Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Melihat Kenyataan


__ADS_3

Brian memandangi Gisel yang tertidur lelap di tempat tidur. Wajah cantik yang ia kagumi selama ini, ternyata sudah banyak yang menikmati kecantikannya selain dirinya. Mungkin Brian berharap terlalu banyak pada cinta pertamanya. Brian pikir, Gisel bekerja di sebuah butik atau salon.


Tapi setelah mengingat kembali perkataan Liana, juga pakaian 'kerja' Gisel, Brian semakin yakin, Gisel bukanlah wanita karir yang mencari uang dengan keterampilan yang ia punya. Tetapi....


Brian memijat dahinya yang terasa pusing. Jangankan membayangkan. Memikirkannya saja sudah membuat Brian sakit kepala. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia tetap memperjuangkan cintanya pada Gisel ataukah menyerah sampai disini saja dan mencari hati yang lain?


*****


Matahari pagi memancarkan sinarnya. Mata Gisel sangat silau ketika ada matahari masuk ke kamarnya. Tirainya terbuka dan itu membuat Gisel terganggu.


Gisel mencoba bangun dari tidurnya tetapi kepala Gisel terasa pusing sekali.


"Aduhhh...."


Gisel memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat ia minum cukup banyak semalam dan entah bagaimana ia bisa pulang dengan selamat ke rumah. Sudah pukul sebelas siang, Gisel bangun sesiang ini dan merasa perutnya sangat lapar. Ia meraih ponselnya, cukup banyak telpon yang tidak diangkat dan juga beberapa pesan masuk.


Gisel melihat nama Brian yang meninggalkan begitu banyak missed calls semalam. Dan Liana yang mengirimkan pesan dan memakinya.


Liana: Kalau sudah bangun, telpon aku! Dasar bocah nakal!


Gisel tertawa melihat pesan dari Liana dan menekan lambang 'telpon' yang ada di pojok kiri atas. Setelah tersambung, tidak lama Liana mengangkatnya.


"Sudah bangun kamu, anak nakal?" tanya Liana di seberang telpon yang sepertinya telah siap melontarkan beberapa kata yang tidak mengenakkan.


"Panggilan apa itu? Anak nakal? Aku anak yang cukup baik." jawan Gisel sekenanya.


"Anak baik, kepalamu! Tidak ingat semalam sudah menyusahkan siapa?" Liana kembali meninggikan nada bicaranya.


"Memang kamu yang mengantarku pulang?" tanya Gisel tertawa.


"Masih berani ya kamu tertawa? Sampai sekuriti yang menggendongmu ke dalam mobil, kamu tahu tidak?"


Gisel tertawa mendengar omelan Liana yang tidak ada hentinya.


"Lalu, kamu nggak ngomel juga gimana menggendongku sampai ranjang?" tanya Gisel kembali merebahkan tubuhnya.


"Ya nggaklah. Bukan aku yang mengantarmu ke dalam apartemen." kata Liana. Gisel kembali terbangun dari tidurnya.


"Terus siapa?"


"Brian." jawab Liana terdengar polos.


"Brian? Brian mana?" Gisel tidak mengerti dengan apa yang Liana katakan.


"Brian, Brian, Salim Group! Aduh. Aku nggak ngerti deh gimana kamu bisa kenal dia. Aku aja mati - matian mau kenal dia, tapi kenapa kamu bisa kenal begitu sama dia?" Liana langsung mengoceh panjang lebar mengenai Brian.


"Terus, dia tanya kamu apa soal aku?" Gisel merasa seperti kaku ketika Liana membicarakan soal Brian.


"Dia tanya pekerjaanmu. Karena bajumu terlihat seksi."

__ADS_1


"Kamu jawab apa?"


"Ya, apalagi? Aku jawab kamu kerja di kelab dan pulang cepat karena habis minum."


Lengan Gisel terasa lemas. Ia tidak sanggup lagi mendengar cerita Liana lebih lanjut. Brian tahu pekerjaannya sekarang. Lalu bagaimana Brian nanti ketika bertemu dengannya? Apakah Brian akan menjauhinya? Kenapa Gisel harus memikirkan itu? Bahkan jatuh cinta saja kepada kliennya belum pernah. Tapi, jika itu menyangkut soal Brian....


"Halo, halooo, halo, Gisel!" teriak Liana di telpon.


