Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Buket Bunga


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Gisel menjalani hari barunya dan berusaha memaafkan masa lalunya. Berdamai dengan hatinya akan masa lalunya. Walau Ayah Brian sudah mengakui kesalahannya pada Gisel, Gisel masih merasakan ada sesuatu yang berbeda. Tetapi perlahan ia ingin memperbaiki hatinya. Terlebih lagi itu adalah ayahnya Brian. Seseorang yang mungkin akan menjadi keluarga Gisel nantinya.


Brian seperti biasa, masih sibuk dengan pekerjaannya, tetapi ia berusaha meluangkan waktunya untuk Gisel. Bertemu dan makan malam. Walau sangat sulit mengatur waktu Brian tapi Brian tidak pernah absen menelepon Gisel.


Kring... Kring...


Ponsel Gisel berbunyi. Gisel yang sedang merapikan baju di butik sgerea melihat layar ponselnya. Itu telepon dari Brian. Gisel segera mengangkat telepon dari Brian.


"Hai." sapa Gisel.


"Lagi apa?" tanya Brian di seberang telepon.


"Aku hanya sedang merapikan baju di butik. Liana belum datang." jawab Gisel.


Ya, tentu saja. Biasanya pemilik butik akan datang lebih terlambat daripada yang bukan punya butik kan? kata Gisel dalam hati.


"Nanti siang kita makan bersama ya. Bisa kan?" tanya Brian. Gisel tersenyum. Ia merasa senang bukan main jika Brian memiliki waktu seperti ini.


"Kamu sudah ada waktu?" tanya Gisel sambil memainkan baju yang ada di meja. Tangannya usil sekali saat teleponan dengan Brian. Ia benar-benar seperti anak remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta.


"Ah, apakah aku terlalu sibuk? Maafkan aku ya. Aku akan lebih memperhatikan waktuku agar bisa bertemu denganmu lebih sering." kata Brian.


Selama ini, Gisel sangat menyukai Brian. Sudah bertahun-tahun lamanya ia terpisah dari Brian untuk bertahan hidup. Sekarang ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Brian dengan sebaik mungkin.


"Ah tidak juga kok. Aku mengerti kamu pasti sibuk menangani perusahaan. Selama itu tentang perusahaan, aku tidak masalah."


Tidak lama kemudian, Liana datang  Melihat Gisel teleponan dan tersenyum-senyum sendiri membuat Liana geli sendiri melihatnya.


"Aduh, aduh. Dasar wanita yang sedang dimabuk asmara. Menggelikan sekali." kata Liana sambil meletakkan tasnya dilaci.


"Liana sudah datang?" tanya Brian.


"Ya, baru saja."


"Baguslah. Berarti tidak perlu khawatir kan meninggalkan butik? Kan ada Liana."


Gisel tertawa mendengar Brian.


"Oke, Oke. Kirim alamatnya ya, nanti aku datang."


"Loh, jangan dong, nanti aku saja yang akan menjemput kamu." kata Brian.


"Serius?"

__ADS_1


"Iya, pokoknya kamu bersiap saja ya nanti." kata Brian sambil menutup teleponnya.


Liana yang melihat Gisel tersenyum menjadi cemburu karena dirinya tidak mempunyai paangan yang bisa ia ajak bermesraan.


"Enaknya, yang lagi jatuh cinta." kata Liana disambut dengan senyuman Gisel yang ceria.


"Biarkanlah sahabatmu ini merasakan kebahagiaan, Li." sahut Gisel.


"Jadi, hari ini kamu nggak kemana-mana kan?" tanya Liana sambil membuka buku catatan penjualan.


"Oh, tentu kemana-mana dong. Hari ini kamu di butik ya, aku udah datang dari pagi loh, dan kamu lihat deh udah mau jam makan siang baru datang."


"Ih, kamu mau kemana?" tanya Liana merasa iri sahabatnya akan pergi berkencan.


"Aku mau makan siang sama Brian. Nggak apa-apa kan?"


"Aaahhh aku iri, iri, iri. Kapan sih aku mmenemukan seseorang yang bisa mengerti keadaanku dan menerima aku apa adanya sama seperti kamu?"


Gisel tersenyum dan memeluk Liana.


"Nanti pasti ada, ada kok. Sabar ya."


******


"Pak Liam, aku akan pergi makan siang. Jika aku terlambat, paling nanti sampai jam dua siang." kata Brian pada Liam.


Bella yang melihat Brian terburu-buru dan tidak sempat menyerahkan berkasnya.


