Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung

Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung
Bab 15


__ADS_3

Setelah Geri dan Doni mengobrol lama, tidak terasa hari sudah mulai sore. Akhirnya Geri memutuskan berpamitan kepada Doni untuk pulang ke rumahnya.


******


Dengan hati yang berat Geri meninggalkan jambi, untuk kembali kejakarta. Geri pergi membawa sejuta luka yang masih menganga dan berdarah. Geri pergi meninggalkan masa lalunya membawa kisah cintanya yang kandas oleh sebuah penghianatan.Geri pikir tidak ada gunanya berlama-lama di Jambi, itu hanya akan membuat dirinya tersiksa saja.


10 Juni di bandara internasional Sultan thaha Saifuddin Jambi.


"Nak, apa gak mau nunggu beberapa hari lagi untuk memenangkan pikiran? Pak Budiman berusaha mencegah keberangkatan putra semata wayangnya, karena merasa khawatir dengan keadaan putra semata wayangnya itu.


" Gak perlu yah. Geri menjeda kalimatnya sejenak, karena menahan bulir air mata yang hendak merembes dari balik kelopak matanya. "Kalau aku disini, malah tambah pusing. Ujar Geri menyambung kalimatnya kembali dengan nada lirih. Dengan bersusah payah ia menahan air matanya agar tidak tumpah.


" Yasudah, kamu hati-hati ya nak. Bu Sofi berpesan kepada putranya itu. "Selalu jaga kesehatan ya nak! Dengan penuh kasih sayang Bu Sofi memeluk tubuh kekar putranya itu.

__ADS_1


" Iya Bu, aku akan berusaha selalu baik-baik aja. Geri tersenyum getir, mengingat kisah cintanya yang berakhir tragis, hatinya selalu perih mengingat semua itu. Perih, bagai luka yang terkena perasaan air jeruk nipis, Perih tiada tara.Ya kira-kira seperti itulah perasaan Geri pada saat itu. Bagaimana tidak, pengorbanannya selama ini sia-sia. Pada akhirnya Rani menikah dengan pria lain yang membuat kisah mereka berakhir menyisakan luka yang amat parah.


Setibanya Geri di sebuah kamar kos miliknya, Geri langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Tiba-tiba ia merasa kesakitan karena ia menindih sesuatu dari balik jaket jeans yang ia kenakan. Sontak Geri langsung memeriksanya, ternyata benda yang ia tindih itu berasal dari dalam saku jaketnya. Seketika ia langsung menarik resleting saku jaket tersebut untuk membuka dan mengetahui benda apa itu. Kemudian Geri mengeluarkan benda tersebut, sebuah kotak kecil berisi sebuah cincin tunangan yang tidak sempat ia berikan kepada Rani. Dengan tatapan sendu, geri memandangi cincin tersebut. Hatinya semakin hancur dikala mengingat betapa bahagianya ia pada saat membeli cincin tersebut. Sungguh ia tak menyangka kisah cinta mereka akan berakhir dengan sebuah penghianatan. Akan tetapi, meskipun tengah dilanda kekecewaan Geri tetap menyimpan cincin tersebut dengan harapan akan ada jari yang bisa disematkan dengan cincin tersebut. Kemudian ia kembali berbaring di sofa yang bersandar di dinding kamar kos miliknya itu. Rasanya ia masih ingin bermalas-malasan, hari itu ia jalani hanya dengan berbaring disofa. Ia merasa tidak bergairah untuk melakukan aktivasi apapun bahkan ia lupa untuk makan. Hingga larut malam, geri masih saja terjaga. Ia masih memikirkan tentang Rani kekasihnya. Rasanya ia masih tidak percaya kalau Rani sengaja mengkhianatinya.


Pukul 23:07 WIB


Disisi lain Rani tengah berbaring menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Rasa sepi dan hampa menyeruak seketika merasuki jiwa yang tengah terluka. Pikirannya menerawang mengenang masa-masa indah bersama Geri. Sungguh, betapa sakit ia rasa dikala Rani mengenang semua itu. Penyesalan kini menguasai hatinya,rasa bersalah membuat ia semakin tersiksa. "Maafin aku kak, bukan maksud aku menghianati kakak. Ujar Rani lirih, sembari memiringkan tubuhnya memeluk guling. Rani menutup wajahnya dengan bantal. " Aku gak tau kalau kakak disana berusaha meminta izin sama orang tua kakak unikahin aku. "Aku terlalu terburu-buru mengambil keputusan. " Semua ini karena bapak, aku takut sama bapak. Sesal Rani dengan lirih, Rani tergugu menahan tangis sehingga tubuhnya terguncang berkali-kali.


