Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Memaafkan Masa Lalu


__ADS_3

Ayah terdiam di tempat duduk santainya yang biasa ia duduki. Dengan mesin pijat di kakinya, ia merasakan kenyamanan. Ibu masuk ke kamar dan melihat Ayah sedang merelaksasi diri.


"Sudah istirahat, Yah." kata Ibu.


Ayah tidak merespon perkataan Ibu. Tapi Ibu mengambil posisi tidurnya dan menatap plafon berwarna putih bersih.


"Awalnya, Ibu sangat tertarik dengan Gisel. Anaknya cantik, terlihat ramah dan juga pintar. Tapi Ibu kasihan. Karena orangtuanya meninggal, dia jadi nggak punya pegangan dan salah jalan." kata Ibu.


"Ayah menyesal, Bu. Kalau saja Ayah tidak menyetujui Gery untuk pergi ke Kalimantan, mungkin Gisel nggak akan sulit menjalani hidup dan dia juga bisa bahagia sama Brian." kata Ayah terlihat menyesal.


"Kita nggak tahu, Yah, apa yang terjadi. Brian terlihat mencintai Gisel. Kalau tidak, mana mungkin Brian mau berusaha mengeluarkan Gisel dari kehidupan malamnya." kata Ibu. Ibu percaya pada dasarnya Gisel adalah wanita yang baik."


"Ayah bingung, Bu. Harus bicara apa."


"Minta maaflah, Yah. Karena bagaimanapun juga, Gisel itu tertekan sekali ketika orangtuanya meninggal." saran Ibu.


"Lalu bagaimana dengan Brian?" tanya Ayah.


"Biarkan saja, Yah, Brian mau pilih mana. Gisel atau yang lain."


"Ibu tidak keberatan dengan masa lalu Gisel?" Ayah ingin meyakinkan Ibu sekali lagi.


"Gisel sudah keluar dari kehidupan malamnya , Yah. Brian yang menolongnya. Kalau Brian nggak benar - benar sayang sama Gisel, mana mungkin Brian melakukan itu semua?" Ibu berusaha meyakinkan Ayah agar tidak terlalu memikirkan masa lalu Gisel.


Ayah kembali terdiam dan berpikir. Apa yang Ibu katakan benar. Untuk apa Brian melakukan itu semua jika memang Brian tidak mencintainya dengan sungguh - sugguh? Akan membuang waktu saja.


*****


Esoknya, Gisel mengenakan dress hitam polos dengan pita di tengah kerahnya. Dress berbahan sifon itu membalut tubuh Gisel dengan sempurna. Ia mengikat satu rambutnya dan ia meraih tas tangannya.


Hari ini ia akan menyetir sendiri. Sudah lama ia tidak mengunjungi orangtuanya. Abu dari orangtuanya dibawa dari Kalimantan ke Jakarta dan hari ini Gisel akan ke krematorium Blessed yang ada di sebelah timur.


Setelah sampai di krematorium, Gisel berjalan melewati lemari kaca yang berisi guci abu dan foto - foto yang ditinggalkan.


Krematorium itu cukup besar, jadi Gisel berjalan cukup lama untuk sampai di tempat Mama dan Papanya.


Setelah sampai, Gisel menatap foto kedua orangtuanya tertawa bersama dan juga foto mereka bertiga yang sedang berada di puncak. Hati Gisel kembali tersayat melihat foto itu. Foto yang membangkitkan kenangan serta kerinduan yang selama ini sirna.


Gisel menunduk memberi salam serta mendoakan orang tuanya.


"Apa kabar, Ma, Pa?" tanya Gisel dengan pertahanan hati yang telah runtuh. Ia tidak bisa menahan kesedihannya sehingga suaranya bergetar.


"Maaf, Gisel nggak pernah datang."


Gisel sekuat mungkin menahan tangisnya. Ia ingin sekali terlihat kuat di depan orangtuanya.


"Gisel hidup sulit, Ma, Pa."


Air mata jatuh ke pipi Gisel dan mengaburkan pandangannya.


"Gisel berusaha untuk jadi anak yang baik, cerdas dan bisa melakukan segalanya. Tapi... Gisel gagal. Maafin Gisel, Ma, Pa..."

__ADS_1


Gisel menghapus airmatanya.


"Gisel terjebak dalam kehidupan penuh dosa. Tapi Gisel sudah keluar dan Gisel nggak akan pernah melakukannya lagi."


Gisel menahan air matanya yang kembali tumpah. Tapi lagi - lagi ia gagal karena air mata itu terus berjatuhan di pipinya.


"Ada yang menolong Gisel. Dia anak dari salah satu yang bekerja dengan Papa dulu. Tapi kenapa hati Gisel sakit, Pa? Bagaimana Gisel harus menghadapinya?"


"Anaknya baik, bisa membuat Gisel terlindungi dan Gisel merasa bahagia kalau dia ada di dekat Gisel. Salah nggak, Ma, Pa, kalau Gisel cinta sama dia?"


Gisel tidak sanggup berkata - kata lagi. Dadanya sesak karena tidak dapat mengungkapkan semua pada Papa dan Mama. Ia paham, ia tidak akan mendapatkan jawabannya. Gisel hanya bisa menangis dan memukul dadanya yang sesak. Ia menumpahkan segala rasa sakitnya dan ia tidak ingin membawanya ketika sudah berada di rumah.


Ketika ingin memasuki mobilnya, Gisel mendapat sebuah telpon dari nomor yang tidak di kenal. Ia selalu malas mengangkat telpon tanpa identitas. Tapi kali ini ia mencoba mengangkat telponnya.


