Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Pengakuan Gisel


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, mereka kembali duduk di ruang tamu dengan sofa yang besar dan nyaman. Ibu menyediakan puding sebagai makanan pencuci mulut.


"Terima kasih ya, Gisel, sudah mau datang kemari." kata Ibu mengelus pundak Gisel. Hati Gisel sedikit berdesir hangat karena sudah lama ia tidak merasakan sentuhan seorang ibu.


"Kamu sudah kenal berapa lama dengan Brian?" tanya Ayah meminum teh hangatnya.


"Sudah lama sekali, Om. Waktu saya sekolah dulu, dia teman saya tapi beda komplek." jawab Gisel.


"Benarkah? Memang dulu kamu tinggal di komplek apa?" Ayah semakin penasaran.


"Saya tinggal di komplek Buana dulu." jawab Gisel.


"Komplek Buana?" Ayah seperti mengingat kembali nama komplek itu.


"Itu lho, Yah, komplek dekat Permata. Dulu di tengah - tengahnya ada minimarket." jawab Bella membuka suaranya.


"Oh disitu. Iya. Ayah punya teman disitu. Namanya ada Zahran - Zahrannya juga. Zahran siapa ya?" Ayah seperti mengingat sesuatu yang terlupa.


"Gery Zahran?" tanya Gisel mencoba memastikan.


"Oh iya. Gery. Dulu Om berteman baik dengan Pak Gery. Dia juga bekerja di perusahaan Om dulu. Lalu bagaimana kabar kalian?" tanya Ayah.


"Kami sekeluarga sempat pindah ke Kalimantan, Om." jawab Gisel.


"Ah, iya. Kalimantan. Om lupa. Dulu saat Salim Group sedang krisis, sempat ada perdebatan antara Om dan Ayahmu. Karena memang ada salah satu anak perusahaan Salim Group yang di Kalimantan sempat tidak terurus. Awalnya Om yang ingin berangkat ke Kalimantan. Tapi entah mengapa Ayahmu memaksa agar dia yang pergi kesana." cerita Ayah panjang lebar.


Gisel terdiam mendengar Ayah Brian yang sangat lancar menceritakannya. Hati Gisel seperti tertusuk pisau yang sangat tajam. Entah mengapa hati Gisel sangat sakit mendengar cerita Ayah Brian.


"Om, apakah tidak pernah mencoba menghubungi Ayah saya selama ini?" tanya Gisel yang kini merasa penasaran.


"Pernah beberapa kali telpon. Dan Gery bilang usahanya baik - baik saja di Kalimantan. Om juga sibuk memulihkan kembali perusahaan yang hampir bangkrut. Om senang akhirnya bisa bertemu denganmu disini. Kamu sudah besar dan tumbuh cantik ya." kata Ayah Brian sambil tertawa sesekali.


Tapi Gisel merasa tidak senang dengan pujian itu. Wajahnya terlihat murung dan hatinya sangat sedih.


"Lalu bagaimana kabar Ayahmu sekarang? Masih di Kalimantan? Atau ikut kamu ke Jakarta?"


DEG!


Sekilas ia merasa benci dengan senyum Ayah Brian.


"Ayah saya sudah meninggal, Om."


Gisel berusaha mengendalikan emosinya yang tidak karuan. Brian memperhatikan wajah Gisel yang sudah mulai berubah. Tidak ada lagi senyum di wajahnya. Kini, kepiluan yang ada dalam nada suara Gisel.


Ayah Brian terkejut dengan apa yang dikatakan Gisel. Begitu pula dengan Ibu dan juga Brian. Ibu mengelus punggung Gisel.

__ADS_1


"Benarkah, Gisel? Maaf Om tidak tahu. Om turut berduka cita."


Gisel menatap tajam wajah Ayah Brian. Semakin ia banyak bicara, semakin terasa benci Gisel mendengarnya. Brian khawatir jika Gisel mengamuk detik ini juga.


Gisel ingin menceritakan yang sebenarnya. Tapi hatinya terlalu sakit. Tenggorokannya tercekat dan airmatanya menutupi pandangannya.


"Yah. Kehidupan Gisel dan keluarganya di Kalimantan tidak berjalan dengan cukup baik." kata Brian mewakili perasaan Gisel. Brian yang duduk di sebelah Gisel, menggenggam tangan Gisel yang sedikit gemetar.


"Perusahaan Ayahnya yang di Kalimantan terbakar dan Ayah Gisel terjebak dalam gudang yang terbakar." cerita Brian.


Gisel sedikit terkejut Brian mengetahui kehidupannya selama berada di Kalimantan.


Ibu menutup mulutnya yang terkejut. Bella mencondongkan tubuhnya. Tertarik dengan apa yang Brian ceritakan. Ayah terlihat merasa bersalah.


"Setelah Ayahnya meninggal, Ibu Gisel jatuh sakit. Dan tidak kunjung sembuh..." lanjut Brian kemudian perkataan Brian dipotong oleh Gisel dengan cepat.


"...Kemudian keuangan keluarga saya semakin lama semakin menipis. Ibu meninggal karena sakit." Gisel menguatkan hati untuk menceritakan yang sebenarnya.


Kini tidak ada gunanya lagi menutupi masa lalunya pada keluarga Brian. Toh, cepat atau lambat, keluarganya juga akan tahu. Masalah ia bisa diterima atau tidak, sekarang bukan jadi prioritas utama Gisel.


