
Lucy Troy, seorang designer gaun pernikahan dan sudah terkenal dimana-mana juga merupakan sahabat Bella. Lucy merancang sendiri gaun pernikahan Gisel dan ia tidak akan melewatkan kesempatan pernikahan dari Salim Group. Bella memintanya merancangkan beberapa pakaian untuk keluarganya. Bella terlihat sangat sibuk dalam acara pernikahan Gisel.
"Ah, bagus sekali." kata Lucy merapikan gaun di tubuh Gisel.
"Terima kasih."
"Gaun ini sangat cantik, pengantinnya juga cantik." kata Lucy memuji kecantikkan Gisel
"Terima kasih, Kak. Sudah membuatkan gaun sebagus ini." kata Gisel tersenyum
"Bukan apa-apa. Bella sahabatku. Meski mulutnya pedas, yakinlah dia sebenarnya hatinya baik. Aku sangat mengenalnya. Mana mungkin aku menolak permintaannya. Aku sampai melemburkan beberapa karyawan agar acara pernikahanmu berjalan dengan lancar. Sekali lagi selamat ya, sayang." kata Lucy. Walaupun sudah memiliki nama fashion dimana-mana, Lucy sangatlah ramah. Gisel sangat nyaman diperlakukan baik oleh keluarga dan kerabat Brian.
"Gimana? Sudah siap?" tanya Bella begitu masuk ke ruangan pengantin.
"Sudah. Lihat deh, adik iparmu lebih cantik darimu loh, Bel." kata Lucy
"Ah yang bener? Wah tapi iya loh, kamu cantik banget pakai ini, Gis." kata Bella memperhatikan wajah Gisel yang merona merah.
"Thanks ya, sudah mau aku repotin, Nanti soal bayaran aku transfer ya." kata Bella.
"Nanti aja, gampang, lagian aku juga sudah kenal kamu ini." kata Lucy
"Jangan begitu dong, temen ya temen, bisnis ya bisnis. Jangan sampai kamu rugi walau kita berteman tetap bisnis harus dipisahkan dari pertemanan." sahut Bella
"Ini nih, yang aku suka dari kamu. Kamu nggak pernah minta harga teman atau diskon-diskonan. Semua kamu bayar selalu sesuai harga yang aku sebut. Bahkan dilebihkan. Thanks ya." kata Lucy
"Aku menghargai kerja kerasmu. Thanks juga ya. Oh ya, yuk kamu ke altar. Didampingin Ayah nggak apa-apa ya, sayang?" kata Bella mengatur segala detil pernikahannya dengan Brian.
Tanpa Bella, entah bagaimana jadinya. WO yang disewa juga meruipakan sahabat Bella. Jelas saja, siapa yang bisa menolak permintaan Bella?
"Ayo, Kak."
"Jangan nervous ya. Sudah siap kan jadi bagian resmi keluarga Salim?" tanya Bella ramah
"Iya, Kak. Mohon bantuannya, Kak."
"Yuk, jalan pelan-pelan."
Bella menuntun Gisel menuju altar dan Brian sudah lebih dulu berada disana. Lucy membantu memegangi gaun Gisel yang panjang.
Didepan pintu ruang pernikahannya, sudah ada Ayah Brian yang menunggu disana, siap mendampingi Gisel.
"Sudah siap, Nak?"
"Iya, Ayah."
__ADS_1
"Jalan pelan-pelan, ya, Nak."
Bella melepas tangan Gisel dan membiarkan Gisel meraih tangan ayahnya. Pintu ballroom pun terbuka. Gisel berjalan di sepanjang karpet merah dengan langkah kaki yang anggun didampingi Ayah. Sudah nampak Brian yang menunggu di depan pendeta untuk mengucap janji pernikahannya. Brian tersenyum melihat wanitanya mengenakan gaun pernikahan yang sangat indah.
Gisel melewati para tamu yang hadir dengan senyuman manisnya. Meja round table yang menghiasi ruangan itu membuat pernikahan Gisel dan Brian sangat terlihat mewah. Dekorasi serba putih dan silver yang dipilih Gisel terlihat begitu indah.
Ayah melepas tangan Gisel perlahan dan meninggalkan Gisel berada di altar dengan Brian.
Mereka mengucap janji pernikahan secara bergantian.
Edith hadir disana, begitu juga Liana. Gisel mengundang kerabat dekat dan keluarga. Ayah dan IBu juga mengundang kolega bisnisnya.
Setelah mengucap janji pernikahan, Brian menyematkan cincin berlian di jemari Gisel. Setelah itu mereka berciuman kemudian diiringin tepuk tangan tamu yang hadir disana.
