Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung

Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung
Bab 3


__ADS_3

"Bu, ini minum dulu. Tantri menyodorkan segelas air minum kearah Bu Romlah.


" Bu Romlah masih melamun, pikirannya masih menerawang mengingat perkataan buruk yang ia lontarkan kepada putrinya itu.


"Bu, ayo minum dulu. Tantri menepuk bahu Bu Romlah dengan lembut, membuat Bu Romlah tersentak kaget.


" eeeeh iiiya nak Tantri. "Kamu tau dari siapa kalau Rani kecelakaan? Tanya Bu Romlah, berharap kalau Tantri hanya salah dalam mendapatkan informasi.


" Tadi sopir angkot yang bilang bu, katanya dia yang bawa Rani ke rumah sakit umum. Tantri menjelaskan dengan hati-hati sekali.


"Ibu mau ke rumah sakit, ujar Bu Romlah dengan lirih dan lemah. " Tolong kamu telpon bapaknya Rani, itu nomor handphone nya ada ditulis di kalender diruang tengah. Pinta Bu Romlah kepada Tantri.


"Tantri hanya menganggukkan kepalanya lalu menuju ke ruang tengah untuk menyalin nomor telpon Pak Badrun ayahnya Rani, kemudian kembali ke tempat dimana Bu Romlah sedang terduduk lemah. Tantri langsung melakukan panggilan menuju ke nomor telepon yang digunakan oleh Pak Badrun.


Setelah panggilan telepon tersambung, Tantri langsung menyerahkan handphone Nokia type N1200 miliknya agar Bu Romlah bisa berbicara kepada suaminya melalui telepon.


"Halo, assalamu'alaikum! terdengar oleh Bu Romlah dari seberang sana suara suaminya mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam, Pak Hu huuu uuu. Bu Romlah tak lagi mampu menahan tangisnya. "Paakkk ini Ibuu, pak Rani kecelakaan. Bu Romlah memberi tahu kepada Pak Badrun dengan suara terbata-bata.


" Sekarang Rani ada dimana Bu, Pak Badrun terkejut bercapur cemas.


"Ada rumah sakit pak, Rumah sakit umum. Jawab Bu Romlah dengan diirngi tangisannya.


" Ya sudah Bu, Ibu tunggu dirumah bapak mau pulang. Perintah Pak Badrun yang berusaha tetap tegar. "Kita ke rumah sakit bareng buk!


" Iya Pak, Ibu tunggu dirumah. "Bapak yang cepat ya Pak!


" Iya Buk, assalamu'alaikum.

__ADS_1


"Waalaikumsalam Pak, kemudian Pak Badrun memutuskan panggilan telepon. " Nak Tantri, ini handphone kamu. Bu Romlah menyerahkan handphone milik Tantri. "Makasih ya nak, oya kamu baiknya pulang aja dulu nanti orang tua kamu khawatir. " pinta Bu Romlah kepada Tantri.


"Iya Bu, gak apa-apa ibu aku tinggal sendiri? Tanya Tantri merasa khawatir.


" Gak apa-apa nak, sebentar lagi Bapak pulang. Jelas Bu Romlah kepada Tantri.


"Ya udah buk, Tantri pulang dulu. Tantri pamit pulang sembari menyalami punggung tangan Bu Romlah. " Assalamu'alaikum!


"Waalaikumsalam, Hati-hati ya nak. Bu Romlah berpesan kepada Tantri. " makasih ya nak.


"Tantri hanya tersenyum lirih.


Selang berapa menit Pak Badrun tiba dirumah mereka. Ia langsung menurunkan gerobak jualannya kemudian menghampiri Bu Romlah yang terus menangis sesenggukan.


" Bu, ayo! Pak Badrun menggandeng lengan istrinya menuju ke kendaraan butut miliknya. "Bu dimana anak-anak? Tanya Pak Badrun yang baru menyadari ketiga anaknya yang lain tidak ada dirumah.


" Mereka dirumah bibik mereka Pak, mereka main kesana. Bu Romlah menjelaskan dengan lirih dan lemah.


Tanpa berpikir panjang lagi mereka langsung menuju rumah adik mereka yang yang masih satu RT itu untuk menjemput anak-anak mereka, bahkan mereka lupa untuk mengunci pintu karena terburu-buru.


