Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Penyelamatku


__ADS_3

Gisel sedikit bingung dengan tatapan Bella. Tapi tidak lama kemudian, Bella keluar dari butik Liana.


"Aduh, aduh! Aku tidak mengerti dengan wanita itu. Sombongnya setengah mati. Beda dengan Brian yang ramah. Ya ampun. Aku benar - benar kesal dengannya!" Liana mengeluh habis - habisan dengan kedatangan Bella yang kurang mengenakkan itu.


"Memang dia siapa?" tanya Gisel penasaran.


"Dia kakaknya Brian. Tapi sifatnya berbeda dengan Brian. Entahlah. Aku merasa Brian lebih baik darinya. Dan lagi, dia masih belum menikah juga. Pokoknya kalau dia datang, kamu harus senyum - senyumin aja ya, biar dia nggak rese!" kata Liana dengan kesal.


Gisel hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Liana. Ada ketakutan dari dalam dirinya jika ia benar - benar menerima cinta Brian secepat itu. Dan yang ia lupakan adalah keluarga Brian.


*****


Tibalah hari dimana pendaftar usaha mandiri akan di interview oleh Brian. Mereka menunggu di ruang tunggu untuk interview terakhir oleh owner perusahaan.


Usaha mandiri yang dipilih bergabung bersama Salim Group dan dalam setiap acara besar, usaha mandiri ini akan selalu ada untuk menjadi salah satu partnership. Jika ada kebutuhan, Salim Group akan mendatangi lima usaha mandiri itu terlebih dulu dibandingkan yang lain.


Dari keuntungan sebanyak ini, tidak heran jika banyak usaha mandiri yang berlomba untuk menjadi salah satu partner dari Salim Group. Selain akan kebanjiran orderan, mereka juga akan mendapatkan keuntungan berkali - kali lipat.


Regas merasa jantungnya berdebar kencang ketika akan memasuki ruang interview yang terakhir. Dan ketika nama usaha mandirinya disebutkan, ia bergegas masuk ke dalam ruang interview.


Betapa terkejutnya Regas ketika harus berhadapan dengan Brian. Seorang lelaki muda yang ia temui di kelab bar kemarin. Ternyata dia adalah seorang direktur dari Salim Group. Seketika nyali Regas langsung merasa kecil.


"Selamat pagi." sapa Brian. Dalam ruangan itu hanya ada Brian dan Pak Liam. Regas menggenggam tangannya menghilangkan rasa gemetar di hatinya ketika berhadapan dengan Brian.


"Cipta Mandiri Mobilindo." kata Brian membaca nama usaha mandiri milik Regas.


"Iya, Pak." Regas berusaha bersikap seperti biasa ketika di interview oleh Brian.


"Apa yang membuat kamu mendaftar menjadi partnership SG?" tanya Brian dengan santai.


"Saya memiliki kualitas ban mobil terbaik. Banyak pelanggan yang selalu datang kembali ke tempat saya. Dan jarang sekali mereka mengeluh tentang produk yang saya jual." jawab Regas dengan yakin.


"Lalu bagaimana dengan penjualan dalam sebulan? Lebih dari dua puluh juta?" tanya Brian.


"Kurang lebih dua puluh jutaan, Pak."


Brian mengangguk.


"Saya pikir mungkin bisa lebih dari itu."


Regas hanya terdiam mendengar Brian.


"Lalu siapa yang mengelola keuangan? Anda bekerja sama dengan karyawan lain atau dengan anggota keluarga Anda? Istri misalnya." Brian mencoba mencari informasi sedikit mengenai Brian melalui pertanyaannya.


"Bukan, Pak. Saya mengelola sendiri untuk urusan administrasi. Tapi untuk bagian mengganti ban, itu saya punya karyawan." jelas Regas.


"Oke." Brian menulis sesuatu di atas kertas menggunakan pena.


"Berarti sekarang Anda bekerja lebih keras ya di usaha Anda. Sudah jarang lembur kan? Atau masih lembur?" Brian menatap mata Regas yang kini terlihat salah tingkah.


"Saya... saya nggak pernah lembur, Pak." jawab Regas sedikit terbata.


