
MAWAR YANG HAMPIR DIPETIK OLEH AYAH KANDUNG
selasa 14 Agustus 2006
Disuatu siang, dipinggir sungai seorang Ibu tengah sibuk mencuci pakaian.
"Bu,Rani kecelakaan Bu! Seru seseorang yang merupakan teman dari Rani putri Bu Romlah yang tengah berdiri diatas tebing sungai.
"A a apa,dimana? Tanya Bu Romlah kepada Tantri, sontak Bu Romlah menghentikan aktivitasnya yang sedang mencuci pakaian.
"Dijalan raya Bu, dia sedang berjalan mau pulang. Tantri tak kalah cemas melihat Bu Romlah yang hampir tumbang karena terlalu mencemaskan dan merasa bersalah kepada putrinya tersebut. " Rani ditabrak orang pakai motor Bu. Ujar Tantri sembari memapah tubuh bu Romlah menuju rumah Bu Romlah yang letaknya tak jauh dari pinggiran sungai tempat ia mencuci pakaian.
"Ayo, duduk dulu Bu. Tantri menuntun Bu Romlah menuju sebuah kursi usang di teras rumahnya. " Tunggu sebentar Bu, biar ku ambilkan air minum dulu. Ujar Tantri berlalu menuju kedapur rumah Bu Romlah.
"Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Bu Romlah, bahkan tak ada sedikitpun air mata yang keluar dari kelopak matanya. Ia hanya terduduk lemah, Bu Romlah sangat menyesal, Karena kemarin paginya ia sempat bertengkar dengan putri tertuanya itu. Masih teringat jelas dalam ingatannya seperti apa ia memarahi, menghina dan tak sadar telah terkeluar ucapan buruk dari mulutnya untuk putrinya itu. Ingatan Bu Romlah masih menerawang pada pertengkaran mereka.
"Kalau kamu mau mandi ke sungai, bawa dan cuci piring kotor yang ada di baskom besar itu. Perintah Bu Romlah kepada putri tertuanya nya itu.
" Bu, hari ini hari senin, piringnya banyak banget aku bakal terlambat Bu. Ujar Rani memelas, berharap agar Ibunya mengerti.
"Dasar anak pemalas, Bu Romlah membentak putrinya itu. " Kalau kamu memang takut terlambat, kenapa kamu tidak bangun lebih awal lagi hahh?
"Bu, aku udah bangun pagi, tapi sekolah ku emang jaraknya jauh Bu, apalagi aku harus berjalan kaki agak jauh ke luar simpang untuk nunggu angkot. Rani merasa tertekan berusaha menahan emosi dan nada bicaranya.
" Kamu ya, dasar anak pembangkang. Nyesal aku ngelahirin kamu, kalau aku tau kamu besarnya jadi anak pemalas, mendingan aku bunuh kamu pas baru lahir.
__ADS_1
"Cukup Bu, cukup. Tak sadar Rani akhirnya tak mampu menahan emosinya. " Bu, ucapan adalah doa, kenapa ibu selalu bicara kasar Bu. Tolong Bu, mengertilah sedikit dengan keadaan ku! Bicaranya mulai melemah dan tak terasa kelopak matanya mulai berair.
"Kamu ya, kerjaannya cuma sekolah tapi selalu minta pengertian. Bu Romlah menonjo-nonjok puncak kepala Rani dengan telunjuk kanannya. "Ngerjain pekerjaan rumah aja gak pernah becus. Aku nyesal ngelahirin kamu.
" Ya sudah Bu, aku gak sanggup kalau harus bertengkar terus dengan Ibu. Rani pasrah dan bicaranya semakin melemah. "Kalau memang Ibu nyesal udah ngelahirin aku, bunuh aku sekarang bu. Rani sudah tidak sanggup mendengar perkataan ibunya.
"pllakkkk, Bu Romlah menampar Rani dengan keras hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Rani, ia merasa lelah jika harus bertengkar setiap hari dengan ibunya. Rani berlalu hendak mandi di sungai dan tak lupa ia mencuci piring sebagai mana yang diperintahkan oleh ibunya.
Dengan diiringi isak tangis yang sedikit tertahan, Rani terus mengguyur cucian piringnya diatas ****** yang mengapung dipermukaan sungai yang cukup besar itu. Disaat ia sedang mencuci ember kecil yang digunakan oleh ayahnya untuk mencuci piring pada saat ayahnya berjualan rujak manisan buah segar, tak terasa olehnya, arus air sungai yang sangat deras sudah merenggut ember kecil itu dari lengan gadis yang masih duduk di bangku kelas dia SMP itu. Sontak Rani terkejut dan langsung menyebur ke dalam sungai untuk menyambar ember tersebut. Namun, dikarenakan arus sungai yang pasang saat itu sangat deras, sehingga Rani tak mampu menahan ember tersebut lalu melepaskannya.
