
"Maaf, kalian tidak boleh masuk." kata seorang keamanan yang berjaga di depan kelab malam SevenSix.
"Lho, kenapa kami tidak boleh masuk? Kami kan bayar!" kata salah seorang laki - laki yang membela dirinya agar bisa masuk ke dalam kelab.
"Hanya yang punya member yang bisa masuk. Kalaupun tidak punya member, kalian harus membuat member dahulu di meja sana." jawab petugas keamanan itu.
"Kami hanya sebentar."
"Biarpun hanya sebentar tetap harus punya member." kata petugas keamanan dengan tegas.
Gisel yang baru saja datang ke SevenSix, melihat keributan di depan pintu masuk. Ia melihat empat orang laki - laki berseragam kantoran datang dan ingin masuk ke kelab. Hal ini bukan pertama kali terjadi. Gisel menghampiri mereka.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Gisel pada salah satu petugas keamanan.
"Ini, Mbak. Orang - orang ini tidak mempunyai member tapi mereka memaksa masuk." jawab petugas yang ditanyai oleh Gisel. Gisel terlihat cantik dengan dress brukat berwarna hijau. Empat pria yang memaksa masuk tadi melihat Gisel dengan kagum. Gisel tidak mengacuhkan tatapan mereka yang memperhatikan dirinya.
"Kembalilah ketika kalian sudah punya member. Kalian bisa membeli member disana." jawab Gisel sambil menunjuk meja resepsionis.
"Tapi kami hanya sebentar saja, kami cuma mau lihat saja kok." kata salah seorang dari mereka.
"Tetap tidak bisa, mohon dipatuhi aturannya ya." jawab Gisel kemudian langsung menaiki tangga untuk masuk ke dalam kelab.
Petugas kembali meminta mereka untuk meninggalkan kelab dan kali ini mereka mematuhinya.
"Tadi siapa ya? Cantik banget. Bening lagi."
"Iya, amggun banget ya. Apa dia kerja disini?" tanya salah satu yang semakin penasaran dengan Gisel.
"Ya kita nggak tahu, masuk aja nggak bisa gimana kita bisa tahu." kata seseorang menjawab sekenanya.
"Sudah aku bilang kan, masuk kesini lumayan mahal. Setengah gaji kita sebulan. Nggak percaya sih."
Kemudian mereka pergi meninggalkan kelab dan membahas hal lain.
Gisel menaruh tas nya didalam loker. Ia merasa kesal hari ini karena harus bertemu dengan pacarnya Farshall . Sebenarnya hal ini biasa terjadi. Tapi yang tidak bisa ia terima adalah kenapa ia harus diperlakukan seperti itu di depan orang banyak.
Gisel menyulut rokoknya dan mengeluarkan asapnya dengan bebas. Kadang, mengalami hal seperti ini, ia jadi selalu teringat dimana ia harus mengalami hidup yang sulit seperti ini.
*****
Maret, 2006
"Gisel! Gisel!" panggil Neneknya dari depan rumah dengan teriakan yang cukup kencang. Selama Gisel di Kalimantan, ia tinggal bersama keluarga Papa Gisel. Karena Neneknya pun hanya tinggal sendiri disana, Nenek meminta Papa Gisel untuk tinggal bersamanya saja.
"Iya, Nek!"
Nenek menangis dengan kencang, hatinya seperti tersayat dan tangisannya pun tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Gisel, Papamu! Papamu!" Nenek semakin histeris dan semakin menangis dengan kencang. Gisel kebingungan. Ia tidak tahu harus bagaimana. Tangisan Nenek kali ini berbeda dari yang biasanya.
"Gudang kerja Papamu kebakaran, Gisel.. Papamu ada di dalam dan tidak bisa diselamatkan..." Nenek semakin menangis histeris. Gisel merasa pusing, apa yang harus ia lakukan. Bagaimana ini? Papa? Papa dimana?
Gisel merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Air matanya jatuh dan ia memeluk Nenek. Ia menangis histeris bersama Nenek.
Tidak lama, Mama pulang, dengan baju yang kotor dan lusuh. Mama seperti orang ling lung. Mama terduduk di sofa ruang tamu dan perlahan Mama ikut menangis.
Gisel menghampiri Mama yang masih kebingungan. Dengan menghapus air matanya, ia mengambil tisu dan melap wajah Mama.
"Ma..." panggil Gisel dengan perlahan. Mama hanya melihat Gisel dengan tatapan yang kosong.