"Nanti aku telpon lagi ya!" ucap Gisel mematikan sambungan telpon di ponselnya.


Gisel mengecek kembali missed called dari Brian. Brian menelpon mulai dari jam sembilan malam dan berhenti di sekitar pukul sebelas lewat lima belas menit. Apakah Brian menunggu semalaman?


Gisel menelpon Brian. Jantungnya berdetak kencang. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika Brian mengetahui pekerjaannya sekarang. Apa yang harus Gisel lakukan? Brian tidak mengangkat telponnya. Mungkinkah Brian sudah enggan bertemu dengannya lagi?


Brian tidak mengangkat telponnya. Hatinya mencelos dan ia sedikit gemetar. Dulu, ia berpikir bahwa tidak apa - apa menjalani hidup seperti ini. Karena apapun yang ia lakukam hanyalah demi bertahan hidup. Tapi apapun keputusan yang diambil, pasti ada resikonya. Termasuk mengorbankan perasaannya selama lima belas tahun untuk Brian.


Gisel menundukkan wajahnya. Hatinya sangat sakit, sama seperti mendengar kabar Papa terjebak dalam gudang yang terbakar. Gisel menangis tersedu. Mungkinkah kali ini ia kehilangan kembali orang yang ia sayangi?


*****


"Anda mendapat telpon tadi, Tuan." kata Pak Liam setelah sampai di ruangan Brian. Sekarang, Pak Liam terbiasa memanggilnya 'Tuan' ketika hanya berdua saja.


Brian tidak menaruh minat yang tinggi dengan ponselnya. Justru ia malah terlihat sibuk dengan hasil rapat yang baru saja ia lakukan.


"Bagaimana rapatnya? Apakah para manajer sekiranya akan setuju dengan apa yang baru saja saya sampaikan?" Brian mengambil tempat duduk di kursi kerjanya.


"Saya kira setuju karena Anda menyampaikannya dengan cukup baik dan meyakinkan." ucap Pak Liam yang merasa bahwa Brian mengalihkan pembicaraannya. Pak Liam meletakkan ponsel Brian yang berada di tangannya diatas meja Brian. Pak Liam mencoba memberikan sedikit ruang untuk Brian agar bisa menyendiri.


*****


Beberapa hari kemudian, Regas kembali mendatangi kelab malam dan mencari keberadaan Gisel. Gisel yang baru saja selesai melayani salah seorang tamu di VIP, terkejut dengan kedatangan Regas yang tiba - tiba.


"Regas, kamu mengagetkanku!" kata Gisel. Regas hanya tersenyum kecut.


"Ada apa, Regas? Apa ada masalah?" tanya Gisel. Regas hanya menatap Gisel dengan tatapan yang sedih.


Mereka duduk di bar. Gisel hanya diminta untuk menemani Regas saja. Sejujurnya yang Gisel tahu, Regas bukanlah pria hidung belang yang senang menjarahi paha wanita malam yang terlihat putih dan mulus. Yang Gisel tahu, Regas hanya membutuhkan teman untuk bicara.


"Istriku meninggal." kata Regas menunduk tanpa menatap Gisel. Mendengar itu, Gisel terkejut.


"Lalu, bagaiamana? Apakah sudah dimakamkan?" tanya Gisel.


"Sudah. Keluarganya sudah mengurus segala keperluan yang dibutuhkan. Dan aku hanya tinggal mewarisi apa yang ditinggalkan oleh Amanda." jawab Regas.


"Bagaimana anakmu?"


"Dia akan ikut aku sebagai Ayah kandungnya. Tapi bagaimana aku bisa membesarkannya sedangkan aku masih harus bekerja juga?" tanya Regas lebih berbicara dengan dirinya sendiri. Sekilas, Gisel tersenyum tipis memgingat ia juga pernah berada dalam posisi yang sama.


"Aku juga sebatang kara." ucap Gisel.

__ADS_1


"Benarkah? Aku bertanya - tanya kenapa kamu mau melakukan pekerjaan seperti ini padahal kamu pandai dan juga cantik lebih dari yang lain." Regas terlihat tertarik dengan kehidupan Gisel.


"Jangan melebihkan. Mungkin aku hanya kurang beruntung. Walau terlahir dari keluarga kaya dan cerdas, tapi aku pada akhirnya harus banting tulang menghadapi lelaki itu dengan sekuat tenaga agar bisa menghidupiku." cerita Gisel singkat.


