
Seketika tubuh Geri lemas bagai tak bertulang, setelah mendengar kabar Rani dan kenyataan tentang Rani. Sungguh, ia sangat menyesal karena sudah meragukan Rani dan sempat menolak untuk menikah terlalu cepat. Tak pernah ia membayangkan nasib Rani akan seburuk itu. Geri merasa sangat sedih sekali, membayangkan seperti apa penderitaan kekasih yang amat ia cintai itu.
******
Sesampainya dirumah mertuanya, Rani dan ibunya disambut dengan ramah oleh sebagian anggota keluarga yang berada dirumah. Ibu mertua, kedua kakak ipar perempuannya dan Rika adik perempuan kesayangan Imam. Di ruang tamu, mereka mengobrol bersama Bu Romlah dan Rani. Akan tetapi, Rani hanya diam menyimak obrolan ibunya dan Ibu mertuanya. Sesekali kakak ipar dan adik ipar Rani ikut menimpali obrolan Bu Romlah dan Bu Halimah.
Karena sudah terlalu lama mengobrol, Bu Romlah berniat untuk berpamitan pulang.
"Yuk, aku pulang dulu. " Nitip Rani disini! Ujar Bu Romlah ketika berpamitan pulang.
"Iya, mak Rani. " Mak Rani gak usah khawatir, disini Rani selalu diperlukan dengan baik. Ujar Bu Halimah bersandiwara menutupi kenyataan, sorot matanya tajam tertuju ke arah Rani. Tatapan itu seolah-olah mengancam Rani untuk tetap diam.
"Makasih loh yuk, udah mau nerima kekurangan Rani. " Rani ini anak yang pemalas, beruntung ayuk mau mendidik Rani.
"Dengan tatapan licik Bu Halimah tampak menyeringai kearah Rani. " Ah, mamak Rani tak perlu berterimakasih. Itu sudah kewajiban seorang mertua. Senyum licik mengembang diwajah tua yang sudah keriput itu. Bu Halimah sangat merasa puas karena perbuatan mereka tidak diketahui oleh Bu Romlah. Sedangkan Rani tak bersuara, tak ada kalimat yang hendak ia ucapkan. Ia merasa letih menghadapi kedua wanita yang sangat pandai bersandiwara itu. Ya, Ibu dan Ibu mertuanya itu memang sama-sama pandai bersandiwara menurutnya. Rani merasa muak mendengar obrolan mereka.
******
Hari-hari yang Rani lalui dirumah besar milik mertuanya itu semakin berat dan menyakitkan. Setiap hari Rani melakukan aktivitas rumah semuanya dibebankan kepada Rani yang seolah tak pernah habisnya. Ditambah lagi sikap Imam yang semakin dingin dan seolah tak pernah menganggap kehadirannya membuat Rani semakin tersiksa berada didalam rumah itu.
Derita demi derita yang Rani dapatkan didalam rumah itu bagaikan tak berpengaruh lagi bagi dirinya. Karena, percuma kalau dia mengeluh. Karena ia tak punya tempat untuk mengadu ataupun tempat untuk dimintai pertolongan. Bahkan, pada saat Imam pulang membawa seorang perempuan pun ia tetap pasrah karena baginya memang tak ada yang bisa ia lakukan, dukungan dari orang tua pun tidak ada. Rani hanya bisa meratapi nasibnya.
__ADS_1
Meskipun Rani sudah pasrah dan ikhlas dengan kenyataan, namun Rani tetap menanyakan kepada Imam tentang sikapnya yang dingin dan tak pernah menyentuhnya sekalipun sejak dari mereka menikah itu.
Dimalam itu, pukul 02:05 WIB
Pada saat semua sudah tertidur pulas, ketika Imam baru pulang dari tempat tongkrongannya Rani meminta jawaban dari pertanyaan yang selama ini ia pendam.
"Dari mana kamu bang? Tanya Rani dengan tatapan nanar, matanya memerah menahan luapan amarah.
" Sejak kapan kamu berani nanya-nanya? Pertanyaan yang Rani lontarkan dibalas dengan sebuah pertanyaan kembali oleh Imam.
"Bang, aku ini istri kamu! " Jadi wajarlah kalau aku nanya! Suara Rani dengan sedikit membentak.
"Istri kamu bilang? " Kapan kamu jadi istri aku, hah? Imam semakin mempermainkan Rani, seolah-olah ia tahu kalau Rani menginginkan dirinya berbaik hati kepadanya.
"Ya aku ingat, ingat betul. Ujar Imam dengan nada datar. " Kamu adalah wanita yang udah nolak cinta aku berulangkali. Kamu yang udah membuat harga diri aku jatuh.
