Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Kontrak Kerjasama


__ADS_3

Brian dan Gisel sudah sampai di apartemen. Apartemen yang ditempati Gisel kini ternyata sudah dibeli secara tunai oleh Brian. Dan keamanan yang ada di rumah ini tentu lebih baik dari apartemen yang sebelumnya. Belum menjadi istrinya saja, Brian sudah memberikan begitu banyak kemewahan untuk Gisel. Bagaimana jika benar-benar menjadi istrinya?


Gisel meletakkan tasnya dan Brian duduk dengan nyaman di sofa yang sangat empuk di ruangan itu. Brian memberikan segelas air dingin pada Brian. Brian meminumnya sampai habis. Gisel duduk di sebelah Brian.


"Tumben hari ini mau datang kesini. Biasanya kamu habis kerja langsung pulang." kata Gisel.


"Ada yang mau aku sampaikan, makanya aku datang kesini."


"Oh ya, mengenai apa?"


Sebelum Brian menjawab apa yang ada dipikirannya, ia merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Gisel sebagai bantalannya. Gisel tersenyum melihat Brian yang seperti ini.


"Kamu pasti sangat lelah."


"Iya, biarkan aku istirahat dulu ya. Besok kamu akan datang ke butik jam berapa?" tanya Brian meraih rambut Gisel dan memainkannya.


"Aku yang memegang kunci. Aku sudah katakan pada Tiara agar datang jam sembilan pagi saja. Berarti aku datang sebelum Tiara."


"Liana pergi lagi ya?" tanya Brian.


"Iya, kadang merasa sepi kalau nggak ada dia. Dia anaknya suka sekali bicara, membuat suasana butik jadi hidup."


"Bagaimana kalau kita beli saja butik Liana?" tanya Brian bercanda


"Jangan. Kasihan sekali dia. Hanya itu mata pencaharian dia yang halal."


"Memang ada yang tidak halal?" Brian semakin penasaran.


"Aku merasa dia belakangan ini bertemu dengan kliennya. Tapi dia bilang padaku kalau itu hanya temannya. Tapi tidak mungkin kan hampir setiap hari." kata Gisel.


"Aku harap dia menemukan jalannya sama sepertimu."


Gisel setuju dengan Brian.


"Oh ya, Edith tadi datang ke butik."


"Hah? Ngapain?" tanya Brian terkejut


"Dia minta maaf soal kejadian tempo hari." ucap Gisel


"Kok bisa?"


"Katanya ada gosip di kantor Edith kalau Bella datang dan meminta Edith meminta maaf padaku."


"Ah, Bella rupanya." ucap Brian tidak terkejut lagi. Brian memang kemarin bilang pada Bella kalau Edith mencari masalah dengan Gisel, tapi ia tidak menyangka bertindak sejauh itu membela Gisel.


"Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Gisel.

__ADS_1


"Ya, kemarin aku sempat bilang pada Bella kalau Edith mencari masalah dengan balas dendam padamu."


"Oh, begitu."


"Dia bilang apa?" tanya Brian penasaran.


"Ia ingin minta maaf secara tulus dan berusaha merelakan masa lalunya denganmu karena dia sudah nggak  mungkin merebut kamu dari aku. Intinya begitu."


Brian merasa sedih ia harus kehilangan teman yang pintar seperti Edith. Tapi disisi lain ia tidak ingin Gisel terlalu dekat dengan Edith. Bagaimanapun, Edith termasuk berbahaya. Ia tidak ingin hal-hal seperti kemarin terjadi kembali.


"Mari kita jaga jarak saja dengan Edith."


"Baiklah." Gisel mengangguk setuju


Brian bangkit dari rebahannya yang hampir membuatnya nyaman dan tidak ingin bangun lagi.


"Sebelum aku lupa, aku ingin memberitahumu sesuatu." kata Brian meraih tasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya, menyerahkan pada Gisel.


"Apa ini?" tanya Gisel sambil membuka lembaran kertas itu.


"Itu kontrak kerjasama yang dulu Liana pernah daftar di perusahaanku." kata Brian


"Bukankah waktu itu bilang Liana tidak dapat bekerjasama?" tanya Gisel bingung


"Bella mengubah keputusannya. Seharusnya ada tiga kandidat yang masuk. Tapi Bella menambahkan butikmu sebagai salah satu kandidatnya." jawab Brian


"Sebenarnya aku lebih suka memberikan kontrak itu padamu. Tapi mau bagaimana lagi. Kalau aku memberikan padamu, kamu tidak memiliki toko atau tempat yang pasti untuk usahamu. Jadi lebih baik menumpang nama di butik Liana saja. Anggap saja kamu membeli saham Liana." kata Brian tertawa


"Butik itu nggak ada saham-saham. Semuanya murni dari uang Liana dan aku, Bri."