"Benarkah seperti itu? Jadi kamu melakukan ini semua..."


"Iya. Aku tidak mau. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku dulu dihina karena tidak bisa membersihkan rumah. Aku juga dimaki karena aku tidak punya keluarga." Gisel terlihat tegar ketika menceritakan itu semua pada Regas.


"Aku tidak menyangka hidupmu cukup sulit." ucap Regas.


"Lalu bolehkah aku bertanya?"


"Apa?"


"Kenapa kamu selalu menolak ketika aku ingin memesankan ruang VIP untukmu?" tanya Gisel melihat Regas yang meneguk minumannya sedikit demi sedikit.


"Untuk apa aku bersenang - senang ketika istriku sedang sakit." ucap Regas tanpa disadari kata - kata Regas sedikit menyentuh hati Gisel. Regas meneguk sedikit lagi minumannya.


"Tidak buruk." Gisel mengangukkan kepalanya dan tersenyum.


"Apa maksudmu?"


"Ya, hanya saja lelaki yang datang kesini pasti melampiaskan nafsunya pada wanita semacam kami. Tapi kamu, datang kesini hanya untuk berkeluh kesah." kata Gisel sedikit tertawa.


"Ya. Aku tidak bisa melakukan hal itu kalau bukan dengan yang aku cintai." Regas menggelengkan kepalanya.


"Jadi sejauh ini kamu hanya ingin aku yang menemanimu? Apa kamu tidak membuang - buang uangmu?" tanya Gisel dengan heran.


"Yah, mau bagaimana lagi. Lebih baik aku membuang sedikit uangku tapi rahasiaku aman, daripada aku cerita secara gratis tapi rahasiaku terbongkar." kata Regas sedikit tersenyum.


"Apa kamu bercanda? Aku bukan konsultan ataupun psikiater." Gisel tertawa melihat Regas yang akhirnya tersenyum. Sesekali Gisel menyentuh Regas dibahunya, begitu pula Regas. Sejauh ini Regas tidak pernah bertindak lebih jauh menyentuh Gisel. Hanya sebatas itu saja.


Tetapi disana sudah ada Brian, yang diam - diam memperhatikan Gisel dari bangku pelanggan yang letaknya cukup jauh dari meja bar. Tetapi Brian masih bisa melihat senyum Gisel kepada pria lain yang begitu terlihat gembira.


Hati Brian terasa sakit melihat apa yang Gisel lakukan selama ini. Ia ingin sekali memaafkan hatinya yang begitu menunggu dan mencintai Gisel selama ini. Tapi apa yang sekarang Brian bisa lakukan? Mungkinkah apa yang Gisel lakukan adalah karena masa lalunya yang kelam? Brian tidak mau dan tidak bisa menebak - nebak. Karena ia sendiri belum mengonfirmasi kebenarannya pada Gisel. Ia baru saja bertemh Gisel dua kali. Dan sekalinya pun adalah ketika Gisel tidak sadarkan diri di apartemennya.


Brian pulang dengan hati yang putus asa. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi kisah cintanya ini. Ia membuka kunci mobilnya dan menancap gas dengan perlahan. Brian mengambil ponselnya dan menelpon Edith.


"Halo, Edith." sapa Brian melalui telpon.


"Brian?" Edith terdengar terkejut sekali ketika yang menelpon itu adalah Brian.


"Kamu dimana? Bisakah aku bertemu dan bicara?"


"A...aku masih lembur di kantor." jawab Edith sedikit terbata.


"Jam segini? Sudah hampir jam sembilan malam." kata Brian.


"Ya, banyak revisi yang harus ku kerjakan." jawab Edith seadanya. Hatinya merasa sedih karena harus melupakan Brian dengan cara seperti ini.

__ADS_1


"Baiklah. Bersiaplah pulang. Aku akan menjemputmu. Aku tidak bersama Pak Liam." kata Brian yang langsung disambut dengan semangat oleh Edith.


"Apakah kamu masih jauh? Aku akan simpan dataku dulu kemudian turun ke bawah. Tunggu aku ya." kata Edith merapikan berkas - berkasnya dan menyimpan datanya di komputer. Entah mengapa hatinya terasa bahagia. Brian sudah menghubunginya kembali.


__ADS_2