Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung

Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung
Bab 4


__ADS_3

Keesokan harinya, Rani yang belum sadarkan diri dirujuk ke rumah sakit umum di Propinsi karena rumah sakit di kabupaten tempat mereka tinggal tidak sanggup menangani Rani dikarenakan kurangnya kelengkapan peralatan medis. Sedangkan keadaan Rani semakin memprihatinkan, karena semua rongga yang terdapat pada tubuh Rani mengeluarkan darah termasuk rongga ***********, tubuhnya membengkak dan memar.


Seminggu sudah Rani belum juga sadarkan diri, isak tangis keluarga sudah tak terdengar lagi. Siang dan malam tak henti-hentinya pihak keluarga Rani membaca surah yasin secara bergantian untuk meminta kesembuhan bagi Rani.


Samar-samar Rani bisa mendengar lantunan pembacaan surah yasin yang dibacakan oleh pak Badrun, perlahan Rani membuka matanya. Bu Romlah yang sedari tadi duduk disamping ranjang Rani, menyadari kalau Rani sudah bangun dari koma.


"Syukurlah, Paak Rani sudah sadar pak! suara haru Bu Romlah wanita tiga puluh tahun itu memenuhi ruang rawat inap Rani tersebut, yang membuat Pak Badrun menghentikan bacaan surah yasin nya.


" Nak, kamu sudah sadarkan diri nak. Ujar bu Romlah sembari mengelus pipi Rani.


"Rani hanya diam tak bicara sepatah pun. Ia masih merasa bingung, ada apa dengannya. Seingat Rani, dia pulang sekolah dengan berjalan kaki.


" Syukurlah nak, kamu sudah sadarkan diri. Tangis haru Pak Badrun memeluk tubuh Rani.


"Mata Rani mengitari seluruh sudut ruangan, Rani melihat dinding tempat ia terbaring semuanya berwarna putih. " Bu, kita dimana? Tanya Rani masih kebingungan.


"Kita dirumah sakit nak, jawab Bu Romlah. " Kamu kecelakaan nak.


******


Seminggu dari Rani sadarkan diri, keadaannya sudah semakin membaik. Darah yang selalu keluar dari rongga-rongga pada tubuh Rani sudah tidak ada lagi, dan tubuh Rani yang membengkak sudah mulai normal kembali. Akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Setelah ayah Raniusai menyelesaikan administrasi, Rani di bawa pulang oleh kedua orang tuanya ke rumah mereka. Mereka memesan taxi untuk kendaraan pulang. Diperjalanan pulang, Ayah Rani menelpon adi-adiknya untuk mempersiapkan kepulangan mereka.


"Dik, hari ini Rani sudah diperbolehkan pulang, kami sedang diperjalana pulang. Pak Badrun berbicara kepada bi irma adik bungsunya melalui panggilan telepon.


"Oh, syukurlah bang. Bik irma merasa bersyukur.


" Iya dik, abang minta tolong ya kamu beres-beres dirumah.


"Iya bang, timpal bik irma menurut.


******


Sesampainya mereka dirumah, mereka sudah disambut oleh nenek, paman, Bibi, dan para sepupu Rani. Mereka menangis harus menyambut kepulangan Rani, mereka memeluk Rani secara bergantian.


" Ayo masuk kita makan dulu. Ajak Bi Saroh kepada Bu Romlah. "Kami sudah masak loh.


" Mereka masuk dan langsung menuju ke ruang tengah kemudian duduk di untuk menyantap makan siang bersama, karena menu makan siang sudah terhidang rapi diruang tengah. Mereka menyantap makan siang dengan lahap dan sesekali mereka bercengkrama bersama.


Setelah usai mereka makan siang, Rani masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan yang lainnya sibuk membersihkan bekas mereka makan dan mencuci piring.


Pada saat Rani tengah duduk bersandar di sandaran ranjang tempat tidurnya, Tiba-tiba Pak Badrun masuk dan langsung memeluk Rani dari posisi sebelah kiri. Pak Badrun menciumi pipi Rani dengan sesekali mengusulkan hidung dan bibirnya di wajah Rani. Tangan kanannya memegangi kepala Rani dari belakang pundak Rani agar wajah Rani tetap bersatu dengan wajahnya, sedangkan tangan kirinya tetap memeluk Rani dari depan perut Rani.


"Meskipun merasa risih atas perlakuan ayahnya, Rani membiarkan perbuatan ayahnya itu. Rani pikir, mungkin saja perlakuan ayahnya tersebut disebabkan karena sangat Ayah sangat menyayanginya.


" Ihhhh paman nyium kak Raniii! Teriak sukma salah satu adik sepupu Rani. Sukma berlarian kedapur, berteriak memberitahu kepada semua orang. Sedangkan pak Badrun langsung menghentikan aktivitas nya kemudian keluar dari kamar gadis yang baru berusia empat belas tahun itu.

__ADS_1


*****


Pada saat hendak tidur dimalam harinya, Pak Badrun lebih memilih tidur dikamar Rani dengan alasan masih rindu dengan Rani. Tidak ada kecurigaan sedikit didalam hati Bu Romlah, Bu Romlah pun ikut tidur bersama Rani dengan posisi Rani di tengah-tengah mereka. Sedangkan ketiga adik Rani yaitu aldi yang berusia dua belas tahun itu tidur dikamarnya sendiri bersama kedua adik kembarnya Rara dan Riri yang berusia enam tahun.


