
Telinga Rani serasa panas dan nafasnya terasa amat sesak, dikarenakan ocehan dan hinaan dari kedua orang tuanya sejak ia pulang dari jalan bersama Geri pada tadi sore. Malam itu Rani tengah mengiris singkong untuk dibuat keripik yang hendak ia jajakan disekolah keesokan harinya. Ya semenjak setelah tragedi kecelakaan naas itu, Rani sudah terbiasa mencari uang sendiri, ia membuat keripik singkong dan ubi jalar untuk dijual dan dititipkan di toko-toko terdekat.Rani selalu memegang uang agar tidak harus berjalan kaki lagi,jika sewaktu-waktu ibunya menghukumnya. Karena memiliki penghasilan sendiri, meskipun sedikit akan tetapi Rani sudah tidak lagi mengandalkan kedua orang tuanya untuk biaya sekolah dan kecantikannya.
Malam itu, suara ocehan dan hinaan kedua orang tua Rani yang sedang mengobrol didalam kamar mereka bertalu-talu memenuhi rumah mereka yang hanya seluas enam kali delapan persegi saja, apalagi letak kamar kedua orang tua Rani bersebelahan dengan dapur tempat dimana Rani tengah membuat keripik untuk jualanya, membuat Rani bisa mendengar dengan jelas semua ocehan kedua orang tuanya.
"Mau jadi apa, masih remaja suka keluyuran. Ujar Pak Badrun yang langsung ditimpali oleh Bu Romlah.
" Iya Pak, percumah dia pakai hijab tapi kelakuannya kayak *******.
"Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rani, ia terus saja fokus dengan pekerjaannya dengan sesekali tubuhnya terguncang karena menahan sakit dan tangis.
" Kalau diomongin, dia suka ngelawan pak. Ujar Bu Romlah, mengada-ngada. "Kalau disuruh apa aja, dia suka membantah, "Anak pembawa sial, mungkin aja selama ini hidup kita selalu kesulitan itu karena perbuatan dia pak.
" Mungkin aja buk, dia yang berzina malah kita yang kena imbasnya. Ujar Pak Badrun membenarkan ucapan istrinya itu sembari tersenyum licik.
"Astaghfirullahhhhhh, Rani hanya bisa beristighfar dan menghempaskan nafasnya yang terasa berat.
" Diakan sering ganti-ganti cowok yang antar jemput dia, entah lah pak, entah sekotor apa dia. Ujar Bu Romlah menuduh, padahal didalam hatinya ia merasa heran dan iri kepada putrinya itu. Rani yang selalu menjadi primadona setiap lelaki yang mengenalnya. Sedangkan dirinya, ia merasa suaminya saja sepertinya enggan menyentuhnya.
Malam itu Rani melewati malamnya dengan penuh luka, lukak-luka yang menganga oleh tajamnya sayatan dari lidah kedua orang tuanya. Semalaman ia hanya menangis, hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan.
******
Keesokan harinya, Rani sudah bersiap-siap hendak pergi ke sekolah,ia menunggu jemputan Geri, karena semenjak Rani menjalin hubungan dengan Geri,maka Geri lah yang mengantar jemput saat hendak pergi dan pulang sekolah. Sembari menunggu kedatangan Geri, Rani memasukkan semua keripik buatannya kedalam kantung pelastik besar.
Tak begitu lama menunggu, akhirnya Geri tiba juga. Rani segera menghampiri Geri. Rani sengaja langsung pergi ke sekolah tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya karena mereka sedang berada dipasar hendak berbelanja keperluan jualan mereka.
__ADS_1
Setibanya mereka disekolah, saat mereka berada diparkiran Geri sempat memperhatikan wajah dan mata Rani.
"Hey, sayang muka kamu kok pucat sih? Tanya Geri menyelidik.
" eeh mmh nggak kok, aku cuma agak kurang sehat aja kak. Ujar Rani gugup kerena berusaha menutupi kenyataan, bahwa wajahnya pucat karena semalam menangis.
"Kamu nangis ya, kok mata kamu bengkak? Lagi-lagi Geri menatap Rani dengan penuh selidik.
" Nggak kok kak, ujar Raniani masih tetap merahasiakan semua yang terjadi padanya. "Udah dong kak, kepala aku pusing. " Ntar malah tambah pusing loh kak. Rani nerengek manja untuk berusaha tetap menutupi kenyataan.