Gisel dan Brian memotong kue pernikahan yang tinggi dan dilanjutkan dengan menyuap kuenya.
Pernikahan Gisel dan Brian berlangsung sangat mewah dan menyenangkan. Gisel tidak akan pernah melupakan hari bahagia ini selama hidupnya.
Ayah dan Ibu Brian tersenyum bahagia melihat Brian menikahi gadis yang baik hatinya terlepas apapun masa lalunya. Mereka sudah menutup mata dengan masa lalu Gisel. Mereka hanya melihat Gisel yang sekarang./ Gisel yang baik, sopan dan mampu membuat hati Brian melunak. Berkat kehadiran Gisel dalam hidup Brian, Brian menjadi lebih lembut dan mampu mengendalikan amarahnya jika suatu saat bisa meledak.
******************
"Lihat deh." kata Brian menyerahkan amplop putih pada Gisel di meja riasnya. Gisel baru saja selesai membersihkan wajahnya.
"Sesuatu yang mungkin kamu suka." jawab Brian
Gisel membuka amplop itu dan mengeluarkan tiket pesawat di dalamnya.
"Lombok?" ujar Gisel kaget sekaligus merasa senang
"Kamu suka? Kita akan berangkat kesana besok malam." kata Brian
"ini serius?" tanya Gisel tidak percaya
"Masa aku bohong sih?" tanya Brian menyentuh hidung Gisel
"Aku senang banget, aku nggak pernah kesana. Apa kamu ingat ya kalau aku pernah bilang mau kesana?" tanya Gisel tersenyum riang
"Aku ingat kalau kamu suka pantai. Makanya aku mau ajak kamu bulan madu kesana." jawab Brian.
"Terima kasih ya, Sayang." kata Gisel. Kini ia tidak perlu malu-malu lagi memanggil 'sayang' di depan Brian.
"Maaf ya, kita nggak bisa keluar negeri dulu. Kamu pasti belum ada passport kan? Butuh waktu buat ngurusnya soalnya." kata Brian
"Nggak apa-apa. Nggak apa-apa banget! Ini aja aku udah seneng banget. Pokoknya kamu nggak usah mikir jauh-jauh. Bisa bulan madu sama kamu aja aku nggak pernah bermimpi seperti itu. Apalagi ini, jadi kenyataan, aku senang banget." jawab Gisel tersenyum ceria.
__ADS_1
"Makasih ya, sudah mau jadi pendamping hidup aku. Aku jamin aku akan selalu melindungi kamu dan memperlakukan kamu sebaik mungkin." kata Brian menatap Gisel dengan dalam
"Iya sama-sama. Terima kasih juga ya sudah mencari aku dan menunggu aku selama ini." jawab Gisel.
Brian mendekatkan wajahnya ke arah Gisel. Gisel menerima dengan sepenuh hati ciuman dibibir yang diberikan oleh suaminya, Brian.
Pernikahan ini masih baru. Entah rintangan apa yang akan menghampirinya nanti, ia akan menjaga hubungan pernikahannya agar tetap hangat dan tidak membosankan.
Brian tersenyum, begitu pula dengan Gisel.
"Kamu tahu nggak sejak kapan aku mulai suka sama kamu?" tanya Brian
"Nggak tahu. Eh iya kapan? Aku beneran nggak tahu loh.."
"Waktu pertama kali kita ketemu di minimarket. Waktu itu aku tanya, kamu suka hujan ya? Kamu jawab iya."
"Ah serius? Itu kan lama banget."
"Iya serius. Waktu itu kamu masih cantik banget. Masih polos."
"Oh, jadi sekarang udah nggak ya?"
"Sekarang tambah cantik dong. Ditambah lagi nanti aku bakal bebasin kamu buat perawatan."
"Serius? Beneran ya?"
"Serius lah, masa nggak. Kamu istri aku sekarang. Kamu mau ngapain aja itu terserah kamu. Asal kamu bisa menjaga diri kamu dengan baik."
"Iya, Sayang..."
Brian memeluk Gisel dengan penuh rasa kasihnya. Ia mencintai wanita ini lebih dari apapun. Begitu pula Gisel. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbanan Brian yang sudah membantunya keluar dari dunia malam yang selama ini ia jalani.
--------------------------------E N D---------------------------------------------------------------
Akhirnya aku menyelesaikan novelku, Meet Me at Midnight..
Terima kasih, terima kasih banyak buat semua teman-teman yang dukung dan upvote karyaku ini. Aku harap kalian menyukai karyaku ini ~~~
Terima kasih banyak ^^~
Yang belum upvote, bantu upvote yuk..
Sekali lagi terima kasih banyak~~
Jaga selalu kesehatan kalian yaa ^^
__ADS_1