Pada saat bu Romlah dan Rani sudah tertidur pulas, lagi-lagi suaminya itu memeluk dan menciumi Rani putri mereka. Rani yang sedang tertidur pulas merasakan ada benda seperti bulu-bulu tajam yang sesekali menusuk wajah Rani, membuat Rani terbangun. Rani merasakan nafasnya sesak karena ada sesuatu yang menghimpit tubuhnya. Betapa terkejutnya Rani saat membuka mata, Rani mendapati ayahnya sudah menindih tubuhnya dan menciumnya.


Pak Badrun baru menyadari kalau Rani sudah terbangun karena ulahnya, pria berusia tiga puluh lima tahun itu panik, takut kalau Rani berteriak dan membuat istrinya itu terbangun.


"Bapak kangen sama kamu, Ujar Pak Badrun mengelabui nya kemudian turun dari tubuh Rani.


" Karena kepolosannya, Rani tak menaruh curiga kepada sang ayah. Ia pikiran, Ayahnya terlalu menyayanginya. Akan tetapi, meskipun begitu ia merasa risih dengan perbuatan ayahnya itu. Tapi Rani tidak mengatakan apapun karena tidak ingin menyakiti perasaan ayahnya.


Semenjak kejadian dimalam itu, pak Badrun semakin sering menjadi mm eluk Rani dengan penuh nafsu pada saat ibunya sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah ataupun pada saat tidur dimalam hari. Rani yang semakin risih dengan perbuatan ayahnya, meminta kepada ibunya untuk tidur tidak ditemani oleh mereka lagi.


******


Sebulan setelah kepulangan nya dari rumah sakit , Rani memutuskan untuk bersekolah kembali. Disekolah, Rani disambut suka cita oleh para staf guru dan teman-temannya seperjuangannya.


Meskipun Rani sudah jauh tertinggal dalam pelajaran, namun Rani masih bisa menyesuaikan diri dan mampu menjawab memahami pelajaran dengan baik, iya semua itu dikarenakan Rani memang anak yang cerdas.


Hari itu dikelas delapan pada saat jam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Ningsih selalu Guru Bahasa Indonesia memberi tugas kepada pelajaran kelas delapan tersebut untuk membuat sebuah puisi yang bertemakan orang tua. Puisi tersebut akan dibaca satu persatu didepan kelas jika sudah selesai.


Rani dengan memutar otaknya berpikir agar mendapatkan sebuah inspirasi yang bagus untuk sebuah puisi yang akan ia tampilkan nantinya.


Setengah jam berlalu, kini tibalah saatnya para siswa-siswi kelas delapan untuk menampilkan kebolehan mereka dalam membaca puisi hasil karya mereka, dan tiba lah saatnya giliran Rani.


PUISI HATI UNTUK AYAH DAN IBU


Ayah....


Sejuta kasih takkan mampu membalas


Titik keringat yang engkau keluarkan dari tubuh mu untuk setiap detik hidupku


Begitu banyak deritamu untuk setiap bahagia yang aku rasakan


Luka yang menganga sengaja kau simpan dariku


Demi sebuah senyum dan tawa yang mengembang di pipiku


Ayah,kau adalah pahlawan yang akan selalu hidup didalam sanubari ku dan takkan pernah terhapus oleh gemerlapnya dunia


Namamu takkan pudar meski terkikis oleh waktu, karena kau adalah pahlawan untuk setiap detik kehidupan ku


Ibu, Namamu akan selalu harum semerbak

__ADS_1


Mengalahkan bunga yang bermekaran di taman


Ibu....


Meskipun kau tak bersayap


Tapi kau begitu tangguh di mataku


Dengan kedua tangan mu yang kokoh,kau besarkan kami dalam kasih yang tak pernah pudar


Dengan kakimu yang kuat,kau selalu berada didepan kami untuk menerpa badai kehidupan ini


Kilauan berlian takkan mampu menandingi Kilauan cahaya kasih sayang mu


Ayah Ibu....


Aku takkan pernah tau seberapa banyak luka sayatan di hatimu demi sebuah kebahagiaan untuk diriku


Ayah Ibu....


Aku tak pernah menyadari


Entah berapa banyak air mata yang kalian sembunyikan dariku


Agar aku tak ikut merasakan betapa pedihnya hidup ini


Ayah Ibu....


Kasihmu takkan pernah mampu ku membalasnya


Ayah Ibu....


Kalian adalah pelita hidupku disaat aku mulai merasakan kegelapan


Ayah Ibu....


Kalian Adalah matahari yang memberikan kehangatan pada saat aku merasa rapuh dan putus asa


Ayah Ibu....


Pengorbanan mu takkan pernah padam meski termakan oleh usia, semangat mu untuk mengasihiku tetap akan berkobar hingga akhir hayatmu.


Kini senja telah menyongsong, hendak menjemput jiwa lelahmu.


Hanya untaian doa terindah yang mampu aku panjatkan, semoga lelah mu menjadi bahagia mu kelak

__ADS_1


Maafkan anakmu yang belum bisa berbakti sepenuh hati untuk kalian


"Dengan bangga Rani membacakan puisi tentang orang tuanya, yang tak pernah ia tau seperti apa nasibnya kelak. Ia tak pernah menyadari sang Ayah yang ia banggakan adalah seorang predator, ia tak tau kalau ayahnya selalu mengagumi tubuhnya.


__ADS_2