"Brian, ini berkas..."


"Nanti saja, Kak, aku ada janji dulu ya.." kata Brian terburu-buru. Brian segera  ke basement dan menuju mobilnya.


Sebelum ke restoran yang dituju, Brian mampir ke sebuah toko bunga. Ia membeli beberapa bunga mawar yang diikat dalam satu ikatan dan diberi hiasan. Buket bunga dominasi warna merah dan putih itu terlihat sangat cantik. Brian juga menulis kartu ucapan untuk Gisel.


Brian sama seperti Gisel yang sedang dimabuk cinta. Bedanya hanya pada usia mereka yang tidak lagi remaja. Tapi tidak apa-apa.Jatuh cinta bisa diusia berapa saja. Yang dipermaslahkan bukanlah usia. Tapi kesiapan mental menghadapi kehidupan selanjutnya.


Brian telah sampai di butik Liana. Ia membuka pintu butik layaknya butik miliknya sendiri. Mel;ihat Liana yang sedang merapikan riasannya, Brian tersenyum dan menyapa Liana terlebih dahulu.


"Halo, Liana. Apa kabar?" sapa Brian dengan senyum yang lebar.


"Baik." jawab Liana dengan memancarkan senyum palsunya. Brian tertawa melihat Liana memaksakan senyumannya padanya.


"Apa kamu marah padaku sampai kamu tersenyum palsu seperti itu?"

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa marah sama orang tajir melintir seperti kamu?" jawab Liana asal. Brian tertawa mendengar jawaban Liana.


"Jaga Gisel ya, jangan bikin dia sedih lagi. Awas loh ya, kamu!" ancam Liana. Tapi ternyata ancaman itu tidak berhasil karena Brian pasti menjaga Gisel dengan baik.


Tidak lama kemudian Gisel keluar dari dalam dengan dress motif bunga yang cantik. Merias wajah dengan riasan tipis. Gisel terlihat sangat cantik dengan dress itu. Liana mencoba meledek Brian lagi dengan tatapannya yang hanya fokus pada Gisel.


"Awas ya, mata kamu nanti keluar kalau melihat Gisel seperti itu." kata Liana. Gisel tersipu malu diledeki oleh Liana seperti itu. Brian dan Gisel segera pergi dari butik agar tidak menjadi bahan ledekan lagi oleh Liana.


Brian memperlakukan Gisel dengan sangat baik. Layaknya putri yang tidak boleh terluka sedikitpun.


Mulai dari membukakan pintu, mempersilakan Gisel masuk sampai memasangkan sabuk pengaman untuk Gisel.


"Kenapa kamu membuatku malu dengan memperlakukan aku seperti itu?" tanya Gisel


"Aku mau memperlakukan kekasihku dengan baik. Selama ini aku sudah kehilangan kesempatan bertemu dengan, Aku ingin memperlakukanmu dengan selayaknya pria menjaga wanita." ujar Brian tersenyum.


Gisel tidak dapat berkata-kata. Ia juga tersenyum melihat Brian tersenyum seperti itu.


Sebelum menjalankan mobilnya, Brian mengambil buket bunga yang sudah ia beli sebelumnya di toko bunga. Disana tertulis


'Hai Gisel, makan siang yuk."


Sekilas, Gisel tertawa kecil melihat kartu ucapan disana. Mencium wanginya bunga mawar itu.


"Thanks ya, Brian." kata Gisel.


"Kita jalan sekarang ya."


Gisel menagngguk. Itu adalah makan siang yang sangat indah bagi Gisel. Belum pernah ia makan siang dengan seorang pria yang begitu romantis. Ia amat sangat beruntung bertemu Brian selama kehidupannya.


"Kamu nggak pesan restoran yang mahal-mahal kan?" tanya Gisel khawatir.


"Memang kenapa?"


"Aku nggak mau membebani kamu dengan makan ditempat yang mahal."


Brian tertawa terbahak-bahak di dalam mobil.


"Kenapa kamu khawatir dengan hal itu?"


"Nggak apa-apa sih, cuma aku..."


"Yasudah. Nggak usah dipikirkan. Makan tinggal makan. Kenapa kamu pusing mahal atau nggak? kan yang bayarin aku." ucap Brian membuat Gisel memjadi salah tingkah.

__ADS_1


Hari ini, mereka benar-benar seperti pasangan muda yang dimabuk asmara. Begitu banyak yang mereka lewati selama ini. Dan baru hari ini kesempatan mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


__ADS_2