
Brian akhirnya menginjakkan kakinya di SevenSix. Selain karena penasaran karena mendengar cerita dari para karyawannya dan juga Edith, hati Brian juga terasa kacau. Sejak ia tahu kabar Gisel selama berada di Kalimantan dari detektif, hatinya berkecamuk. Hancur dan tidak bisa meluapkan kesedihan dengan apapun.
Setelah membayar menjadi anggota member di resepsionis, Brian diperbolehkan masuk oleh petugas keamanan. Kelab itu begitu mewah dengan interiornya dan juga berbagai macam peralatan yang ada disana. Tidak heran jika karyawannya tidak bisa masuk ke dalam kelab ini.
Lampu kelap kelip yang menyoroti kesana kemari mengikuti irama alunan musik disc jokey yang sedang diputar. Brian melihat beberapa lelaki duduk ditemani oleh wanita cantik dengan baju yang seksi disebelahnya. Brian kini tahu mengapa karyawannya dan juga Edith begitu antusias ketika membicarakan SevenSix.
Brian duduk di salah satu meja bar. Ia memesan segelas bir untuk melepas penatnya. Tidak disangka, seorang wanita cantik dengan baju yang minim duduk di sebelah Brian.
"Hai. Aku baru pertama kali lihat kamu kesini. Kamu baru ya?" sapa wanita itu dengan senyum lebarnya. Brian merasa tidak nyaman dan tidak mengacuhkan apa yang dikatakan wanita itu.
Brian kira wanita itu akan segera pergi setelah tidak digubris. Tapi tidak. Wanita itu terus saja berceloteh berusaha mendapatkan simpati Brian.
Liana melihat wanita yang merupakan teman kerjanya berusaha memaksa Brian. Tetapi Brian tetap tidak bergeming.
Liana melihat lelaki yang sedang dirayu oleh wanita itu. Betapa terkejutnya Liana ketika lelaki itu adalah Brian.
"Brian?" sapa Liana. Wanita yang sejak tadi merayu Brian merasa kesal dengan Liana karena tiba - tiba saja merebut calon kliennya.
"Kamu pergi dulu. Dia temanku." ucap Liana. Dengan kesal akhirnya wanita itu pergi meninggalkan Brian dan Liana.
"Brian. Sedang apa kamu disini?" tanya Liana duduk disamping Brian.
"Aku cuma mau istirahat saja sebentar." jawab Brian pendek.
"Kenapa tidak ke bar lain?"
"Aku cuma penasaran. Tempat ini banyak dibicarakan banyak orang. Dan aku cukup terkejut ketika melihat wanita yang gesit mendekati untuk menjadikan aku kliennya." ujar Brian.
"Memang begitu disini. Jadi jangan heran." kata Liana.
Brian meneguk lagi bir yang ada digelasnya.
"Aku harap Bella tidak tahu kalau kamu berada disini." kata Liana menatap Brian.
"Tidak. Aku hanya ingin santai saja disini sebentar." ujar Brian.
"Hubungi aku kalau kamu kesini. Kalau tidak kamu akan terus dirayu oleh wanita disini." kata Liana. Brian tidak menjawab perkataan Liana.
"Aku tahu kamu bukan orang yang suka dengan tempat seperti ini. Jadi kamu bisa menghubungi aku untuk menemanimu. Aku tidak akan macam - macam atau meminta bayaran. Aku janji." kata Liana menegaskan lagi pada Brian.
"Terima kasih. Aku benar - benar hanya ingin melepas penatku saja. Sekarang aku mau pulang." kata Brian. Liana hendak mengatakan sesuatu tapi Brian sudah berlalu dari hadapannya. Liana melihat sekilas wajah Brian malam ini. Tidak seperti biasanya. Apakah ada masalah di perusahaannya? Entahlah. Liana kembali bekerja menemani lelaki yang sejak tadi menunggunya.
Tapi ketika Liana menghampiri kliennya, Gisel dengan cepat menarik tangan Liana.
"Apa, Gisel?" tanya Liana tidak nyaman dengan perlakuan Gisel.
"Ikut aku." Gisel sedikit menarik tangan Liana untuk mengikutinya ke loker karyawan. Gisel melepaskan tangan Liana begitu sampai didalamnya.
