Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Pertemuan Yang di Rencanakan


__ADS_3

Edith mendatangi tempat makan pinggir jalan yang biasa mereka datangi pada saat sering bertemu sebelum Brian meminta Edith untuk menghindarinya.


Wajah Brian terlihat tidak bersemangat. Tidak seperti Brian yang ia lihat selama ini. Edith mengambil kursi dan duduk di meja berhadapan dengan Brian.


"Kau sudah menunggu lama?" tanya Edith. Brian meminum es teh manisnya yang sudah ia pesan sedari tadi.


"Baru sebentar kok." jawab Brian.


"Ada apa? Kamu tidak terlihat bersemangat." ucap Edith dan Brian sadar akan hal itu.


"Ya. Begitulah." jawab Brian pendek. Kemudian Edith memesan satu es teh manis juga sama seperti Brian.


"Apa pekerjaanmu berat?" Edith berusaha agar tidak menanyakan hal pribadi pada Brian. Ia ingin privasi Brian tetap terjaga. Jika Brian ingin bercerita, Edith akan mendengarnya saja.


"Ya. Setiap hari meeting, meeting dan meeting. Sampai - sampai aku bosan." jawab Brian sekenanya.


"Syukurlah."


"Aku sudah bertemu dengan wanita yang aku cari selama ini." ujar Brian tidak ingin berbasa - basi terlalu lama. Edith merasakan desir hangat menghampiri jantungnya.


"Benarkah? Syukurlah jika kamu sudah menemukannya." Es teh manis Edith datang dan Edith segera menyeruput minumannya.


"Tapi, waktu memang cepat berlalu. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada seseorang dalam waktu setahun, dua tahun, apalagi lima belas tahun." kata Brian, membuat Edith tersadar bahwa pertemuannya tidak berjalan lancar.


"Apa ada yang salah dengan pertemuan itu?" tanya Edith dengan hati - hati.


"Awalnya aku merasa baik - baik saja. Tapi ada sesuatu yang salah karena kerasnya hidup membuatnya bekerja terlalu berat."


"Baguslah. Hidup memang berat. Seharusnya itu yang akan dilakukan oleh semua wanita mandiri." Edith berusaha mencairkan suasana agar Brian tidak terlalu sedih.


"Kalau saja aku bertemu lebih cepat dengannya, apakah ia harus bekerja seberat itu?" tanya Brian pada diri sendiri.


Edith merasakan tatapan mata Brian yang berbeda. Tatapan yang tidak pernah Edith lihat sebelumnya. Kesedihan yang menghampiri Brian, membuat hati Edith juga merasa terbebani. Hatinya tidak bisa melihat kesedihan Brian seperti ini. Tapi Edith bisa apa? Brian memang sangatlah dekat dengannya. Tetapi, Edith tidak bisa menjangkau hati Brian.


"Berikanlah waktu padanya, Brian. Kalian baru bertemu setelah lima belas tahun. Pasti kalian merasakan kecanggungan dihati kalian masing - masing. Seiring waktu berlalu, kalian akan sadar, pencarian yang selalu kalian nanti selama ini benarkah karena mencintai satu sama lain atau hanya ambisi masing - masing." Edith memberikan saran sebijak mungkin agar tidak menyakiti hati Brian yang memang sedang terluka.


"Iya. Benar. Masih ada kecanggungan di antara kami." jawab Brian.


"Benar. Berikan hati kalian waktu. Biar waktu yang akan menjawab semuanya." ucap Edith dengan senyum walau ia sendiri tahu hatinya terasa perih mengatakan itu semua.


Brian berusaha tersenyum. Menghargai sahabatnya yang berusaha kuat mengatakan itu semua demi menghibur dirinya. Terkadang, Brian selalu berandai - andai di dalam hatinya jika memang suatu hari ia bisa membuka hatinya untuk Edith, ia akan menerima takdir itu karena ia menyadari Edith berusaha sekeras mungkin untuk menghibur Brian dalam kondisi apapun.


"Maaf selama ini aku terlalu mengabaikan perasaanmu. Aku nyaman bersahabat denganmu." ucap Brian membuat hati Edith kembali sesak.


"Tidak perlu dipikirkan. Aku hanya berusaha. Tapi Tuhan yang menentukan kemana hati ini melangkah."

