
12 Juni pukul 06:03 WIB
Dihari pertama Rani bangun tidur dirumah mertuanya, Rani langsung buru-buru menuju kedapur, suasana rumah sunyi, sepertinya belum ada yang bangun dari tidur mereka. Keadaan rumah berantakan, piring kotor berserak di mana-mana. Lantai kotor berdebu dan pakaian bergelantungan didinding, entah pakaian yang bergelantungan itu kotor atau bersih, Rani tidak tahu yang jelas kepala Rani pusing seketika melihat pemandangan itu.
Di pagi itu, Rani sudah mulai berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari memasak, mencuci piring, membereskan rumah yang berantakan, dan melucuti pakaian-pakaian yang bergelantungan didinding lalu mencucinya disungai.
Pukul 09:08 WIB
Setelah semuanya selesai dikerjakan oleh Rani, barulah semua penghuni rumah itu bangun dari tidur mereka. Entah itu memang kebiasaan mereka atau mereka sengaja, entahlah. Yang jelas, hari itu Rani sangat lelah sekali. Keluarga besar dirumah itu, bangun dari tidur langsung menyantap makanan yang Rani masak hingga habis tak bersisa. Mereka tidak menyisakan makanan sedikitpun untuk Rani. Tambah lagi, mereka makan ditempat sembarangan yang mereka suka, ada yang makan diteras rumah, ada yang makan di ruang keluarga, ada yang makan di depan televisi sembari menonton acara kesukaan mereka. Sehingga membuat keadaan rumah kembali berantakan seperti sediakala. Melihat keadaan itu, Rani kembali mengemasi piring sisa mereka makan. Sedangkan penghuni rumah besar itu sudah disibukkan dengan aktivitas mereka masing-masing. Ayah mertua Rani, pergi keladang untuk menderes pohon karet bersama Imam suaminya. Ibu mertua Rani, tengah menonton acara televisi bersama kedua kakak ipar perempuan Rani dan adik ipar perempuan nya yang sudah remaja. Para suami kedua kakak ipar Rani pergi bekerja di sebuah PT perkebunan karet. Kedua kakak ipar laki-laki Rani keluyuran entah kemana, mereka pengangguran berat. sedangkan adik ipar Rani yang masih duduk di kelas enam SD itu bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Adik ipar Rani sekolahnya masuk siang karena kurangnya jumlah kelas disekolah tempatnya bersekolah. Dalam keadaan perut yang belum terisi, Rani mengemasi rumah kembali dan memasak untuk makan siang karena hari sudah mulai siang.
Pukul 12:09 WIB
Setelah Rani selesai memasak untuk makan siang, Ayah mertua dan suami Rani pulang dari ladang, kedua kakak ipar laki-laki Rani juga pulang, suami kedua kakak iparnya juga sudah pulang dari tempat mereka bekerja. Kemudian semua anggota keluarga rumah besar itu langsung menyantap makanan yang sudah Rani masak dengan gaya mereka masing-masing. Mereka berhamburan menuju tempat paporit mereka masing-masing untuk makan siang, kemudian meninggalkan piring kotor sisa mereka ditempat mereka makan yang membuat rumah itu menjadi berantakan kembali. Setelah semua selesai makan, barulah Rani berniat untuk makan. Saat ia membuka periuk tempat nasi, rasa sakit kini merasuk hati Rani. betapa tidak, ternyata nasi yang Rani masak hanya tersisa se centong saja itupun kerak nasi bukan nasi. Kemudian Rani memeriksa sambal di rak piring kaca, hati Rani tambah sakit. Lemas tubuh Rani, ia merasa kalau dirinya tidak dianggap. Sambal ikan yang Rani masak hanya tersiksa jejak cabe dan minyak sambal saja. Karena Rani sudah merasa sangat lapar, akhirnya Rani makan dengan nasi dengan sambal yang hanya tinggal jejaknya itu saja. Tak terasa airmata mengalir deras dari pipi Rani. Sungguh hari pertama dirumah mertua bagaikan di neraka.
"Kenapa kamu? Dengan nada angkuh, Rika adik ipar Rani menyapa. " Kenapa, nangis? "kamu gak mau makan, hah? " Siapa suruh kamu masak sampai berkeral, ya jadi kamu makannya kerak!
