
"Assalamu'alaikum! Terdengar dari luar suara Geri mengucapkan salam dari ambang pintu utama rumah keluarga Rani.
" Waalaikumsalam! Rani menjawab salam Geri dari dalam, sembari berlalu menuju keluar dari kamar hendak menemui Geri.
"Eh sayang, kamu kok belum mandi? Geri merasa heran, tak biasanya Rani belum melakukan apapun. " Gak sekolah? Tanya Geri dengan lembut, merasa iba kepada kekasihnya itu.
"Aku agak kurang sehat kak, aku gak sekolah hari ini. Rani menjawab pertanyaan Geri dengan nada memelas.
" Yang, kamu dari nangis ya? "kok mata kamu bengkak" terus pipi kamu kok lebam gitu? Geri sangat prihatin dengan keadaan kekasihnya itu, namun ia tak dapat berbuat apa-apa karena Rani tak pernah mau bercerita tentang apa yang ia rasakan.
"Hahaha, Rani tertawa kecil untuk menutupi kenyataan. " Kak, mungkin aku kebanyakan tidur makanya sampe sembab semua muka aku. Rani bersandiwara untuk menutupi kenyataan.
"Dek, kakak gak tau apa masalah kamu, tapi kalau ada masalah jangan pernah kamu telan sendiri ya! Ujar Geri sembari mengusap bahu Rani. " Kamu jangan lupa, kalau ada aku yang selaaalu sayang dan peduli sama kamu. Geri menyemangati Rani yang tampak sangat rapuh itu.
"Tak ada jawaban dari mulut Rani, hanya anggukan dengan wajah sendu yang mewakili perasaannya saat ini. " Entah sampai kapan kak aku bertahan dengan kenyataan ini. Gumam Rani lirih didalam hati.
"Yaudah, kakak pergi kesekolah dulu ya, nanti biar kakak buatin surat izin. Ujar Geri sembari tersenyum penuh beban. " Dek, kakak harap suatu saat nanti kamu bisa cerita apa yang kamu rasain. "meskipun kamu selalu bilang kalau kamu baik-baik aja, tapi kakak tau, kalau kamu nyembunyiin sesuatu dari kakak. Gumam Geri didalam hati.
******
Di suatu sore, seminggu setelahnya
" Itu ki anak saya Rani, Pak Badrun menunjuk Rani yang tengah duduk di teras rumah. Pak Badrun baru tiba bersama seseorang yang tidak dikenal oleh Rani.
__ADS_1
"Bapak sudah pulang, sapa Bu Romlah kepada suaminya saat ia tengah berdiri diambang pintu utama.
"Iya Bu, ini ki Baron dia dukun terkenal Bu. Ujar Pak Badrun memperkenalkan orang yang ikut pulang bersamanya. Sedangkan ki Baron hanya tersenyum licik saat memandang Rani yang masih dengan posisi duduk dikursi teras rumah mereka.
" Iya pak, ayo masuk! Ajak Bu Romlah kepada suaminya.
"Hey Rani, kenapa kamu masih bengong disitu? " ayo masuk, perintah Pak Badrun kepada putrinya itu. "Ayo masuk ki, kita ngobrol didalam saja!
Karena enggan berdebat, akhirnya Rani pun menuruti perintah Ayahnya dan duduk di ruang tamu yang tidak memiliki kursi tamu itu. Rani duduk disebelah ibunya, sedangkan ki Baron duduk disebelah Pak Badrun berhadapan dengan Bu Romlah dan Rani.
"Ini lo mbah anak kami yang mau kami obati supaya hilang aura si*l yang ada pada tubuhnya. Ujar pak badrun memulai pembicaraan.
" Iya mbah, kelakuannya sangat buruk sekali. Timpal bu Romlah sambil menatap sinis kepada Rani. Kami yakin dia akan membawa kesi*lan dirumah ini. Sambung bu Romlah lagi.
" Sontak Rani kaget, ia tak percaya bahwa kedua orang tuanya memang benar-benar mencari dukun untuk membuang sial pada dirinya. "Rani merasa muak, ingin rasanya ia berteriak memaki-maki kedua orang tuanya yang selalu berpikiran buruk terhadap dirinya. Namun apa daya, dirinya hanya bisa diam karena ia tak ingin berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya.
"Gimana mbah? "Kapan mbah bisa memulai pengobatannya? Tanya pak Badrun antusias bersama dengan Bu Romlah yang ikut menyimak.
