Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Bertemu Edith


__ADS_3

Akhirnya Brian dan Gisel tiba di apartemen dan benar saja sudah ada Marcus di dalam sana yang telah menunggu Gisel.


"Halo, Gisel..." kata Marcus menyambut Gisel dengan senyum yang lebar. Tapi sayang, senyum Marcus tidak bertahan lama karena harus melihat Brian datang bersamanya.


"Siapa ini, Gisel? Kenapa kamu membawa lelaki lain kesini?" tanya Marcus sedikit kecewa dengan Gisel. Gisel semakin merapatkan dirinya dengan Brian. Brian merasakan tubuh Gisel semakin mendekat padanya.


"Sebaiknya kamu keluar dari apartemen Gisel dan jangan pernah berpikir bisa mendapatkan dia." kata Brian dengan sedikit angkuh.


"Kenapa? Kamu mungkin baru saja bertemu dengan Gisel. Tapi aku? Aku bertemu dengannya selama tiga tahun. Aku juga sudah banyak membantu Gisel. Dan aku rasa aku wajar bisa tidur dengannya. Sedangkan kamu? Baru beberapa malam dengam Gisel saja sudah merasa tahu seperti apa Gisel?" kata Marcus.


Rahang Brian mengeras. Ia semakin kesal dengan perkataan Marcus. Kemudian Marcus melihat arah Gisel yang ternyata telah melontarkan senyum sinisnya.


Gisel sedikit melangkah ke depan dan melepas tangan Brian.


"Hei, Marcus. Sadarkan dirimu. Kamu banyak membantuku? Siapa yang sudah membuangmu ke jalanan dan siapa yang sudah mengulurkan tangan padamu?" Gisel menatap Marcus dengan tajam. Ia benci dengan apa yang baru saja Marcus katakan.


"Kamu mengenalku selama tiga tahun seolah kamu mengerti segalanya bahkan kamu tidak tahu kalau aku tidak suka acar timun tapi kamu masih memberikannya?"


Marcus terdiam dengan tatapan Gisel yang melihatnya dengan benci. Tatapan Gisel kali ini sungguh berbeda dari biasanya. Marcus merasa ia bukanlah Gisel yang ia kenal selama ini.


"Kamu merasa wajar tidur denganku? Apa kamu nggak punya uang untuk tidur bersama pelacur?! Dasar ****!" Gisel sempat ingin memukul Marcus, tetapi Brian langsung menahan tangan Gisel.


"Gisel, kendalikan dirimu, Gisel." kata Brian menenangkan Gisel.


Tapi Gisel terus meronta, ingin sekali ia mencabik - cabik wajah Marcus yang terlihat maskulin. Kemudian, petugas polisi yang memang sudah berjaga di depan pintu langsung masuk ke dalam apartemen Gisel dan mengeluarkan sepasang borgol. Petugas itu segera mengikat tangan Marcus dengan borgol.


"Apa salah saya? Kenapa saya diborgol begini?" tanya Marcus tidak terima dirinya ditangkap secara mendadak.


"Anda telah mengganggu dan mengancam secara verbal saudari Gisel. Mohon ikut kami ke kantor polisi." kata seorang polisi. Marcua segera digiring untuk keluar dari apartemen Gisel.


Brian segera mendudukkan Gisel di sofa. Dan Brian segera keluar menemui beberapa petugas polisi dan juga Marcus.


"Sebaiknya kamu tidak kesini lagi." kata Brian. Marcus menyeringai dengan tawa yang sinis.


"Kamu pikir kamu siapa? Baru beberapa hari kan kamu bersama Gisel?" tanya Marcus meyakinkan dirinya.


"Aku?" tanya Brian dengan wajah yang bingung. Kemudian ia menghampiri Marcus dengan senyum yang sinis pula.


"Kamu tahu kan Salim Group?"


"Ya. Lalu kenapa? Apa hubungannya? Semua itu nggak ada hubungannya!" kata Marcus menyepelekan.


"Aku pemiliknya." jawab Brian dengan senyum kemenangan yang tidak bisa dibalas oleh Marcus. Marcus hanya diam dan mengikuti arahan petugas polisi untuk masuk ke dalam lift.


Gisel duduk di sofa dan menelungkupkan wajahnya. Brian menghampirinya dan duduk di sebelah Gisel.