"Baiklah. Pengumuman akan diinfokan tiga hari lagi. Jika Anda lolos, Anda akan ada dalam lima usaha mandiri yang diterima oleh SG. Jika usaha mandiri Anda diterima, Anda harus bersiap untuk lembur setiap hari, ya." kata Brian mengakhiri wawancaranya. Pak Liam terkejut mengapa wawancara kali ini begitu cepat.


"Iya, Pak." jawab Regas tersenyum. "Terima kasih, Pak."

__ADS_1


Regas kemudian bangun dari duduknya dan menyalami Brian dan Pak Liam. Kemudian ia keluar dari ruangan interview dengan hati yang lega.


Setelah menghela napas, Regas berjalan menuju lift.


"Aku nggak nyangka, ternyata dia pemilik perusahaan ini." ucap Regas pelan dan memencet tombol lift. Tapi ternyata sudah lebih dulu tombol itu ditekan oleh seseorang.


"Bu.." sapa Regas dengan senyum ketika melihat Bella. Yang juga mewawancarai Regas.


"Sudah wawancaranya?" tanya Bella. Tubuh Bella yang tinggi ditambah memakai high heel, membuat dirinya menyaingi tinggi Regas.


"Sudah, Bu.."


"Siapa yang kamu nggak sangka jadi pemilik perusahaan ini? Brian, maksud kamu?" tanya Bella.


"Nggak kok, Bu. Maksud saya... Saya nggak nyangka lelaki semuda itu bisa menjadi direktur." Regas semakin terlihat bodoh di hadapan Bella. Bella hanya tersenyum melihat salah tingkahnya Regas.


"Semoga kamu masuk ke dalam lima besar ya." kata Bella.


TING!


Lift telah tiba di hadapan Bella dan Regas. Pintu lift perlahan terbuka.


"Terima kasih, Bu." jawab Regas yang hampir tidak bisa didengar oleh Bella. Bella langsung masuk ke dalam lift ketika pintunya terbuka. Selama di dalam lift, mereka saling diam dan tidak bicara apapun lagi.


*****


Hari ini Liana menyelesaikan pekerjaan di luar dan ia meminta Gisel untuk menghitung stok dress yang baru datang ke butik. Ponsel Gisel berbunyi dan ia belum selesai menghitung stok.


"Iya, Brian?" sapa Gisel sambil menghitung stok.


"Sudah jam dua siang. Apa tidak apa - apa?" tanya Gisel melihat jam tangannya.


"Aku baru selesai dengan pekerjaanku. Tidak lama. Hanya satu jam saja." kata Brian.


"Baiklah. Aku ada di dekat Flavor Garden. Kamu bisa kesana?" tanya Gisel.


"Baiklah. Tunggu aku ya." Brian langsung menutup telponnya dan sedikit menekan pedal gasnya agar cepat sampai ke tempat Gisel berada.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Flavor Garden. Karena bukan jam makan siang, jalanan pun tidak terlalu padat. Brian menunggu Gisel di sebuah restoran iga, salah satu makanan favorit Brian.


Dari kejauhan, sudah ada bayangan Gisel yang berjalan agak cepat menghampiri Brian.


"Maaf aku telat." kata Gisel.


Brian memperhatikan baju yang Gisel kenakan. Terlihat sederhana dan tidak glamour pada saat ia bekerja di kelab. Kali ini Gisel mengenakan kemeja lengan panjang berbahan sifon berwarna beige dengan kancing cokelat dan celana panjang bahan warna hitam.


"Bajumu terlihat bagus hari ini." kata Brian yang sudah memesan makan siang dua porsi untuknya dan juga Gisel.


Gisel tersenyum merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Brian memperhatikan sekelilingnya.


"Aku mengisi waktu luangku bekerja di butik Liana." jawab Gisel dengan jujur.


"Butik Liana? Liana punya butik?" Brian agak heran dengan jawaban Gisel.

__ADS_1


"Iya. Di seberang sana. Tadi aku kesini jalan kaki. Tempat makan paling dekat ya disini." jawab Gisel.


Tidak lama, iga bakar yang dipesan Brian pun datang. Terlihat sangat lezat dan cukup membuat perut Gisel keroncongan. Brian melahap sedikit demi sedikit makanannya. Gisel tertawa melihat Brian yang begitu lahap.


"Apa kamu selapar itu?" tanya Gisel.


