Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Stalker


__ADS_3

"Aku memang sudah tahu maksud pembicaraanmu dan ya seperti yang kamu tahu aku memang bekerja di kelab malam." kata Gisel. Edith memperhatikan garis wajah Gisel yang memang cantik dan terlihat sempurna.


"Aku iri melihatmu." kata Edith tersenyum getir.


"Aku mengejar Brian dari semasa kuliah tapi tidak ada respon sedikitpun darinya. Aku merasa malu mengejar dia tapi tidak sedikitpun cintaku dibalas." kata Edith melanjutkan ceritanya.


Gisel hanya diam mendengarkan cerita Edith.


"Tapi aku senang sekarang sudah melihat seperti apa wanita yang Brian cintai. Dan aku harap ke depannya kita bisa berteman baik."


Gisel tersenyum dan meraih tangan Edith. Mata Edith berlinang air mata. Pandangannya perlahan kabur karena air matanya sudah mengumpul dan siap terjatuh.


"Aku masih berusaha untuk Brian." kata Gisel.


"Kamu tahu kan aku wanita malam dan titel itu nggak akan hilang. Aku berusaha agar bisa membuat Brian tidak melihat masa laluku." kata Gisel tersenyum. Air mata Edith terjatuh. Sudah jelas sekali kalau Edith terluka.


"Aku harap kamu bisa mewujudkan masa bahagia itu dengan Brian." kata Edith tersenyum. Walau terluka, ia mencoba bersikap sportif. Terasa perih dan Edith ingin sekali menangis sejadi - jadinya disini.


Keduanya sama - sama tersenyum. Edith hanya perlu membenahi perasaannya yang terluka. Sekali lagi, ia membenarkan perkataan Maureen kalau dia harus membuka hati untuk orang lain selain Brian.


*****


Bella melihat Brian pulang larut malam lagi. Suara mobil Brian terdengar jelas pada pukul setengah satu pagi. Bella semakin penasaran dengan apa yang Brian lakukan hingga pulang larut malam.


Esoknya, saat sarapan pagi, Bella sudah duduk di meja makan bersama Ayah dan Ibu. Ia mengambil sedikit nasi dan juga lauk yang telah disediakan. Tidak lama, Brian turun dari lantai atas dan ikut bergabung dengan keluarganya.


"Pagi, Ayah. Ibu. Kak." sapa Brian dengan semangat dan ceria. Wajah Brian terlihat berbeda pagi ini. Ibu sampai bertanya - tanya, ada apa dengan Brian.


"Ceria sekali, Nak. Ada berita bagus hari ini?" tanya Ibu sambil menyendoki nasi untuk Ayah.


Brian tersenyum bahagia dan mengambil lauk sedikit demi sedikit.


"Brian hari ini mau semangat kerja. Karena besok adalah pengumuman usaha mandiri dan sebentar lagi program tentang karyawan magang yang disetujui oleh Ayah akan dilaksanakan." jawab Brian dengan senyum sumringah.


"Ayah tidak tahu kalau kamu begitu semangat menjalani program kerja. Kalau begitu kamu boleh dong diberi lebih banyak tugas?" tanya Ayah meledek Brian.


"Pelan - pelan, Ayah. Satu persatu. Brian pasti laksanakan semua perintah Ayah dan melakukan semua program kerjanya." jawab Brian membuat Ayah dan Ibu tertawa.


"Bella, kamu jangan terlalu sibuk bekerja. Kamu boleh sesekali pergi bersama teman - temanmu. Kamu harus meluangkan waktu untuk itu, bukan?" tanya Ayah melirik ke arah Bella.


"Baiklah. Akan aku serahkan sebagian pekerjaanku ke asistenku nanti." jawab Bella fokus dengan makanannya.


"Kalau ada yang perlu dibantu, kakak bilang saja padaku. Aku pasti mengerjakannya." sahut Brian dengan semangat.


Melihat Brian begitu semangat, membuat Bella semakin oenasaran dengan apa yang terjadi semalam.


"Kamu akhir - akhir ini pulang tengah malam terus. Apa yang kamu kerjakan?" tanya Bella. Ayah dan Ibu ikut penasaran dengan apa yang Brian lakukan.


