
Apa yang terjadi dengan rumah ini?
Kenapa Bapak tegas?
Kemana aku harus mencari perlindungan?
Haruskah aku menceritakan semua ini kenapa Geri?
Rasanya kepala Rani sudah dipenuhi dengan tanda tanya. Sungguh ia tak menyangka kalau pelakunya adalah ayah kandungnya sendiri. Tapi iapun tak berani mengatakan apa-apa kepada ibunya, ia takut kalau ibunya malah tak percaya dan marah kepadanya. Ingin bercerita kepada Geri, tapi ia takut akan membuat Geri resah. sedangkan bercerita kepada orang lain, Rani takut malah akan membuka aib keluarganya.
******
Hari-hari Rani lalui dengan penuh dilema. Rasa takut yang selalu menghantui dirinya pada saat malam tiba atau pada saat Rani berada dirumah hanya berdua dengan sang Ayah. Rani terus memikirkan cara untuk menghindari sang Ayah, dan ia juga terus berusaha untuk merahasiakan semuanya karena ia tak ingin mempermalukan dirinya dan keluargakeluarganya.
Hingga suatu hari, timbullah ide untuk meminta agar kamarnya dibuatkan pintu. Ia pikir kalau kamarnya memiliki pintu, maka dia bisa dengan leluasa mengunci pintu kamarnya pada saat ia tertidur, bahkan ia bisa setiap saat mengunci pintu.
"Bu, gimana kalau kamar aku dibuatin pintu. Pinta Rani memecah keheningan pada saat mereka sekeluarga sedang makan malam.
" ukhukk, ukhukk, ukhukk.
"Loh pak, pelan-pelan makannya. Bu Romlah mengambil segelas air untuk diberikan kepada suaminya yang sedang batuk karena tersedak makanan.
" Kurang ajar, si Rani mulai curiga dengan ku. Gumam pak Badrun didalam hati, yang merasa curiga dengan permintaan putrinya tersebut. Ia merasa Rani berusaha untuk melindungi dirinya.
"Ngapain kamu mau minta dipasang pintu di kamarmu ha? " Supaya kamu bebas masukin laki-laki didalam kamar, iya? Cerca pak Badrun menyerang Rani dengan kalimat yang amat menyakitkan bagi Rani.
"Iya, untuk apa? Timpal Bu Romlah membenarkan ucapan pak Badrun.
__ADS_1
" Hhuhhhh. Rani hanya menghela nafas dan tetap terdiam mendengar kata-kata menyakitkan dari ayahnya itu. Hanya air mata yang keluar mewakili betapa sakitnya hatinya saat ini. Rani membisu sembari menghabiskan makan malamnya yang sudah terisi dipiring olehnya. Terasa bagai mengunyah serpihan beling, tak sanggup lagi ia menghabiskan makanannya. Akhirnya Rani bangkit meninggalkan piring yang masih berisi nasi itu pergi kekamar.
"Dia memang begitu kalau diomongin. Bu Romlah nyeletuk kesal dengan sipat Rani.
******
Semakin hari pikiran Rani semakin kalut memikirkan bagaimana nasibnya kedepankedepan nanti. Dapatkah iaq melindungi diri. Apa yang harus ia lakukan untuk melindungi dirinya. Selalu pikiran itu muncul dibenak Rani, sampai-sampai Rani enggan untuk merawat tubuhnya. Ia pikir, dengan tidak merawat tubuhnya dan tidak lagi membersihkan dirinya, mungkin ayahnya tidak lagi mendekatinya ataupun mengganggunya.
Sebulan sudah Rani jarang mandi ataupun merawat tubuhnya, bahkan Rani sengaja buang air kecil ditempat tidur sehingga membuat penampilannya berubah total. Akan tetapi, idenya itu malah membuatnya mendapatkan gelar baru. Rani dipanggil dengan sebutan gadis jorok oleh kedua orang tuanya. Setiap hari Rani mendapatkan hujatan dan perkataan buruk dari kedua orang tuanya sehingga membuat dirinya semakin terpuruk.
Hingga suatu hari, Rani mencapai ujung batas sabarnya. Akhirnya Rani memutuskan untuk menikah untuk keluar dari rumah itu.Akan tetapi tidak mudah untuk mengambil keputusan untuk menikah, karena saat itu Rani masih duduk dikelas dia SLTA. Meskipun begitu, Rani tetap ingin menikah. Oleh karena itu Rani segera menghubungi Geri untuk meminta Geri menikahinya.