"Dari jam sembilan pagi aku sudah interview banyak orang, jadi aku lapar." kata Brian. Gisel hanya mengangguk.


"Apa sekarang setiap makan siang kita bertemu seperti ini?" tanya Gisel. Brian sedikit tersedak ketika Gisel menanyakan itu.


Gisel memberinya air minum agar Brian tidak tersedak lagi.


"Apa kamu keberatan?" tanya Brian.


"Bukan. Kadang lebih enak kalau kita bertemu setelah kamu pulang kerja. Kamu juga nggak buru - buru." jawab Gisel kembali menyuap nasinya.


"Aku bosan makan di kantor terus. Makan siang ini mungkin sesekali aja. Tapi kalau kamu lebih suka ketemu malam, aku tidak keberatan." kata Brian.


Gisel tersenyum menatap Brian. Sungguh lelaki idaman setiap wanita dan hanya wanita bodoh yang tidak terhanyut dalam sikap manis Brian.


"Aku senang kita bertemu lagi." kata Gisel. "Maksudku, setelah aku kehilangan orang tuaku, aku nggak tahu kemana aku bersandar. Aku selalu merasa kesepian. Dan cara bicaraku juga terkesan angkuh di depan teman kerjaku. Yang aku punya hanya Liana. Terkadang kami bertengkar, tapi kami kembali berteman lagi. Bagiku, Liana sudah seperti saudaraku sendiri." cerita Gisel. Brian mendengarkannya sambil mengisi perutnya.


"Aku sedikit tenang karena kamu bersama Liana." ucap Brian.


"Sedikit?" Gisel mengulang kembali apa yang Brian katakan.


"Iya. Karena Liana juga masih bekerja di kelab, aku nggak tahu kalau dia sewaktu - waktu mengajakmu kesana." kata Brian merasa sok tahu tentang Liana.


"Kamu tahu nggak kenapa aku memutuskan untuk berhenti dari kelab?" tanya Gisel. Ia enggan membahas Liana. Ia hanya ingin memulai kembali kebersamaannya dengan Brian.


"Aku mau menanyakan itu. Tapi bagiku itu adalah privasimu."


"Aku sudah lama ingin keluar dari sana. Karena aku sudah lelah tiba - tiba diserang di tengah jalan oleh wanita yany tidak aku kenal. Dan ternyata wanita itu adalah kekasih dari klienku."


Brian semakin serius mendengarkan Gisel bercerita.


"Aku sudah lelah disana. Karena mendapatkan beberapa teror yang menginginkan aku menjadi pacar mereka, kekasih gelap mereka bahkan menjadi istri siri mereka." Gisel terlihat jijik mengingat itu semua.


"Lalu, bagaimana reaksimu ketika mereka menginginkan itu?" Brian sedikit penasaran apa reaksi Gisel ketika mereka meminta Gisel menjadi pacarnya.


"Aku hanya bisa bilang kalau aku melakukan semua itu karena mereka membayarku. Dan mereka tidak menerima. Aku sudah pasrah ketika mereka bilang kalau aku wanita murahan, bayaran ataupun penggoda. Ya memang seperti itu pekerjaanku dulu." jawab Gisel sambil sesekali menatap Brian.


Sejujurnya, Gisel masih ingin memastikan, bahwa Brian bisa menerimanya dengan tulus. Walau ia tahu Brian mencintainya dengan sungguh - sungguh, ia ingin memastikan kembali bahwa suatu hari nanti hatinya tidak akan patah lagi.


"Brian. Maaf. Aku menceritakan semua ini karena aku tidak ingin ada yang ditutupi. Dan aku harap kamu tahu keadaanku yang sebenarnya." kata Gisel.


Brian tersenyum sambil meraih tangan Gisel yang berada di atas meja.


"Aku yang minta maaf. Kalau saja aku datang lebih cepat, aku pasti mengeluarkanmu dari sana lebih cepat juga."


Gisel menatap mata Brian yang terlihat begitu tulus padanya.


"Aku hanya ingin kamu fokus pada masa depanmu saja, Gisel."


Gisel merasa sedih karena tidak ada sedikitpun amarah dalam hati Brian. Ia terenyuh karena Brian bisa dengan tulus menerima keadaan Gisel yang tidak sempurna.

__ADS_1


Kamu penyelamatku, Brian.


__ADS_2