Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Rencana Brian


__ADS_3

Brian akhirnya menemui Gisel. Wajah Gisel terlihat tidak begitu senang ketika bertemu dengan Brian.


"Gisel." panggil Brian. Gisel tidak menyahut panggilan Brian. Ia hanya memainkan jemarinya.


"Maaf, aku nggak tahu kalau Bella menemuimu." kata Brian. Gisel menelan ludah. Mencoba bersikap seperti biasa.


"Tidak apa - apa." jawab Gisel.


"Aku yang salah karena tidak menceritakannya." lanjut Gisel. Brian kini sedikit tidak mengerti bagaimana wanita. Kemarin sikapnya seolah - olah Gisel marah padanya. Tapi sekarang, ia menjawab tidak apa - apa. Jadi bagaimana sebenarnya?


"Aku yakin Bella belum mengenal siapa kamu. Dan kehidupannya hanya seputar pekerjaan. Tidak ada teman ataupun seseorang yang spesial. Jadi aku minta maaf sekali lagi." lanjut Brian.


"Aku cuma kaget. Kenapa bisa secepat itu Bella menuduhku hanya ingin hartamu saja? Sedangkan aku... Kamu tahu sendiri. Aku sudah kenal kamu sejak kamu masih pakai sepeda." Gisel tertawa tidak percaya dengan apa yang Bella katakan kemarin.


Brian mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Gisel. Membuat jarak mereka semakin dekat.


"Bagaimana kalau kita perjelas hubungan kita."


"Maksud kamu?" Gisel sedikit menghindar dari wajah Brian yang semakin dekat.


"Bagaimana kalau kamu main ke rumahku?" tanya Brian menatap Gisel dengan wajah yang kebingungan.


"Kamu nggak mau?"


"Kamu bisa mundur dulu." kata Gisel. Begitu Brian menyandarkan kembali tubuhnya, Gisel bernapas dengan lega. Wajahnya terasa hangat. Hatinya berdebar semakin kencang.


"Maksud kamu mau membawaku ke rumah orangtuamu?" Gisel menanyakan ulang apa yang Brian tanyakan tadi.


Brian mengangguk. Gisel terlihat tidak nyaman dengan usulan Brian.


"Hm.. Entahlah Brian, bagaimana aku harus menjawabnya." jawab Gisel.


"Mungkin mendadak. Tapi baiklah. Kamu bisa berpikir dulu."


Gisel menatap Brian yang penuh harap pada dirinya. Jujur saja, sangat berat kalau Gisel harus menjawabnya sekarang. Karena ia masih belum berani jika harus melangkah ke istana Brian.


"Sebenarnya... aku tidak tahu apakah aku..."


"Kamu merasa tidak pantas?" Brian memotong perkataan Gisel. Kini, Brian merasa tidak nyaman.


"Aku bisa mengatasi itu semua. Kamu tidak perlu khawatir, Gisel." sahut Brian.


Gisel harus bisa percaya pada Brian. Seutuhnya. Karena apapun yang Brian Iakukan semua untuk kebaikan Gisel, memang benar adanya.


Gisel mengangguk dan tersenyum. Memberikan sinyal positif untuk Brian.


"Baiklah. Aku akan ke rumah orangtuamu." kata Gisel. Bibir Brian mengulas senyum bahagia. Ia tidak berpikir bahwa Gisel setuju dengan idenya.


*****


Saat sedang sarapan pagi, Brian ikut sarapan dengan wajah yang ceria.


"Ceria sekali." kata Ibu tersenyum melihat Brian.


"Iya, Bu. Kalau tidak ceria, aku akan kesulitan bekerja." sahut Brian menarik kursinya.


"Pekerjaanmu berjalan dengan baik kan?" tanya Ayah yang meminum air.


"Baik, Ayah." jawab Brian.


"Lalu bagaimana Bella? Ayah sudah meminta kamu untuk sedikit meluangkan waktu. Tapi kelihatannya kamu masih terlalu sibuk." kata Ayah.


Bella hanya terdiam saja mendengar teguran dari Ayahnya.

__ADS_1


"Apa harus Ayah menjodohkanmu?"


Bella mengangkat kepalanya dan terkejut dengan pertanyaan Ayahnya.


"Tidak perlu, Ayah. Aku bisa mencarinya." jawab Bella.


"Tunjukkan dong. Kalau kamu bisa." kata Ayah. Bella hanya merengutkan wajahnya dan membalas ucapan Ayah dengan pelan.


"Iya, Ayah."


