Sofi berusaha menenangkan putranya tersebut dengan merangkul pundaknya.
" Entahlah Bu, aku juga gak ngerti kenapa Rani tega. Ujar Geri masih tetap berusaha tegar menerima kenyataan.
"Apa mungkin dia memang udah lama menjalin hubungan sama cowok lain, selama kamu dijakarta?
" Entahlah Bu, mungkin aja. Pikiran Geri melayang, teringat pada saat ia mengunjungi Rani. Ia teringat dengan sikap kasar Imam. "Tau gak sih bu, suaminya Rani itu kasar banget sama si Rani.
" Apa maksud kamu nak? "kenapa kamu ngomong gitu? Tanya Bu Sofi dengan penasaran.
" Iya kasar Bu, tadi dihadapan aku Rani dibentak oleh suaminya. Ujar Geri dengan tangan mengepal. Seketika ia merasa kesal karena mengingat bagaimana wajah Rani pada saat dibentak oleh suaminya. Terlihat bulir-bulir air mata mulai merembes keluar dari kelopak mata indahnya. Tubuh Rani yang terlihat sangat kurus dan tak terurus membuat Geri menjadi iba.
" Iya ya Bu, kenapa Geri gak terpikir kesitu. Ujar Geri menyesali prasangka buruknya kepada Rani, sesaat ia teringat dua bulan yang lalu Rani menelponnya untuk mengajak menikah. Geri semakin yakin, kalau ada sesuatu dengan pernikahan Rani. "Makasih Bu, Geri memeluk Bu Sofi dengan manja. Geri bertekad untuk mencari tahu penyebab pernikahan Rani.
******
Keesokan harinya, di pagi yang cerah Geri berniat hendak menemui Doni temannya semasa SMA. Doni adalah teman sekaligus sahabat bagi Geri. Hanya Doni yang tau segalanya tentang dia dan Rani. Dipagi itu, Geri berangkat dengan menggunakan motor kesayangannya menuju ke rumah Doni.
Setibanya Geri dirumah Doni, Geri melihat Doni tengah asik duduk di teras dengan secangkir teh dan sepiring kecil kentang goreng dengan saos sambal di meja.
"Eh, kamu ger? Sapa Doni dengan ramah. " Kamu udah pulang dari jakarta?
"Udah, ujar Geri dengan tatapan sendu sembari mengambil posisi duduk disebelah Doni. " Don,apa kamu tau kalau Rani udah nikah? Tanya Geri kepada Doni memulai obrolan serius mereka.
"Hmmm, sebenarnya aku tau Ger. Tapi.
__ADS_1
" Tapi apa? Tanya Geri memotong kalimat yang hendak diucapkan oleh Doni. "Kenapa kamu gak cerita sama aku? Geri bicara dengan nada meninggi, karena ia merasa sakit hati sahabatnya tidak mau berterus-terang.
" Ger, aku gak mau kamu jadi gak fokus dijakarta. Aku gak mau kamu sakit hati, kamu tau, Rani menikah dengan sahabatnya semasa kecil.
"Apa? Sahabat? Geri terkejut dengan penjelasan Doni. " Kenapa dia nikah sama sahabatnya? Gumam geri bertanya-tanya didalam hatinya.
"Iya Ger, sahabat. Timpal Doni.
" Don, kamu tau, Geri menjeda kalimatnya sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya kembali. Dua bulan yang lalu, Rani ngajakin aku nikah.
"Terus, timpal Doni dengan penuh antusias.
" Ya awalnya aku nolak, lalu Rani langsung Los kontak dengan aku. Dia gak pernah lagi menghubungi aku.
"Jadi, kamu pulang ke jambi untuk mencari tau kabar Rani?
" Iya, aku pulang juga sekalian minta izin kedua orang tua aku untuk nikahin Rani.
"terus, apa kedua orang tua kamu ngizinin?
" Iya, tapi Rani udah nikah. "Don, aku bisa minta bantuan kamu gak? Tanya Geri penuh harap.
" Bisa, dengan senang hati. Ujar Geri tersenyum sembari menepuk lembut pundak Geri iya. "Kamu mau minta bantuan apa?
" Kamu bisa gak cari tau kenapa Rani mendadak menikah? Pintar Geri kepada sahabatnya itu.
"Itu soal mudah Ger, bahkan aku bisa nyulik Rani buat kamu. Gurau Doni ditengah obrolan serius mereka untuk mencairkan suasana. " Oya, aku lupa buat nawarin kamu makan kentang gorengnya, ayo dimakan. Ini buatan ibu loh. Ujar Doni merasa tidak enak karena melupakan sesuatu.
******
Setelah Geri dan Doni mengobrol lama, tidak terasa hari sudah mulai sore. Akhirnya Geri memutuskan berpamitan untuk pulang.
__ADS_1