__ADS_1


Brian hanya bisa menatap Edith yang begitu tegar. Ia tidak bisa berkata banyak karena ia juga merasa bersalah atas perasaan Edith.


"Jangan hindari aku lagi, Brian. Sudah delapan tahun kita mengenal satu sama lain, kalau memang kita bersahabat, kita bisa melanjutkan persahabatan itu." ucap Edith. Sejujurnya ia merasa tidak nyaman ketika Brian berusaha menjauhinya. Brian mengangguk. Ia tak mampu menyakiti Edith lebih dalam lagi.


"Baiklah. Aku akan menghubungimu seperti biasa."


Edith tersenyum. Beban dihatinya sedikit terangkat karena Brian tidak lagi berusaha menghindari dirinya.


*****


Gisel menyeruput minuman buah kotak dengan perlahan. Memandangi kota Jakarta dari balik jendela. Dengan lingeri yang biasa ia kenakan dan rambut panjang yang terurai, ia mengingat kembali pertemuan pertama kalinya dengan Brian. Pertemuan di taman hias dengan kelap - kelip lampu yang indah.


Gisel berpikir setidaknya ia bisa menyimpan rahasia sebentar saja dari Brian bahwa dirinya bekerja sebagai wanita malam. Entah kenapa, baru kali ini Gisel merasa malu sekali bertemu dengannya.


Terakhir kali, Gisel menelpon Brian tapi tidak ada tanggapan apapun. Ia mencoba mengiriminya pesan. Setidaknya, wajahnya tidak terlihat malu kalau - kalau Brian tidak membalas pesannya.


Bisakah kita bertemu?


Gisel mengirim pesan pada Brian. Berharap mendapat jawaban yang positif. Walau tidak diungkapkan secara langsung, Gisel menyadari bahwa sebenarnya Brian terkejut dengan apa yang Gisel jalani saat ini. Apapun itu, Brian bisa menerima dirinya atau tidak, ia tidak peduli. Ia hanya harus berusaha bagaimana bisa memenangkan hati Brian suatu saat nanti.


*****


Brian selesai menandatangani beberapa dokumen, ia menutup dokumen terakhirnya dan meminta istirahat sebentar. Kepalanya terasa pusing karena pikirannya yang tidak karuan. Wajah Gisel telah memenuhi pikirannya dan ia tidak pernah bisa berhenti memikirkan Gisel.


Ponsel Brian berbunyi. Ada pesan masuk. Dari Gisel. Hatinya merasa tidak nyaman. Disatu sisi, ia mencari sosok Gisel dengan susah payah selama ini. Disisi lain, ia belum bisa menerima sepenuhnya jika Gisel bekerja sebagai wanita malam.


Brian menjawab singkat dan tidak terlalu berharap banyak dengan kedatangan Gisel. Ia hanya berusaha memberikan Gisel waktu untuk menjelaskan yang perlu dijelaskan. Brian tidak ingin terlihat egois dengan pekerjaan Gisel yang sebenarnya tidak bisa ia terima.


*****


"Liana, tolonglah.. Tolonglah aku. Sekali ini saja gantikan pekerjaanku." kata Gisel memohon di butik Liana.


"Nggak bisa, Gisel. Aku nggak bisa."


"Aku janji kalau kamu ijin, aku juga akan menemani klienmu." Gisel masih berusaha keras agar Liana mau membantunya.


"Kamu kan tahu aku kewalahan kalau kamu tidak masuk kerja! Jangan begini dong, Gis! Kemarin kamu baru aja ijin, masa sekarang kamu ijin lagi?" Liana tiada hentinya mengomeli Gisel. Ia benar - benar tidak sanggup menggantikan Gisel melayani kliennya.


"Oke. Kali ini aku nggak akan minta gratis." ucap Gisel berhenti memohon pada Liana. Karena itu tidak berfungsi.


"Aku akan tawarkan tawaran yang akan berlaku sekali seumur hidupku." kata Gisel dengan percaya diri.


"Apa itu? Apa? Apa? Kamu mau membayarku dengan apa?" tanya Liana terdengar ingin menantang perkataan Gisel.


"Kamu silahkan pilih."

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa memilih kalau itu dibeli pakai uangmu." Liana tidak menatap Gisel. Ia mengeluarkan aktingnya yang tidak seberapa, melihat seberapa besar Gisel serius dengan kata - katanya.