"Ma, Papa nggak bisa diselamatkan ya?" tanya Gisel menahan air matanya terjatuh. Tangis Mama pun pecah. Mama memeluk Gisel dengan erat dan menangis tersedu.
"Mama nggak bisa nemuin jenazah Papamu, Gisel. Nggak ada yang nemuin, nggak ada!"
Gisel berusaha menahan air mata agar tidak jatuh ke pipinya. Tapi pertahanan Gisel roboh. Ia tidak bisa menahan bahwa hatinya pun terluka. Papa yang selama ini Gisel kenal baik, ramah dan berwibawa, harus pergi secepat itu.
Hari demi hari berlalu. Mama tidak bisa menerima kepergian Papa. Akhirnya, Mama jatuh sakit. Ia tidak makan berhari - hari, bahkan minum hanya sedikit. Gisel dan Nenek khawatir dengan kondisi Mama yang sakit seperti ini.
"Bagaimana ya, Gisel. Mamamu sudah sakit - sakitan. Nenek bukannya tidak punya tabungan. Tapi tabungan Nenek tidak cukup untuk biaya sekolahmu dan juga makan sehari - hari untuk ke depannya." kata Nenek sedih melihat Gisel. Tahun ini Gisel berusia tujuh belas tahun. Gisel sudah dianggap dewasa untuk mengambil sebuah keputusan.
"Apa ada yang bisa Gisel kerjakan, Nek, untuk menghasilkan uang?" tanya Gisel dengan senyuman yang ia buat agar Neneknya tidak perlu khawatir.
"Kamu belum lulus sekolah, Nak. Ijazah kamu juga belum keluar."
Gisel tertunduk lemas. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Nggak apa - apa, Nek. Gisel coba kesana ya.".
"Kamu yakin, Nak?"
"Iya, Nek. Biar kita punya uang."
Pada saat itu, Gisel hanya memikirkan bagaimana ia bisa bekerja dan memiliki uang untuk kebutuhan sehari - hari. Ia tidak berpikir jauh ke depan akan seperti apa majikannya nanti. Gisel mencoba datang ke rumah itu dan mengadu nasib selama berada di Kalimantan.
Gisel tidak cakap dalam membersihkan rumah. Dulu, ia terbiasa dengan pembantu. Gisel juga tidak pernah sekalipun membuat teh atau kopi yang biasa diminta oleh majikannya. Suatu hari, majikannya melempar lap meja basah pada Gisel.
"Apa yang sudah kamu bersihkan? Semua masih kotor! Kamu kalau nggak bisa kerja, nggak usah kesini!" seru majikan itu dengan kasar.
Gisel sudah melap semua sofa, jendela dan juga pintu. Tapi setelah Gisel melihat lagi apa yang kotor, kini Gisel mengerti, bahwa anak majikannya masuk ke dalam rumah dengan sandal yang dipenuhi rumput dan tanah. Gisel menghela napas dan membersihkan semua tanah yang menempel di lantai.
Terkadang, Gisel menangis karena tidak sanggup menerima perlakuan kasar dari majikannya. Gisel merindukan Papanya. Ia selalu berandai - andai, jika Papanya tidak mengalami musibah itu, pastilah Gisel masih bisa mendapat pelukan hangat dari kedua orang tuanya.
Gisel tidak tahan bekerja di rumah itu. Karena majikannya selalu saja bicara kasar dengannya. Setelah dua bulan bekerja, Gisel keluar dari situ dan memilih pekerjaan lain. Gisel mencoba melamar pekerjaan di sebuah laundry. Mulanya Gisel senang karena mencuci dengan menggunakan mesin cuci. Tapi ketika meyetrika, Gisel mulai merasa lelah. Ditambah jika itu adalah hari besar, dimana pembantu mereka pulang kampung. Pekerjaannya di laundry bertambah tiga kali lipat dari yang biasa.
Gisel merebahkan dirinya di kasur. Merasakan kelelahan yang amat sangat. Tapi tiba - tiba, Nenek histeris lagi.
__ADS_1
"Gisel! Gisel! Mamamu Gisel!"
Gisel terbangun dari tidurnya dan bergegas ke kamar Mama. Ia setengah berlari, takut sesuatu terjadi pada Mama.
"Kenapa, Nek? Mama kenapa? Mama? Mama?" Gisel mencoba membangunkan Mama, mengguncangkan tubuhnya. Sementara Nenek menangis tersedu lagi. Tapi badan Mama sudah dingin sekali. Gisel meraih tangan Mama dan menyentuh nadinya. Tidak berdenyut lagi.