Gisel masih tersenyum melihat kontrak kerjasama itu.


"Disana tertulis, jika ada event bazar, butik kalian wajib mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Salim Group. Aku harap kamu bisa lebih punya banyak waktu istirahat."


"Nggak apa-apa. Aku senang sekaliu dengan kesibukanku. Setidaknya aku melakukan kegiatan yang lebih berguna sekarang."


Brian mengangguk setuju dengan Gisel.  Melihat perubahan Gisel, kini ia merasa bahwa usahanya selama ini tidak sia-sia. Penantian selama belasan tahun juga bukan sesuatu yang sia-sia.  Brian memeluk Gisel dan mencium kening Gisel. Malam ini Brian begitu merindukan Gisel. Ia berjanji pada hatinya akan memberikan kebahagiaan pada Gisel.


"Menurutmu, kapan waktu yang tepat membicarakan pernikahan?" tanya Brian pada Gisel.


Gisel meletakkan kontrak kerjasama itu dan menyenderkan kepalanya ke bahu Brian.


"Aku akan mengikuti waktumu. Kapan kamu bisa punya waktu?" tanyaGisel.


"Bagaimana kalau malam sabtu besok?"


"Boleh. Aku tidak punya kesibukan lain selain berada di butik." jawab Gisel.

__ADS_1


"Menurutmu, ini tidak terlalu cepat kan?" tanya Brian


"Aku sedang tidak menunggu apapun, Brian. Selama ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama dirimu. Entah itu pernikahan atau bukan, selama itu bersamamu, aku akan merasa nyaman." jawab Gisel


Brian tersenyum.


"Aku tidak ingin merasa takut lagi kehilangan kamu. Selama ini aku selalu dipenuhi kekhawatiran kalau aku nggak bisa menemukanmu. Aku hanya ingin merasakan tenang dengan adanya kamu. Kamu juga bebas melakukan apapun. Kamu mau kerja atau nggak itu pilihan kamu." kata Brian


"Benarkah? Bagaimana soal anak? Apa itu juga terserah aku?" tanya Gisel


"Hmmm ya aku tidak ingin membebanimu sih, tapi kalau kamu punya anak dan masih ingin bekerja kita hanya tinggal sewa baby sitter. Aku nggak mau kamu merasa repot mengurus bayi." jawab Brian


"Benarkah? Boleh menyewa baby sitter?" tanya Gisel dengan wajah berbinar


"Kenapa nggak?"


"Tapi kita akan melangkahi Bella. Apa nggak apa-apa?" tanya Gisel


"Mak lampir kalau judes terus siapa yang berani mendekati." sahut Brian


"jahat banget loh kamu bilang mak lampir, itu kan kakak kamu sendiri." kata Gisel


"Loh betul kan? Dia itu hampir nggak senyum loh. Bahkan aku adiknya sendiri aja jarang lihat dia senyum, apalagi orang lain." ujar Brian


Gisel tertawa dan mencubit perut Brian yang asal bicara seperti itu. Melihat betapa manisnya Gisel malam itu, hati Brian terasa sangat meluap. Ingin sekali ia mencium bibir Gisel yang merah malam itu. Menatap Brian malam itu membuat Gisel semakin jatuh hati pada pria itu. Pria yang banyak dikejar oleh orang lain kini sudah seutuhnya menjadi kekasihnya. Bahkan Brian juga sudah melamarnya. Dengan perlahan, Brian mengecup kening Gisel. Gisel menerimanya dengan baik. Kemudian ia menurunkannya ke mata Gisel yang indah. Gisel tersenyum dan membalas ciuman Brian dipipinya. Tidak lama kemudian, Brian mencium Gisel tepat dibibirnya. Gisel menerima ciuman Brian dengan perasaan sayang yang tiada akhir dihatinya. Ia membalas ciuman dari Brian, melingkarkan tangannya dipundak Brian, membuat Brian semakin semangat menciumi Gisel malam itu.Gisel yang sedang dimabuk asmara oleh Brian juga tidak kuasa menahan dirinya.


"Aku rasanya ingin menginap malam ini." kata Brian


"Menginaplah." jawab gisel lembut.


Brian kembali menciumi Gisel dengan kasih sayangnya.


**********************


haai semuanya, setelah sekian lama hiatus semoga kalian masih tetap setia ya dengan kelanjutan cerita Gisel.


kalian gregetan sama tokoh siapa nih di novel meet me at midnight?


bantu author utk upvote yuuk biar semakin semangat updatenya


terimakasih buat teman-teman yang masih mengikuti meet me at midnight~~


aku tidak ada artinya tanpa kalian semua.


Cinta banyakbanyak buat pembacaku~~


kritik dan saran author tetep terima sebagai bentuk apresiasi kalian pd author.

__ADS_1


Gomawoo~~^^


__ADS_2