"Gisel." panggil Brian lembut.


Gisel yang sedang menenangkan hatinya, menengadahkan wajahnya menghadap Brian.


"Besok kita ganti kunci pintu apartemenmu." kata Brian. Gisel tidak menjawab. Ia menyandarkan kembali kepalanya di bangku sofa yang empuk.


"Kamu sudah tahu kan bagaimana orang - orang menganggapku? Aku hanya wanita yang bisa dipakai oleh mereka kapanpun. Dan hanya dengan sedikit pengorbanan, mereka berpikir bisa memiliki aku." kata Gisel dengam lemah. Matanya layu dan tidak ada kekuatan di dalam sana.


"Aku akan mengubah semuanya. Kamu tidak bisa direndahkan seperti ini." kata Brian. Gisel menegakkan kepalanya dan menatap Brian.


"Kamu nggak malu jalan bersamaku?" tanya Gisel.


"Fokuslah pada masa depanmu." jawab Brian. Gisel tidak menjawab apapun lagi. Brian bangkit dari duduknya dan menuju pintu apartemen Gisel. Ia memencet beberapa tombol agar passcodenya berubah.


"Sudah malam. Sebaiknya ini diganti dulu." kata Brian. Ketika sedang memencet beberapa tombol, punggung Brian terasa hangat. Gisel memeluknya dari belakang.


"Terima kasih. Aku nggak tahu bagaimana jadinya kalau nggak ada kamu." kata Gisel.


Brian merasa senang di dalam hatinya. Gisel bisa mengerti dan menyambut hatinya. Brian sadar bahwa Gisel memiliki masa lalu yang tidak sempurna. Tapi bukan itu yang Brian inginkan. Brian hanya perlu Gisel menemani hidupnya. Mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Brian tahu persis bagaimana hati Gisel.


Brian tersenyum. Mengelus punggung tangan Gisel yang memeluk dirinya dari belakang.

__ADS_1


*****


Maureen tersenyum melihat pesan yang ada di ponselnya. Edith yang sejak tadi sedang mengedit desain, merasa terganggu dengan senyum Maureen yang tidak kunjung henti.


"Kamu tidak membuat desain?" tanya Edith pada Maureen.


"Sebentar lagi." jawab Maureen masih fokus dengan ponselnya.


"Ada berita lucu?" tanya Edith mulai penasaran.


"Aku lagi chatting sama Gisel." jawab Maureen.


"Lagi?" tanya Edith sedikit kesal dengan yang bernama Gisel.


"Aku nggak habis pikir kamu bisa kontak sama dia." jawab Edith melanjutkan desainnya..


"Dia sudah berhenti kerja di kelab. Sekarang dia kerja di butik temannya." kata Maureen memberitahu Edith.


"Aku nggak nanya kok." kata Edith sinis.


"Aku tahu mungkin kesannya dia wanita penggoda. Dengan kerja di kelab malam pastì kamu kira dia wanita yang nggak bener. Tapi beneran deh. Dia ini orangnya baik dan enak kok diajak ngobrol." kata Maureen.


"Apa kamu udah dapet pengganti Farshall?" tanya Edith kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Aku nggak mau pacaran dulu. Aku mau nemuin yang cocok nanti. Jadi aku mau menikmati masa - masa sendiriku dulu." jawab Maureen.


"Sebentar lagi jam pulang. Kamu mau langsung pulang? Aku mau ke kantor Brian dulu." kata Edith mulai siap - siap merapikan barang - barangnya.


"Ke kantor Brian lagi? Ngapain, Dith? Kamu lebih baik menanggapi Diaz, bagian accounting yang suka sama kamu daripada kamu mengharap yang nggak pasti dari Brian." kata Maureen mengingatkan.


"Aku sudah di tolak kok sama Brian." jawab Edith.


"Lalu buat apa lagi kamu ke kantor Brian? Masih mengharap sesuatu yang nggak pasti atau gimana?" tanya Maureen mulai tidak mengerti dengan jalan pikiran Edith.


"Sampai sekarang aku belum lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Brian bahagia dengan wanita pilihannya itu. Jadi masih ada kesempatan dong buat aku ngedapetin hati Brian?" Edith masih bersikeras untuk bisa mempertahankan Brian di hatinya.