"Ya udah, kalau gitu sini keripik nya biar aku yang jual! Geri meraih kantung pelastik yang berisi keripik buatan Rani dari tangan Rani.
" Eh gak usah kak, biar aku aja. Rani menolak, karena tak ingin merepotkan Geri. "Ntar kakak malu, aku aja ngerasa gak pd jualan keripik, takut kakak diledekin karena punya cewek si penjualan keripik. Terang Rani secara panjang lebar.
" Udah, gak usah dibahas soal itu lagi. Geri merasa kesal karena Rani membahas masalah yang tak penting menurut Geri. "Kamu tau, sebenarnya aku tuh tergila-gila sama kamu karena kamu tu spesial menurut aku. Jarang ada cewek yang mau hidup mandiri kayak kamu, itu yang membuat aku jadi ingin memperjuangkan cinta aku. " Tolong, jangan bahas itu lagi. Ujar Geri kemudian berlalu membawa kantung pelastik berisi keripik tersebut, Geri langsung menuju kelasnya meninggalkan Rani sendirian diparkiran.
" Heyyy, Geri membalas sapaan Doni dengan ramah.
"Eitss apaan tuh, tanya Doni penasaran menunjuk kearah kantung pelastik besar bawaan Geri.
"oh, ini? " Ini keripik buat dijual, jawab Geri yang membuat Doni terkejut.
"Aiiish, udah ketularan si Rani aja nih orang. Doni bergurau dengan nada yang agak keras membuat teman-teman sekelas mereka mendengar perkataan Doni.
" Cieee, cieeee! Tamara bersorak dengan gurauan.
__ADS_1
"Eh, Teman-teman kebetulan nih dicoba dulu keripik buatan Rani. Ujar Geri mempromosikan keripik jualan Rani dengan bangga dak tak sedikitpun ada rasa malu pada dirinya.
" Boleh juga tuh, ujar Toni menimpali. "Ayo teman-teman kita borong keripik nya mumpung masih ada. Ajak Toni kepada teman-teman sekelasnya.
Tak butuh waktu lama, keripik buatan Rani habis diborong oleh teman-teman Geri.
" Wiihh, enak juga ya keripik nya. Ujar Doni memuji. "Beruntung kamu Ger, punya cewek kayak Rani. Doni memuji dengan tulus, yang membuat Geri semakin menyayangi Rani.
" Disisi lain, Rani yang sedang duduk didalam kelasnya merasa bersalah dan selalu memikirkan Geri. Karena sejak Geri meninggalkannya dilokasi parkir, Geri belum menemuinya ataupun sekedar menyapanya melalui pesan singkat dari handphone.
Pada saat jam istirahat, Geri baru teringat pada Rani. "yaaa ampun, Geri mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. " Aku baru ingat, semua uang jualannya kan diaku. Geri menggerutu sendiri menyesali kebodohannya. "Jangan-jangan dia gapunya duit, lapar dong dianya. Lagi-lagi Geri menggerutu karena kesal. Dengan secepat kilat, Geri berlari menuju kelas Rani yang letaknya cukup jauh dari kelasnya.
Setibanya Geri di dalam kelas Rani, ia langsung menghampiri Rani yang sedang duduk termenung.
" Hey, sayang kamu ngapain?
"karena tidak menyadari kedatangan kekasihnya itu, Rani tetap saja termenung.
" sayang, Geri memanggil Rani sembari menepuk bahu Rani yang membuat Rani terkejut.
"Kakak, kapan kakak datang kesini? " Kok aku gak sadar? Tanya Rani gugup.
"Hmhhh, sejak tadi kaleee. Raka mengeleng-gelengkan kepalanya.
" Kak, kok keripik aku gak dibawa kemari sih kak?
__ADS_1
"Udah habis dijual semua, timpal raka dengan senyum mengembang. " ini uangnya,seratus dia puluh ribu. Geri menyerahkan gulungan uang hasil penjualan keripik oleh Geri "Yaudah, ayo kita kekantin, ntar keburu masuk kelas loh. Ujar Geri sembari menarik lengan Rani menuju kekantin yang diikuti oleh Rani.