Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Perdebatan Gisel


__ADS_3

Bella tidak bisa membiarkan Brian memilih wanita yang salah untuk pendamping hidupnya nanti. Maka dari itu ia memutuskan untuk membayar orang untuk mencari tahu siapa wanita yang bersama Brian akhir - akhir ini.


Kini, Bella juga mendatangi ruang kerja Brian. Di depan ruangan Brian adalah tempat kerja Pak Liam.


Pak Liam pun hari ini kurang beruntung karena Bella menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan.


"Pak Liam." panggil Bella.


"Iya, Bu." jawab Pak Liam sopan. Ia belum mengetahui apapun jika Bella tahu tentang Brian bertemu dengan seorang wanita di luar sana.


"Pak Liam tahu siapa yang Brian temui akhir - akhir ini?" tanya Bella. Pak Liam menurunkan pandangannya. Ia tidak berani menatap Bella.


"Saya benar kan? Pak Liam tahu sesuatu? Pak Liam pasti tahu dia bertemu dengan siapa?" Bella menyeringai tajam dan menatap Pak Liam yang penuh salah tingkah.


"Maaf, Bu. Saya tidak tahu menahu tentang itu." jawab Pak Liam.


"Benarkah?" sahut Bella cepat dengan senyuman sinisnya. Tidak mendapat jawaban apapun dari Pak Liam, membuat Bella sedikit kesal. Ia menghela napas dan melipat tangan di dadanya.


"Anggap saja Pak Liam sedang membela bos Pak Liam sendiri. Tapi ingat ya, Pak. Jaminan keluarga Bapak ada di saya." Bella sedikit mengancam agar Pak Liam mau membuka mulutnya. Tapi itu tidak mempengaruhi Pak Liam sedikitpun.


"Maaf, Bu. Tapi saya benar - benar tidak tahu. Jika Ibu mau tahu, Ibu bisa menanyakan langsung pada Pak Brian." jawab Pak Liam menundukkan wajahnya.


Melihat tingkah Pak Liam yang setia pada Brian , membuat Bella tidak bisa berkutik sedikitpun.


"Baiklah. Saya tanya ke Brian langsung." kata Bella menatap Pak Liam dengan sinis.


Pak Liam sedikit ngeri dengan tatapan Bella hari ini. Tatapannya tidak ramah seperti biasanya. Keangkuhannya kembali sejak pertama kali ia bertemu. Pak Liam segera memasuki ruangan Brian dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.


Sesuai dugaan Pak Liam, Brian cukup terkejut dengan Bella yang ikut campur dengan urusan pribadinya.


"Benarkah?" Brian sedikit tidak percaya.


"Maka dari itu, saya mohon agar Tuan tidak menemuinya pada saat ini. Saya sudah yakin Ibu Bella pasti curiga." kata Pak Liam terlihat khawatir.


"Bapak tenang saja. Saya akan bereskan masalah ini secepatnya. Dan saya tidak menemuinya dulu untuk saat ini." kata Brian. Akhirnya Pak Liam pamit keluar dari ruangannya.


Brian merasa sedikit gelisah. Ia takut bahwa hubungannya dengan Gisel bisa membuat masalah ke depannya. Terutama oleh Bella.


*****


Gisel melayani pengunjung dengan ramah. Liana memperhatikannya dari jauh dan sangat senang dengan perubahan Gisel. Karena keramahannya, semakin hari semakin banyak pengunjung yang datang ke butiknya.


"Perlahan kamu sudah bisa menjalankan butik ini tanpa aku." kata Liana tersenyum pada Gisel.


"Jangan membuat pujian yang berlebihan. Aku masih belajar kok disini." kata Gisel menggantungkan kembali baju yang tadi di sentuh oleh pelanggan.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Brian? Lancar?" tanya Liana menghampiri Gisel. Gisel tersenyum sambil membayangkan hubungannya dengan Brian mengalami banyak kemajuan.


"Sedikit. Aku sekarang lebih nyaman kalau ada dia dan aku lebih suka jika dia bisa berlama - lama ngobrol denganku." jawab Gisel sedikit tertawa mengingat bagaimana ia dan Brian menjalani hubungan selama ini.


Lonceng pintu butik Liana berbunyi lagi. Baru saja Gisel akan menyapa pelanggan dengan ramah, tapi ketika melihat Bella yang datang ke butik Liana, nyalinya terasa menciut.


