
Meskipun kehidupan Rani dirumah terkadang menyakitkan, tapi Rani tetap tegar dan kuat karena dia masih memiliki Geri yang selalu menghibur dan selalu menjadi penasehat terbaik bagi dirinya. Akan tetapi, meskipun dirumah Rani mengalami banyak kesulitan dan luka, Rani tak pernah memberi tahu kepada Geri. Karena, dia tak ingin membuat Geri sedih dan lagian Rani tak ingin permasalahan keluarganya diketahui orang lain. Sedangkan sang ayah selalu berusaha mengincar tubuh Rani, Hingga pada suatu malam saat Rani sudah duduk dikelas dua SMK, malam itu Rani sedang tertidur pulas. Ayah Rani masuk kekamar Rani dengan mengendap-endap agar Rani tak menyadarinya. Pada malam itu, Pak Badrun kembali berusaha menyetubuhi putrinya itu yang selama ini selalu gagal ia melakukannya. Akan tetapi, pada saat pak Badrun tengah asik memainkan payu**** miliki Rani, Rani terbangun dari tidurnya karena merasakan ada sesuatu yang merayap dibagian dadanya. Pak Badrun yang tak menyadari kalau Rani sudah terbangun dari tidurnya, ia tetap asik dengan birahi nya, dengan penuh nafsu birahi Pak Badrun menggigit put*** payu**** Rani dengan buas. Sedangkan, karena merasa takut dan kaget, Rani berteriak sehingga membuat pak Badrun sontak beranjak dari tempat tidur Rani dan berlari keluar dari kamar Rani.
Karena Rani berteriak dengan suara yang kuat, Bu Romlah pun terbangun dan berlari menuju sumber suara teriakan yang ia dengar. Sedangkan Pak Badrun lebih dahulu masuk kekamar kemudian menekan tombol untuk menyalakan lampu listrik dikamar Rani, untuk menghilangkan jejak. Setelah lampu sudah nyalakan oleh Pak Badrun, Bu Romlah juga sudah tiba di dalam kamar Rani. Sedangkan Rani, dengan tubuh hanya berbalut selembar selimut tengah sibuk memunguti pakaiannya yang sudah dilucuti oleh Pak Badrun.
"Untung, aku belum buka pakaian! Gerutu Pak Badrun didalam hati. " Kalau tidak, aku bisa ketahuan.
"Ngapain kamu tetiak-tetiak tengah malam? Tanya Bu Romlah dengan nada ketus.
" Ta tadi a ada orang yang meraba-raba aku Bu, Rani berbicara dengan gugup karena masih ketakutan sembari mengenakan pakaian yang sudah ia punguti.
"Alahhh, itu alasan dia aja Bu. Ujar Pak Badrun berusaha menghilangkan jejak. " Tadi bapak terbangun karena ada suara-suara aneh Bu, terus bapak keluar kamar, baru terdengar jelas oleh bapak kalau suara itu rupanya berasal dari kamarnya Rani. Tapi sial Bu, Bapak kalah cepat. Rani langsung berteriak didalam kegelapan. "Pas waktu bapak nyalain lampu, rupanya Rani sudah dalam keadaan bu**l.
" Tuh kan, sandiwara apa lagi yang diciptakan oleh pe***ur ini! Timpal Bu Romlah dengan tatapan penuh kebencian. Dasar, wanita mur**an, laki-laki mana lagi yang mengencani nya malam ini. Gerutu Bu Romlah yang membuat Rani merasa sangat terhina.
"Rani yang mendengar ucapan menji**kkan dan menyakitkan dari kedua orang tuanya itu hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang luar biasa didalam hatinya. Rani hanya bisa menangis mendengar tuduh-tuduhan yang dilontarkan oleh kedua orang tuanya.
" Bu, jangankan mau jadi pe***ur, aku aja gak tau siapa orang yang udah masuk kamar aku bu. "hhuuhu huhu huhuuuu. Rani menangis histeris menumpahkan segala kepedihan didalam hatinya.
" Tuh kan Bu, dia mulai mencari-cari alasan untuk menutupi kesalahannya. Lagi-lagi Pak Badrun berusaha memojokkan Rani untuk menutupi kebusukannya."Sebelum tidur Bapak sudah mengunci semua pintu rumah, jadi mana ada orang yang bisa masuk rumah kalau bukan dia sendiri yang buka pintu.
