Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Lepaskan tanganmu


__ADS_3

Tubuh Gisel masih meronta-ronta. Ia ingin segera melepaskan diri dari Marcus. Tapi ia tidak berhasil. Tenaga Marcus besar. Cukup besar.


Tapi sialnya, pengawal yang datang bersama Brian dengan cepat menarik Marcus yang ingin melukai Gisel. Marcus terkejut. Belum sempat ia sadar dari keterkejutannya, wajahnya sudah mendapat bogem mentah dari pengawal Brian.


"Akkh!! Sialan!" Marcus berusaha membalas. Tapi apa daya, Marcus tidak pandai berkelahi. Akibatnya ia hanya bisa terhuyung kembali ke tanah.


"Ah!" pekik Gisel kaget. Ia kaget melihat Marcus yang tiba-tiba dipukuli oleh orang-orang berjas hitam.


Siapa mereka? tanya Gisel dalam hati.


Ah, tidak peduli! Ia harus menyelamatkan diri dulu! Gisel meninggalkan Marcus yang sedang dipukuli oleh orang-orang tidak ia kenal itu. Ia tidak berusaha menghentikan atau melerai. Dia hari ini cukup shock dengan sikap Marcus.


Gisel ingin pergi meninggalkan parkiran itu, kemudian matanya melihat Brian yang berdiri tidak jauh dari Gisel dan... siapa itu wanita disebelah Brian? Seperti pernah melihatnya. Tapi siapa ya? Lupa-lupa ingat. Ah iya! Sahabat Brian. Edith! Ngapain dia disini?


"Brian!" panggil Gisel. Gisel langsung berlari menghampiri Brian.


"Gisel." kata Brian kemudian meninggalkan Edith yang masih berdiri terpaku disana.


Brian memeluk Gisel dengan penuh kasih sayang, membuat Edith terbakar cemburu melihat adegan itu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Brian melihat wajah Gisel yang pucat.


"Aku nggak apa-apa. Kamu gimana? Kenapa kamu bisa disini?" tanya Gisel sedikit bingung.


"Itu anak buahku." tunjuk Brian ke arah pria menggunakan jas hitam yang sudah selesai menghajar Marcus.


Gisel merasa bersyukur, Brian datang menolong dirinya, walau ia juga tidak menyangka Brian akan datang menyelamatkan dirinya.


"Terima kasih sudah menyelamatkan aku, Brian!" kata Gisel bernapas lega. Brian kembali memeluk Gisel.


Mata Gisel tertuju pada Edith yang berdiri diam di sebelah mobil SUV warna hitam.


"Bukankah dia teman kamu semasa kuliah?" tanya Gisel.


Brian melepas pelukannya dan mengangguk.


"Sepertinya kita harus bicara dengan Edith."


Gisel tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi ia yakin ada sesuatu yang tidak beres disini. Tatapan Brian penuh amarah dan benci pada Edith.


"Mari kita bicara." kata Brian.


Edith yang sudah kepalang basah tidak bisa menghindar lagi. Ia mengikuti langkah kaki Brian dan Gisel.


Gisel menatap Edith penuh khawatir. Sebaliknya, Edith menatap Gisel dengan penuh kebencian.


*************************

__ADS_1


Gisel meletakkan pesanan Brian dan Edith diatas meja kafe. Meja itu kecil. Hanya muat menaruh kopi yang sudah di pesan. Gisel membeli latte dan menyesapnya dengan perlahan.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Brian tanpa basa basi.


Edith yang ditanya diam saja.


"Melakukan apa?" tanya Gisel tidak mengerti.


"Marcus. Dia menjebak kamu dengan membawa Marcus kesini. Karena Apartemen kamu sudah pindah, Marcus tidak bisa menemukan kamu. Otomatis Marcus akan mendapati kamu ada di toko." kata Brian.


"Benar begitu, Edith?" tanya Gisel tidak percaya ada wanita yang begitu jahatnya ingin mempermainkan dirinya.


Edith tersenyum.


"Kenapa cepat sekali ketahuan sih? Tidak asyik." kata Edith menyeringai.


"Apa katamu?" rasanya Brian semakin marah. Bukannya meminta maaf karena sudah menjebak orang lain, malah tertawa dengan begitu santainya.


Gisel memegang tangan Brian agar tidak tersulut emosi.


"Kenapa kamu melakukan ini? Apa aku mempunyai salah hingga kamu berbuat seperti ini padaku?" tanya Gisel dengan penuh rasa kecewa pada Edith.


"Jangan pura-pura polos!" kata Edith. Ia jijik sekali melihat Gisel memegang tangan Brian seperti itu.


"Kamu hanya wanita yang pernah bekerja di kelab malam, bagaimana bisa Brian begitu menyukaimu dibanding aku yang jelas-jelas berasal dari keluarga yang baik?"