" Kalian cari dulu bunga tujuh rupa, kemenyan, lidi kelapa hijau, jeruk nipis dua buah dan dua ekor telur ayam kampung. Ujar mbah Baron masih dengan tatapan liarnya. "Sepertinya anakmu juga terkena guna-guna, mbah Baron menghentikan kalimatnya sejenak. " Lihat saja, tubuhnya pucat dan tak berseri. Sambung mbah Baron lagi.
"Yaelah mbah, mbah, kulit aku pucat itu karena kurang tidur bukan kena guna-guna. Timpal Rani dengan nada ketus.
" Rani, tutup mulut kamu, jangan ngomong lagi. Bu Romlah membentak Rani dengan tatapan penuh kebencian. "Mbah, besok kami cari bahan-bahan yang mbah pinta. Ujar Bu Romlah ramah karena merasa tak enak dengan ucapan Rani. " Jadi kapan mbah kesini lagi? Tanya Bu Romlah kepada ki Baron.
__ADS_1
"Iya mbah kapan, sambung pak badrun. " Kami sudah tak tahan, dengan kelakuannya. Semoga setelah diobatin, dia gak liar lagi mbah.
"Hahaha, ki Baron tertawa lebar mendengar ucapan ayahnya Rani. " Itu soal mudah, siapkan saja bahan dan maharnya. mbah Baron tersenyum licik memandang Rani. "Tiga hari lagi, tepat dihari minggu pagi saya kemari. " Kita mulai pengobatannya, anakmu harus dimandikan dengan bunga tujuh rupa "Tapi mandinya harus didalam kamar yang terkunci, saya akan memandikannya.
" Baik mbah, kami akan mempersiapkan segalanya. Ngomong masalah mahar, maharnya apa mbah? Tanya Pak Badrun serius.
"Maharnya sepasang ayam hitam, kain putih, benang tiga warna dan poto purrimu.
" Hanya itu mbah, tanya Bu Romlah seolah tak percaya kalau maharnya tidak memiliki nilai harga yang tinggi, tidak seperti yang mereka bayangkan.
"Ya cuma itu, itu juga untuk dipersembahkan kepada leluhur ku yang akan membantu pengobatan ini. Ki Baron tertawa kecil, didalam hatinya ia bebicara" Bodoh kalian semua, mahar yang sebenarnya adalah tubuh putri kalian, ujar ki Baron didalam hati sembari matanya tak lepas memandang kearah Rani.
" Rani bergidik membayangkan kalau harus dimandikan didalam kamar terkunci oleh dukun tua itu. Rani sangat merasa jijik dengan dukun tua itu. "Pasti dia dukun cabul, aku butuh bantuan kak Geri. Rani bicara didalam hatinya, berharap Geri bisa membantunya. Meminta bantuan kepada orang tuanya sangat mustahil, itulah sebabnya ia berniat ingin meminta bantuan dari kekasihnya saja.
" Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu. Pamit ki Baron dengan mata masih menatap Rani dengan tatapan penuh birahi.
"Kedua orang tua Rani mengantar ki Baron sampai ke ambang pintu, sedangkan Rani memilih untuk masuk kekamar mengambil ponsel miliknya untuk memberi tahu Geri tentang perihal pengobatan yang hendak dilaksanakan oleh ki Baron.
Rani memilih untuk duduk dibawah pohon coklat di pinggir sungai belakang rumahnya untuk menghubungi Geri agar tak ada yang mengetahui rencananya. Sesampainya dibawah pohon coklat yang Rani maksud, Rani langsung menghubungi Geri dan menceritakan tentang rencana pengobatan yang hendak dilaksanakan oleh kedua orang tuanya dan ki Baron.
"Oke dek, kalau gitu ikuti aja rencanaku. Geri berpesan kepada Rani untuk mengikuti permainannya. " Dengar sayang, ini demi kebaikan mu. Kamu harus mengikuti rencanaku, percayalah dengan aku. "Aku gak akan menjerumuskan kamu. Geri meyakinkan Rani tentang rencananya.
" Oke kak, aku percaya sama kakak. Rani merasa mantap dengan rencana Geri. Ia merasa lega karena ada Geri yang siap melindunginya. "Makasih ya kak, aku sayang kakak.
__ADS_1
" Iya sayang, gak perlu berterima kasih. Ujar Geri dengan penuh tulus. "" Itu udah kewajiban aku ngelindungin kamu, pokoknya kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan dari aku.
Setelah Rani dan Geri mengobrol panjang lebar, mereka memutuskan panggilan telepon mereka. Mereka hanya tinggal menunggu hari minggu itu tiba untuk melaksanakan rencana mereka.