Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung

Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung
Bab 9


__ADS_3

Pagi minggu pukul 05 WIB, dimana hari minggu adalah hari yang sudah dijanjikan oleh ki Baron. Pagi-pagi sekali Rani sudah mempersiapkan segala sesuatunya sesuai dengan apa yang diperintah oleh Geri. Pikiran Rani bercampur aduk antara takut dan yakin dengan apa yang direncanakan oleh Geri. Didalam hatinya, ditengah kekacauan pikirannya. Ia berdoa agar dirinya dan kekasihnya diberikan kekuatan dan perlindungan oleh yang maha Kuasa.


Pukul 06:37 WIB disaat matahari begitu gagahnya menampakkan pesonanya yang penuh kehangatan dan dengan penuh percaya diri sama halnya seperti Rani yang begitu percaya diri dan yakin dengan perlindungan yang diberikan oleh kekasihnya Geri. Pagi itu, Rani sudah bersiap-siap untuk memberikan pelajaran kepada dukun cabul tua renta itu. Rani ingin menyadarkan kedua orang tuanya, ia berharap agar kedua orang tuanya berhenti untuk memperlakukan dirinya seperti boneka.


"Bapak, Ibu kalian salah menilai ku dan Geri. Gumam Rani pilu didalam hati. Seketika merembas air mata mengalir dari dalam kelopak matanya. Hatinya sangat sakit,serasa bagai tersayat-sayat oleh sembilu ketika ia mengingat hujatan demi hujatan, gunjingan demi gunjingan yang keluar dari mulut kedua orang tuanya. " Maafkan aku bu, bukannya aku bandel, tapi aku ingin membuktikan kepada kalian siapa ki Baron sebenarnya. "Dia hanyalah dukun palsu, aku merasakan kalau dia berniat buruk terhadapku bu. Itulah sebabnya aku meminta bantuan dari Geri. Maafkan aku bu, semoga kalian memaafkan tindakan nekatku ini. Didalam hati, Rani terus saja mengucapkan kata maaf.


Tidak begitu lama akhirnya dukun cabul itu datang juga dengan disambut penuh hormat oleh kedua orang tuanya Rani.


"Eh mbah Baron udah datang silahkan masuk mbah. Bu Romlah menyambut kedatangan ki Baron dengan penuh hormat pada saat mendengar salam yang diucapkan oleh ki Baron dari ambang pintu., yang kemudian diikuti oleh ki Baron yang disambut kedatangannya oleh Bu Romlah. " Silahkan duduk mbah, Bu Romlah mempersilahkan. "Pakk, pakk, ki Baron udah datang nih. Bu Romlah memanggil suaminya dari ruang tamu.


Pak badrun yang mendengar Bu Romlah berteriak memanggilnya, langsung beranjak dari tempat makan menuju sumber suara yang memanggilnya.

__ADS_1


" Eh mbah, apa kabar mbah? Pak Badrun berbasa-basi terhadap ki Baron sembari menyalaminya


"Baik, baik, kabar saya sangat baik hari ini. Ki Baron menjelaskan keadaannya dengan senyuman licik mengembang di pipinya. Didalam hati, ki Baron menertawakan kebodohan kedua orang tua Rani yang sudah mempercayainya begitu saja. Masih jelas didalam ingatannya, sore itu. Pada saat ia membeli dagangan Pak Badrun ayahnya Rani. Kebetulan pada saat itu Bu Romlah juga sedang berada di tempat jualan suaminya itu. Bu Romlah menceritakan perihal Rani putrinya itu kepada ki Baron. Cerita demi cerita keluar dari mulut Bu Romlah. Sedangkan ki Baron yang tengah menyimak cerita kedua orang tua Rani yang saling bersahut-sahutan itu hanya tersenyum senyum saja. Didalam hatinya terbesit sebuah niat jahat. Ki Baron berniat untuk menjadikan Rani mangsa barunya. Oleh karena itulah ki Baron menawarkan kepada kedua tua Rani untuk mengobati Rani supaya Rani terbebas dari kesialan atas perbuatannya tersebut.


