
Gisel memakai gaun terbaiknya. Malam ini ia akan makan malam di rumah Brian kali keduanya dengan status resmi sebagai calon istri Brian. Gisel memandangi wajahnya di meja ria. Ia mengingat kesedihan yang menghampirinya saat pertama kali datang ke rumah Brian. Ia berusaha membuang jauh-jauh perasaan sakit hati dan sesaknya karena harus kehilangan kedua orang tuanya. Ia mencoba menerima kenyataan bahwa Brian telah bersedia melindungi Gisel dari apapun. Gisel menitikkan air matanya jika harus mengingat segala luka itu, Segera ia hapus air mata yang membasahi pipinya. Ia memberikan polesan terakhir pada bibirnya dan tersenyum. Ia ingin melupakan segala kesedihan yang ada pada malam ia kehilangan ayah dan ibunya.
Brian datang menekan bel apartemen Gisel, Ia mengenakan kemeja rapi berwarna biru muda. Tampannya Brian terlihat jelas malam ini dengan kemeja yang ia kenakan. Gisel segera membukakan pintu dan mendapatkan Brian yang manis tepat berada di depan matanya.
"Haaai, Brii..." sapa Gisel dengan manis. Iya, memang malam itu Gisel terlihat manis dan juga cantik, batin Brian dalam hatinya
Brian memasuki apartemen Gisel dan mencium betapa wanginya ruangan itu.
"Kenapa sih kamu panggil aku Bra Bri Bra Bri aja, kenapa kamu nggak panggil aku 'sayang'? aku aja manggil kamu 'sayang' lho." protes Brian yang jarang sekali mendengar Gisel memanggilnya dengan sebutan 'sayang'
"nggak apa-apa, aku lebih suka aja panggil nama, heee.." jawab Gisel menyeringai
"Aku sudah melamarmu, yakin kamu masih manggil aku Brian?" tanya Brian cemberut
Melihat Brian yang kesal seperti itu, Gisel menghampiri Brian dan memeluk tangan Brian dengan manja.
"Jangan kesal gitu, iya iya nanti aku panggil 'saaaayyyyaaaaang'" kata Gisel
"Jangan kesal lagi, ya? Ya? Ayo dooong" kata Gisel
Brian tersenyum. "Sudah siap belum? Ayo berangkat."
"Oke."
Gisel mengambil tas tangannya dan meraih tangan Brian.
Sesampainya di rumah Brian yang cukup besar sebagai pengusaha terkenal, ayah dan ibu Brian menyapa Gisel dengan sangat ramah. Keluarga Brian kecil dan sederhana membuat Gisel terasa nyaman berada dalam keluarga itu.
"Selamat datang, Nak Gisel. Apa kabarmu, Sayang?" tanya ibu Brian dengan hangat
"Tuh kan, ibu saja manggil kamu sayang." kata Brian menyindir Gisel karena ia jarang memanggilnya dengan panggilan spesial.
"Iya, iya..." jawab Gisel tersenyum merasa tidak enak jika harus berdebat di depan orang tuanya
"Yuk, masuk ke dalam, Nak." ajak ibu
Sapaan Ibu dan Ayah kali ini sangat ramah dan hangat membuat Gisel merasa nyaman berada disini
"Ayah senang kamu datang lagi kesini dan makan malam bersama. Brian sudah menyiapkan makan malam sesuai dengan menu kesukaan kamu." kata Ayah
"Benarkah, Om? Wah terima kasih banyak, saya jadi terharu."
Ayah mengajak Gisel duduk di ruang tamu yang sangat nyaman itu. Brian ikut duduk di sebelah Gisel dan melingkari tangannya di pundak Gisel
"Semenjak Brian memutuskan melamar Nak Gisel, Brian terlihat kebih bersemangat dan bahagia. Beban hidupnya serasa berkurang banyak, Ayah senang kalau Brian sudah menemukan tambatan hatinya." kata Ayah
Ayah, Ibu, Brian dan Gisel tertawa di ruang keluarga. Gisel sangat beruntung bisa mengenal keluarga Brian sedekat ini..