"Assalamu'alaikum! Terdengar suara Geri dari arah seberang telepon saat panggilan telepon dari Rani tersambung.
" Waalaikumsalam, kak apa kabar? Sapa Rani memulai obrolan dengan Geri.
" Alhamdulillah kak baik juga. Jawab Rani dengan suara bergetar menahan gejolak rindu. "Oya kak, aku bisa minta sesuatu gak kak?
" Boleh, ngomong aja dek. "jangan pernah sungkan.
" Kak, gi gimana kalau kita nikah aja kak? Rani mengutarakan keinginannya dengan sedikit ragi dan gugup.
"Menikah? " Secepat itu? "Dek, ada apa? jelasin sama kakak! Jangan sungkan.
" Hanya diam, tidak ada kata-kata sepatah pun dari mulut Rani. Hanya bulir airmata yang semakin deras mengalir dari balik kelopak matanya. Andai Geri menyaksikan tetesan demi tetesan dari air mata Rani, tentu Geri paham seberapa besar beban dihati kekasihnya itu.
"Dek, kok dian? " Ada apa? Jelasin sama kakak? Geri menjadi semakin khawatir dengan kekasihnya itu karena ia tak mendengar suara Rani.
__ADS_1
"Kak, tolong! Ini demi kebaikan aku. Kakak gak perlu tau apa alasannya. Ujar Rani yang masih saja enggan membuka aib keluarganya itu.
" Dek, kamu kan juga tau kita ini masih sangat muda. "Kedua orang tua kakak sangat berharap supaya kakak menyelesaikan pendidikan kakak. " Jadi tolong kamu berikan alasan yang tepat kenapa kamu tiba-tiba mendadak ngajakin kakak menikah! Terang Geri kepada Rani dengan sangat hati-hati agar kekasihnya itu tidak merasa dihakimi.
"Berarti kakak gak percaya sama aku? " Kakak udah berubah. Rani merasa kecewa dengan penjelasan Geri.
"Dek, bukannya kakak gak percaya. Tapi, setidaknya kakak punya alasan untuk meminta restu kepada orang tua kakak. Agar mertmerasa yakin untuk memberikan izin untuk kita menikah.
" Udah lah kak, aku gak butuh alasan kakak. Aku tau kakak pasti berfikiran buruk tentang aku. Mulai dari sekarang gak perlu kakak memikirkan tetaku lagi.
"Dek, jangan ngomong gitu dong. Ujar Geri berusaha mencairkan masalah. " Yaudah, kakak gak akan lagi minta penjelasan dari adek. Pokoknya, nanti kakak bakal berusaha meminta restu dari kedua orang tua kakak. Apapun caranya, pasti kakak usahakan.
"Tidak terdengar lagi suara Rani dari seberang telpon, senyap bagaikan hembusan angin.
" Halo dek, dek, apa adek masih dengar suara kakak? Tidak ada jawaban sama sekali. Seketika Geri memeriksa handphone miliknya. ternyata panggilan telepon sudah terputus, segera Geri menelpon balik ke nomor Rani. Akan tetapi panggilan sudah tidak bisa terhubung lagi.
Berulang-ulang Geri mencoba untuk menghubungi Rani, akan tetapi hasilnya tetap saja nihil. Nomor telpon Rani tetap saja tidak bisa dihubungi.
keesokan harinya Geri tetap mencoba untuk menghubungi Rani, tapi hasilnya tetap saja sama. Rani tidak bisa dihubungi.
******
Dua bulan sudah berlalu, tapi Rani tetap saja tidak bisa dihubungi. Teman-teman Rani pun tidak bisa dihubungi, "mungkin saja mereka sudah pada ganti SIM card, pikir ge.
Geri semakin menghawatirkan Rani, ia takut Rani salah dalam melangkah. Geri sangat gelisah memikirkan kekasihnya itu. Ia takut terjadi sesuatu kepada Rani.
Di tengah-tengah kegelisahan nya, akhirnya Geri berpikir untuk pulang ke rumah. Agar ia bisa mencari tahu sendiri tentang Rani dan sekalian memohon restu kepada kedua orang tuanya untuk menikahi Rani.
__ADS_1