"Bagaimana denganku?" tanya Brian tiba - tiba. Ayah dan Ibu tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Brian.


"Maksud kamu?" tanya Ibu bingung.


"Iya, bagaimana denganku? Bagaimana jika aku sudah punya seseorang umtuk dikenalkan pada Ayah, Ibu dan juga Kak Bella." ujar Brian.


"Jadi kamu ceria karena itu?" Ibu menebak mood Brian pagi ini yang ceria.


"Ya, tapi aku juga belum tahu, boleh atau tidaknya." sahut Brian menurunkan nadanya.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu jika kamu punya kekasih?" tanya Ayah.


"Sejauh ini baik - baik saja." jawab Brian. Ayah ingin mencari celah dimana letak kesalahan Brian selama ini. Tapi Ayah belum menemukannya. Ayah melanjutkan sarapannya.


"Brian jamin, kalau Brian sekarang memang sedang jatuh cinta, tapi Brian nggak menelantarkan pekerjaan Brian. Terbukti kan selama ini?" Brian sedikit membanggakan dirinya didepan orangtuanya. Bella hanya diam tidak menanggapi apapun.


"Bagaimana, Bella?" tanya Ayah. Bella mengangkat kepalanya dan menatap Ayah.


"Kok tanya aku?" tanya Bella merasa bingung.


"Ya, karena kamu kakaknya. Bagaimana jika Brian membawa kekasihnya ke rumah?" Ayah mencoba menanyakan pendapat Bella. Ayah tidak ingin mengabaikan Bella karena Bella adalah anak tertuanya.


"Tidak masalah. Kalau memang orangnya baik, bisa menyesuaikan dengan Brian dan keluarga ini, pastinya nggak malu - maluin nama perusahaan juga." Bella sedikit menyindir Brian. Brian merasakan sindirian itu. Tapi ia mengabaikannya.


"Baiklah. Bawa ke rumah. Undang makan malam." kata Ayah menyuap makanannya lagi.


"Serius, Ayah?" Brian terdengar antusias dengan persetujuan Ayahnya.


"Ibu jadi penasaran bagaimana pilihan kamu." kata Ibu tersenyum.


Brian tidak henti - hentinya memasang wajah yang ceria. Hatinya terasa berbunga. Sedangkan Bella tidak menyambut kebahagiaan yang telah menyelimuti wajah Brian.


Di parkiran, Brian tidak pergi ke kantor bersama Bella. Ia menyetir sendiri.


"Kamu senang? Bisa mengajak pelayan itu kesini?" tanya Bella dengan sinis saat menghampiri Brian.


"Jangan bilang begitu. Hidup seseorang bisa berubah. Lagipula kenapa kamu nggak suka sama Gisel? Gisel orang yang ramah, humble, mau belajar dan juga dia bisa menciptakan kesempatan untuk pekerjaannya. Kenapa kamu nggak coba untuk mengapresiasi itu?" Brian mencoba menjelaskan bahwa Gisel tidak seburuk kelihatannya.


"Oke. Kita buktikan. Seberapa bagus Gisel untuk perusahaan kita. Dan satu lagi. Jangan sampai Gisel itu membuat malu keluarga kita. Inget itu!"


Bella kembali lagi ke mobilnya. Sedangkan Brian hanya bisa menghela napas panjang. Walau tidak semudah itu menjalin hubungan dengan Gisel, paling tidak ada sedikit celah bagi Brian untuk bisa mengenalkan Gisel pada keluarganya. Terlebih lagi, Bella harus melihat dengan matanya sendiri agar mengerti bahwa Gisel tidak seburuk yang ia kira.


Brian memasuki mobilnya. Menyalakan mesin mobilnya kemudian menancap pedal gas secara perlahan.


*****


Gisel sudah mengganti kunci apartemennya. Kini ia tidak terlalu khawatir lagi dengan penyusup seperti Marcus datang kerumah. Jujur saja kekhawatiran Gisel tentang Marcus sudah tidak ada lagi. Karena begitu tahu cerita tentang Marcus, Brian bergerak cepat untuk menelpon polisi.


Memang, tidak pernah disangka dengan sebuah kekuasaan. Bisa sebegitu mudahnya menggerakkan polisi hanya dalam beberapa menit. Gisel semakin yakin bahwa bersama Brian, ia akan merasa aman ke depannya. Walau terkadang, Brian harus melihat bagaimana lelaki itu mengganggu kehidupan pribadinya.