"Halo?" sapa Gisel dengan suara agak serak.


"Gisel. Kamu baik - baik saja? Kenapa suaramu berbeda?" Ibu Brian mengkhawatirkan Gisel dengan suara yang tidak seperti biasanya.


Lagi - lagi, hati Gisel berdesir hangat mendengar suara kekhawatiran seperti ini. Ia ingin menangis lagi, tapi ia menahannya agar air matanya tidak tumpah.


"Nggak apa - apa, Tante. Cuma batuk sedikit." dusta Gisel.


"Syukurlah. Kalau sakit beritahu Tante ya, Nak."


DEG!


Apalagi ini? Kenapa Ibunya Brian ngomong gitu?


"Ada, Tante. Mau bertemu dimana?" tanya Gisel menahan dirinya untuk tidak menangis lagi.


"Kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan dulu? Nanti kita bertemu sama Om juga ya." kata Ibu Brian.


Sebenarnya Gisel selalu merasa kesal dengan Ayah Brian karena membiarkan Papa bekerja di Kalimantan. Tapi hatinya harus bisa berdamai dengan masa lalu. Ia tidak pernah tahu takdir apa yang akan menghampiri kita setiap harinya.


"Baik, Tante. Restoran favorit Om dan Tante apa?"


Gisel membuka pintu mobilnya dan menaikinya. Ia sudah bersiap menyetir bertemu dengan kedua orang tua Brian.


*****


Ayah dan Ibu Brian menyukai restoran Jepang. Dimana bisa duduk dengan nyaman di lantai dengan bantal. Gisel sedikit gugup karena harus bertemu lagi secepat ini.


"Nak Gisel. Kamu bekerja apa hari ini? Biar kami tahu waktu kamu untuk bekerja." kata Ibu Brian dengan senyum cantik di wajahnya. Walau sudah terlihat tua, tapi masih tetap terlihat cantik.


"Gisel bisa datang kapan saja, Tante. Karena Gisel bekerja paruh waktu di butik teman Gisel. Gisel sudah bilang kalau hari ini akan terlambat." jawab Gisel dengan senyum.


Ayah sedikit bingung dengan pakaian Gisel yang serba hitam. Tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya secara langsung.


"Maafkan, Om, Gisel. Om benar - benar tidak tahu apa yang terjadi. Ayah kamu selalu bilang bahwa keadaannya baik - baik saja disana." kata Ayah Brian. Gisel merasa sesak lagi jika hal itu harus diungkit kembali.


"Om kemarin hilang kendali. Harusnya Om lebih paham perasaanmu."

__ADS_1


Gisel menegakkan badannya, ingin menganggap semua itu berlalu dan tidak ingin menyakiti Ayah Brian karena sikapnya.


"Tidak , Om. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi pada diri kita sebenarnya. Saya berterima kasih Om mau menemui saya hari ini." kata Gisel.


"Om tidak pernah melihat Brian begitu sungguh - sungguh mencintai wanita. Sudah banyak wanita yang Om kenalkan tapi Brian menolak semuanya." Ayah mengalihkan pembicaraannya.


Ia tidak ingin membuka luka lama Gisel. Ia berusaha menjaga perasaannya dan memperlakukan Gisel sebaik mungkin.


Spontan Gisel tersenyum mendengar perkataan Ayah Brian. Ayah Brian mempersilakan Gisel untuk makan makanan yang sudah dihidangnkan.


"Brian sangat baik pada saya Om. Saya merasa hanya dia yang memperhatikan saya setelah selama ini saya berjuang sendirian." ucap Gisel.


"Kalau begitu, kamu bisa menemani Brian, Gisel." ucap Ayah tersenyum.


Gisel tidak mengerti dengan maksud Ayah Brian.


"Maksudnya bagaimana, Om?"


"Ya, mulai sekarang kamu bisa bertemu dengan Brian. Makan malam di rumah. Ataupun jalan - jalan dengan Brian kemana saja kamu mau." lanjut Ayah.


Gisel merasa terharu dan tersenyum.


"Om yakin?"


"Kenapa nggak? Kamu baik, kamu cerdas, kamu cantik, terlebih lagi kamu bisa memotivasi Brian untuk bekerja lebih keras." kata Ayah Brian dengan ramah.


"Kamu bisa ke rumah kapanpun kamu mau, Nak." sambung Ibu dengan senyum cantiknya.


Air mata Gisel kembali mengalir. Air mata kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan selama ini.


"Apa Om dan Tante yakin tidak keberatan dengan..." Gisel tidak sempat menyelesaikan perkataannya, Ayah Brian langsung memotongnya.


"Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kamu bisa menatap masa depanmu." kata Ayah.


Gisel tersenyum dan kembali menghapus air matanya. Belum pernah ia diterima setulus ini di sebuah keluarga. Ia bersyukur bertemu dengan keluarga Brian.


"Gisel terima kasih, Om."


"Kalau boleh, Om tahu.. Dimana tempat istirahat orangtuamu, Nak? Om akan mengunjunginya."


Gisel terkejut dengan apa yang baru saja Ayah Brian katakan. Tapi sekaligus ia merasa senang. Karena penderitaan hatinya selama lima belas tahun terakhir yang hanya bisa ia rasakan sendiri, sekarang ia bisa berbagi perasaan. Tidak semua beban harus ia tanggung sendiri.


************


Thank u for reading "Meet Me at Midnight"


vote me if u like :)


tinggalkan komen kalau kamu suka ya


dan berikan kritik dan saran untuk aku.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini.


__ADS_2