Edith terdiam mendengar perkataan Maureen.


"Aku sudah siap patah hati lagi kok kalau dia sudah bahagia." jawab Edith tersenyum dan sudah mengambil tasnya untuk segera pulang.


"Aku duluan ya."


Edith meninggalkan Maureen di dalam kantor. Dan ponsel Maureen berbunyi lagi. Gisel mengirim foto ketika dia sedang menikmati suasana sore di Flavor Garden bersama seorang lelaki yang tidak terlihat wajahnya.


Maureen tersenyum dan membalas pesan Gisel.


Congrats! Akhirnya kamu bisa bahagia. I'm so happy to see that.


*****


Ponsel Brian berbunyi. Edith menelponnya. Sekarang, Brian bertemu dengan Gisel setelah pulang jam kerja. Jadi tidak ada alasan bagi Bella untuk menceramahinya macam - macam.


Brian mengangkat telpon dari Edith dan memberitahu dimana posisi Brian saat ini.


"Sahabatku sejak kuliah mau datang kesini. Aku mau memperkenalkan kamu ke dia. Nggak keberatan kan?" tanya Brian pada Gisel yang masih membalas chat dari Maureen.


"Kamu yakin? Aku malu lho." kata Gisel.


"Sebentar lagi dia datang. Nggak usah malu. Dia sahabatku kok." kata Brian. Kemudian Brian melambai - lambaikan tangannya pada Edith. Edith segera menghampiri Brian yang sedang duduk bersama Gisel.


Walau hati Edith berdebar karena baru pertama kali ini ia bertemu dengan wanita yang Brian sukai. Selama ini, hanya Edith-lah wanita yang selalu bersama Brian. Kini, Edith tidak bisa lagi melakukan itu. Ia harus sadar dan kembali pada kenyataan bahwa Brian memang punya wanita lain di dalam hatinya.


"Halo." sapa Edith dengan mengulas senyum di wajahnya. Dan betapa kagetnya Edith ketika melihat Gisel, wanita malam yang sempat menjadi orang ketiga antara Maureen dan Farshall.


Gisel tersenyum sambil merapikan rambutnya yang tertiup karena angin.


"Halo." balas Gisel menyapa Edith.

__ADS_1


Brian yang bingung melihat Edith hanya berdiri saja, menyadarkan Edith dari lamunannya.


"Edith, kamu kenapa sih? Ayo duduk." kata Brian memberikan tempat duduknya pada Edith. Edith mengendalikan emosinya. Ingin sekali ia marah pada wanita ini. Wanita yang telah menghancurkan hubungan Maureen dan Farshall. Terlebih lagi, Brian cinta mati dengan Gisel.


"Ini wanita yang kamu ceritain itu, Brian?" tanyw Edith sedikit kaku ketika melihat Gisel.


"Iya, namanya Gisel." kata Brian memperkenalkan. Gisel tersenyum dan mengulurkan tangannya agar bisa bersalaman dengan Edith.


"Halo. Maaf, kamu kaget ya." kata Gisel dengan ramah. Senyumnya manis, membuat Edith terlihat minder ketika dibandingkan dengan Gisel.


"Baru pertama kali lihat kamu." jawab Edith. Hatinya merasa sakit. Bukan karena wanita itu adalah Gisel. Tapi karena Gisel adalah wanita malam yang bekerja di kelab. Yang telah diraba oleh puluhan lelaki yang datang ke kelab pastinya.


"Kamu kerja dimana?" tanya Edith mengalihkan pembicaraannya.


"Di butik seberang sana." jawab Gisel dengan senyum.


"Oh ya. Sudah pernah pacaran sebelumnya?" tanya Edith. Hati Gisel langsung merasa tidak enak.


"Belum. Kenapa?" Gisel masih mencoba bersikap biasa saja dan ramah pada Edith.


"Brian belum pernah pacaran. Bahkan aku ditolak sama dia karena dia masih cinta sama cinta pertamanya." kata Edith dengan tatapan mata yang tidak suka pada Gisel.


Senyum Gisel sedikit memudar. Tapi ia masih berusaha untuk tetap ramah.


"Begitu ya."


"Jadi jangan coba - coba membodohi Brian dengan kamu selingkuh sama lelaki lain ya. Walau kamu nggak ada status pacaran." kata Edith dengan sinis.