"Gisel mencoba mencari uang untuk makan bersama Nenek. Bekerja di rumah orang kaya, mencuci baju, menyetrika baju bahkan ketika Gisel tidak punya uang lagi, Gisel memutuskan berhenti sekolah. Karena setiap yang Gisel kerjakan selalu dianggap rendah dan mereka menghina kalau Gisel tidak bisa melakukan apapun selain dengan kecantikan wajahnya. Gisel tidak melanjutkan kuliah. Dan dari situlah hidup Gisel hancur."


Gisel menumpahkan air matanya dan menghapusnya. Tetapi air mata itu tetap saja terjatuh.


Ibu mengangguk pada Gisel yang juga menumpahkan air matanya. Hatinya merasa hancur mendengar cerita Gisel.


"Kalau kamu tidak sanggup menceritakan, tidak apa - apa, Nak." ucap Ibu mengelus punggung Gisel.


"Gisel menjadi wanita malam yang menghibur pria hidung belang." kata Gisel. Pengakuan Gisel pada keluarga Brian memghancurkan hati Brian seketika.


Ayah, Ibu dan Bella terlihat sama terkejutnya dengan pengakuan Gisel.


"Gisel akan mengaku di depan Om, Tante dan juga Kak Bella. Dan Gisel tidak akan menipu kalian semua dengan wajah Gisel." ucap Gisel.


"Kenapa kamu melakukan hal itu, Nak?" tanya Ayah Brian.


"Gisel terpaksa, Om. Gisel lelah dihina oleh orang banyak. Gisel ingin punya uang. Punya rumah dan juga mobil. Tapi Gisel tetap menaruh harapan dalam hati jika ada jalan untuk bisa keluar dari jebakan ini, Gisel pasti akan keluar." lanjut Gisel.


Ayah menghela napas. Ibu pun merasa hatinya hancur.


"Brian menolong Gisel untuk keluar dari kehidupan malam Gisel. Dia melakukan apapun agar Gisel menjadi lebih baik. Terdengar klise. Tapi Gisel bersumpah sudah benar - benar keluar dari kehidupan malam itu."


Ayah terlihat sedikit berpikir akan mengatakan apa pada Gisel, disamping rasa bersalahnya karena telah menempatkan Gery di Kalimantan.


"Wah. Hebat. Jadi kamu adalah wanita penghibur?" tanya Bella sambil tertawa menyeringai.

__ADS_1


"Kak!" bentak Brian agar tidak memperkeruh suasana. Gisel menghapus kembali air matanya.


"Gisel tidak akan memaksa masuk ke keluarga Om, jika Om tidak mengijinkan, Gisel akan mundur. Gisel pun tahu diri, Om. Mana mungkin wanita seperti Gisel bisa menerima keramahan dan kebaikan Om."


ucap Gisel.


Hati Ayah bagai tertusuk benda tajam. Ia merasa sesak karena bersalah pada Gery. Terlebih lagi pengakuan Gisel barusan membuatnya cukup shock.


Ibu memeluk Gisel dan menguatkan hati Gisel. Ibu tidak bisa berkata banyak, karena tidak mengalami apa yang Gisel alami.


"Kamu sudah cukup kuat, Nak, selama ini. Ibu sangat berterima kasih, pasti ada alasan kamu bertemu dengan Brian."


Gisel tidak bisa menahan tangisnya lagi. Kerinduan pada Ibunya serta pelukan Ibu Brian malam ini telah menuntaskan kerinduan yang selama ini tidak pernah menghampirinya.


*****


Gisel melangkahkan kakinya keluar dari rumah Brian. Hatinya terasa hancur dan ia tidak mempunyai energi untuk mengatakan apapun. Ibu mengantar kepulangan Gisel malam ini.


"Kamu hati - hati di jalan, Nak." Ibu mengelus pipi Gisel yang merah merona. Gisel kembali bersedih dan menyentuh tangan Ibu Brian.


"Brian, antarkan Gisel, Nak." ucap Ibu dengan matanya yang merah.


"Iya, Bu."


Ibu masuk ke dalam rumah dan Brian membukakan pintu kursi penumpang untuk Gisel.


Selama di perjalanan, Brian tidak membuka pembicaraan. Ia takut kata - katanya akan melukai hati Gisel saat ini. Gisel menatap ke arah luar jendel. Bintang - bintang itu kini sudah tinggal sedikit. Mungkin tertutup awan.


"Jadi kamu sudah tahu semua cerita masa laluku selama berada di Kalimantan?" tanya Gisel tanpa menoleh ke arah Brian.


"Iya. Aku sudah tahu." jawab Brian datar.


"Kapan? Aku tidak pernah menceritakannya." tanya Gisel masih tetap tidak menoleh sedikitpun pada Brian.


"Aku mencarimu selama lima belas tahun. Aku menyewa seorang detektif untuk mencari tahu keberadaanmu di Kalimantan." jawab Brian.


Gisel tersenyum kecut. Matanya terlalu lelah untuk tetap menatap bintang di langit.


"Aku tidak tahu bahwa kamu punya kekuatan untuk melakukan itu." kata Gisel.


"Aku putus asa harus mencarimu kemana lagi, Gisel." sahut Brian.


Kini, Gisel benar - benar tidak bisa menatap bintang di langit lagi. Matanya lelah dan ia segera memejamkan matanya.


"Terima kasih, Brian. Kamu sudah mencintaiku." kata Gisel.

__ADS_1


__ADS_2