
Gisel tutup lebih cepat karena Liana pergi dengan teman kencannya. Ah, Liana walaupun sudah tidak terlalu sering ke kelab lagi tapi masih saja menerima klien yang menghubunginya secara langsung. Gisel ingin sahabatnya itu bisa seperti dirinya. Cepat lepas dari kubangan dosa. Hidup diantara pria hidung belang sangat menakutkan, menjijikan bahkan membuatnya trauma.
Sudah beberapa hari ini ia tidak membawa mobilnya karena ia pikir akan sangat merepotkan membawanya. Tapi lebih merepotkan lagi jika harus naik taksi online malam-malam. Gisel menelepon Brian dan tidak lama, Brian langsung mengangkat panggilan dari Gisel.
"Ya, Gisel?" sapa Brian dari seberang telepon.
"Apa kamu sibuk?" tanya Gisel dengan hati-hati. Ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Brian.
"Aku baru selesai meeting." jawab Brian. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
"Hari ini aku akan pulang cepat. Liana sedang bertemu dengan temannya. Ada karyawan sih disini. Cuma aku lagi kepengen istirahat saja hari ini." kata Gisel.
"Tunggu di butik dulu. Aku akan pulang sekarang dan akan mampir ke apartemenmu." kata Brian.
"Oh begitu. Baiklah."
Untung saja Gisel belum mengunci butik. Jadi ia masih bisa duduk dulu sambil menunggu Brian.
"Tiara." panggil Gisel pada karyawannya.
"Iya, Mbak." jawab gadis muda yang dipanggil Tiara itu menghampirinya.
"Hari ini saya mau pulang cepat. Saya agak capek dan mau istirahat. Kamu kalau mau pulang juga nggak apa-apa. Kamu bisa beres-beres sekarang." kata Gisel.
"Baik, Mbak." jawab Tiara dengan senyumannya.
Sembari menunggu Brian, Gisel membuka aplikasi permainan yang jarang ia mainkan tapi aplikasinya juga tidak pernah ia hapus. Gisel memulai ronde pertamanya dan tidak lama permainan itu berakhir. Kemudian ia melanjutkan permainan pada ronde kedua. Pada saat sedang asyik bermain game, Maureen yang merupakan mantan Farshall, meneleponnya. Jarang sekali Maureen menelepon seperti ini, batinnya.
"Ya, Maureen?" sapa Gisel.
"Gisel, kamu ada dimana sekarang?" tanya Maureen di seberang telepon.
"Aku di butik. Kenapa, Ren?" tanya Gisel.
"Aku mau nanya sesuatu sih, tapi kalau kamu tahu saja ya. Kalau kamu nggak tahu ya, nggak apa-apa."
"Ada apa? Kok sepertinya serius?" tanya Gisel penasaran
"Apa kamu punya masalah sama Edith?" tanya Maureen.
Deg!! kenapa Maureen tahu kalau dirinya memiliki masalah dengan Edith?
"Enggak kok. Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"
"Ada gosip di kantorku dan itu sudah menyebar kalau Edith cari masalah sama pacarnya Brian. Aku kan nggak mikir kemana-mana, Sel. Aku mikirnya kamu doang. Selama ini yang deket sama Brian setahu aku kan kamu." jelas Maureen.
__ADS_1
Loh,,kenapa bisa ada gossip seperti itu di kantor Maureen?
"Kok bisa ada yang bilang begitu?"
"Iya, ada orang kantor bilang kalau Bella malam-malam datang ke kantor. Satpam juga nggak ada yang berani misahin Bella sama Edith. Tau sendiri kan Bella itu judes banget. Mana ada yang berani sama dia? Malam itu Bella minta Edith buat permintaan maaf sama kamu, kalau nggak minta maaf, Edith bakalan diturunin jabatannya. Nah, maksud aku telepon kamu, Edith sudah datang belum ke kamu dan minta maaf? Karena kalau nggak minta maaf, Bella bakalan ngancem macam-macam lagi. Hari ini Edith juga nggak masuk.." cerita Maureen panjang.
Belum selesai Maureen cerita, pintu butik terbuka.
Triiinggg!!!
Gisel melihat Edith datang ke butiknya malam itu dengan baju kasual seadanya. Ia tidak memakai baju yang rapi dan make up yang menghiasi wajahnya,
"Halo...halo..Gisel, kamu dengar aku nggak?" tanya Maureen dari seberang telepon. Dengan cepat ia menjawab telpon Maureen lagi.
"Maureen, nanti aku telpon lagi ya, ini aku ada pelanggan datang."
"Oh, iya, iya, oke, Sel, bye..." telepon pun di tutup.
"Edith?" tanya Gisel yang kebingungan dengan kedatangan Edith.
Edith memicingkan senyumnya dan menatap sebal pada Gisel.