"Maksud kamu apa ya?" Gisel merasa jengkel karena Edith bicara sesuka hatinya seperti ini. Brian langsung melototi Edith agar tidak bicara sembarangan.


"Edith, kamu kenapa sih?" tanya Brian yang sudah merasa tidak sabar. Ia menarik tangan Edith agar bisa leluasa bicara dengannya tanpa Gisel.


Gisel hanya menatap bingung kenapa Edith bisa berkata seperti itu. Brian membawanya cukup jauh dari Gisel agar tidak bisa mendengar pembicaraannya.


"Maksud kamu apa bicara begitu di depan Gisel?" tanya Brian.


"Brian, it's okay kamu suka wanita lain atau cinta pertama kamu atau apapun itu. Tapi kenapa harus Gisel?" tanya Edith tidak mengerti bagaimana Brian bisa menyukai wanita seperti Gisel.


"Tapi kamu nggak perlu bicara seperti itu. Itu sama saja kamu menyakiti hatinya. Kamu baru tahu dia, kamu baru kenal. Kamu nggak bisa basa basi dulu?" Kini, Brian yang tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Edith.


"Brian. Dia itu wanita malam. Dia bekerja di kelab malam dan entah sudah ada berapa lelaki yang pastinya tidur sama dia dan aku nggak mau kamu jatuh cinta dengan wanita seperti itu, Brian!" ujar Edith.


"Jadi itu masalahnya? Karena dia kerja di kelab malam dan kamu berhak bicara macam - macam tentang dia?" Brian mulai meninggikan sedikit nada bicaranya.


"Bukan itu maksudku Brian..." Edith kini merasa sedikit merasa bersalah. Belum pernah ia melihat Brian dengan tatapan tajam seperti itu.


"Gisel itu nggak punya siapa - siapa. Dia nggak bisa melanjutkan kuliah dan tidak punya apa - apa untuk biaya hidup. Kamu pikir dia mau hidup seperti itu? Aku sudah lihat bagaimana dia di teror oleh kliennya dan itu juga menyakitkan buatku. Gisel terpaksa menjalankan itu semua. Setelah bertemu denganku dia setuju keluar dari kelab dan merubah hidupnya. Perlahan dia bekerja di toko butik dan aku apresiasi untuk semua perubahannya Gisel. Begitu bertemu denganku, dia merelakan semua kehidupan malamnya dan berubah menjadi lebih baik." jelas Brian panjang lebar.


Edith terdiam mendengar penjelasan Brian. Hatinya sakit dan sedih.


"Aku yang keras kepala ingin Gisel hidup lebih baik. Aku juga ingin Gisel fokus pada masa depannya." lanjut Brian. Edith hanya memandangi mata Brian yang berapi - api.


"Jadi aku mohon. Jangan punya prasangka apapun. Kamu nggak tahu hidup yang Gisel jalani itu sangat sulit." kata Brian merendahkan nada bicaranya.


Angin terus menyapu rambut Edith sehingga menghalangi pandangannya. Melihat keseriusan di wajah Brian, Edith yakin bahwa sudah tidak ada tempat di hati Brian untuk disinggahi.


"Baiklah. Maafkan aku." kata Edith merapikan rambutnya.


"Minta maaflah pada Gisel. Aku akan beli sesuatu. Aku berikan waktu untuk kalian bicara." Brian langsung pergi meninggalkan Edith. Edith merasakan sakit yang amat dalam ketika Brian meninggalkannya.


Edith kembali duduk menghampiri Gisel. Sesekali merapikan rambut karena suasana outdoor membuat angin terus menyapu wajah mereka.


"Maafkan aku, Gisel. Aku tidak bermaksud..."


"Nggak apa - apa, Edith..." kata Gisel memegang tangan Edith dengan senyum tulus di wajahnya.


"Aku paham maksud kamu. Kamu hanya khawatir sama Brian."

__ADS_1


Edith semakin heran dengan Gisel. Mungkin Maureen benar. Walaupun Gisel terlihat seperti wanita malam yang jahat untuk ukuran wanita yang lain, tapi sebenarnya hati Gisel tidak sejahat itu. Hatinya seperti malaikat yang jarang dimiliki kebanyakan wanita. Dan tidak heran jika Brian tergila - gila padanya.


__ADS_2