Rani langsung berenang ketepian ****** kemudian naik kembali keatas ****** dan langsung melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Setelah usai mandi dan mencuci piring, Rani kembali ke rumah untuk bersiap-siap pergi kesekolah. Sebelum berangkat ke sekolah, Rani memberi tahu kepada Ibunya tentang ember yang hanyut olehnya itu.
"Bu, ember nya Bapak tadi anyut. Rani bicara dengan sedikit takut kepada ibunya.
" Ya sudah bu, Rani mintmaaf. Ujar Rani pasrah menerima amarah dari Ibunya.
"Enak aja minta maaf, ujar Bu Romlah masih kesal. " Kamu harus ganti dengan uang jajan kamu.
"Rani hanya pasrah, tak mampu bicara sepatah pun, ia tak mau merusak harinya dengan bertengkar dengan ibun. " Ya sudah Bu, aku pamit dulu. Ujar Rani sembari mencium punggung tangan ibunya dengan penuh hormat. "Bu mulai hari ini berarti Ibu gak perlu kasih aku uang, supaya aku bisa ganti ember nya Bapak. "Assalamu'alaikum, Ujar Rani mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam.
"Dengan terburu-buru Rani berjalan kaki menuju keluar ke persimpangan jalan untuk menunggu angkot.
__ADS_1
Sesampainya Rani dipersimpangan jalan, Rani berdiri untuk menunggu angkot. Rani berniat untuk berhutang ongkos kepada sopir angkot agar ia bisa cepat sampai kesekolah, Rani tidak ingin terlambat.
Tak begitu lama Rani menunggu angkot, akhirnya ad juga mobil angkot yang menghampirinya. dengan terburu-buru Rani menaiki mobil angkutan kota itu kemudian duduk dikursi penumpang.
"Bang, ongkosnya utang dulu ya! Ujar Rani sedikit memelas. " Uangnya ketinggalan bang, maklum lagi buru-buru. Rani sengaja berbohong kepada sopir angkot langganan nya tersebut.
"Oke, santai. sopir angkot tersebut menimpali.
" Makasih bang, Rani turun terburu-buru menuju pintu gerbang yang sudah terkunci. Dari dalam gerbang sekolah, tampak pak satpam sedang berdiri. Rupanya Rani terlambat lagi, upacara pengibaran bendera sudah hampir selesai. "Hhuuuuhhh, Rani menghempaskan napasnya yang terasa berat. " Telat lagi, aku. Gerutunya didalam hati.
"Pak, buka pintu gerbang nya dong. Pinta Rani memelas, memohon agar pintu gerbang dibuka.
" Baiklah, tapi lain kali jangan diulang lagi. Ujar pak satpam berpesan.
"Oke Pak, saya janji. Indah berjanji dengan suara lirih.
" Rrreekkkk suara pintu gerbang dibuka oleh pak satpam yang sedang bertugas. Didalam gerbang, didekat kantor Tata Usaha sudah beberapa pelajar berkumpul. Mereka juga terlambat sama seperti Rani, dan Rani ikut bergabung dengan mereka.
Upacara pengibaran bendera telah usai, semua pelajar berhamburan menuju ke kelas masing-masing, akan tetapi tidak dengan Rani dan rombongan pelajar yang terlambat lainnya. Mereka digiring oleh Guru bimbingan konseling menuju kelapangan.
"Karena kalian terlambat untuk mengikuti upacara pengibaran bendera, maka kalian harus lari sepuluh kali putaran. Guru bimbingan konseling itu memberikan perintah yang tak mampu dibantah oleh mereka karena mereka memang bersalah. Mereka pun memulai lari mereka dari hitungan putaran pertama dan dilanjutkan ke putaran selanjutnya hingga ke putaran terakhir. Setelah mereka usai menjalankan hukuman mereka, mereka berhamburan meuju kekantin untuk menghilangkan dahaga karena lelah berlari. akan tetapi tidak dengan Rani, Rani memilih untuk menahan hausnya dan kembali ke kelas karena memang ia tak memiliki uang sedikitpun.
******
Jam pelajaran telah usai, waktunya untuk pulang ke rumah masing-masing. Rani lebih memilih pulang dengan bejalan kaki karena ia tak memiliki uang. Rani pulang berjalan kaki dengan menempuh jarak 5 kilometer dari sekolah menuju rumahnya. Dengan langkah gontai, Rani berjalan menyusuri trutoar jalan perkotaan. Lapar dan haus tentu sudah sangat menguasai dirinya, namun tetap ia tahan hingga ia sampai kerumahnya setelah menempuh jarak sekitar lima kilometer.
__ADS_1
Bersambung