Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung

Mawar Yang Hampir Dipetik Oleh Ayah Kandung
Bab 19


__ADS_3

"Doni hanya diam, duduk terpaku. Sesekali ia mengusap kepalanya dengan kasar. Tak ada lagi kalimat yang ia ucapkan. Ia merasa syok mendengar jawaban Rani. Ia tak menyangka, Rani sudah mengambil keputusan sebesar itu hanya demi melindungi harga diri keluarganya. Bahkan keluarganya sendiri tak memikirkan tentang harga dirinya.


******


Sepulangnya Rani dirumah kedua orang tuanya, Rani malah mendapat cercaan dari kedua orang tuanya.


Dimalam itu, malam yang sunyi diselimuti oleh kabut rindu akan sosok Geri yang selalu Rani rindukan kehadirannya. Rani tak bisa memejamkan matanya. Kedua orang tuanya terus-menerus menghujatnya dengan perkataan-perkataan buruk. Rani yang tengah berbaring didalam kamar, hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Sungguh, ia tak menyangka nasibnya akan seburuk ini. Rasa sakit kini terasa sudah menjalar diseluruh tubuhnya dikala ia mendengar obrolan kedua orang tuanya didalam kamar mereka.


Antara kamar kedua orang tuanya dan kamarnya yang hanya disekat dengan triplek itu membuat Rani bisa mendengar dengan jelas obrolan kedua orang tuanya dimalam itu.


"Sudah bikin malu, nikah mendadak! Gerutu pak Badrun kepada ibunya.


" Hmm, Baru nikah aja udah pulang pak! Gerutu Bu Romlah menimpali perkataan suaminya. "Bikin malu aja, apa kata tetangga nantinya kalau mereka tau si Rani pulang sendirian dari rumah mertuanya.


" Iya, dasar wanita murahan. "Sembarangan meladeni laki-laki, akhirnya itu tu.


" Disuruh sekolah malah melon*e, gak tau malu.


"Udah lah buk, kalau dasarnya emang murahan, percuma disekolahkan. " Ujung-ujungnya juga bakal jadi lon*e.


Begitulah obrolan suami istri itu saling bersahut-sahutan sepanjang malam, terasa memekakkan telinga. Hati Rani yang sudah begitu banyak menanggung luka, malah semakin terluka mendengar cercaan dari kedua orang tuanya itu.


"Besok Ibu harus mengantarkannya pulang ke rumah mertuanya. " Jangan sampai dia bikin malu kita.


"Iya Pak, didalam keluarga kita tidak ada yang namanya janda. Bu Romlah menimpali perkataan suaminya.


" Iya, dia cuma akan jadi beban dan akan menjatuhkan harga diri kita saja. Pak Badrun membenarkan ucapan istrinya itu.


Terasa bagai dicambuk berulang-ulang, tubuh Rani seketika lemas tak berdaya menahan sakit dan luka dihati yang kian bernanah. Rasanya Rani sudah tak sanggup menahan beban hidupnya, rasanya ia ingin sekali mengakhiri hidupnya.


Seketika Rani berlari menuju kedapur, kemudian ia mengambil pisau dapur. Dengan tubuh gemetar, ia menggenggam pisau dapur yang ia ambil didalam wadah sendok yang terletak diatas meja makan. Ketika ia hendak menghunus kan pisau dapur itu kearah perutnya, seketika ia urungkan niatnya.


"Astaghfirullah! "Astagfirullah! Astagfirullah!


Rani beristighfar berulang-ulang kemudian menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Rani tak ingin hidupnya berakhir dengan cara yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Itulah sebabnya ia mengurungkan niatnya. Kemudian ia meletakkan kembali pisau dapur yang berada dalam genggamannya ketempat semula.

__ADS_1


******


Sehabis malam gelap gulita yang menyisakan luka bagi Rani, kini terbitlah terang. Matahari tampak menunjukkan pesonanya, seolah menari nari dari arah timur. Hangat dan begitu indahnya suasana dipagi hari, akan tetapi tidak dengan suasana hati Rani pada saat itu.


Dipagi itu telinga Rani kembali di pekakkan oleh ocehan, nyinyiran dan hujatan dari mulut kedua orang tuanya. Mereka seolah-olah tak pernah lelah untuk menghina Rani. Ikatan darah yang mereka miliki, seolah telah terlupakan. Rani merasa asing dirumah orang tuanya sendiri. Dipagi itu Rani merasa semakin terpuruk dan terhina, harga dirinya terluka oleh perkataan kasar dan kotor yang dilontarkan oleh kedua orang tuanya.


"Sehabis sarapan pagi cepat kamu siap-siap. Perintah Bu Romlah kepada Rani. " Ibu akan antar kamu kerumah mertuamu. Ujar Bu Romlah ketika mereka sedang sarapan pagi bersama.


"Tapi Bu, aku baru pulang. Kilah Rani yang merasa enggan kembali lagi kerumah neraka itu. "Disana aku diperlukan kayak pembantu Bu, aku gak mau lagi pulang kerumah itu.


" Kamu kan emang pemalas, wajar aja kamu ngerasa diperlukan kayak pembantu. Bantah Bu Romlah yang menyudutkan Rani.