"makanan sudah siap, ayuk kita makan malam." kata Bella memanggil semua yang ada di ruang tamu
"Hari ini Bella masak loh. Katanya mau mengasah kemampuannya lagi. Capek di kantor terus. Dan khusus karena malam ini Gisel datang. Jadi dia semangat sekali." kata Ibu cerita
__ADS_1
"Wah yang benar, Bu?" Gisel jadi semakin terharu dengan kehangatan keluarga disini.
"Ibu nggak usah melebihkan deh, aku dibantu kok sama pelayan yang lain." kata Bella
"iya , tapi kamu juga sibuk toh.." kata Ibu
Bella hanya tersenyum kecil. Semuanya sudah mengambil posisi masing-masing dan pelayan menyiapkan piring serta peralatan makan. Benar-benar dilayani seperti makan di restoran, ucap Gisel dalam hati merasa kagum.
Gisel tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih setiap pelayan menuangkan minuman ataupun menyediakan makanan pembuka. Mendengar Gisel yang mengucapkan terima kasih terus menerus, membuatnya tertawa. Ia senang sekali dengan kepribadian Gisel yang manis dan sopan seperti itu. Walaupun disatu sisi, ia sedikit khawatir, apakah ia tidak merasa kesal lagi dengan Ayahnya.
"Enak, Kak Bella. Makanannya enak banget loh." puji Gisel setelah mencicipi makanan malam itu.
Bella tersipu malu, bahwa masakannya dipuji seperti itu.
Brian yang penasaran juga ikut mencicipinya
"Wah, iya, enak nih, Kak. Sejak kapan kakak belajar masak? Kok yang aku lihat kakak itu kerja terus sih." kata Brian.
Ayah dan Ibu rupanya juga heboh ikut-ikutan memuji masakan Bella. Bella yang dipuji jadi merasa malu sendiri
"Sudah, makan aja, nikmati aja." kata Bella yang tidak ingin dipuji terus menerus.
Setelah canda tawa menghiasi meja makan yang selama ini sepi, akhirnya mereka bisa saling bertukar cerita lagi di meja makan sambil menikmati hidangan yang tersedia. Makan malam itu terasa sangat santai dan tidak diburu-buru waktu. Karena ini adalah malam minggu yang Brian minta khusus pada keluarganya agar meluangkan waktunya.
"Jadi bagaimana kelanjutan dari pertunangan kalian?" tanya Ibu. Ibu berusaha menghindari "Kapan nikah" . Ia tidak ingin dicap sebagai mertua yang terlalu kepo dengan urusan anaknya
Brian berdehem dan melirik Gisel. Gisel tersenyum mempersilakan Brian bicara.
"Oh ya, Ibu terserah saja, ibu ikut kalian saja, kapan bisanya." kata Ibu.
"Iya, Ayah juga ikut. Yang menjalani kalian berdua. Mau pakai wo, atau nggak nggak masalah. Pokoknya ayah ikut kalian saja." sahut Ayah
"Kalau kamu, gimana, sayang?" tanya Brian melirikkan mata ke Gisel. Brian menyerahkan segala keputusannya ke tangan Gisel.
"Bagaimana kalau bulan Desember?" tanya Gisel
"Kenapa Desember?"
"Ya, kalau bulan Desember bukannya orang-orang sudah terima banyak bonus tahunan ya?" tanya Gisel polos.
"pppffttt...:" Brian menahan gelak tawanya.
"Jadi maksud kamu?" tanya Bella yang ikut-ikutan menahan tawa
"Jadi bisa kasih amplop lebih gitu. Hehehe..." jawab Gisel polos tanpa merasa berdosa
"Benar juga, jadi bisa modal kalian buat honeymooon juga tuh." kata Ayah
"Belum nikah kok sudah honeymoon, sih, Yah. Tapi yaudah kalau Desember, boleh aku setuju. Tanggalnya?"