" Oya, mana putrimu? Ki Baron menanyakan keberadaan Rani karena tidak mendapati sosok Rani di ruang tamu.


"Ada mbah, dia ada didalam kamarnya. Bu Romlah memberi keterangan kepada Aki Baron." Oya, silahkan duduk dulu mbah. Bu Romlah mempersilahkan dengan penuh hormat. "Oya, saya mau bikin minuman dulu. Mbah mau minum kopi atas apa? Tanya Bu kepada ki Baron.


"Ada mbah, biar saya ambilkan dulu. Ujar Pak Badrun kemudian berlalu menuju kamar miliknya bersama istrinya untuk mengambil bahan-bahan yang sudah dipesan oleh ki Baron tiga hari yang lalu. Kemudian Pak Badrun kembali dengan menyerahkan pesanan ki Baron. " Ini mbah, Pak Badrun menyodorkan barang pesanannya.


"Dengan cekatan ki Baron menyambar kantung kresek yang berisi bahan pesannya untuk pengobatan Rani dari tangan Pak Badrun. "Bodoh sekali kau Badrun, bahan-bahan ini malah akan aku jadikan perantara untuk mendatangi putrimu. Ki Baron berujar didalam hati dengan tatapan yang sulit diartikan. Dengan cekatan ki Baron merangkai lidi dan jeruk nipis berbentuk sebuah boneka dengan jeruk sebagai kepala dan lidi di bentuk untuk tangan dan kakinya. "Anakmu akan kujadikan tumbal untuk leluhurku, ki Baron berbicara didalam hatinya sambil tersenyum puas. Setelah jadi boneka dari jeruk nipis kemudian ki Baron membungkusnya dengan kain putih bersamaan dengan telur ayam kampung lalu mengikatnya dengan benang tujuh warna. " Ini diberikan kepada anakmu, kalau malam pas mau tidur ikatan benang tujuh rupa ini di buka lalu letakkan telur dan boneka ini disebelah kanan anakmu. Titah ki Baron kepada kedua orang tua Rani sembari menyodorkan bunhkusn kain putih tadi yang langsung disambut oleh Pak Badrun.

__ADS_1


"Sekarang anakmu harus menjalani proses mandi Kembang, titah ki Baron dengan tegas.


" I Iiya mbah, pak Badrun tampak patuh dengan perintah ki Baron. "Bu, ayo siapin keperluan untuk Rani mandi. Perintah Bu Romlah kepada istrinya.


" Baik Pak, ujar Bu Romlah patuh. Bu Romlah beranjak kedapur untuk mengambil bakom besar, meletakkannya didalam kamar Rani lalu menyalurkan air menggunakan selang kedalam baskom besar yang sudah ia sediakan lalu menaburkan kembang tujuh rupa yang sudah mereka persiapkan.


Sedangkan Rani yang sedari tadi duduk di tempat tidurnya hanya tersenyum dengan warna wajah yang tak dapat diartikan. Rani sudah menunggu saat itu tiba, "Habislah kau hari ini dukun cabul. Gumam Rani didalam hati dengan penuh kemenangan.


" Pak udah siap nih untuk pemandian Rani. Bu Romlah berseru dari dalam kamar Rani, dia tak menghiraukan Rani yang senyum-senyum sendiri membayangkan seperti apa rencananya untuk menggagalkan dukun cabul itu.


Dengan dipersilahkan oleh ayahnya Rani, ki Baron masuk kekamar Rani sedangkan Bu Romlah keluar dari kamar tersebut. Ki Baron memberi minum kepada Rani dengan air dalam botol yang ia bawa dari rumah. Seketika tubuh Rani tumbang tak sadarkan diri ketika Rani meminum air yang diberikan oleh ki Baron. Rani tak dapat menolak untuk meminum air itu, karena ia takut dimarahi oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Dengan cekatan ki Baron langsung menyambar tubuh Rani yang tak sadarkan diri itu, kemudian membaringkannya ketempat tidur. Tidak menunggu lama lagi, ki Baron langsung melucuti pakaian Rani. Akan tetapi, pada saat ki Baron hendak melakukan hal yang lebih nekat, Tiba-tiba sebuah tinjuan melayang.


__ADS_2