"Aku dengar kamu merebut calon klien Hayra." kata Gisel langsung pada intinya agar tidak berbelit.
"Aku tidak merebut. Kebetulan dia itu temanku. Dan aku tahu temanku tidak terbujuk oleh rayuan Hayra." Liana mencoba membela diri di depan Gisel.
"Kamu kan tahu, jika masih ada wanita yang menemani lelaki terlebih itu calon klien, tidak boleh ada wanita lain yang mendekatinya. Itu sudah aturan dasar!" kata Gisel dengan gemas.
"Lalu aku harus bagaimana? Brian tidak tertarik pada wanita manapun. Dia datang cuma mau minum saja. Aku juga menjaga jarak agar tidak menyentuh Brian!" ujar Liana kesal dengan perdebatan ini.
"Apa katamu? Brian?" ulang Gisel merasa tidak percaya siapa yang datang ke kelab hari ini.
"Iya, Brian Salim. Pewaris dari Salim Group!" seru Liana semakin kesal. Gisel yang awalnya sangat menggebu - gebu menegur Liana, tiba - tiba terdiam dan tidak bisa berbicara apapun lagi.
"Sudah aku mau kerja! Ganggu saja!" Liana pergi meninggalkan Gisel yang mematung ditempatnya. Kemudian ia terduduk lemas. Semakin hari, ia semakin tidak percaya bahwa Brian akan menepati janjinya untuk bisa menemukannya. Atau mungkin, Brian tidak tahu bahwa kelab itu adalah tempatnya bekerja.
Gisel menunduk. Berusaha menahan tangis, tapi hati Gisel begitu rapuh. Ia tidak bisa menutupi kerinduannya pada Brian. Dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya, ia hanya berharap bahwa suatu hari nanti ia bisa bekerja dengan layak tanpa harus melayani para pria berhidung belang.
*****
Esoknya, Edith tidak bisa bekerja dengan benar. Beberapa revisi yang ia terima masih belum ia kerjakan. Matanya melihat layar komputer, tapi entah mengapa pikirannya tidak berada di tempat ia bekerja.
__ADS_1
"Dor!" ucap Maureen mengagetkan Edith. Edith yang sejak tadi melamun, akhirnya tersadar dan merapikan duduknya.
"Kenapa, Dith? Ada masalah? Kok kayaknya kamu nggak fit hari ini?" tanya Maureen.
Edith menggelengkan kepalanya.
"Enggak, kok. Nggak apa - apa." dustanya.
"Sudah jam istirahat nih. Kamu nggak mau makan dulu?" tanya Maureen mengambil kursi di depan Edith.
"Nanti saja."
"Kamu kenapa, Dith? Nggak biasanya lho. Ada masalah pasti kan? Brian?" tanya Maureen penasaran dengan apa yang Edith alami saat ini.
Edith menghela napas panjang. Kentara sekali kalau semua ini karena Brian.
"Aku nggak tahu harus bicara apa, Reen." kata Edith menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.
"Kenapa? Ada apa sama Brian?"
"Kamu tahu kan selama ini aku menyukai Brian? Selama ini aku berharap suatu hari nanti dia akan membuka hatinya untukku. Tapi aku tidak pernah menemukan titik dimana dia mau membuka hatinya untukku." Edith mulai menceritakan apa yang mengganjal dihatinya pada Maureen.
"Memang kenapa begitu?" tanya Maureen semakin penasaran dengan apa yang Edith ceritakan.
"Dulu sekali, dia memang bercerita bahwa dia punya cinta pada saat remaja tapi wanita itu pergi ke Kalimantan bersama keluarganya. Selama ini, Brian tidak pernah mencoba mencarinya, tapi entah kenapa kali ini dia bersikeras mencari wanita itu." Edith memejamkan matanya dan menghela napas lagi.
"Lalu, apakah sekarang dia sudah menemukannya?"
Edith menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa belum. Tapi semalam saat aku bertemu dengannya, dia merasakan patah hati sekali. Entah apa yang terjadi."
Maureen pun jadi ikut - ikutan menyandarkan tubuhnya dan menghela napas.
"Aku pikir kita tidak perlu berharap pada lelaki." ucap Maureen.
