Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Taman Hias


__ADS_3

Brian sedang berada dalam perjalanan bersama Bella. Sesekali Bella membahas beberapa berkas dokumen yang harus ditanda tangani nanti. Brian hanya mengangguk iya tanpa ada komentar lain.


"Bagaimana dengan Edith?" tanya Bella ketika melihat wajah Brian yang tidak terlalu bersemangat.


"Bagaimana apanya?"


"Kapan dia akan ke rumah?" tanya Bella.


"Jangan bahas Edith lagi, Kak." jawab Brian singkat.


"Kenapa? Aku pikir kamu dan Edith sudah lama berkomunikasi dan pergi bersama." Bella tidak mengerti dengan apa yang Brian pikirkan.


"Uruslah pernikahanmu terlebih dahulu. Selanjutnya aku akan mengurus pernikahanku sendiri." Brian sudah merasa jengah dengan Bella yang selalu menanyakan Edith.


"Kamu tidak mencintai Edith?" tanya Bella langsung pada intinya.


Brian menatap Bella dan wajah Bella terlihat semakin penasaran.


"Aku hanya menganggapnya sebagai sahabatku. Tidak lebih." jawab Brian. Bella terlihat kecewa dengan apa yang Brian katakan.


"Selama ini kamu terlihat baik dengan Edith. Aku pikir kamu menyukainya."


"Aku hanya tidak ingin mengecewakannya. Tapi ternyata dia menaruh perasaan lebih." jawab Brian menatap pemandangan di luar jendela. Bella tidak berkomentar apapun lagi. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh tentang kehidupan pribadi adiknya lagi. Bella takut jika nanti Brian akan tertekan dengan pertanyaannya.


Brian dan Bella sibuk dengan dokumen masing - masing yang dipegangnya. Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka sampai akhirnya tiba di lobby kantor.


*****


Gisel membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Marcus sudah pulang dan ia membenahi perasaannya sejenak tentang Brian.


Setelah mengenakan blus dan juga jeans, Gisel merapikan rambutnya dan mengenakan make up tipis serta lipstick. Karena siang hari ia tidak bekerja, biasanya ia mendatangi butik Liana untuk sekadar mengobrol ataupun mendebatkan hal yang tidak penting.


Tring...


Gisel membuka pintu butik Liana yang ramai dengan bunyi loncengnya.


"Sealamat daatt..." sapa Liana. Tapi begitu melihat Gisel datang, Liana langsung mengecutkan wajahnya.


"Ngapain kamu datang kemari? Mau lihat - lihat atau mau beli?" tanya Liana.


"Kenapa sih kamu marah - marah? Memang kamu baru dapat masalah dengan customermu?" tanya Gisel dengan santai tidak mempedulikan Liana yang berwajah masam. Gisel duduk di sofa yang berada di butik Liana dan meletakkan tas disebelahnya.


"Semalam kamu mengira aku merebut customer wanita lain. Memang bicara apa dia? Aku sudah bilang kan dia temanku. Dasar wanita bodoh." kata Liana yang ikut duduk di sebelah Gisel.


"Dia cuma bilang 'Liana merebut klienku. Dasar wanita tidak punya etika' begitu katanya." jawab Gisel tidak acuh.


"Apa? Kurang ajar! Dia saja tidak bisa merayu. Merayu juga maksa." seru Liana dengan kesal. Gisel hanya tertawa mendengar ocehan Liana.


"Nanti malam aku ambil libur dulu ya." kata Gisel.

__ADS_1


"Apa? Libur? Klien kamu cari kamu terus bisa - bisanya kamu libur!" kata Liana yang selalu berbicara dengan Gisel menggunakan nada yang tinggi.


"Bilang saja aku sakit. Jangan bilang macam - macam. Kalau nggak, habis kamu ya!" ancam Gisel, tentu tidak seserius itu.


"Beli dulu bajuku, baru kamu boleh libur." Liana kembali bicara tidak peduli dengan ancaman Gisel.


"Aku lagi malas beli bajumu. Aku mau beli sepatu baru saja!" jawab Gisel sekenanya, kemudian ia bangkit dan berjalan keluar dari butik Liana.


"Awas kamu ya balik lagi kesini, awas kamu minta aku bawain makanan macam - macam!" seru Liana kesal dan Gisel melambaikan tangan membuka pintu butik.