"Pertengahan ya. Tapi apa nggak tahun depan aja, Sayang? Ini bulan september, apa keburu?" tanya Gisel ragu
__ADS_1
"Tenang, tenang kalau masalah itu, nanti aku handle. Habis ini aku cari WO punya temanku ya. Dia juga pintar bikin desain baju gaun pernikahan. Butiknya juga terkenal. Suka ikut event fashion show juga." kata Bella
"Oh ya, Kak? Siapa, Kak?"
"Lucy. Dia bagus kok desainnya." kata Bella
"Lucy? Lucy Troy itu, Kak?" tanya Gisel penasaran
"Nah iya, benar! Kamu tahu ya?"
"Tahu, Kak! Wah desain gaun dia emang keren banget sih, Kak. Harganya juga mahal-mahal. mau, Kak, kalau aku pakai dia!"
"Oke, habis ini aku telpon Lucy deh." kata Bella.
"Jadi fix nih ya, Desember." kata Brian
"Iya, Sayang, tanggalnya nanti aku lihat lagi ya." kata Gisel
Brian mengangguk mengerti.
"Aku ikut kamu aja, ya, kalau ada apa-apa atau butuh apa kamu hubungi aku ya... Pokoknya aku percayakan semuanya sama kamu, Sayang." kata Brian
"Duh so sweetnya. Brian yang dulu cuma kenal kerja, sekarang sudah berani romantis di depan ayah ibu." kata Bella menggodanya
"Iya, dong. Yang dicari selama ini kan sudah ada di depan mata. Tinggal bagaimana aku menjaga dan memperlakukannya dengan baik, iya kan, Bu?" sahut Brian dengan kemantapan hatinya
"Iya, harus begitu dong anak laki-laki. Berani dan mau mempertanggungjawabkan istrinya, bukan hanya masalah uangnya saja, tapi juga kebahagiaannya." kata Ibu.
"Iya, percaya deh. Oh ya, Gisel kamu kalau butuh bantuan juga telpon aku ya, aku pasti bantu kok. Jangan sungkan lagi ya sama aku." kata Bella
"Kak Bella ini sebenarnya baik hati, kok." kata Brian memperjelas bagaimana Bella
"Iya aku sudah tahu" jawab Gisel tertawa
"Jangan lupa posisi Gisel di perusahaan ya, Bri." kata Bella mengingatkan
"Oh ya, hampir lupa, sayang. kak Bella kemarin bilang sama aku biar kamu belajar tentang perusahaan sedikit-sedikit, aku takut kamu merasa terbebani, jadi aku..." belum selesai Brian bicara, Gisel sudah memotong pembicaraannya
"AKu sudah tahu, Kak Bella sudah ngomong kok sama aku."
"iya? Kapan? Kok aku nggak tahu."
"Ada dehhh, kamu sih kelamaan, Jadi aku duluan ngomongin ke Gisel." kata Bella
"Ayah yakin, Gisel pasti bisa memegang perusahaan dengan baik. Gisel anak yang baik dan jujur. Ayah yakin Gisel mampu." kata Ayah menyemangati Gisel agar Gisel tidak ragu lagi dalam mengambil keputusannya
"Aku bilang juga apa, kan, kamu pasti bisa." kata Bella pada Gisel
"Iya, Kak, aku akan belajar tentang perusahaan pelan-pelan." kata Gisel mengalah. Ia tidak salah sejak awal membuka hatinya untuk Brian. Keluarganya begitu ramah dan hangat. Ia sangat beruntung bisa mengenal Brian di dunia ini. Entah bagaimana ia harus berterima kasih pada Brian. Malam itu terasa panjang bagi Gisel hingga ia harus menginap di rumah Brian. Ada perasaan beda dalam hati Gisel.
Perasaan bahagia memiliki keluarga baru yang ramah dan hangat....
__ADS_1