"Apa aku terlihat bodoh ya, mengharapkan cinta dari Brian tapi tak dibalas juga. Bukannya menjauh, justru aku malah semakin mendekat." kata Edith dengan tatapan yang kosong dan tersenyum kecut.
"Nggak begitu. Memang belum jalannya saja kamu menemukan lelaki yang baik." jawab Maureen.
"Lalu kamu, bagaimana bisa kamu mengikhlaskan semua yang terjadi padahal Farshall jelas - jelas melakukan pengkhianatan denganmu?" tanya Edith tidak mengerti mengapa Maureen begitu cepat tersenyum kembali setelah pengkhianatan Farshall.
"Wanita itu menyarankan aku untuk mencari seseorang yang lebih baik dari Farshall. Aku pikir lebih baik begitu daripada aku terus terbayang apa yang Farshall lakukan bersama wanita lain di belakangku." jawab Maureen.
"Apa kamu tidak curiga kalau ternyata wanita itu ada hubungan di belakangmu?" Tanya Edith semakin penasaran. Tapi Maureen langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku yakin dia melakukan semua karena uang. Tatapan matanya pada saat aku berbicara dengannya sangat tegas. Dan dia tidak melakukannya dengan perasaan sedikitpun."
"Dasar wanita murahan." umpat Edith dengan kesal.
"Jangan kesal. Memang ada beberapa yang melakukan hal itu untuk bekerja. Kita nggak tahu hidup apa yang sudah dia jalani hingga menjalani pekerjaan seperti itu." jawab Maureen dengan bijak.
"Entahlah. Kamu terlalu baik atau aku yang tidak mengerti dengan situasimu. Ayo kita makan dulu." seru Edith sudah tidak bisa menahan laparnya lagi. Maureen tertawa kecil dan mengikuti langkah Edith untuk mencari makan.
Walau terasa berat, sekarang Edith sudah merasa lega karena membagi sedikit bebannya pada Maureen. Mereka berjalan menyusuri koridor dan sibuk membicarakan menu apa yang asyik untuk makan siangnya.
*****
Semalaman, Gisel sulit untuk beristirahat dengan nyaman. Hatinya tidak berhenti memikirkan Brian yang datang ke kelab dan ditemani oleh Liana. Banyak pikiran yang memenuhi kepala Gisel terutama ketika Brian sedang minum di bar.
Gisel kembali membuka kotak yang ia simpan di lemari dan melihat beberapa surat yang ia tulis untuk Brian tapi tidak pernah sampai ke tangan Brian. Penglihatan Gisel buram, ia menahan air mata yang akan jatuh membasahi pipinya.
Nit, nit, nit.
Terdengar seseorang membuka pintu apartemen Gisel dengan menekan passcodenya. Gisel langsung merapikan kotak yang berisi surat dan keluar dari kamar.
Gisel yang hanya memakai lingerie sampai selutut, membuat teman prianya yang memang datang secara rutin ke apartemen Gisel, menelan ludah. Lekuk tubuh indah Gisel terlihat begitu indah dan kulit Gisel yang putih membuatnya semakin tergoda untuk menyentuhnya.
__ADS_1
"Bagus kau datang. Aku sudah lapar sekali." seru Gisel mengambil kotak makanan yang dibawa oleh temannya yang biasa dipanggil Marcus oleh Gisel.
"Makanlah. Aku tahu kau pasti melewati sarapanmu." kata Marcus sambil merapikan beberapa makanan dan dimasukkannke dalam kulkas.
"Jangan melihatku dengan berlebihan seperti itu." ujar Gisel sambil menyuap makanannya dan menegur Marcus yang melihatnya dengan dalam.
"Aku tidak tahu kenapa kamu tidak tertarik pada pria. Padahal kamu sering melakukan **** dengan mereka." kata Marcus.
"Hidup terlalu keras untuk aku bisa jatuh cinta." ucap Gisel.
"Lalu kenapa kamu tidak mencoba untuk jatuh cinta?" tanya Marcus ikut duduk di meja makan.
"Untuk apa? Jatuh cinta tidak bisa memberiku uang." jawab Gisel dingin.