"Sudah ku bilang, Gisel tidak seperti yang kamu pikirkan!" sahut Brian.


"Bri, tenanglah." ucap Gisel.


"Aku akan keluar. Kalian bisa bicara. Rasanya melihatmu membuat aku naik pitam!" kata Brian beranjak dari tempat duduknya. Setelah Brian keluar, Gisel melanjutkan pembicaraannya pada Edith.


"Tidakkah kamu melakukan sesuatu yang salah?" tanya Gisel dengan penuh rasa sabar.


"Dari awal aku sudah menyukai Brian! Aku adalah pasangan yang cocok untuknya. Mulai dari kasta, pendidikan pekerjaan, kami setara! Lalu datanglah kamu yang belum lama kenal dengan Brian dan ingin merebut posisiku semudah itu?" ucap Edith kesal,


Gisel menahan amarahnya.


"Mungkin perasaanku memang tidak sebesar kamu. Tapi aku mencintainya dengan setulus hatiku. Jangan kamu pikir aku mengambil kesempatan, Edith. Aku sudah menyukainya bahkan semenjak ia masih menggunakan sepeda sebagai kendaraannya. Bukan mobil yang kamu lihat saat ini." kata Gisel. Edith tertegun mendengar penjelasan Gisel.


"Aku menghargaimu sebagai sahabat Brian. Tidakkah kamu bisa menghargaiku sebagai kekasihnya?"


Edith tidak menjawabnya, Ia hanya menatap Gisel dengan tatapan yang tajam.


"Wanita murahan!" umpat Edith. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Gisel.  Edith sangat kacau rencananya berantakan karena Brian. Padahal satu langkah lagi dia bisa membuat Brian berpaling dari Gisel.


Tapi kini, masih adakah kesempatan itu? Edith sendiri tidak yakin. Ia meninggalkan kafe dengan angkuhnya dan tanpa menolah lagi ke arah Gisel dan Brian.

__ADS_1


Brian kembali masuk ke dalam kafe dan memeluk Gisel.


"Aku tidak menyangka Edith akan melakukan sejauh itu untuk mencelakaimu." kata Brian.


"Sudahlah. Dia hanya tidak bisa terima melihatku bisa mendapatkanmu sebagai kekasihku."


Sebenarnya hati Gisel sangat sakit dengan tiap ucapan yang dikatakan Edith. Iya. Gisel tahu persis bahwa statusnya tidak akan pernah bisa setara dengan Brian. Maka dari itu, ia berusaha bekerja tanpa mengandalkan uang dari Brian.


"Aku akan meminta orang mengawasimu."


"Nggak perlu. Aku akan segera meneleponmu jika sesuatu terjadi padaku." kata Gisel.


"Aku nggak tenang kalau suatu hari Marcus datang kesini lagi." kata Brian.


"Aku janji akan telepon kamu. Ya? Jangan bikin aku jadi merasa nggak nyaman karena diawasi ya?" pinta Gisel.


Brian mengalah. Ia tidak bisa memaksakan kemauannya pada calon istrinya itu.


"Baiklah. Tapi kamu harus berjanji akan meneleponku apapun kondisinya. Oke?"


"Oke."


Brian mengecup kening Gisel dengan rasa kasihnya.


Sementara itu, Marcus yang sudah menunggu Edith di parkiran, menghampiri Edith dengan wajahnya yang lebam.


"Aku meminta bayaranku." kata Marcus.


Dengan kesal, Edith menampar wajah Marcus.


"Brengsek, kerjamu nggak becus saja masih berani minta bayaran!" kata Edith marah.


"Ada orang yang tiba-tiba memukuliku! Aku bisa apa? Berkelahi saja tidak pernah! Lagipula kamu meminta aku membuat agar Gisel menyesal, aku rasa dia sudah menyesal sekarang!" kata Marcus.


"Brian datang dan menyelamatkan Gisel. Dan rencana kita gagal."


"Aku pikir kamu pintar dalam hal ini, makanya aku menyetujui mengikuti rencanamu. Ternyata kamu gagal ya." kata Marcus tertawa menyeringai.


"Kamu mau kembali ke penjara?" ucap Edith kesal.


"Ah ya, tidak-tidak. aku tidak akan bicara apapun lagi sekarang."


Edith mengambil amplop tebal yang sudah ia siapkan sebelumnya di dasbor mobilnya dan  melempar uang itu pada Marcus.


"Ambil itu! Dasar bod*h!" kata Edith kesal. Marcus mengambil uang itu dengan senang hati. Ia tidak peduli jika Edith mengumpat tentang dirinya. Ia hanya mau uang dari Edith. Uang yang wangi dan sangat tebal itu membuat Marcus menjadi gila.


Edith melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan Marcus sendiri disana.

__ADS_1


__ADS_2