"Okay. Pilih salah satu. Chanel, Mango, Christian Dior, Zara, Bonia, Dolce & Gabbana....." Gisel menyebutkan semua nama brand yang tentunya membuat para wanita haus akan belanja.


"Oke, oke, oke! Kamu memaksaku ya. Chanel and Bonia." ucap Liana cepat.


"Tidak bisa! Aku bilang kan pilih salah satu." Gisel menyanggah apa yang Liana katakan.


"Lho, katanya aku 'silahkan pilih'. Kalau satu saja mana bisa aku memilih." Liana masih terlihat ingin berargumen dengan Gisel.


"Ya tetap saja, satu aja dong. Aku kan minta digantikan semalam saja." Gisel sedikit merasa gemas dengan ucapan Liana.


"Aha.. Kamu mau menyangkal lagi. Kemarin yang kamu ijin, kamu tidak menawariku apa - apa." Liana mengungkit kembali ketika Gisel tidak masuk dan meminta dirinya yang menggantikan.


"Baiklah. Kalau begitu aku minta Meidi menggantikanku saja untuk ijin hari ini." Gisel membalikkan badannya dan melambaikan tangan kanannya pada Liana.


"Baiklah. Aku pilih salah satu dengan apa yang kamu belikan nanti." ujar Liana menahan lengan Gisel yang bebas.


Gisel tersenyum melihat ulah Liana yang sok jual mahal seperti ini. Liana sedikit merengut karena ia hanya bisa mendapatkan salah satu brand dari yang Gisel sebutkan tadi.


*****


Malam ini, Gisel siap bertemu dengan Brian. Ia sudah membereskan pekerjaannya malam ini agar digantikan Liana. Dan dirinya mempercantik diri untuk nanti malam.


Walau takut Brian akan menolaknya, Gisel terlihat sedikit semangat memilih dress pendek motif bunga di ujung dress itu sendiri.


Baru saja lewat jam enam sore. Tapi mengapa hatinya sudah berdebar begitu kencang.


Dengan angin yang menyapu rambutnya dengan perlahan, Gisel tidak sabar menanti pertemuannya dengan Brian. Sebisa mungkin Gisel memakai dress cantik yang tidak terlalu minim agar Brian tidak risih melihat penampilannya.


Gisel sengaja datang lebih awal agar Brian tidak perlu menunggu lama. Menit demi menit berlalu. Sudah jam tujuh malam lewat lima belas menit, tapi Brian belum juga datang. Apakah ia akan terlambat selama di perjalanan? Gisel tersenyum, memutuskan untuk menunggu Brian sampai datang.


Terkadang, Gisel duduk di ayunan sekadar menghilangkan rasa bosan menunggu Brian tidak kunjung datang.


Sementara itu, Brian baru saja menutup dokumen terakhir yang harus ia tanda tangani. Membacanya dengan teliti sampai akhirnya ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Pulanglah, Tuan." ucap Pak Liam.


"Pak, antarkan saya dulu ke taman hias waktu itu ya. Saya ada keperluan mendesak saat ini." kata Brian yang kemudian tersadar bahwa ia mempunyai janji untuk bertemu dengan Gisel malam ini. Ia bergegas, takut jika Gisel terlalu lama menunggu dirinya.


Cuaca cukup dingin. Angin yang berhembus bisa membuat seseorang jatuh sakit dengan mudahnya.


"Apa kau yakin ke taman ini malam - malam, Tuan?" tanya Pak Liam yang merasa khawatir.


"Iya, sebenarnya saya sudah sedikit terlambat. Apakah sekiranya Gisel bisa memaafkan saya?" ucap Brian lebih bicara kepada dirinya sendiri. Pak Liam mengendarai mobil senyaman mungkin agar tidak terbawa suasana dengan kegelisahan majikannya.

__ADS_1


Sejujurnya, Pak Liam sedikit penasaran dengan Brian yang tiba - tiba merasa gelisah ataupun senang sendiri. Pak Liam tidak berpikir kali ini Brian akan mengerjakan pekerjaannya. Ada apa sebenarnya?


Brian melihat arah luar jendela. Berharap bisa menepati janji yang sudah ia buat dengan Gisel.


__ADS_2