__ADS_1
"Iya Pak, Ibu juga sudah merasa ji**k dengan alasannya. Timpal Bu Romlah sembari berlalu meninggalkan kamar Rani yang kemudian diikuti oleh Pak Badrun dari belakang.
" Dimalam itu, Rani tak dapat lagi memejamkan matanya karena merasa sangat terluka oleh ucapan kedua orang tuanya. Rani juga, masih ketakutan atas kejadian yang menimpanya. Rani terus menangis sembari menahan rasa sakit didadanya karena terluka oleh ucapan kedua orang tuanya. Karena merasa lelah disebabkan menangis selama berjam-jam, akhirnya Rani tertidur juga.
******
Keesokan harinya, dipagi hari yang cerah. Matahari sudah tampil menyilaukan mata untuk menunjukkan pesonanya dipagi hari. Sedangkan Rani belum juga bangkit dari tempat tidurnya karena merasa lelah disebabkan menangis semalaman. Rani merasakan perih luar biasa pada pu***g nya, sontak membuat Rani menyingkap bra yang ia kenakan untuk memeriksa apa yang terjadi. Rani kaget bukan main karena ia mendapati pu****nya sudah terluka cukup parah. Seketika ia teringat dengan kejadian yang ia alami semalam, ia tak mengerti tentang apa yang ia alami, dan mengapa orang itu melakukannya dan siapa yang melakukannya.
"Dasar anak pemalas kamu ya! Teriak Bu Romlah dari ambang pintu kamar Rani. "Sudah pagi masih enak-enakan tidur.
" Bu, aku masih ngantuk Bu! Rani beralasan kepada ibunya.
"Bu cukup! Rani membentak sang ibu. " Bu, aku gak seburuk yang Ibu pikirkan!
"Plllaaak, terdengar suara tamparan mendarat di pipi Rani yang mengakibatkan pipi Rani membengkak, dari sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah. "Beraninya kamu membentak Ibumu. Bu Romlah menarik Piama yang dikenakan oleh Rani hingga kancing-kancingnya terlepas semua.
"Aauuuhh! Rani berteriak sembari meringis kesakitan karena piama yang ditarik ibunya mengenai pu**ng pa******nya yang terluka.
.
__ADS_1
"Paaak, liat tuh! Bu Romlah berteriak memanggil suaminya yang tengah asik menikmati secangkir kopi hitam dan biskuit di meja makan. " Paaak! Bu Romlah memanggil suaminya lagi karena suaminya tak kunjung menghampirinya.
"Pak Badrun yang mendengar teriakan istrinya langsung berlari menuju sumber suara. " Ada apa sih buk, pagi-pagi sudah teriak-trriak?
"Liat tuh pak, akibat ulah nya semalam. Bu Romlah langsung menyingkap dada Rani yang sudah ditutupinya dengan selimut. Tuh liat, payu*****nya sampai terluka pak.
" Pak Badrun hanya bisa menelan air liurnya karena melihat pemandangan yang membangkitkan bir*h* nya itu.
"Pak, lebih baik kita panggil dukun saja pak untuk ngelakuin ritual buang si*l. Bu Romlah memberi pendapat kepada suaminya itu.
" Itu bagus Bu, supaya rumah kita terhindar dari si*l. "Rumah kita kotor karena ulahnya. Pak Badrun menyetujui pendapat Bu Romlah, ia merasa sangat lega karena kebusukannya tidak terbongkar.
"Astaghfirullah! Rani hanya bisa beristighfar dan menghela nafas karena merasa sangat terhina dengan ucapan kedua orang tuanya. Sedangkan kedua orang tuanya berlalu meninggalkan Rani yang sedang menangis pilu.
Tidak hanya perih di putingnya kini yang ia rasa, hatinya bagai di cabik-cabik dan kemudian tersiram oleh air perasan jeruk nipis. Begitulah kira-kira suasana hati Rani pada saat ini.
Dipagi itu Rani tak memiliki gairah untuk melakukan apapun, setelah mengganti bajunya yang sudah berantakan karena ulah ibunya itu, dia kembali membaringkan tubuhnya lembali ditempat tidurnya. Rani sudah tak peduli lagi dengan omelan ibunya.
Geri yang tiba menjemput Rani untuk pergi kesekolah merasa heran, karena tidak mendapati kekasihnya itu duduk diteras rumah menunggu kedatangannya. Biasanya, setiap pagi Rani sudah duduk diteras rumah menunggu kedatangannya untuk pergi bersekolah bersama-sama.
__ADS_1