
Rani yang sedari tadi berdiri diambang pintu kamar mereka, menatap pilu kearah pemandangan yang amat menyayat hati itu. Tak terasa air matanya mengalir deras seketika, tak mampu baginya untuk membendung nya.
Karena tak ingin menambah lukanya, Rani memilih untuk melanjutkan tidurnya. Malam itu Rani tak mampu lagi untuk memejamkan matanya. Hanya airmata yang terus mengalir deras, sebagai ungkapan rasa sakit yang amat dalam terasa menyiksa hati.
******
Keesokan harinya, Rani bangun pagi-pagi sekali. Ia berniat hendak pulang kerumah orang tuanya. Rasanya Rani sudah tidak sanggup lagi untuk tetap tinggal dirumah itu.
Rumah yang kotor dan berdebu, piring kotor yang berserakan dimana-mana itu seolah tak lagi dihiraukan oleh Rani. Saat Rani bangun dari tidurnya, Rani langsung menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian ia langsung bersiap-siap untuk pergi kembali kerumah orang tuanya. Rani juga sudah mengemasi semua pakaiannya. Saat Imam sudah terbangun dari tidurnya, Rani langsung meminta uang untuk ongkos pulang.
"Bang, aku mau pulang kerumah orang tua aku.
" Terus? Apa urusannya dengan aku? Tanya Imam masa bodo, seolah-olah tak peduli dengan istrinya itu.
"Ya aku minta uang lah bang! Seru Rani menahan emosi, mendengar perkataan suaminya itu.
" Minta uang? Enak aja, gak ada uang lagi. Udah habis buat belanja Rika semalam.
"Tak ada kalimat yang mampu Rani ucapkan lagi, ia hanya diam dan berlalu menuju ke ruang keluarga. Disana sudah ada anggota keluarga dirumah itu sedang berkumpul menunggu sarapan pagi yang tak kunjung disiapkan oleh Rani. Rani berniat untuk berpamitan kepada keluarga besar itu. Meskipun selama ini Rani diperlukan secara tidak baik, namun Rani tetap menaruh hormat terhadap keluarga besar itu.
"Mak, Bak, Rani mau pamit. Rani menjeda kalimatnya sejenak. Rani udah kangen sama kedua orang tua Rani. Rani melanjutkan kembali perkataannya tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada keluarga besar itu.
" Ya, silahkan saja. Ujar pak komar memberikan izin.
"Rani menyalami kedua mertuanya dan ipar-iparnya. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut mereka. Hanya tatapan sinis yang mereka tujukan terhadap Rani. Tapi, Rani sudah tidak peduli lagi dengan semua itu. Yang Rani ingin pada sast itu adalah keluar dari rumah itu. Kemudian Rani berlalu menenteng sebuah tas besar berisi pakaian miliknya. Ia berdiri dipinggir jalan untuk menunggu mobil angkutan yang menuju ke kota Jambi tempat tinggal kedua orang tuanya.
Selang beberapa menit saja, Rani sudah mendapatkan tumpangan untuk pulang kerumah. Sebuah BUS angkutan umum rute padang Jambi. Tanpa berpikir panjang lagi Rani langsung naik ke mobil BUS itu dan memilih duduk di bangku paling pinggir sekali didekat jendela mobil, karena ia takut mabuk dan muntah.
Di sisi lain, tidak jauh dari kursi tempat duduk Rani. Tanpa diketahui oleh Rani ada seseorang yang tengah memperhatikan Rani sejak pertama ia naik kedalam mobil tersebut. Orang itu terus memandanginya, orang itu memakai kacamata hitam membuat Rani tidak mengenalinya.
__ADS_1
Dengan perlahan mobil yang ditumpangi oleh Rani berangsur-angsur pergi melaju meninggalkan tempat yang sudah menyisakan kenangan buruk dibenak Rani. Hati Rani terasa lega, akhirnya dia bisa bebas dari neraka dunia itu. Pikirannya didalam hati dengan penuh keyakinan.
Dua jam perjalanan sudah ditempuh, kernet mobil bus yang Rani tumpangi mulai berkeliling meminta ongkos pada para penumpang. Kini tiba giliran Rani yang akan dipintai ongkos.
"Dik, ongkosnya! Suara kernet itu mengejutkan Rani yang setengah sadar karena tertidur.
" Eh hmm, bang aku gak punya uang bang! Jawab Rani jujur dengan nada mengiba.
"Wah, kalau gak punya uang jangan berani naik dong! Timpal kernet bus itu dengan ketus.