__ADS_1
"Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rani, terasa kelu lidahnya untuk sekedar menjawab perkataan Rika. Tangannya terasa mengeras, ingin rasanya ia merobek mulut angkuh milik Rika itu. Namun masih tetap ia tahan, Rani tak ingin membuat masalah.
" Udah deh jangan nangis, masih sukur kamu masih bisa makan. Kamu itu cuma numpang disini. Ujar Rika dengan sedikit membentak, seolah ia tau penyebab Rani meneteskan airmata.
"Rika, ada apa sih? Imam bertanya kepada Rika dengan nada seperti ingin memanjakan adik perempuannya itu. " Kok adiknya abang kelihatan kesal sih?
"Ini bang, istri abang kerjaannya nangis terus. Mau makan aja nangis, aku kan jadi jengkel. Timpal Rika dengan penuh kemanjaan kepada Imam kakak laki-laki nya.
" Udah dong, adik abang jangan marah-marah terus nanti cantiknya hilang loh. Ujar Imam merayu adiknya itu. "Mendingan, kamu ikut abang aja! Imam menawari Rika untuk pergi kesuatu tempat.
"Air sungai udah surut, padir-pasir udah pada timbul. Kakak mau kesana main air . Imam menjelaskan dengan lembut kepada adik perempuannya itu.
"Terasa ingin muntah Rani mendengar kakak beradik itu mengobrol. Mesra, seperti suami istri yang tengah dimanuk cinta. Sakit ia rasa, karena tak dianggap oleh suaminya. Tidak sedikitpun Imam menyapa Rani, Imam malah berlalu bersama adik perempuannya itu pergi ke sungai untuk bermain air. Sedangkan Rani kembali dengan aktivitasnya. Ia mulai berjibaku dengan pekerjaan rumah yang seolah tidak ada habisnya. Rani membereskan bekas keluarga besar itu makan siang dan membersihkan perabotan dapur. Setelah selesai semuanya, hari sudah mulai sore. Kemudian Rani mulai memasak untuk menu makan malam keluarga besar itu.
Hari sudah malam, tubuh Rani terasa remuk. Bagaimana tidak, seharian Rani melakukan aktivitas rumah untuk keluarga besar itu. Tak seorangpun dari anggota rumah itu yang merasa iba dan berpikir untuk membantunya. Semua anggota keluarga besar itu seolah acuh, tak peduli dengan dirinya maupun pekerjaan rumah. Begitupun dengan Imam, ia seolah tak peduli dengan rasa letih Rani. Bahkan Imam malah pergi meninggalkan Rani sendirian. Malam itu Imam pergi keluar nongkrong bersama teman-temannya yang masih lajang.
__ADS_1
Taniah yang merasa lelah, menunggu kepulangan Imam akhirnya tertidur juga. Sedangkan Imam belum juga ada tanda-tanda kepulangannya.
Disaat Rani tengah tertidur pulas, ia terbangun karena mendengar suara daun pintu terbuka. Ternyata Imam baru pulang, Rani meraba-raba untuk meraih ponselnya kemudian ia melihat jam di handphonenya. "Sudah pukul 01:09 WIB, gumam Rani didalam hati.
" Kamu belum tidur? Tanya Imam berbasa-basi.
"Belum, jawab Rani dengan nada ketus. " Kamu darimana aja bang, hah? Tanya Rani dengan nada sedikit meninggi.
"Dari luar, nongkrong sma teman-temannya. Timpal Imam santai.
" Nongkrong? Bang, aku ini nungguin kamu. Rani merasa sakit, karena seharian ia diperlakukan seperti pembantu. Dimalam hari ia ditinggal pergi oleh suaminya. Tak terasa air matanya mulai membasahi pipinya.
"Ya suka-suka aku lah, aku bosan dirumah terus. Dengan entengnya Imam berbicara seolah tanpa beban.
" Tida ada kata sepatah pun yang keluar dari mulut Rani, ia hanya diam. Rani enggan untuk berbicara panjang lebar lagi, ia memilih untuk diam. Rani takut membangunkan anggota keluarga besar itu. Itulah sebabnya Rani memilih untuk melanjutkan tidurnya meskipun matanya tak bisa lagi untuk di pejamkan.
__ADS_1