Bella datang dan melihat sekelilingnya. Mencari wanita yang selalu di temui Brian akhir - akhir ini. Dan akhirnya ia menemukannya sedang berbicara dengan Liana.


"Liana." panggil Bella. Liana mencoba tersenyum dan bersikap ramah ketika menghadapi teman masa SMA sekaligus wanita terangkuh yang pernah ia kenal.

__ADS_1


Bella menatap Gisel dengan pakaian sederhana dan tidak terlalu mencolok. Gisel sedikit merasa risih tapi ia mencoba tersenyum pada Bella.


"Siapa orang ini?"


Liana merasa kesal karena tatapan Bella pada Gisel. Dengan cepat Liana menarik Gisel sedikit ke arah belakang agar tidak menemukan pertengkaran.


"Ah dia karyawanku. Baru beberapa hari bekerja disini tapi dia cepat belajar dan...."


ucapan Liana terpotong.


Dengan tatapan sedingin es, Bella menanyakannya kembali.


"Aku tanya siapa dia? Namanya, asal usulnya, dan berapa umurnya." kata Bella dengan tegas. Liana semakin tidak suka dengan cara Bella berbicara.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan karyawanku? Aku merasa kali ini karyawanku bukanlah urusan nona besar seperti Anda."


Bella sedikit kesal dengan tatapan Liana yang membalas sama tajamnya.


"Kenapa? Kamu takut aku berbuat apapun dengan dia?" tanya Bella menyeringai dengan senyumnya.


"Jaga bicaramu, Bella."


Bella tertawa melihat Liana yang kini bicara tegas dengannya.


"Kamu boleh menghinaku karena aku hanya membuka sebuah butik. Kamu juga boleh menganggap baju - bajuku adalah sampah. Tapi jika kamu merendahkan aku dan karyawanku aku tidak akan diam lagi menghadapimu." mata Liana dengan pedas.


Bella kembali tertawa mendengar Liana berbicara.


"Kamu serius bicara begitu padaku, Liana?" Bella tidak percaya bahwa Liana akan bicara seperti itu kepadanya.


Gisel yang merasa tidak enak karena melihat Liana dan Bella bertengkar akhirnya memberanikan diri untuk bicara pada Bella.


"Permisi. Ada apa sekiranya Anda mencari saya?" tanya Gisel sedikit menundukkan kepalanya. Bella menatap dengan tatapan kemenangan. Bahwa akhirnya ia bisa bicara dengan Gisel.


Bella menatap Gisel dengan tatapan dingin yang membuat Gisel tidak berani menatapnya. Liana tidak ikut. Gisel memintanya agar tetap di butik saja.


"Kamu pacaran dengan Brian?" tanya Bella.


Sebuah kedai kopi yang sejuk dengan pengunjung yang tidak terlalu ramai membuat mereka leluasa untuk bicara.


"Tidak." jawab Gisel singkat.


"Jadi maksudmu, kamu hanya mau uangnya saja?" tanya Bella langsung pada pokok intinya membuat Gisel terperanjat.


Bella tertawa dengan sinis dan menatap Gisel semakin tidak suka.


"Kamu tahu kan siapa Brian? Kamu sengaja mendekatinya karena uang? Terlebih lagi kamu teman Liana yang kebanyakan dari mereka kerja di kelab." ucapan Bella menohok hati Gisel. Mengapa wanita ini terasa kejam di matanya? Beda sekali dengan Brian yang lembut dan ramah pada semua orang..


"Kamu menganggapku apa?" tanya Gisel masih menahan emosinya dan mencoba tersenyum.


"Kamu cuma wanita yang lewat di depan Brian dan memanfaatkannya saja. Kenapa? Kamu suka sekali tersenyum? Lakukanlah. Karena itu memang pekerjaanmu kan?"


Ucapan Bella semakin membuat Gisel emosi. Entah bagaimana ia harus menghadapi Bella dalam situasi seperti ini.


"Saya masih mencoba menghargai Anda sebagai kakak dari Brian. Dan Anda juga bisa tanya sendiri apakah saya menginginkan uang dari Brian? Padahal saya punya apartemen dan mobil atas nama saya sendiri. Uang saya cukup sampai harus membeli satu rumah mewah lagi. Jadi untuk apa saya minta uang dari Brian?" Gisel mencoba menyaring kata - katanya dengan lebih baik.