Edith masuk ke dalam butik dan mengambil duduk berhadapan dengan Gisel.
"Kamu mengadukan semua pada Bella?" tanya Edith denga nada sinisnya.
"Tentang Marcus kemarin."
"Untuk apa? Apa gunanya aku mengadukan pada Bella? Lagi pula aku memiliki masalah denganmu, kalau bisa aku selesaikan denganmu, kenapa aku harus membawa orang lain?"
"Bella datang ke kantor dan memintaku minta maaf padamu secara tulus jika tidak aku akan dipecat secara tidak hormat." kata Edith
"Tidak perlu meminta maaf kalau kamu merasa terpaksa begitu, Edith. Itu akan melukai hatimu."
"Seharusnya aku sangat beruntung melihat Brian bisa menemukan wanita yang ia cari selama lima belas tahun terakhir. Tapi entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa aku masih belum bisa merelakannya." kata Edith.
"Maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud merebut Brian darimu." kata Gisel.
"Bukan salahmu. Hanya aku saja yang terlalu munafik. Menganggap diriku bisa merelakan semuanya padahal hatiku menyimpan dendam." ucap Edith.
"Sedalam itukah cintamu pada Brian?" tanya Gisel sedikit penasaran.
"Aku yang menyukainya lebih dulu. Siapa yang tidak menyukai lelaki tampan dan cerdas seperti Brian? Hampir satu kampus tergila-gila pada Brian. Bahkan di kantorpun banyak yang menginginkan Brian menjadi pacarnya walau itu tidak mungkin terjadi. Tapi kenyataannya, tidak satupun wanita yang ia lihat. Dalam hatinya ia hanya memikirkan satu wanita dan dia bersikeras mencari wanita itu kemanapun dia berada." cerita Edith
Gisel mengetahui sisi lain Brian pada waktu dulu. Banyak yang menyukainya tapi Brian hanya menginginkan Gisel dan tidak akan pernah berpaling darinya.
__ADS_1
"Tapi tidak apa-apa. Seiring berjalannya waktu aku akan mencoba melupakan Brian." kata Edith
Edith beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya.
Gisel ikut berdiri dan meraih uluran tangan Edith
"Aku juga minta maaf dari hatiku yang terdalam atas perbuatanku kemarin. Aku akan berusaha merelakan Brian. Aku harap kamu bisa mencintai Brian lebih besar dari aku. Karena Brian sangat bersyukur ketika dia bisa menemukan kamu, Semoga pernikahan kalian akan berjalan dengan lancar setelah perjuangan dan penantian yang cukup lama." kata Edith. Ia mencoba melapangkan hatinya agar tidak terlalu merasakan rasa sakit hati yang semakin membuat dirinya terluka.
"Terima kasih. Aku juga berharap suatu hari kamu akan menemukan pria yang mencintaimu lebih dari dirinya sendiri. Aku akan tetap menganggapmu sebagai sahabat Brian dan kedepannya hubungan kita bisa membaik dari hari ini."
Gisel dan Edith tersenyum. Walaupun masih terasa sulit bagi keduanya bersikap biasa-biasa saja, tapi mereka berharap bahwa ini adalah awal yang baru bagi pertemanan mereka.
"Kalau begitu aku pamit permisi dulu." kata Edith berpamitan.
"Baiklah. Hati-hati di jalan ya."
Mereka saling melempar senyum, menandakan bahwa mereka sudah bisa menerima kesalahan yang telah berlalu.
Iya,,Edith harus bisa berdamai dengan hatinya dari masa lalunya, Ia harus bisa menerima bahwa Brian adalah sahabatnya dan tidak akan pernah menjadi miliknya.
tidak lama setelah kepergian Edith, Brian datang menjemputnya.
"Gisel, maaf, aku lama ya, maaf, maaf ya, Sayang" ujar Brian sambil menghambur ke pelukan Gisel. Gisel menyambutnya dengan penuh kasih.
"Nggak apa-apa. Nggak lama kok." ucap Gisel tersenyum. Ia memeluk Brian, lelaki yang selama ini selalu mencintainya tanpa henti.
Berkat Edith, ia tahu betapa besar perasaan Brian untuknya.
********************
Hai readers, Meet me at midnight!!
Maafkan author ya karena sempat hiatus cukup lama, jujur saja sedih banget harus hiatus karena author juga udah kepengen bgt nulis lagi dan lagi.
Terima kasih ya masih ngikutin cerita Gisel dan Brian,,
yuk upvote author untuk terus mendukung karya ini
biar author semakin semangat dan bisa dobel up hehe
Mampir juga ke karya terbaru author "KARINA"
masih baru netes kaya telur .
Thank you for upvote dan kome-komen
__ADS_1
apalah arti author tanpa kalian ;)
saran kritik yuk langsung ke author aja yuk~~~