"Ngapain kamu? Tanya imam sembari membalikkan tubuh Rani hingga terlentang. Imam baru pulang dari nongkrong diluar bersama teman-temannya.


"Kemasi barang-barang, besok kita pulang ke rumah orang tuaku. Perintah Imam dengan nada angkuh.


" Ta tapi! Rani menimpali perintah Imam dengan sedikit gugup.

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapi, pokoknya besok kita pulang ke rumah orang tuaku. Orang tuaku menelpon, mereka menyuruh kita untuk pulang secepatnya. Imam berbicara detnada yang tinggi.


" Tanpa mengeluarkan srpatah katapun, Rani langsung menuruti perintah suaminya itu, ia enggan membantah. Karena ia tak ingin bertengkar lagi.


Sungguh Rani tak pernah menyangka kalau Imam bisa sekasar itu. Masih teringat jelas didalam ingatan Rani, dikala Imam menyatakan cintanya setengah tahun yang lalu, Rani menolaknya karena ia setia dengan janji-janji yang ia ikrarkan bersama Geri. Lagi pula ia pikir Imam itu sahabatnya sendiri. Akan tetapi kepercayaan akan kesetiaan itu mulai runtuh pada saat Geri merasa ragu untuk menikahinya dua bulan yang lalu. Seminggu setelah itu, Imam kembali menyatakan cintanya kepada Rani dan bersedia untuk menikahinya. Karena Rani merasa terdesak, ingin melindungi kehormatannya. Akhirnya Rani menerima Imam dan setuju untuk menikah dengan Imam. Imam adalah sahabat Rani sejak kecil, dulu rumah mereka berdekatan, mereka tinggal disebuah pedesaan. Akan tetapi, pada saat Rani berusaha sepuluh tahun. Kedua orang tua Rani memutuskan untuk merantau kekota jambi. Jarak tempuh dari kota Jambi menuju desa tempat tinggal keluarga Imam memerlukan waktu jarak tempuh kurang lebih empat jam perjalanan. Sedangkan Imam, ia tidak melanjutkan pendidikannya. Sejak lulus SMA Imam sudah merantau kekota tempat tinggal Rani saat ini. Imam bekerja sebagai buruh bangunan. Jarak umur Rani dan Imam hanya selisih dua tahun saja.


Esok harinya, di pagi yang cerah matahari menampakkan pesonanya. Sedangkan Rani dan Imam tengah bersiap-siap hendak berangkat ke desa.


Sesampainya di desa, Rani dan Imam di sambut oleh kedua orang tua dan keluarga besar Imam. Rani sangat bahagia, disana ia disambut dengan ramah oleh keluarga besar tersebut.


Dirumah besar itu Imam memiliki kedua orang tua yang masih lengkap mesikpun sudah cukup tua. Imam memiliki dua orang kakak perempuan yang sudah berkeluarga, kakak pertama bernama Irna dan yang kedua bernama Ratih. Dua orang kakak laki-laki yang masih melajang yang bernama Rudi dan udin. Dan dua orang adik perempuan yang masih masih berusia enam belas tahun tapi tidak bersekolah lagi yang bernama Rika, dan adik Imam yang satunya lagi kelas ensm SD namanya Eka.


******

__ADS_1


12 Juni pukul 06:03 WIB


Dihari pertama Rani bangun tidur dirumah mertuanya, Rani langsung buru-buru menuju kedapur, suasana rumah sunyi, sepertinya belum ada yang bangun dari tidur mereka. Keadaan rumah berantakan, piring kotor berserak di mana-mana. Lantai kotor berdebu dan pakaian bergelantungan didinding, entah pakaian yang bergelantungan itu kotor atau bersih, Rani tidak tahu yang jelas kepala Rani pusing seketika melihat pemandangan itu.


__ADS_2