__ADS_1


Bella merasa baru kali ini ada yang bisa melawan kata - katanya.


"Apa?"


"Anda boleh menanyakan siapa yang selalu mencari saya. Tapi memang benar. Saya dan Brian sudah saling mencintai jauh sebelum saya tahu kalau dia itu adalah direktur dari Salim Group."


"Kamu berani bicara seperti itu pada saya?"


Bella mulai tidak bisa menahan emosinya. Ia bangkit berdiri dari duduknya.


Gisel tersenyum melihat reaksi Bella.


"Saya hanya bicara kenyataannya aja kok."


Gisel kembali ke butik dengan wajah yang terbilang tidak terlalu membawa beban. Bella juga sudah pulang dengan tidak membawa hasil apapun.


"Gimana, Gisel? Apa yang dia katakan?" tanya Liana begitu Gisel sampai di butik.


Gisel duduk dengan lemas di sofa.


"Aku nggak pernah berpikir bahwa bertemu dengan kakak Brian membuatku gemetar." kata Gisel.


"Aish. Tapi aku nggak nyangka dia sampai segitunya! Aku benar - benar tidak bangga sama sekali jika punya teman seperti dia. Ya ampun!" Liana mendengus dengan kesal dengan ulah Bella yang datang tiba - tiba ke butik.


"Lalu bagaimana? Kamu mau kasih tahu Brian kalau Bella datang kemari?" tanya Liana. Ia semakin gemas karena Bella hanya bisa berasumsi macam - macam tanpa konfirmasi apapun terlebih dahulu.


"Kenapa ya, Bella nggak nanya atau mencari tahu terlebih dulu tentang aku? Kenapa dia langsung menuduhku macam - macam?" ucap Gisel sedih.


"Aku nggak heran. Dia memang seperti itu. Bahkan Brian sedikit menjaga jarak dengannya. Siapa yang bisa tahan ngobrol lama - lama dengan orang sombong seperti dia." ujar Liana semakin kesal.


"Kamu sekesal itu pada Bella?" tanya Gisel.


"Tentu saja. Apalagi dia nggak tahu apa - apa soal kamu dan Brian tapi berani berspekulasi macam - macam. Aish! Lihat saja dia nanti kalau berani membuat ulah lagi disini." kata Liana ingin sekali memukul Bella.


"Orangnya sudah nggak ada. Nggak usah terlalu kesal." kata Gisel melihat Liana terlalu bersemangat meluapkan kekesalannya.


"Lihat saja. Aku yakin kalau Brian tahu soal ini, dia nggak akan tinggal diam. Lihat saja."


Gisel hanya tertawa kecil melihat Liana yang menyumpah serapah dengan perkataannya. Namun, ia juga sedikit teringat dengan perkataan Bella sebelum ia pulang tadi.


"*Jadi, apa pekerjaanmu? Aku yakin kamu punya uang sebanyak itu bukan karena kamu kerja di butik." tanya Bella kembali duduk dan bicara pada Gisel dengan baik.


"Pertanyaan Anda salah. Bukan apa pekerjaan saya. Tapi siapa saya dan kenapa Brian mencari saya kemanapun saya berada." ujar Gisel. Bella sedikit terperanjat dengan keberanian Gisel di setiap ucapannya.


"Maksudmu apa sebenarnya?"


"Mungkin Anda lupa. Atau mungkin Anda tidak terlalu perduli dengan keadaan adik Anda sendiri. Tapi saya adalah cinta pertama Brian pada saat Brian masih suka naik sepeda dan kami bertemu di salah satu tempat untuk kami bertukar cerita."


Bella terkejut dengan apa yang Gisel katakan.


"Jadi kamu... Kamu yang waktu itu..."


"Iya. Itu saya."


Bella benar - benar terkejut. Ia tidak menyangka bahwa ternyata selama ini wanita yang Brian cari selama lima belas tahun adalah wanita yang ada di depan matanya ini. Ia tidak akan hanya diam memperhatikan Brian pulang tengah larut malam. Ia harus mengonfirmasi semuanya agar lebih jelas dan seperti apa wanita yang sedang bersamanya saat ini*.

__ADS_1


__ADS_2