Liana menghela napas panjang dan mengibas rambutnya yang panjang.


"Kenapa sih setiap dia kesini selalu saja membuatku kesal. Indah! Belikan aku makanan!" seru Liana memanggil salah seorang karyawannya. Moodnya benar - benar hancur karean Gisel. Tapi keesokan harinya, Liana akan kembali membaik pada Gisel.


Gisel berjalan menyusuri deretan toko yang berada di pinggir jalan. Trotoar yang besar terasa nyaman baginya untuk berjalan kaki. Hari semakin sore. Sudah lumayan banyak orang - orang yang keluar kantor pada jam segini. Karena sedang menikmati angin sore, tidak sengaja Gisel menabrak seorang wanita dengan para teman rekan kerjanya.


"Maaf, Maaf, saya tidak sengaja." ujar Gisel begitu melihat dokumen yang jatuh berantakan. Gisel segera merapikan kertas yang berserakan. Tidak sengaja ia melihat amplop dari dokumen itu. Salim Group.


Sesaat Gisel terdiam ketika melihat logo perusahaan itu. Sebisa mungkin Gisel bersikap seperti biasa.


"Ini kertasnya." kata Gisel menyerahkan berkas itu pada seorang wanita anggun dengan rambut ikalnya.


"Oke. Nggak masalah." jawab Bella. Bella melanjutkan langkahnya bersama rekan kerjanya. Gisel menghela napas lega karena wanita itu tidak marah ataupun memakinya. Tapi kenapa begitu sombong sekali? Memang apa jabatannya di Salim Group? Gisel bertanya - tanya, namun akhirnya ia tidak mempedulikannya dan melanjutkan jalannya.


Tapi hati Gisel menjadi penasaran ketika ia melihat logo dari Salim Group itu. Apakah yang Liana bilang selama ini benar bahwa direktur dari perusahaan itu adalah seorang pemuda bernama Brian?


Gisel membalikkan badannya dan mencoba mengecek kembali, kira - kira apakah ada seorang pemuda disana dengan wajah yang cukup tampan? Ya, Gisel membayangkan kembali wajah Brian dari lima belas tahun yang lalu. Tapi apakah sama wajahnya dari yang dulu? Atau mungkin, benar kata Liana kalau Brian itu tampan?


"Ah, nggak ada yang mirip. Mungkin Liana salah atau aku yang terlalu berharap?" ucap Gisel pada dirinya sendiri. Karena terlalu asyik memperhatikan kelompok dari Salim Group, ia tidak memperhatikan langkahnya hingga ia menabrak seorang lelaki di hadapannya sehingga ia terjatuh.


"Aduh, maaf maaf, saya nggak sengaja." ucap Gisel sambil mengutuk dirinya sendiri, kenapa ia bersikap bodoh sekali hari ini.


"Kamu nggak apa - apa?" Tanya lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.


Deg!


Hati Gisel terasa berdebar mendengar suara itu. Gisel menengadahkan kepalanya dan melihat sosok lelaki yang benar - benar tampan di hadapannya. Lelaki itu tersenyum manis, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang merah. Betapa terlihat sempurna sekali dimata Gisel.


"Pak Brian, Anda tidak apa - apa?" tanya Pak Liam dengan napas yang tersengal karena mengejar Brian dan membawa beberapa berkas dengan logo Salim Group.


Gisel tersadar dengan siapa ia berhadapan saat ini. Liana benar. Bahwa direktur dari Salim Group adalah pria muda bernama Brian.


Tanpa menyambut uluran tangan Brian, Gisel langsung bangkit dan buru - buru pergi dari hadapan Brian.


"Saya pergi dulu."


Brian agak bingung dengan sikap Gisel yang belum ia ketahui sebenarnya. Kemudian Pak Liam menyadarkan Brian untuk segera menuju pertemuan dimana Bella telah menunggunya.


Selama pertemuan, Brian sedikit tidak bisa berkonsentrasi, Pak Liam pun menyenggolnya sesekali untuk menyadarkan Brian dari lamunannya.

__ADS_1


"Apa Anda merasa tidak nyaman, Pak?" tanya Pak Liam begitu selesai pertemuan dan menyupiri Brian untuk pulang ke rumah.