"Bu, ibu gak tau gimana mereka memperlakukan aku. " Aku gak sanggup Bu.


"Alah sudah lah, kamu itu mau jadi apa kalau tinggal dirumah ini hah? " Kamu bakal jadi beban dan bikin malu. "Kalau dirumah mertua memang harus rajin, gak bisa santai-santai.


" Tapi Bu,


"Alah, gak ada tapi-tapian. Pokoknya kamu harus pulang kerumah mertuamu. " Siapa suruh kamu menikah, ya kamu harus tanggung resikonya sendirian.


" Lemas tubuh Rani, seketika hilang sudah harapannya untuk bebas dari rumah besar itu. Rani hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Harapan yang baru saja ia bangun, seketika hancur tak bersisa.


Terasa berat Rani untuk melangkahkan kakinya menuju rumah yang sudah membuatnya trauma akan sebuah hubungan pernikahan itu. Perjalanan menuju rumah mertuanya itu, Rani lalui dengan penuh kecemasan dan ketakutan. Rani cemas akan nasibnya, seperti apa yang akan ia lalui selanjutnya dirumah itu. "Rani takut, penderitaannya dirumah itu akan semakin parah. Selama didalam perjalanan, Rani hanya terdiam meratapi nasibnya yang semakin terpuruk itu. Hanya termenung dan diam.


******


Disisi lain Doni yang telah mengetahui kebenaran tentang pernikahan Rani, langsung menelpon Geri untuk memberi kabar. Doni duduk di teras rumahnya untuk bersantai sambil menelpon sahabatnya Geri. Kebetulan hari itu ia sedang tidak ada jam mata kuliah, ia pikir mereka bisa bersantai sembari mengobrol.


"Assalamu'alaikum! Terdengar dari seberang telepon suara Geri mengucapkan salam ketika panggilan telepon dari Doni tersambung.


" Waalaikumsalam! "Hei Ger, apa kabar? Sapa Doni ramah.


" Baik dong, kamu sendiri gimana? Geri balik bertanya dengan ramah.


"Sama, aku baik. Timpal Doni dengan senyuman khas miliknya. " Oya, Geri kemarin aku ketemu sama Rani.

__ADS_1


"Oya, dimana? "Gimana kabarnya don? " Apa dia baik-baik aja don?Oya, Geri kemarin aku ketemu sama Rani. Geri menyerbu Doni dengan rentetan pertanyaan membuat Doni merasa lucu dengan tingkah saatnya itu.


"Sabar dong, aku belom selesai ngomong. Kamu udah nyerbu duluan. Gurau Doni santai kepada Geri. Sedangkan Geri hanya cengengesan mendengar ucapan sahabat. " Geri, kemarin aku baru balik dari padang.


"Terus? Tanya Geri penasaran.


" Iya, pas mobil BUS yang aku tumpangi melewati daerah kabupaten **** Rani sedang menunggu angkutan umum untuk pulang ke kota. Dan Rani juga naik mobil yang sama yang aku tumpangi.


"Terus?


" Keadaannya memprihatinkan banget, Ger. "aku sedih ngeliatnya, penampilannya berubah drastis. " Aku aja hampir gak ngenalin dia.


"Maksudnya? Tanya Geri penasaran.


" Penampilannya kucel banget, dia pulang sendirian tanpa suaminya.


"Oya, apa kamu masih ingat daerah tempat Rani tinggal?


" Ya ingatla! "Oya Ger, aku kasihan banget sama Rani. Ujar Doni dengan nada datar, ingatannya seketika menerawang mengingat tentang pertemuannya dengan Rani saat itu.


" Kenapa? Tanya Geri tambah penasaran.


"Ger,kemarin Rani kena marah oleh kernet BUS yang kami tumpangi.


" Kenapa, kok bisa? tanya Geri memotong kalimat Doni karena terkejut mendengar cerita Doni.


"Ya, karena dia gak punya uang untuk bayar ongkos trasport. Jawab Doni dengan nada lirih. " Dia sampai mau diusir suruh turun oleh kernet mobil BUS.


"Masak sih Doni? " Diakan punya suami, kenapa sampai begitu?


"Entah lah, aku juga lupa nanyain. " Maklum, aku udah terlanjur syok mendengar pengakuan Rani. Ujar Doni kemudian menghela nafasnya yang terasa berat. "Oya ger, ternyata Rani itu terpaksa nikah.


" Kenapa?


"Katanya dia terpaksa karena mau nyelamatin kesuciannya dari ayahnya. Terang Doni dengan nada yang agak canggung.

__ADS_1


" Pantesan! Timpal Geri, ingatannya menerawang seketika. Masih teringat jelas dalam ingatannya, pada saat Rani menelponnya untuk terakhir kalinya. Masih teringat jelas olehnya Rani yang tiba-tiba mengajaknya menikah.


Seketika tubuh Geri lemas bagai tak bertulang, setelah mendengar kabar Rani dan kenyataan tentang Rani. Sungguh, ia sangat menyesal karena sudah meragukan Rani dan sempat menolak untuk menikah terlalu cepat. Tak pernah ia membayangkan nasib Rani akan seburuk itu. Geri merasa sangat sedih sekali, membayangkan seperti apa penderitaan kekasih yang amat ia cintai itu.


__ADS_2