"Tapi kan bang, kita udah menikah dan aku udah nerima kamu untuk jadi suami aku.
" Iya kamu udah nerima aku, setelah kamu puas menjajakan tubuh kamu kepada para lelaki yang udah jadi kekasih kamu.
"Cukup bang, abang udah keterlaluan! Bentak Rani karena merasa tersakiti karena perkataan Imam. " Jangan sembarangan bicara kalau abang gak tau seperti apa diri aku yang sebenarnya. "Gimana abang bisa tau, sedangkan abang aja gak pernah berusaha untuk menyentuhku.
__ADS_1
" Pllaaakkkk, sebuah tamparan dari Imam melayang di wajah Rani. Darah segar mengalir dari sudut bibir Rani. "Apa? " Menyentuhmu kamu bilang? "jangankan untuk menyentuhmu, untuk sekedar memandang wajah kamu aja aku merasa jijik.
" Terus, kenapa abang mau nikah sama aku?
"Dengan tatapan nanar, Imam memandang wajah Rani kemudian mencengram dagu Rani dengan kasar. " Aku nikahin kamu karena aku sakit hati kamu sudah nolak aku berulang-ulang. "Aku merasa sakit, itulah sebabnya aku menikahi kamu. " Supaya aku bisa membalas rasa sakit yang aku rasa."Gimana rasanya udah dicampakkan? "Sakit kan? " Itu juga dulu yang aku rasakan, Rani!
"Buuukkk sebuah tinjuan Rani mendarat mulus menghantam hidung Imam. " Jangan mentang-mentang kamu laki-laki, seenaknya kamu nyakitin aku. "Dan satu lagi, aku gak pernah mencampakkan kamu. " Selama ini aku selalu menganggap kamu sahabatku. Itulah sebabnya aku selalu menghormatimu, ternyata kamu ********! Emosi Rani meluap-luap bagaikan kobaran api yang tak mampu lagi untuk dipadamkan. Sehingga terjadilah pertengkaran dan baku hantam antara Rani dan Imam yang membuat seluruh anggota keluarga dirumah besar itu terbangun dari tidur mereka.
Pertengkaran antara Rani dan Imam mengundang para anggota keluarga untuk menyaksikan keributan yang mereka ciptakan.
"Imam yang mendapatkan hadiah sebuah tinjuan dari Rani menjadi sangat marah. Dengan beringas, ia melayangkan tinjuan kearah Rani.
" Dengan sigap Rani menangkis pukulan dari Imam, kemudian kembali melayangkan sebuah terjangan kearah perut Imam. "Hmmmh, kamu gak tau aku sebenarnya sudah lama menunggu momen ini, Imam! Rani tak kalah beringas nya dibandingkan Imam. Rani yang selama ini tampak penurut dan selalu menerima dengan ikhlas perlakuan buruk Imam ternyata memiliki ilmu beladiri yang cukup hebat. Ya, setelah insiden dukun cabul yang hampir menodainya dimasa lampau membuat Geri selalu merasa khawatir dengan keadaan Rani. Itulah sebabnya Geri menyarankan dirinya untuk berlatih ilmu beladiri ditempat Geri dan Doni berlatih taekwondo. Meskipun tidak bisa menjaga Rani setiap waktu, setidaknya Rani bisa menjaga dirinya sendiri. Itulah sebabnya Geri memaksa Rani untuk ikut berlatih. "Makasih kak, kakak selalu menjaga aku sampai saat ini. Gumam Rani lirih, didalam hati. Mengenang betapa perhatiannya Geri terhadapnya.
Anggota keluarga yang melihat perkelahian antara Rani dan Imam itu terus berusaha melerai mereka.
" Sudah, sudah! Bu Halimah berusaha menghentikan pertengkaran mereka. "Hey Rani, kamu ini ya! Dasar istri durhaka.
" Istri? Bu, coba tanya sama diri ibu sendiri! Apa aku ini istri anakmu atau tidak? Rani semakin marah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh ibunya Imam. Sungguh ia merasa muak dengan "kata" suami.
"Pergi kamu dari rumah saya! Ayah mertua Rani membentak Rani dengan sangat lantang. Pria itu selama ini jarang sekali mengeluarkan suaranya, ia tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Yang Rani pikir hanya dia yang tidak menyakiti hatinya. Ternyata, hari ini pria itu mengusirnya tanpa bertanya dulu apa penyebab pertengkaran mereka.
__ADS_1
"Baik, aku bakal pergi! Rani sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. " Aku tidak akan menunggu kalian mengusir ku untuk yang kedua kalinya. Kemudian Rani langsung mengemasi barang-barangnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Rani segera keluar dari rumah itu dengan membawa semua barang miliknya.