Semalam Liana menginap di rumah Gisel lagi. Kini Gisel bisa bangun lebih pagi karena ia sudah tidak bekerja di kelab. Sudah jam delapan pagi. Liana masih terlelap tidur karena baru pulang subuh.


Gisel membuat sarapan sederhana, melatih kembali kemampuan masaknya yang sudah lama tidak pernah ia gunakan. Ia jadi teringat Brian. Gisel meraih ponselnya dan menelpon Brian.

__ADS_1


"Kamu sudah berangkat?" tanya Gisel saat Brian mengangkat telponnya.


"Sudah, aku sedang menyetir." jawab Brian di ujung telpon.


"Sudah sarapan? Aku buat sarapan."


"Aku sudah sarapan. Tapi baru makan sedikit. Bagaimana kalau kamu mengantar beberapa makanan ke kantorku?" tanya Brian.


"Apa boleh?"


"Kenapa nggak boleh? Bilang saja mau bertemu Pak Liam. Nanti kamu bisa masuk kok." jawab Brian.


"Kenapa nggak bilang ketemu 'Brian'?" Gisel penasaran. Kenapa tidak langsung menemuinya saja?


"Ribet lho. Nanti kamu ditanya sudah punya janji atau belum. Belum lagi nanti dibilang aku lagi meeting padahal enggak. Mending ketemu Pak Liam aja. Udah pasti bisa." kata Brian menyarankan. Gisel mengangguk walau anggukannya tidak dapat dilihat Brian.


Tidak sangka, kamu begitu luar biasa sekarang, Brian. ujar Gisel dalam hati.


"Baiklah. Nanti aku mampir ke kantor kamu." kata Gisel.


"Terima kasih ya, Gisel."


Gisel sedikit tersenyum malu karena Brian mengucapkan terima kasih pada dirinya.


"Hati - hati di jalan ya."


Telpon pun ditutup. Gisel merasa jantungnya berdebar. Jika ia ke kantor Brian, dia pasti juga bertemu dengan Bella. Gisel menyingkirkan perasaab itu. Perasaan dimana ia harus takut pada Bella. Ia harus bisa bersikap sewajar mungkin jika di depan Bella. Atau aku harus membuat sedikit juga untuk Bella?


*****


Gisel sedikit ragu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung Brian. Ia takut bahwa ada seseorang yang akan mengenalinya di dalam sana.


Gisel menuju meja resepsionis dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Pak Liam. Resepsionis memberikan kartu masuk ke dalam gedung.


Gisel menunggu pintu lift terbuka. Ia mendengar bisik - bisik diantara karyawan yang membicarakan dirinya.


"*Dia kan yang ada di kelab itu."


"Iya, yang waktu itu kita mau masuk nggak bisa kan*?"


"*Cantik banget ya kalo dilihat dari dekat begini."


"Mau apa ya dia kesini?"


"Masa iya nyari klien disini pagi - pagi? Apa nggak ketahuan?"


"Kalau cewek malem nyari klien disini, duitnya banyak kali ya*."


TING!


Pintu lift terbuka. Gisel menghela napas dengan lega. Akhirnya ia tidak mendengar pembicaraan karyawan yang suka bergosip itu. Kalau ia jahat dan ingin memanfaatkan Brian, bisa saja ia melaporkan semua ini pada Brian. Tapi entah kenapa kalau bertemu dengan mereka lagi, rasanya Gisel ingin menghajarnya sendiri.


"Selamat pagi. Pak Liam ya?" sapa Gisel ketika bertemu dengan Pak Liam. Pak Liam terpana melihat kecantikan Gisel. Rambutnya halus, wajahnya bersinar dan tubuhnya yang ramping membuat siapapun pasti menyukainya.


"I.. iya, Nona." Pak Liam sedikit tergagap karena Gisel tersenyum dengan manis.


"Saya mau ketemu Brian. Tadi dia minta saya kesini buat bawa makanan. Brian sibuk?" tanya Gisel.


Pak Liam belum pernah melihat wanita secantik Gisel. Ia tidak berhenti menatap Gisel.


"Ada. Tapi mungkin sedikit sibuk. Nona bisa bertemu sebentar saja." jawab Pak Liam ikut tersenyum.


"Baik, Pak, saya janji nggak akan lama kok." jawab Gisel. Ia memasuki ruangan Brian yang dipenuhi dengan tumpukan kertas di mejanya. Ruangannya besar dan tertata rapi. Dibalik tumpukan kertas itu, sudah ada Brian yang duduk dimeja kerjanya dengan kemaja dan... pulpen yang ia genggam.

__ADS_1


__ADS_2