Brian sedikit bingung bagaimana harus menjelaskan pada keluarganya. Ia terlihat mencari - cari alasan untuk berkelit.


"Benarkah? Apa banyak pekerjaan yang harus kamu lakukan hingga kamu terus lembur?" tanya Ayah pada Brian.

__ADS_1


"Kata Pak Liam kemarin dia sudah keluar kantor jam tujuh malam." sambung Bella. Bukan mendukung rasa penasaran Bella, Ayah dan Ibu seolah - olah mendukung Brian yang suka pulang tengah malam.


"Apa kamu punya pacar? Jadi waktu bertemu kalian hanya saat pulang kerja." kata Ibu tersenyum sambil melirik Brian.


Brian tersipu malu dan tertawa seperti biasa untuk menutupi salah tingkahnya.


"Pacar apa, Bu. Aku tidak punya pacar." kata Brian.


"Tapi kalau kamu punya juga nggak apa - apa. Asal bisa membagi waktu. Toh nanti kamu juga akan memperkenalkannya pada kami." kata Ayah. Brian hanya tertawa ringan sambil memakan makanannya.


Ibu dan Ayah lebih sibuk membicarakan Brian daripada memperhatikan Bella. Bella menyudahi sarapannya. Ia merasa kesal. Awalnya ia ingin agar Brian di interogasi oleh Ayah dan Ibu. Tapi akhirnya, mereka lebih senang jika Brian punya teman di luar pekerjaan.


"Aku tunggu di luar." kata Bella dingin dan sambil berlalu dari meja makan.


Brian merasakan ketidaknyamanan Bella saat Ayah dan Ibu bercanda hanya dengan dirinya saja. Brian pun cepat - cepat menyuap makanannya dan pamit kepada Ayah dan Ibu.


"Kak. Kenapa cepat sekali sarapannya?" tanya Brian menghampiri Bella.


"Udah siang. Nanti kita telat." kata Bella dengan wajah tidak ramahnya. Kemudian Bella masuk ke dalam mobil diikuti Brian. Brian tidak punya pilihan selain mengikuti Bella.


*****


Edith berjalan dengan tidak bersemangat ke meja kerjanya. Matanya bengkak dan sedikit merah. Wajahnya terlihat kosong dan hampir tidak ada ekspresi apapun disana.


Maureen yang baru saja datang, sedikit heran dengan wajah Edith yang terlihat berbeda hari ini.


"Kamu nggak apa - apa, Edith?" tanya Maureen menghampiri meja kerja Edith.


"Kamu nangis semalam?" tanya Maureen terkejut. Ia benar - benar tidak berpikir bahwa Edith akan menangis sebanyak itu.


"Kamu kenapa? Kok matamu bengkak begitu?" Maureen sedikit khawatir dengan Edith. Ingin sekali ia memeluk Edith saat ini juga.


"Enggak kok." jawab Edith sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau nggak, kenapa mata kamu berair?"


Edith tidak tahan lagi. Ia menceritakan semua yang ada di pikirannya. Maureen menarik kursi dan menghela napas.


"Brian lagi ya?" tebak Maureen. Edith tidak menggelengkan kepala maupun memgangguk. Tapi Maureen sudah yakin bahwa ini ada hubungannya dengan Brian.


"Brian kenapa?"


"Kata kamu... Gisel orang yang baik dan enak diajak bicara?" tanya Edith membuat Maureen bingung.


"Kenapa jadi Gisel?"


Edith tersenyum getir, hidup tidak seindah bayangan. Realita akan lebih terasa pahit dari sekedar imajinasi dan harapan.


"Ternyata, wanita yang selama ini Brian cari selama lima belas tahun itu Gisel." Edith menjawab dengan sekuat hati. Menahan air matanya tumpah lagi. Bahkan sekalipun memaksakan air matanya jatuh, sudah tidak ada air mata tersisa. Air matanya sudah ia kuras habis semalaman.


"Serius?" Maureen tidak percaya dengan apa yang Edith baru saja katakan.

__ADS_1


Edith mengangguk dengan lemah. Ia tidak menyangkan bahwa apa yang ia tidak khawatirkan sama sekali tentang Brian, justru menjadi kekhawatiran terbesarnya selama ini.