"Tidak, Pak Liam. Apa saya terlihat seperti itu?" Brian bertanya balik pada sekretarisnya.


"Maaf, Pak. Tapi Bapak terlihat tidak konsentrasi selama pertemuan." jawab Pak Liam jujur.


Brian tertawa mendengar Pak Liam yang lebih tua darinya selalu saja memanggilnya dengan sebutan 'Bapak'.


"Pak Liam bisa memanggil saya dengan santai. Karena ini sudah diluar jam kerja." kata Brian dengan senyumnya.


"Baik, Tuan. Maafkan saya." Pak Liam terlalu sopan bagi Brian. Ia lebih sering mendengar 'maaf' dari Pak Liam daripada kata 'terima kasih'.


"Sudahlah, Pak. Mungkin saya sedang kurang enak badan saja, jadi terlihat tidak konsentrasi."


"Melelahkan, ya, Tuan? Perlu saya antar ke suatu tempat untuk mencari angin?" Pak Liam benar - benar baik hati dimata Brian. Sampai - sampai, ia hampir tidak pernah menolak apapun yang Pak Liam sarankan.


"Bapak tahu tempat yang bagus?" tanya Brian penasaran.


"Kebetulan saya tahu, Tuan."


"Ayo kesana, Pak." Brian terdengar antusias sekali.


"Baik, Tuan." Pak Liam mengantarkannya ke sebuah tempat dimana ada taman yang dihiasi dengan lampu kelap kelip yang cantik.


Pak Liam mengantarkannya ke sebuah taman dekat salah satu mall besar di sebuah kota. Lampu kelap kelip dan juga bunga yang dirangkai indah dengan lampu hias membuat taman itu tampak indah.


"Sudah sampai, Tuan." kata Pak Liam.


"Apakah ini tempatnya?"


"Iya, Tuan. Silakan Tuan berjalan sendiri, saya akan menunggu di mobil saja." ucap Pak Liam.


"Kenapa, Pak? Bapak bisa ikut saya dan berjalan bersama." kata Brian dengan polos membuat Pak Liam tertawa kecil.


"Maaf, Tuan. Bukan saya tidak mau. Tapi yang datang ke tempat ini lebih banyak pasangan. Kalau saya berjalan bersama Tuan, akan terlihat aneh." kata Pak Liam. Brian menganguk mengerti dengan maksud Pak Liam.


"Baiklah. Saya turun dulu. Nanti saya telpon lagi."


"Baik, Tuan."


Kemudian Brian turun dari mobil, menikmati suasana taman itu pada malam hari. Taman hias itu terlihat cantik. Brian menelusuri sedikit demi sedikit taman itu.


Masih banyak lampu hias di taman yang masih ingin Brian nikmati. Brian benar - benar memanjakan matanya melihat bunga di taman dengan lampu kelap - kelap yang cantik. Sedikit demi sedikit, taman itu Brian telusuri, membuat senyum merekah di bibir Brian.


Disisi lain, Gisel menikmati hari liburnya dengan tenang karena tidak perlu pusing melayani pria hidung belang satu persatu. Malam ini ia ingin menjadi dirinya sendiri Menikmati angin malam yang bebas dan menghirup udara segar sedalam - dalamnya. Bibirnya mengulas senyum yang manis ketika menemukan sebuah ayunan di taman lampu hias itu. Dinaikinya ayunan itu dan ia menyandarkan kepalanya di sisi ayunan.


Ingatannya seperti kembali pada masa dimana ia senang sekali duduk diatas ayunan.


Entah ini yang disebut takdir atau kebetulan, Brian melihat bayangan Gisel yang sedang duduk diatas ayunan. Diayunkan dengan perlahan menggunakan kedua kakinya. Sungguh, hati Brian berdebar ketika melihat bayangan itu. Di dekatinya ayunan yang sedang Gisel naiki dengan perlahan, melihatnya dari jauh untuk sesaat.

__ADS_1


Wanita itu terlihat cantik dengan rambut yang digerai dan dress paduan warna putih dan salem. Menengadah ke langit, melihat bintang yang bersinar dengan senyumnya yang indah. Brian bertanya dalam hatinya. Mungkinkah ini Gisel yang selama ini dicari?


__ADS_2