Hati Gisel mencelos. Tubuhnya terasa lemas. Kakinya tidak sanggup menopang badannya lagi. Gisel terjatuh dan tubuhnya terasa hangat. Ingin sekali marah tapi tidak tahu pada siapa.
Dalam lelah, Gisel kembali meneteskan air mata di pipinya. Belum sempat Gisel memejamkan mata untuk beristirahat, ia harus dihadapkan kembali dengan kepergian Mama.
Gisel menangis di pinggir tempat tidur Mama. Menciumi tangan Mama dan tidak ada hentinya menangis. Entah bagaimana Gisel menjalani hidupnya yang terasa tidak adil. Bukan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Tapi semua ini terjadi seolah tidak ada jeda dan Gisel mencurahkan seluruh tenaganya untuk merelakan kepergian kedua orang tuanya.
*****
"Gisel." panggil Meidi, teman kerjanya. Gisel menoleh dan menatap Meidi.
"Ada apa?"
"Biasanya yang cari kamu itu kan laki - laki. Tapi kenapa hari ini ada perempuan yang cari kamu?" tanya Meidi dengan heran.
"Perempuan? Siapa?"
"Dia tanya, siapa yang melayani Farshall kemarin. Aku bilang kalau aku akan panggil orangnya. Wajahnya kasihan sekali. Sepertinya dia habis menangis." cerita Meidi dengan polos. Gisel langsung menuju pintu masuk kelab malam. Ia menduga - duga bahwa pacarnya Farshall pasti datang untuk mengecek apakah Farshall berada di kelab ini atau tidak.
Saat tiba di pintu masuk, dugaan Gisel benar, bahwa perempuan itu adalah pacarnya Farshall. Perempuan itu melambaikan tangan ke arah Gisel dengan senyumnya yang cantik.
"Halo." sapa perempuan cantik bernama Maureen dengan ramah pada Gisel.
"Aku pikir kamu akan menyiramku dengan air." jawab Gisel begitu bertatap wajah dengan Maureen. Angin yang bertiup membuat rambut Maureen dan Gisel tidak beraturan. Sesekali mereka merapikan rambutnya.
"Aku cuma mau bilang terima kasih. Berkat kamu mataku terbuka tentang Farshall." kata Maureen. Gisel diam menatap Maureen yang tegar ini.
"Aku pikir Farshall tidak pernah melakukan hal yang aneh dan selalu setia padaku. Pada saat itu aku lembur bekerja karena dapat orderan grup. Jadi mau tidak mau aku harus lembur, kan?" Maureen tersenyum dengan indah menatap Gisel.
"Maaf, aku tidak berusaha menyalahkanmu. Aku hanya geram saja. Tapi karena kamu, aku jadi tahu dan paham, apakah Farshall masih pantas bersamaku atau tidak." kata Maureen.
"Cari yang lain saja. Jangam Farshall. Farshall terlalu **** untuk wanita sebaik kamu." kata Gisel dengan terang - terangan. Maureen hanya bisa tersenyum sekali lagi mendengar respon yang Gisel katakan.
"Aku nggak menyesalinya. Aku hanya menjadikan ini sebagai pelajaran. Aku dan Farshall pun sudah berpisah." kata Maureen. Gisel hanya mencoba memahami Maureen dari matanya yang sendu.
"Senang bisa kenal denganmu. Semoga ke depannya kalau kita bertemu, kita bisa saling menegur." ucap Maureen mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Awalnya Gisel ragu, apakah ini benar? Tapi melihat ketabahan dan ketegaran hati Maureen, Gisel jadi paham, bahwa tidak selamanya kita menangisi orang yang kita yakini bahwa kita mencintainya. Kadangkala, ketika kecewa itu ada dan rasa percaya itu hilang, sudah saatnya melepas tangan yang kita yakini bila kita mencintainya.
Gisel menyambut hangat uluran tangan Maureen. Dengan senyum, Gisel mengakhiri pertemuan singkatnya dengan senyuman.
"Namaku Maureen." ucap Maureen ramah.
__ADS_1
"Gisel."
Maureen menghapus air matanya yang mulai tumpah ke pipinya. Mungkin masih ada luka yang tertinggal dihatinya hingga ia masih belum bisa berhenti bersedih. Tidak apa. Wajar, karena Maureen adalah wanita lembut dengan hati malaikat.