"Apa dia benar - benar Gisel yang selama ini aku kenal? Kamu yakin?" Maureen mencoba meyakinkan dirinya.


"Iya. Gisel yang kerja di kelab malam. Gisel yang kamu temui tidak sengaja pada saat kita makan siang. Dan Gisel yang kita kira telah merebut Farshall darimu." jawab Edith detil dan sangat jelas.


Maureen menghela napas lagi. Ia menyenderkan kepalanya di kursi kerjanya.


"Aku nggak nyangka dunia begitu sempit."


"Aku lagi sedih tapi kenapa kamu lebih berpikir dunia itu sempit?" Edith merasa tersinggung karena Maureen tidak perhatian pada dirinya yang sedang patah hati.


"Ngapain sedih? Kan kemarin sudah ku bilang, kamu respon Diaz bagian accounting. Daripada kamu bertepuk sebelah tangan terus. Kamu juga sudah bilang kan kalau kamu ditolak? Terus apa yang harus kamu sedihkan lagi?"


Maureen merasa kesal setiap kali melihat Edith selalu galau dengan Brian. Padahal, Edith sudah bilang bahwa dirinya resmi ditolak Brian. Dan anehnya, Edith masih terus mengejar hati Brian.


Edith hanya cemberut mendengar omelan dari Maureen.


*****


Pulang kerja, Brian kembali menemui Gisel di Flavor Garden. Tempat dimana ia bisa mengobrol santai di outdoor diiringi dengan suara gemercik air yang ada di kolam ikan. Semakin hari, pakaian Gisel semakin tertutup. Perlahan, Brian semakin menyukai perubahan Gisel.


"Tidak ada yang mengganggumu lagi kan hari ini?" tanya Brian meminum ice latte yang baru saja ia pesan.


"Tidak. Kalaupun diganggu aku akan cepat telpon kamu." kata Gisel tersenyum. Brian tertawa kecil mendengar ucapan Gisel.


Kamu terlihat manis, batin Gisel.


"Pesanlah. Kamu mau apa?" tanya Brian.


Saat sedang membaca menu yang Brian berikan, Gisel merasa ada yang aneh di belakang Brian. Ia melihat seperti ada seseorang yang diam - diam mengikutinya dan memotretnya. Posisi duduknya agak jauh dari mereka dan ia mengenakan topi dan rambutnya juga panjang. Gisel tidak tahu siapa itu.


"Kamu lihat apa? Kenapa belum pesan?" tanya Brian yang juga melihat ke arah Gisel melihat. Baru saja Brian akan menolehkan lehernya. Tapi dengan cepat tangan Gisel meraih pipi Brian agar tidak melihat ke belakang.


"Aku mau pesan. Kamu mau pesan makanan yang sama?" Gisel mencoba tersenyum dan mengalihkan perhatian Brian. Gisel masih belum memastikan, orang itu mengikuti dirinya atau Brian?


"Makanan yang sama saja boleh. Aku pesan air mineral aja ya." kata Brian. Gisel berhasil mengalihkan perhatian Brian dan fokus pada makan malamnya.


*****


Bella masih terduduk di meja kantornya. Menyandarkan kepalanya yang terasa pusing dan lelah. Tidak lama kemudian, ponsel Bella berbunyi. Ada pesan singkat yang masuk dan mengirimkan beberapa gambar foto.


Brian, Flavor Garden, kata orang yang mengirimkan foto pada Brian.


Bella yang tadinya merasa lelah, menegakkan tubuhnya agar bisa melihat foto yang dikirim secara jelas.


Dalam foto itu terlihat Brian sedang tertawa dengan seorang wanita. Tapi Bella merasa tidak asing dengan wanita itu. Bella sedikit mengingat dimana sekiranya ia pernah bertemu dengan nenek itu.


Bella sangat antusias ketika melihat Brian bersama seorang wanita. Ia sedikit lega bahwa Brian bisa menikmati masa mudanya selain mengurusi urusan perusahaan.


Bella melihat lagi foto yang ada di ponselnya. Ia mengamati baik - baik siapa wanita itu dan dimana sekiranya ia pernah bertemu dengannya. Wajahnya terlihat tidak asing dan sepertinya Bella pernah bertemu dengan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2