" Maaf bang, aku terpaksa bang. Sekali lagi Rani mengiba, berharap agar kernet bus itu membiarkan dirinya agar tidak membayar ongkos.
"Ya gak bisa lah, abang juga kerja! Ujar kernet bus itu kemudian memberi kode kepada sopir bus untuk menghentikan laju kendaraan yang sedang ia kemudikan.
" Bos, ini ada orang gak mau bayar! Kernet bus itu meneriaki bos nya.
"Suruh dia turun, Nanti kebiasaan! Perintah sopir bus kepada kernet nya.
"Mendengar perkataan sopir bus yang menyuruhnya untuk turun, Rani hanya bisa pasrah. Dengan berat hati Rani berdiri hendak beranjak turun dari mobil bus tersebut.
" Tunggu! Seru seseorang yang duduk di kursi seberangan tempat Rani duduk. Kemudian beranjak mendekati Rani dan kernet mobil. "Berapa ongkos untuk dia? Tanya seseorang yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Rani itu. Kemudian laki-laki itu membuka kacamata hitam yang sedari tadi ia kenakan.
" Terkejut dan tak menyangka, Rani seolah tak percaya. Ternyata laki-laki itu adalah Doni, kakak kelas Rani saat bersekolah di SMA. Doni juga sahabat karib Geri. "Kakak?
" Iya, ini aku. Doni! "kembali ke tempat dudukmu, biar aku yang urus. Dengan mata yang memerah Doni menatap kernet bus tersebut. " Berapa? Tanya Doni dengan nada meninggi. Ia merasa sangat marah karena kernet itu sudah mengusir Rani.
"Li lima puluh ribu bang. Kernet itu menimpali dengan sangat gugup, karena takut dengan Doni yang terlihat sangat marah itu.
" Kemudian Doni mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang selembar lima puluh ribu untuk membayar ongkos untuk Rani. Kemudian duduk disebelah Rani yang kebetulan kosong penumpang.
__ADS_1
"Ma makasih kak! Rani gugup dan malu kepada Doni.
" Kamu gak perlu terimakasih, soalnya pertolongan aku itu ada harganya! Seru Doni dengan tegas penuh selidik.
"Ha harga? Apa maksud kakak? Tanya Rani gugup karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Doni.
" Ya, harga! "Kamu harus kasih tau aku, kenapa kamu menghianati Geri? " Kenapa kamu tega Rani? Bentak Doni karena ikut merasakan sakit atas penghianatan Rani terhadap Geri.
"Tak mampu berbicara, hanya airmata yang menjelaskan betapa hancurnya hati Rani pada saat itu. Tubuhnya terguncang berulang-ulang karena menahan tangis.
" Kenapa diam Rani? Jawab aku? "Kamu tau, sampai sekarang Geri masih berharap!
" Cukup kak, diam! Okey, biar aku jawab pertanyaan kakak. Rani sudah tidak sanggup lagi memendam derita yang selama ini berusaha ia tutupi. "Aku terpaksa kak!
" Terpaksa kenapa? Tanya Doni memotong kalimat yang hendak diucapkan oleh Rani.
"Aku terpaksa, karena aku mau ngelindungin kehormatan aku! Jawab Rani dengan diiringi isak tangis.
" Dari siapa? "Siapa yang berani mau ngerusak kamu? Tanya Doni dengan penuh amarah.
"" Rani hanya diam, ia merasa ragu untuk memberi tahu kepada Doni.
"Kenapa diam? Jawab aku Rani! lagi-lagi Doni melupakan emosinya.
" Ayah aku sendiri kak. Jawab Rani dengan suara yang melemah.
" Kalau memang benar itu alasan kamu, kenapa kamu gak cerita sama Geri, hah? Bentakan Doni yang membuat semua penumpang memperhatikan mereka. Meskipun begitu, mereka tak menghiraukan Doni dan Rani, mereka seolah acuh tak acuh.
"Aku sengaja, aku gak mau keburukkan keluarga aku terbongkar. Rani menjawab pertanyaan Doni dengan lantang.
__ADS_1
" Doni hanya diam, duduk terpaku. Sesekali ia mengusap kepalanya dengan kasar. Tak ada lagi kalimat yang ia ucapkan. Ia merasa syok mendengar jawaban Rani. Ia tak menyangka, Rani sudah mengambil keputusan sebesar itu hanya demi melindungi harga diri keluarganya. Bahkan keluarganya sendiri tak memikirkan tentang harga dirinya.