"Kenapa kamu selalu berkata begitu?" Marcus selalu heran ketika Gisel tidak pernah tertarik dengan jatuh cinta.
"Memang kenyataan kok. Jatuh cinta tidak bisa memberikanku barang - barang mewah." Gisel masih terus menyuap makanannya.
"Tapi paling tidak kamu bisa menemukan kenyamanan ketika memiliki hubungan yang serius." Marcus masih mencoba membujuk Gisel agar bisa jatuh cinta paling tidak pada seorang lelaki.
"Lalu kamu harap aku jatuh cinta sama siapa? Sama kamu? Jangan mimpi ya. Buang mimpimu jauh - jauh."
Marcus tertawa mendengar perkataan Gisel kali ini.
"Sulit hidup denganmu. Aku tidak bisa melihat pacarku berganti - ganti pasangan untuk ****." jawab Marcus.
"Kalau kau tahu diamlah."
Marcus membuka salah satu makanan yang dibeli dan memakannya sedikit.
"Lalu kamu sendiri, kamu juga tidak punya pacar." kata Gisel menyerang balik Marcus.
"Aku hanya mencoba untuk membuat diriku bisa mandiri dalam financial. Setelah semua sudah tercapai, aku baru bisa mencari pasangan hidup." jawab Marcus memakan camilannya.
Gisel terdiam ketika Marcus mengatakan 'pasangan hidup'.
"Pasangan hidup?"
"Iya. Seseorang yang akan kita nikahi suatu hari nanti. Hidup menua bersamanya." jelas Marcus.
"Apa kamu pikir aku bisa melakukan itu?" tanya Gisel dengan rasa penasaran.
"Kenapa tidak? Namanya manusia pasti akan menemukan akhir perjalanannya suatu hari nanti." jawab Marcus terdengar realistis.
"Aku hanya merasa kotor untuk lelaki yang akan menikahiku nanti." jawab Gisel tidak merasa percaya diri.
"Jangan bicarakan kalau kamu tidak mau." jawab Marcus melihat tatapan Gisel yang terasa kosong.
Setelah selesai makan, Gisel merasa punya tenaga lagi. Biasanya Marcus tidak langsung pulang setelah mengantar makanan untuk Gisel. Biasanya, jika Marcus diminta membawa banyak makanan, Gisel tidak bisa bekerja dengan maksimal pada malam hari dan selalu meminta Marcus untuk menemaninya.
Marcus mencium Gisel dibibirnya, Giselpun melingkarkan tangannya di leher Marcus menghabiskan hasratnya yang belum keluar semalaman. Dengan cepat Marcus mencium tengkuk Gisel disambut dengan desahan Gisel yang membuat Marcus semakin ingin merabanya dibagian lain.
Marcus meraba payudara Gisel yang terasa kencang, menciumi punggung Gisel dan meremas pelan payudaranya. Desahan Gisel semakin lama semakin kencang.
Gisel membalikkan tubuhnya dan meremas lembut milik Marcus. Kini, Marcus mendesah pelan ketika Gisel mulai mengulum lembut milik Marcus. Menjilat dan sesekali Gisel mengeluarkan air liurnya agar terasa lebih licin dan lebih mudah untuk meremas secara naik dan turun.
Marcus mendesah nikmat, Gisel semakin bergairah untuk menciumi Marcus di lehernya. Dengan menghadap Marcus, Gisel menduduki Marcus dan mulai mengayunkan badannya ke atas dan kebawah.
Marcus hanya bisa menerima dan menikmati yang diberikan Gisel padanya.
"Ahh..Ahh.."
Marcus menciumi Gisel dan menjilat ** payudara Gisel dengan lembut, sesekali Gisel juga menjilat telinga Marcus. Marcus semakin mendesah dibuatnya.
Siapa yang tidak menolak servisan Gisel? Yang Gisel lakukan selalu membuat ketagihan setiap pria yang bertemu dengannya.
Mungkin ada sedikit keinginan di hati Marcus memiliki Gisel, tapi ia sadar, Gisel melakukan ini semua tidak dengan hatinya maupun perasaannya.
__ADS_1
Melainkan ada sesuatu dari dalam diri Gisel yang tidak pernah bisa diungkapkan sehingga ia menyalurkannya pada lelaki lain.