" Dik, dimana anak-anak? Tanya Pak Badrun kepada bu saroh, adiknya yang tengah menyapu halaman rumahnya.


"Ada, mereka di ruang tamu sedang main bareng bang. Jelas Bu Saroh kepada kakaknya itu dengan tatapan heran tertuju kepada Bu Romlah yang tak lain adalah kakak iparnya itu.


" Dik, Rani kecelakaan. Ujar Pak Badrun memberitahu kepada adiknya itu, sedangkan Bu Romlah tak henti-hentinya menangis. "Aku mau jemput anak-anak, kami mau ke rumah sakit.


" Aapaa bang? Tanya Bu Saroh gugup karena cemas dan terkejut. "Dimana bang?


" Sekarang dirumah sakit, nanti kalian nyusul ya! Pinta Pak Badrun kepada adiknya itu.

__ADS_1


"Iya bang, kalian berdua pergilah duluan bang, nanti aku nyusul dengan anak-anak. Ujar Bu Saroh kepada kakaknya itu dengan tatapan iba.


" Ia dik, Terima kasih. Pak Badrun langsung melajukan kendaraannya dengan membonceng Bu Romlah, kearah rumah sakit yang agak jauh dari tempat tinggal mereka yang berjarak enam kilometer dari rumah mereka.


Setibanya di rumah sakit, Pak Badrun dan Bu Romlah langsung menuju ke ruang administrasi untuk menanyakan dimana anak mereka sedang dirawat.


"Ada yang bisa saya bantu pak? Tanya seorang perawat yang menjaga meja administrasi dirumah sakit tersebut.


" Buk, mau tanya. Pak Badrun menghentikan kalimatnya sejenak kemudian melanjutkan kalimat nya. "Tadi anak saya kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit ini, dirawat dimana anak saya ya bu?


" Atas nama siapa ya pak? tanya perawat tersebut ingin memastikan, karena hari itu ada dua pasien kasus kecelakaan yang dibawa ke rumah sakit tersebut.


"Atas nama Rani angraini buk, Pak Badrun memberi keterangan.


" Oh, pelajar SMP yang kecelakaan sepulang sekolah tadi ya pak? "di ruang IGD pak.


" terimakasih buk, ujar pak Badrun sembari berlalu dengan terburu-buru yang diikuti Bu Romlah dari belakang. l


Setibanya didalam ruang IGD, tampak lah oleh mereka sosok bang mamat yang tengah duduk dikursi tunggu. Sedangkan Rani terbaring tak sadarkan diri, disekelilingnya ada beberapa orang perawat yang sedang membersihkan luka-luka pada tubuh Rani.


Pada saat Bu tdan Pak Badrun sudah berada di dekat tubuh Tantri yang terbaring diatas ranjang rumah sakit tersebut, mereka menangis histeris karena melihat keadaan tubuh Rani yang penuh luka, mereka merasa ngilu melihat kelopak mata Rani yang robek tak beraturan karena tercabik-cabik oleh tajamnya aspal jalanan.


"Pak Rani, huu huhuu uuuu. Tangis Bu Romlah semakin menjadi-jadi.


" Bu, tolong suara tangis nya ya. tolong jangan ribut, kami sedang berkonsentrasi untuk menjahit luka-luka pada tubuh pasien, jadi mohon pengertiannya. Perintah salah satu perawat rumah sakit dengan suara lantang, yang membuat Bu Romlah menghentikan tangisnya, kemudian duduk di kursi tunggu yang berada di susud dinding ruangan tersebut. Mereka duduk disebelah mang mamat.


"Pa, bapak siapanya pasien!? Tanya mang mamat membuka pembicaraan mereka.


" Kami orang tuanya pak, ujar Pak Badrun dengan tatapan sendu. "Oya, bapak siapa? Tanya Pak Badrun ingin tau karena dia tak mengenal mang mamat.

__ADS_1


" Oh, anu Pak saya mamat Pak, saya sopir angkot. Timpal mang mamat polos, tadi kebetulan saya lewat Pak, jadi sekalian saya yang antar neng Rani ke rumah sakit.


"Terima kasih banyak, ujar Pak merasa sangat bersyukur kerana mang mamat sudah mengantarkan tubuh lemah Rani ke rumah sakit.


__ADS_2